
Reynanda menghempas tas yang ia bawa kekursi tamu yang ada di depan, pria itu berlalu dengan jengkel kearah kamar hingga membuat para pelayan kebingugan.
“Siapa yang membuat Tuan Muda marah” tanya mereka ketika mengambil tas Reynanda dengan hati-hati, rasanya emosi seperti ini, membuat mereka tidak berani menganggu jika tidak ada hal yang penting.
Reynanda membuka membuka pintu kamarnya, berjalan kearah kasur untuk membentang dirinya di sana, rasanya wajah Adellia yang selalu menantang dirinya dan mencari perlawan, benar-benar membuat Reynanda amat jengkel, jika ia mengetahui gadis itu semenyebalkan ini, rasanya Reynanda ingin membiarkanya di habisi para preman malam itu.
“Dasar wanita jelek” dengus pria itu saat melemparkan pakaian sekolahnya, ia berjalan kearah kamar mandi untuk menyegarkan fikirkan, Rey membutuhkan air dingin yang sesuai dengan suhu tubuh, setidaknya menghilangkan rasa kesal sepulang sekolah.
Mentari sore yang berlalu terngelam kebalik sana, menjadi sensasi kuar biasa untuk menemaninya membersihkan kotoran yang menempel di tubuh, pria itu merelaksasi fikiran dengan wewangian therapy yang sudah dipesan khusus dari negara Jerman, setidaknya menjadi penunjang perbaikan mood yang di rusak Adellia.
“Nyaman sekali” ucapnya sambil menjangkau ponsel yang ada di samping bathub mewah tersebut.
Perpaduan putih dengan kaca marmer berwarna gold terang membuat kesan elegan di dalam kamar mandi milik Reynanda, ia sengaja membuat arsitekstur villa ini sesuai dengan hotel-hotel mewah, sebab Reynanda sangat menyukai selera elegan setiap saatnya.
Pria itu membuaka akun sosial media yang ia miliki, tentu Reybmelihat beberapa akun artistick kuno yang merupakan kegemaran dirinya untuk mengkoleksi, bahkan hiasan dinding di sepanjang tangga rumah saja di penuhi dengan ukiran-ukiran pohon kuno yang menghidupkan kesan elegan namun amat berkelas.
Hingga tangan itu terhenti ketika melihat akun temanya Anggara, tentu saja di masa SMP ia mengenal baik Anggara Prajaja, bahkan mereka sering bermain bersama, tentu saja semenjak ia pindak ke Australia membuat Reynanda putus komunikasi dengan pria itu, meskipun mereka berteman di sosial media.
Reynanda yang awalnya tidak sengaja membuka akun temanya, melihat foto Adellia yang sangat mesra dengan Anggara, bahkan diantara seluruh foto pria itu, ia hanya memajang fotonya bersama Adellia dan gaya berfoto mereka entah kenapa mengelitik Reynanda dengan kesal.
“Kenapa gadis itu harus menempelkan wajahnya ke wajah pria ini, apa dia memang sedekat itu dengan laki-laki hingga tidak sadar batasanya. Jika dengan semua pria itu ia bisa dekat, kenapa ia selalu bertentangan dengan diriku. Dasar gadis bodoh!!” umpat Reynanda penuh kesal, bahkan ia tidak tahu kenapa dirinya amat kesal ketika Adellia selalu dekat dengan pria lain.
*
Sepulang sekolah, mereka semua berkumpul di kos Adellia, tentu saja kos Adellia yang cukup sederhana, hanya ada satu tempat tidur kecil, dengan lemari pakaian, meja belajar dan juga beberapa rak buku yang ada di dalam sana, hanya ada satu kamar mandi yang berukuran kecil bagi teman-temanya yang terbiasa tingal di rumah mewah, serta berbagai perangkat makan yang ada di satu ruangan yang sama.
Anggara tengah menguasai ranjang seorang diri, pria itu benar-benar bagaikan Raja diantara para wanita, sedangkan Adellia tengah menyedukan mie kemasan untuk teman-temanya, bahkan Tania dan Chia sedang sibuk dengan ponsel mereka.
“Minggir..minggirr…”usir Adellia sembari membawa mie dengan tempat besar untuk di taruh di tengah-tengah mereka.
Kedua gadis yang sangat nyaman dengan posisinya, dengan terpaksa tergusur dari tempatnya berpijak, sebelum akirnya mereka melihat mie yang sudah di sedukan Adellia, jika bukan di kos kecil yang sederhana ini, mereka tidak akan bisa menikmatinya dengan bebas.
“Kenapa telurnya hanya tiga” tanya Anggara yang kala itu mulai menuruni ranjang untuk duduk tenang diantara mereka.
“Terima saja, telurku hanya 3. Aku lupa membeli persediaan” saut Adellia sambil memukul kepala temanya, membuat Anggara mengerucutkan bibir atas sikap kasar gadis cantik itu.
Baru saja ia ingin mendaratkan sumpitnya diatas mie dengan lumeran telur ceplok , Tania yang menatap kagum atas makanan itu memukul tangannya dengan kasar.
“Aish…kenapa kau memukul tanganku” bentak Anggara hingga mengeraskan suaranya.
“Aku ingin Instastory dulu, jagan disentuh mie sexy ini” ucapnya, sambil memposisikan ponsel untuk menangkap tampilan menarik atas mie tersebut, tentu saja gadis itu menghabiskan waktu cukup lama, hingga ketiga orang yang menanti sekaian detik benar-benar mengigit sumpit akibat tidak tahan.
Jika saja di dunia ini tidak ada manusia seperti Tania mungki rasanya mereka tidak akan mengulur waktu untuk merasakan kelaparam, sikapnya yang luar biasa menyebalkan itu, sungguh membuat mereka bertiga tersiksa.
“Sudah selesai” terus Tania dengan segera.
Membuat sang pemangsa yang bersiap-siap menyentuh mie dengan rakusnya, bahkan Tania sibuk mengotak atik ponselnyanuntuk mengedit beberapa hal, agar menjadi tampilan vido yang menarik, sebagai seorang selebgram di sosial media tentu saja Tania sangat memperhatikan tiap positang yang ia unggah, sehingga hal itu membuat dirinya perlu berhati-hati untuk mengunggah hal yang bisa menarik perhatian.
Tawa Tania mengambang, ketika story instagram itu sudah di luncurkan diakun sosial medianya, baru saja ia menaruh ponsel di posisi samping, mata Tania dibuat lumpuh, saat mangkuk besar dengan empat mie instan sudah tandas tanpa bersisa, bahkan kuahnya saja hampir mengering akibat tigaa manusia yang tidak memikrikan dirinya.
__ADS_1
“Ya!!!!!!!!!!” teriak gadis sampai-sampai mengetarkan ruangan.
Mata Ketiganya membulat dengan tubuh membeku menatap Tania, bahkan air mata gadis itu hampir tumpah saat mereka tidak meyisakan sedikit bagian untuknya, padahal sudah lama Tania tidak menikmati mie instan, dan mereka dengan tidak berprasaan malah melupakan dirinya.
Adellia menelan salivanya dengan berat, ketika baru menyadari jika Tania masih belum menyicipinya, lantaran terlalu kelaparan dan gadis iti terus mengulur waktu, benar-benar membuat Adellia melupakan dirinya.
“Bagaimana bisa kalian sejahat ini, kalian menghabiskan semuanya tanpa membagi sedikitpun unuk ku!” bentaknya penuh jengkel, hingga ketiganya merinding takut atas tatapan Tania.
Sungguh, tubuh Adellia bergindik sebab ia melupakan temanya,, hingga Chia saja merengsek kebelakang punggung Adellia untuk menyembunyikan diri. "Ta-Tania apa kau belum menyicipinya?” tanya Adellia dengan bodoh.
“Menurutmu!! Apa kau melihat diriku menyicipinya sedari tadi, bahkan hanya satu menit aku mengotak atik ponselku, dan semangkuk mie besar sudah kalian habisi, apa kalian mau kuhabisi detik ini juga!” teriaknya penuh geram, membuat dirinya benar-benar naik pitam atas sikap mereka.
“Ini semua salahmu, jika mau menyicipi makanan langka, seharusnya kau tidak perlu memotretnya, dasar alay” dengus Anggara yang kala itu menuntaskan panci rebusan mie untuk menghabisi kue segar yang menyenangkan itu.
“Alay kau bilang!!!” geram Tania dengan wajah mengelap, hingga ia amat muak melihat wajah pria menyebalkan itu, tentu Adellia dan juga Chia memilih menjauh untuk pelan-pelan mengamankan diri, sebab bisa saja pukulan gadia itu akan membunuh mereka. “Kau yang alay, makan mie saja tidak setia kawan” dengusnya dengan kesal, hingga Tania menjambak rambut Anggara sampai teriakan pria itu mengema diseluruh kamar kos.
Keadaan yang ricuh, benar-benar membuat Adellia dan Chia panik, rasanya memisahkan mereka hanya akan membuat Adellia terkena imbas atas kemarahan Tania, jika terus di biarkan, sepertinya Anggara akan babak belur oleh gadis itu.
“Dell, apa yang akan kita lakukan”
“Entahlah, kiat harus memisahkan mereka, jika Tania terus dibiarkan, Angga benar-benar babak belur”
“Kau benar, pisahkan cepat” pinta gadis yang sedari tadi berlindung di balik tubuh Adellia.
“Kau saja. Aku takut!!” bantah Adellia sembari merengsek mundur.
Bahkan Tania sudah menarik rambut Anggara hingga pria itu juga menarik rambutnya, sungguh pertengkaran ini amat memalukan untuk dilihat, tapi jika tidak dihentikan mereka akan kehilangan rambut.
“Kau yang harus melepaskan rambutku” balas Anggata dengan menantang.
“Apa kau mau mati!!” ancam gadis itu kearahnya.
“Jika kau tidak melepaskan diriku, aku benar-benar akan mati. Setelah ini kau harus mendekam di penjaran, dan keluarga ku tidak akan memaafkan mu” ujar Anggara untuk terus menantang
“Apa kau fikir aku takut, akan aku katakan kau pada ayahku”
“Heh, sekarang kau malah mengadu, kau fikir aku tidak bisa mengadu pada mamaku hah” ucap pria itu ketika melawan Tania.
“Kau ini—“
“Adellia, apa di dalam baik-baik saja?” teriak seseorang dari pintu luar, membuat semua orang terdiam, bahkan Anggara dan Tania menegang mendengar hal itu, dengan rambut keduanya yang acak-acakan dan juga juga pakaian Anggara yang berantakan, membuat jantung Adellia bersedir takut.
“Matilah aku. Itu ibu kos” terusnya dengan panik, hingga ketiga orang itu berlari pontang panting sembari memebereskan barang masing-masing, tentu saja kosan Adellia adalah kos putri yang tidak boleh dimasuki oleh laki-laki, sedangkan Anggara selalu masuk lewat jendela dan ia memanjat pohon untuk masuk kesana, bahkan mereka sudah meretas cctv yanga ada di sekitar kamar Adellia agar menutupi barang bukti, tapi siapa yang menduga disat mereka tidak memiliki persiapan, ibu kos malah mengedor pintu kamar Adellia.
“Kemana aku harus pergi, haruskan aku terjun kebawah” ucap Angara yang kala itu amat panik, hingga rasanya ia benar-benar mati jika melakukam tindakan implufis seperti itu.
“Astaga bagaimana ini, dia terus mengedor-gedornya” panik Tania saat melihat kearah pintu, sedangkan Adellia dan Chia sangat sibuk membuka laci, mereka sangat panik untuk mencari sesuatu.
“Ketemu” teriak Chia yang kala itu menemukan wig blonde, bahkan ia beralari menarik Anggara, untuk di pasangkan wig tersebut.
__ADS_1
“Aku tidak mau!!” bantahnya untuk menolaknya, yang benar saja, dia adalah seorang pria, sekalipun ia harus mati ia tidak ingin mengunakanya.
“Jangan banyak cerita, cepat kau kenakan saja, apa kau yakin akan meloncat di saat terdesak seperti ini, kau bahkan akan patah kaki setelah itu” paksa Adellia saat memasangkan wig di kepala Anggara.
Setelah berhasil di pasangkan, mereka menarik tubuhnya untuk di tidurkan di kasur, setelah itu menyelimuti seluruh tubuhnya agar menutupi posturnya yang seperti pria, bagaimanapun sangat bahaya untuk membiarkan Anggata di ketahui ibu kos, bisa saja mereka akan di laporkan ke kantor polisi dengan tuduhan kumpul kebo di kos putri, bukankah itu sangat memalukan.
Cklek!
Pintu kamar adellia terbuka, menampilkan suasana kamar yang berantakan, bahkan membuat wanita paruh baya itu menatap panjang kearah dalam.
Tania dan Chia yang menegang memaksakan senyum penuh palsu, mereka berdua duduk di samping ranjang tidur Adellia untuk menutupi Anggara yang kala itu tidur membelakangi ibu kos.
“Adellia kenapa ribut sekali, ibu seperti mendengar suara laki-laki” ucap beliau hingga jantungan Adellia berdesir keras.
“Astaga, matilah aku” batinnya.
Hingga suara tawa Cyhtia memecahkan perhatian mereka.
“Ibu Sut, apakah suaraku membuatmu tertipu” seru gadis itu ketika memperagakan suara serak basah yang berat khas pria. “Maaf jika membuat anda salah paham, sebenarnya kami tengah bermain peran, karna saya ingin menghadiri audisi iklan" terusbya dengan penuh tawa, bahkan caranya bicara saja sangat mayakinkan.
“Apakah benar begitu?” tanya beliau kearah Adellia yang tengah memegang pintu kamar, membuat gadis itu menganggukan kepala ketika membenarkanya.
“Jika begitu ibu minta maaf menggagu kalian. Tapi Adellia, bagaimanapun disini banyak teman-teman kosan yang juga mengontrak, seharusnya saling toleransi, jika ada teman juga harus di bilangi untuk menghargai, bukankah sudah ibu katakan hanya boleh membawa teman dua saja, sedangkan kamu membawa 3 teman” ucapnya seraya menasehari Adellia, membuat Tania dan Chia saling memandang penuh jengkel.
Jika saja Adellia mengizinkan mereka telah membeli wilayah kos ini, mungkin mereka sudah mengakuisisi bangunan sampah di komplek terpencil tersebut, hanya saja Adellia melarang dan menolak mereka untuk melakukan hal itu, sebab ia memikikan mata pencahrian orang rendahan.
“Maaf Ibu Sut, Adellia benar-benar tidak sadar sudah menganggu kenyamanan disini, selaku teman-teman Adellia meminta maaf atas nama mereka” ucapnya dengan sungguh-sungguh, membuat wanita itu berwajah masam untukmemalingkan wajah agar pergi dari sana.
“Astaga, ingin rasanya ku tarik rambut keritingnya itu” dengus Anggara dengan kesal.
Membuat mata Adellia membulat ketika langkah Ibu Sutriani terhent, dentu segera Tania membenamkan kepala Anggara yang menyebalkan itu.
“Apa ada yang menghinaku?” tanya beliau dengan jengkel.
“Menghina? Tidak ada bu”
“Aku mendengar pria tengah menghinaku” ucapnya dengan begitu geram.
“Pria? Yang benar saja, disini hanya ada kita, mungkin ibu salah dengar” bantah Adellia dengan begitu gugup
“Tidak mungkin, aku masih muda, dan pendengaranku masih berfungsi” balas wanita paruh baya itu, membuat Tania dan Chia tercengang atas kepercayaan dirinya, bahkan dilihat dari aspek manapun tidak ada kemudaan di tubuhnya.
“Mungkin angin lalu, abaikan saja” kekeh Adellia dengan bercanda, membuat wanita paruh baya tersebut mengerucutkan bibir seraya menjangkau rambut keritingnya.
“Padahal aku benar-benar mendengarnya, tapi apa salah rambut indahku ini, ini sangat cantik” ucap beliau saat berlalu.
Hingga ketiga mata itu saling memandang agar memastikan ibu Sutriani benar-benar pergi, membuat Adellia menutup pintu hingga ambruk dibalik sana, rasanya jantung Adellia berjalan normal seperti semula, darahnya yang tersumbat seperti mengalir deras, membuat gadis itu sangat tertekan beberapa waktu lalu.
Sednagkan pancaran mata tajamnya dengan kobaran api yang siap melahap mereka, membuaat ketika orang itu ketakutan melihat Adellia.
__ADS_1
“Kaliann!!!!!!” teriaknya sambil berjalan mendekat hingga menarik telinga ketiga sahabatnya. “Cepat pergi dari sini!!” bentak Adellia penuh geram, higga membuat mereka tidak mamapu bertingkah selain menanggung ketakutan yang amat kental