My Complicated Boyfriend

My Complicated Boyfriend
Episode 7 - Cantik sekali.


__ADS_3

Rasanya adellia malas sekali menjadi pasangan Havier malam ini, sebab gadis itu terlalu malas untuk segala hal. Salah satunya malas mandi, malas bergerak, malas berganti pakaian, dan malas berpura-pura.


Tapi adellia tidak memiliki pilihan lain, selain membantu temanya, untuk menyembunyikan rahasia dirinya dihadapan kerabat dan orang tua, Adellia bangkit dari kasur berisi kapas dengan lagkah malas, ia berlalu ke kamar mandi untuk menyeret diri agar mandi, gadis itu menghabiskan waktu cukup lama hanya sekedar bersiap-siap.


Tentu saja adellia tengah dinanti oleh Havier di halaman depan kosan, bahkan pria itu sudah menarik banyak mata wanita yang tengah mengambil jemuran pakaianya.


Dengan baju kaos biasa dan celana jeans panjang, serta rambut di kucir, Adellia melangkah menemui Havier, matanya melirik dengan tidak suka, ketika tetangga kamar kos menyoroti langkahnya.


“Apakah itu pacarnya, tampan sekali. Bagaimana bisa dia pergi berkencan dengan pakaian jelek seperti itu, bahkan untuk pergi kepasar saja bahan itu tidak pantas” bisij seseiang yang ada di atas balkon.


Membuat Adellia menghentikan langkahnya seraya melirik kearah atas, bukankag mulut mereka sangat keterlaluan.


“Bahkan jika kau berdandan seperti Cinderella pun, dia tidak akan suka dengamu, karna bagaimanapun wajah itu tidak sesuai datang kepesta” dengkus Adellia dengan jengkel.


Sungguh, ia amat kesal ketika penghinaan orang lain atas dirinya mampu di akses oleh telinganya, meskipun Adellia terlahir dari keluarga yang tidak berada, setidaknya mama Adellia tidak melahirkan dirinya untuk dihina oleh orang lain.


“Dasar manusia tidak berguna, selalu mengomentari hidup orang lain. Ck” gerutunya sambil lalu, ketika menuju mobil Havier.


Membuat pria itu terkekeh atas tingkah sahabatnya, begitulah Adellia yang Havier kenal, gadis itu amat kuat dan sangat pintar, ia cerdas dalam bersikap dan selalu hadir dalam bentuk iblis namun berhati malaikat.


“A-Astaga…. Apa dia menghinaku!!!” teriak seorang wanita yang kala itu berada diatas balkon, bahkan dirinya tergugu tidak menyangka atas kata-kata yang tidak mampu di balasnya.


“Sabar…..biarkan aja. Dia memang sombong, kenapa kau harus terpancing dengan kata-katanya. Biarkan anjing mengongong, kita yang waras diam saja” tenang sang gadis yang kala itu mengunakan handuk untuk membungkus kepalanya, ia menenangkan temanya yang baru saja dihina oleh Adellia.


“Ck, orang waras. Bukankah mereka yang mengongong duluan padaku, dan sekarang malah membalikan fakta. Hal ini sedari awal sudah menunjukan jika manusia itu memang tidak sadar diri” gerutu Adellia saat melipat kedua tanganya, ia amat kesal hingga nampak sekali wajahnya memerah menahan marah.


Hingga tangan seseorang mengusap kepala Adellia dari belakang, gadis itu membalikan badan dengan segera, sebab mengetahui ada seseorang diantara mereka.


“Enggi….” Teriak Adellia dengan heboh, bahkan ia yang tadinya duduk di samping Havier, meloncat kepelukan Enggi sebab amat senang ada pria itu, kesibukan Enggi yang saat ini Home scholling serta menjalankan bisnis keluarganya, membuat Adellia jarang berjumpa denganya, bahkan terakir kali ketika di café itu dan mereka tidak sempat bertegur sapa.


Pria tampan yang cukup manis dengan kulit mulus dari pada Adellia itu membalas pelukan temanya, ia cukup senang melihat Adellia yang tidak pernah berubah semenjak ia kenal.


Bisa di katakan Adellia adalah orang pertama yang membuat Havier dan Enggi mengakui hubungan tidak rasional diantara mereka, meskipun pada awalnya Adellia sangat kaget, namun setelah bersama dengan mereka, membuat Adellia mengerti, hal yang sering dianggap tabu bagi mereka yang dicap menyimpang, adalah hubungan normal yang terkekah norma untuk menormalkanya.


“Kenapa kau tidak pernah menghubungiku. Apakah sebagai orang kaya, berbisnis memang menyita waktu mereka” tanya Adellia pada pria itu, bahkan ia tidak melepaskan rangkulanya dari Enggi, membuat Havier yang sebagai sopir mereka bersisungut jengkel tanpa disadari.


“Bisa dikatakan begitu. Aku cukup rindu untuk seperti tahun lalu, rasanya malam pergantian tahun itu adalah momen terakir kebebasanku” terus Enggi dengan senyum tampanya, ia tidak seperti Havier yang suka merengek dan menyebalkan.


Enggi sangat pengertian serta manaly, ia tipe pria perhatian dan sangat berwibawa. Jika saja Enggi mau dengan Adellia, pasti gadis itu akan mengejarnya. Sayangnya ada kodrat yang tidak bisa Adellia lintasi, untuk mendapatkan Enggi, sehingga ia memasrahkan diri sebelum berperang.

__ADS_1


“Ya sudah. Kau yang semangat saja, bagaimanapun ini untuk masa depanmu bukan. Aku akan selalu mendoakan yang terbaik, jika sesekali ada waktu, kau hubungi saja aku. Nanti aku akan membuatkan mie rebus dengan dua telur ceplok goyang-goyangnya”


"Apa kau masih ingat aku suka telor seperti itu"


"Tentu saja, aku tidak pernah melupakanya"


Hingga keduanya terlarut dalam percakapan mereka hingga mengabaikan Havier didepanya. Rasanya Adellia mengingat kembali, bagaimana Enggi sangat menyukai telur yang tidak matang itu, bahkan jika bisa dikatakan, ia menyukai telur kuning yang tidak di masak sama sekali, meskipun hal ini sangat tidak lazim, tapi rasanya untuk orang sempurna dengan ragawi yang kurang ajar, tingkah tidak lazim bisa saja Adellia maklumi.


"Karna itulah, luangkan sedikit waktumu"


"Aku mau sekali, tapi begitulah" serunya dengan kalimat bercanda, hingga Adellia terkekeh seraya mengeserkan tubuh untuk mendekati Enggi, berharap pria itu mengiyakan ajakanya. “Kenapa kau pandai sekali mengoda!! Tapi sayang sekali, aku sudah berhenti makan telur separoh matang, karna terakir kali, aku masuk rumah sakit karna itu”


“Benarkan, kenapa bisa” panik Adellia dengan kaget.


"Kenapa kau tidak menceritakan itu padaku" putus Havier.


"Hmm....."


"Jawab pertanyaanku, kenapa bisa kau masuk rumah sakit" timpal Adellia dengan segera, membuat Havier terdiam melihat antusias antara mereka.


“Karna di telur ayam yang tidak dimasak secara merata, masih banyak bakteri-bakteri yang hidup, jika kita mengkonsumsinya secara beelebihan ia akan membuat sistem imun menurun, jadi aku jatuh sakit dan di rawat beberapa hari, hanya karna kesukaan itu. Sekarang mamaku membuang seluruh persedian telor, dan aku sudah tidak mengkonsumsi telur ayam lagi”


“Astaga, aku tidak menyangka kau akan mengalami hal itu. Tapi demi kesehatanmu, ikuti saja protokol kesehatan dari Dokter” terus Adellia ketika menepuk pundak Enggi.


“Tidakah kalian keterlaluan” dengkus pria yang tengah mengemudikan mobil di bagian depan, membuat dua orang yang bercengkaram dengan akrab, melirikan pandangan kearahnya “Kalian bahkan memperlakukan aku seperti sopir pribadi, apa kau akan merebut dia dariku Adellia” sambungnya Havier tanpa tahu malu, membuat Adellia memukul kepala pria itu seolah tubuhnya amat geli mendengar kata-kata barusan.


“Bisakah kau bersikap biasa saja saat ada aku disini. Kau benar-benar membuatku geli, jika saja aku bisa merebut Enggi, akan aku rebut dia darimu. Sayangnya aku tidak bisa” kesal Adellia seraya menarik nafas dengan berat, membuat Enggi terkekeh atas jawaban Adellia yang tidak pernah berubah, sungguh tatapan pria itu merendah penuh sendu, memandangi sikap Adellia yang paling nenenangkan.


“Jangan coba-coba mengambilnya” bantah Havier seraya meninggikan nada suaranya, bahkan ia menajamkan mata menatap kearah kaca spion dibagian depan.


"Akan aku ambil!! Kau jangan meremehkan kekuatan do'a dan usaha, karna Tuhan akan memberikan kesempatan kepada orang yang berusaha”


Hingga pancaran mata Havier memancar tajam kearah spionyo, begitupun dengan Adellia yang membalas penuh pertentangan, seraya mencebikan bibi untuk mengejek Vier.


“Adellia!” bentak Vier dengan jengkel.


“Vier!!” Tegur Enggi ketika menghentikan pria itu, membuat Havier mengerucutkan bibir sebab Enggi selalu membela Adellia, hingga tawa penuh kemenangan terlukis di wajah Adellia dengan cukup puas, ia mendekatkan diri kearah depan seraya mencondongkan badan untuk melihat wajah Havier yang berubah kesal.


“Tenang saja, dia milikmu akan tetap menjadi milikmu. Aku tidak akan mengambilnya” gadis itu menepukan tanganya dengan oenuh candaan, sungguh ia tidam tega jika mempermainkan Havier berulang-ulang.

__ADS_1


Pria itu tersenyum kecut seraya memfokuskan pandangan kearah depan, ia memfokuskan diri untuk mengemudi seraya mendengarkan tiap celotehan Adellia yang menghidupkan suasana mobil.


*


Mulut Adellia bungkam, ia mengalihkan pandangan kearah depan seraya memperhatikan butik langanan yang sering ia kunjingi dengan sahabatnya, hingga pandagan Adellia di buyarkan tatkala Enggi membukakan pintu kabin untuk memperbolehkan Adellia menuruni mobil itu.


Senyum teduh yang Enggi ulas, disambut hangat penuh tenang ketika sang gadis menapakan kaki kearah jalan, Adellia melingkarkan tanganya ke lengah Enggi dengan begitu akrab, bahkan tak ada sikap cangung yang terlihat diantara interaksi mereka.


Melihat hal itu, Havier mengulas senyum kecut disudut bibirnya yang nyaris tak terlihat, rasanya ia terlanjur menerima atas hal ini, sebab Adellia memang sangat manja pada Enggi, terlebih pria itu sangat dewasa secra umur dan juga karakternya, jadi tidak terlalu etis jika Havier menempatkam cemburu ditengah-tengah hubungan mereka. Sebab Enggi berdalih bahwa Adellia sudah ia anggap seperti adiknya sendiri.


Kedua pria itu sedang menanti diruang tunggu, bahkan sudah lebih setengah jam namun Adellia masih belum keluar, memangnya baju seperti apa yang ia pilih hingga selama ini.


Mata yang tadinya sibuk dengan ponsel itu, ia angkat melirik gorden silver tinggi yang sedang terbuka dengan lebar, menampilkan gadis anggun yang sangat cantik, keluar dari bilil ganti, bahkan Adellia tidak mengunakan riasan wajah namun dirinya terlihat sempurna dengan gaun yang dikenakan, Adellia tidak memiliki tubuh ideal dengan proporsi sempurna, tapi gadis itu menunjukan kualitas diri yang apa adanya, benar-benar gadis yang membuat laki-laki manapun terpukau jika sudah berpenampilan seperti sang putri.


“Kenapa kalian diam saja, apa pakaian terlihat jelek?” tanya Adellia pada dua pria yang menjadi penilai atas penampilanya.


“Hei, kenapa kalian diam saja, apa aku tidak cantik? Meskipun begitu, hanya ini pakaian yang cocok dan cukup pantas. Aku tidak akan mau mengunakan pakaian terbuka nan minim bahan, karna—“


“Cantik sekali” lirih Havier, hingga Enggi mengulas senyum terduh untuk membenarkanya.


"Benarkah aku cantik" ucap Adellia dengan pertanyaan yang retorika, ia hanya ia mendengar pujian itu sekali lagi, meskipun bagi dua pria itu ini tidak akan ada bedanya, tetap saja Adellia menanggap mereka lawan jenis, jadi jika dipuji sejujur itu, menjadi hal yang sedikit membahagiakan diatas sikap Havier yang selalu menyebalkan.


"Mau tak mau, aku serius mengakuinya. Kau cantik sekali pakai gaun itu"


“Kenakan saja pakaian ini, aku akan membayarnya” terus Enggi sambil melangkah untuk pergi, membuat Havier mencegat tanganya.


“Biar aku saja”


"Tidak perlu" bantah Enggi sambil melepaskan tangan pria itu darinya.


"Tapi Adellia datang ke acaraku, jadi biarkan aku yang membayarnya" protes Vier dengan tidak suka, namun sekuat mungkin ia tutupi dengan wajahnya yang datar dan biasa.


“Tidak perlu, biar aku saja” ketus Enggi dengan penuh penekanan, seolah tidak ingin ada bantahan dari pria itu.


Melihat perdebatan antara mereka, membuat Adellia terdiam, apakah mereka berdebat karna Adellia, jika memang begini Adellia tidak enak hati pada Vier. Karna setiap kali ada Adellia, mereka terus berbeda paham, apakah mereka seperti ini saat bersama orang lain, atau setiap harinya memang saling bertolak belakang.


"Bagaimana jika aku yang membayarnya?" putus Adellia dengan nada bercanda hingga mengalihkan perhatian mereka.


"Aku bilang tidak Adel" geram Enggi penuh kesal hingga mata Havier menatap nanar pada pria itu.

__ADS_1


"T-Tapi...."


"Aku akan membayarnya, kalian pergilah, aku tidak jadi pergi, karna ada rapat penting. Selain itu, kau ingat janjimu Vier" pria itu berlalu dengan dingin untuk meninggalkan Adellia dan Vier, bahkan mata Adellia menatap rendah kepergian Enggi dari sana.


__ADS_2