
Entah kenapa sikap lancang mereka benar-benar membuat Adellia geram, namun semua mata sudah tertuju kesumber keributan, membuatnya terpaksa meredam emosi agar tidak mempermalukan Havier.
"Apa yang harus aku lakukan?" fikir gadis itu saat tampilan luarnya masih di balut dengan senyuman. “Tapi kenapa aku sial sekali, harus bertemu dengan mereka hari ini, yang satu mantan Havier yang mengangap diriku sang pengoda, yang satunya lagi si penindas yang sudah aku permalukan” gumam Adellia dengan kesal, seraya memilih tenang untuk bersikap.
Mata Adellia menatap kearah lain, seraya memperhatikan dimana keberadaan Havier, kenapa laki-laki bodoh itu tak kunjung kembali, jika terus begini, maka Adellia benar-benar akan taman malam ini, tidak akan di permalukan tapi mungkin akan dihina habis-habisan.
“Apa kau yakin dia siswa beasiswa di sekolah kita?” tanya Salsabilla ketika memastikan lagi perkataan Veronica yang mencengangkan.
“Tentu saja. Apa kau tidak tahu jika ia hanya di pertahankan karna pintar, jika nilainya turun maka beasiswanya akan di cabut” ejek Veronica saat memandang rendah kehadapan Adellia.
"Tapi harus bangga dengan point itu Veronica, karna kepintran yang membuatku setara denganmu, kapan lagi rakyat jelas hampir sama dengan anak penjabat di negri ini" terus Adellia dengan hinaan pintar yang membuat mata Veronica menajam menatapnya.
“Tapi nampaknya, kau terlalu menyimpan dendam atas masalah tadi siang. Tapi aku tidak ingin berdebat denganmu, aku hanya ingin menghadiri pesta ini dengan tenang, lagian kau tahu sendirikan aku menjabat sebagai ketua osis di sekolah, jadi pahamilah posisiku, terkait sikapku yang menyinggung aku tidak punya pilihan” terus Adellia saat beranjak dari tegaknya.
Membuat veronica melangkahkan kaki dengan cepat seraya mengecat tangan Adellia yang ia cengkram dengan erat, apakah gadis itu ia biarkan untuk lepas, setelah mempermalukanya di sekolah, dan saat ini juga melakukan hal yang sama. "Jangan bermimpi Adellia" batin Veronica dengan senyum mengerikan yang mampu ia dapatkan dari tatapan matanya.
“Kau mau kemana, apakah kau takut aku permalukan disi, lalu kemana dirimu yang angkuh tadi siang. Sekarang kau malah ingin kabur, jangan bermimpi, selagi kau masih belum tahu diri akan statusmu, aku tidak akan pernah melepaskan mu Adellia” ucapnya dengan tatapan mata penuh ancaman, hingga membuat Adellia terpaku menantang gadis itu.
"Apakah suatu kesenagan merendahkan orang lain didepan umum untuk menunjang siapa dirimu yang hebat ini. Jangan salah sangka Veronica, sikapmu yang tidak beretika, menunjukan jika kau tak lebih dari sampah"
“Sampah!!" Terik Verica dengan kesar, atas pancaran geram yang mampu menarik perhatian tamu undangam. "Kau yang sampah” kesalnya dengan nada membentak penuh penghinaan, bahkan matanya hampir saja keluar dari tempatnya, jika tidak di kendalikan, Adellia hanya mampu menahan diri untuk sabar, ia sadar jika tidak memiliki kekuatan untuk melawan, jadi menerima adalah jalan keluar.
“Apa kau punya undangan untuk datang kepesta ini!" tantangnya. "Meskipun kau teman Havier, jika ia tidak ada di sisimu sama saja kau masuk ke pesta kalangan atas tanpa izin. Apakah hanya karna sebuah makanan lezat kau menyelinap diam-diam, bahkan jika kau memang membutuhkan sekali, aku dengan senang hati menyumbangkanya untukmu adellia” hina Veronica yang kala itu membesarkan volume bicaranya.
__ADS_1
Membuat semua orang berkumpul untuk melihat sumber keributan, bahkan semua orang disana berbisik-bisik melihat kearah Adellia yang tengah di kucilkan.
Apakah kehidupan para elit yang paling tinggi soal derajat ekonomi hanya untuk merendahkan orang lain, jangankan untuk menaruh simpati, Adellia sangat membenci status ekonomi dijadikan ajang untuk merendahkan seseorang.
"Kau benar, aku memang membutuhkan makanan" balas Adellia.
Hingga pandangan semuanya semakin merendah menatapnya, bahkan perkataan mereka terdengar pekat keruang gelinga Adellia hingga ada sedikit kesal yang mampu ia redam.
"Tapi, tidak aku saja yang mengambil makanan dan menikmatinya, kau juga melakukan hal yang sama. Jadi apa yang berbeda antara kita" ejek Adellia dengan bercanda, membuat Veronica tidak percaya atas sikapnya.
"Apa kau tidak tahu diri" bentaknya penuh geram, tatkala mengepalkan tangan menatap Alissa penuh pertentangan.
Baru saja mulut kritis itu ingin membantah, seketika Adellia sadar. "Aku tidak bisa memprovokasi gadis gila ini lagi, jika aku terus melawannya, sama saja aku akan terus mempermalukan diriku sendiri” batin Adellia saat diam di hadapan Veronica.
"Terserahlah Vero, aku tidak ingin bicara lagi denganmu. Aku datang bersama Havier, dan pesta ini juga merupakan pesta orang tuanya, aku tidak mau membuat keributan yang nantinya akan mempermalukan Havier, untuk itulah, hentikan keributan dan drama yang kau buat" tegas Adellia dengan sungguh-sungguh, berharap Veronica menghargai kebaikan hatinya, seraya beranjak pergi dari sana.
Sekali lagi, gadis itu tidak ingin menerima begitu saja, ia menarik paksa tangan Adellia, hingga darah yang bisa dikontrol dengan baik, kali ini mendidih mencapai kepalanya, atas sikap lancang yang tidak tahu diri dari Veronica.
“Apa yang kau lakukan, lepaskan tanganku” kesal Adellia penuh geram.
Persetan dengan rasa malu dan harga dirinya, ia sangat tidak bisa di injak-injak oleh orang lain, sekalipun Adellia masih tenang karna menghargai beberapa pihak, namun lawan bicaranya nampak tak bisa bersikap bijak.
“Kenapa!! Apa sekarang kau sudah sadar diri akan dirimu yang tidak berharga ini. Sekarang biar aku katakan, semahal apapun pakaian yang kau gunakan, sebanyak apapun relasi temanmu yang akan menyelamatkan. Jika kau bukan siapa-siapa, kau tidak akan sebanding dengan semua orang disini, bahkan kau harus mempertimbangkan dengan baik jika sikamu ini sangat memalukan"
__ADS_1
"Lalu kenapa!! Apakah ada salahnya jika aku terlahir dari kalangan rendah yang tidak sebanding dengan hartamu. Kenapa kau selalu melihat nilai dari sebuah angka, bahkan sebanyakpun uang, tanta, kekuasaan yang kau punya, jika dirmu tidak bisa menghargai seseorang, kau tak lebih dari sampah"
"Apa kau gila!"
"Iya aku gila! Tapi anehnya orang waras nampak sefrekuensi dengan orang gila" hina Adellia.
Membuat Veronica membulatkan mata dengan sempurna atas kata-kata yang tak bisa ia bantah darinya, baru saja mulutnya tergerak, sekali lagi Adellia selangkah dari hadapanya.
"Entah kau merasa bangga atas posisimu atau tidak, aku tidak peduli! Yang jelas aku lebih percaya pada diriku sendiri, dari pada merengek di balik pangkat orang tua. Sedari awal kita memang berbeda, tapi aku tidak bisa di samaratakan dengan mu! Bahkan kita berdua berada di level yang berbeda, kau akan terus menjadi pecundang karna hidup layak yang sudah menengelamkan hati nuranimu" bentak Adellia dengan geram. "Menekan orang lemah dengan kekuatanmu, menjatuhkan mental orang yang kau bandingkan dengan kasta, bahkan memberikan perundungan pada mereka, apa lagi yang lebih sampah dari itu” hina Adellia dengan lantang kehadapan veronica.
Membuat Salsabilla sadar, gadis itu bukan orang sembarangan yang bisa di sepelekan, orang-orang yang memiliki kekuatan kokoh di kakinya, adalah orang yang paling kuat untuk mengangkat derajat diri, tak peduli serendah apa harga diri yang selalu dinilai dengan angka, tetap saja ia terlihat luar biasa dari siapapun di dunia ini.
Sedangkan Veronica yang kalah talak atas perdebatan sengit itu, merasa dilempat kotoran pada wajahnya sendiri, atas seluruh hal memalukan ini, tidak mungkin ia merima, hingga tubuh bergetar yang sedang dikendalikan emosi, melayangkan tangan untuk menampar wajah Adellia, namun berhasil di cegat oleh tangan seseorang.
Hingga Adellia membuka salah satu matanya, ketika ia pejam untuk memasrahkan diri dipukul Veronica barusan. “Apa yang kau lakukan, apa kau akan membiarkan orang lain menindasmu. Kemana keberanian itu Adellia Meyna!” tegas Reynanda dengan tatapan merendahkan.
Membuat Adellia tertegun saat melihat sosok yang sama, lagi-lagi pria itu muncul disaat dirinya membutuhkan pertolongan, bahkan disaat Adellia tersudutkan, selalu ada dia.
“R-Reynanda” lirihnya dengan pandangan gugup, bahkan bibirnya gemetar sembari mengucap nama pria itu.
“S-Sakit, lepaskan tanganku” putus Veronica yang kala itu meringis akan cengkraman tangan Reynanda yang begitu kasar, mungkin saja sudah menghentikan aliran darahnya.
Mendengar rengekan dari Veronica, Reynanda menghempaskan tangannya, memancarkan pandangan asing yang membuat siapapun melihat jika ada ketidak sukaan diwajah itu.
__ADS_1