My Complicated Boyfriend

My Complicated Boyfriend
Episode 11 - Kenyataan sebenarnya.


__ADS_3

“Adell” tukas Havier seraya mencegat kepergian Enggi dan Adellia.


Namun kehadiran pria itu, di sambut dingin oleh Enggi, hingga pancaran keduanya terkesan bertentangan membuat Adellia merasa sungkan ada di tengah mereka.


Tangan yang perlahan Adellia lepaskan, di tarik paksa oleh Enggi tepat di hadapan Havier, membuat pria itu menjatuhkan padangan bingung atas semua ini, apa maksud sikapnya? Kenapa ia memperlakukan Adellia seperti ini.


"Enggi....lepaskan-"


"Ayo kita pergi" terusnya dengan dingin, sembari menarik Adellia untuk pergi dari pesta itu.


"Enggi tunggu" pria itu mengikuti langkah Enggi dan Adellia, bahkan Havier tidak percaya ia akan diabaikan hanya karna Adellia.


“Kenapa kau kesini, kenapa kau membawa Adellia pergi” keras Havier dengan pertanyaan lantang, bahkan ia tidak menyangka jika Enggi menampilkan gurat marah yang kental kearahnya.


“Kau masih bertanya kenapa! Bukankah sudah aku katakan, untuk menjaga Adellia dengan baik. Kemana saja kau pergi! Hingga mereka memperlakukanya dengan semena-mena, bukankah sudah aku bilang, jika kau tidak bisa bertangung jawan atas Adellia, kembalikan padaku” bentak pria itu dengan intonasi meninggi.


Membuat Adellia tertegun saat pria itu begitu emosional kepada Havier. Apa maksud Enggi bicara selantang ini.


“E-Enggi…ini bukan salah Vier” tenang Adellia yang ada diantara mereka.


“Aku tidak bicara denganmu. Aku bicara denganya" kerasanya lagi, seraya melihatkan pertantangan kearah Havier. "Aku sudah mengatakan padamu bukan, jika kau harus menjaga Adellia dengan baik, jika saja terjadi sesuatu denganya, siapa yang akan bertangung jawab!" teriak pria itu, hingga Adellia tertegun penuh bungkam. "Aku sudah bilang untuk tidak usah melibatkan Adellia dalam masalahmu tapi kau selalu memaksa dirinya untuk terus berpura-pura. Jika kau tidak bisa mengendalikan hubunganmu degan ibumu, lebih baik kita selesaikan saja sampai disini”


Kali ini ucapan pria itu seperti ultimatum tegas untuk mengakiri segalanya, bahkan Havier tidak tidak mampu di bantah selain menatap penuh sendu atas sikap yang di berikan padanya, tidakah Enggi sadar jika Havier juga manusia, ia memiliki perasaan yang sama terlukanya seperti Adellia.


Kenapa setia saat selalu Adellia yang ia bela, gadis itu yang terus ia kedepakankan, serta menjadi pusat perhatianya, benarkah Enggi tidak memili rasa apapun pada Adellia, atau jangan-jangan sedari awal Havier dijadikan jembatan untuknya memiliki Adellia

__ADS_1


“E-Enggi, jangan salahkan Vier” seketika Adellia angkat bicara diantara mereka, namun Enggi menarik paksa tangan gadis itu, diantara pintu ambang pintu keluar.


“Aku akan membawa Adel pulang. Tidak usah ikuti kami” kesalnya lagi, dengan nada perintah yang amat tegas.


Adellia yang tidak di dengarkan, menatap kearah Havier dengan bersalah, ia yang masih ingin ada disana untuk menjelaskan hal ini pada Havier, malah dipaksa pergi untuk berlalu dari pesta, semua mata menatap mereka, bahkan mulut ke mulut membicarakan Adellia, siapa gadis itu hingga di perebutkan 3 lelaki yang merupakan ahli waris dari para elit terpandang.


“Enggi, aku rasa ada kesalahn pahaman. Aku tidak apa-apa, aku sungguh-sungguh tidak apa-apa atas apa yang terjadi barusan” protes gadis itu ketika mengikuti langkah Enggi yang memaksanya keluar dari hotel. “Kau tidak bisa melakukan hal itu pada Vier, aku takut, dia akan salah paham” ungkap Adellia hingga menghentikan langkah Enggi yang menarik dirinya.


Pria itu melepaskanya tanganya, ia berdiri di depan Adellia saat memandang sendu ke hadapan mata gadis itu, Adellia tidak megerti hal apa yang membuat Enggi sangat emosional sekali, bahkan rasanya Adellia tidak menyangka ini membuat mereka menjadi bertengkar, bahkan karna dirinya.


Hingga sebuah pelukan di jatuhkan Enggi kesebagian tubuh Adellia, ia benar-benar memberikan kelembutan dengan amat sangat, memberikan rasa nyaman untuk menenangkan Adellia, bahkan gadis itu gagal mencerna apa yang tengah terjadi, ia tidak berfikir jika pria itu akan memeluknya lagi, meskipun Enggi pria yang begitu tampan dan hangat, tapi kenapa setiap kali Adellia di perlakukan seperti seorang gadis dimatanya.


"Diamlah sebentar" ungkap pria itu seraya menutup kedua mata merasakan sensasi nyaman atas pelukan mereka, jantungnya amat berdebar, bahkan sakit berdebarnya Enggi tak kuasa merasakan.


“E-Enggi, apa kau tidak apa-apa?” seru Adellia dengan bingung.


“Aku tidak apa-apa. Aku sangat takut jika terjadi sesuatu padamu. Memangnya apa yang terjadi hingga kau bermasalah dengan Reynanda?” tanya pria itu seraya mengusap kepala Adellia penuh kelembutan


"Aku tidak melakukan apapun" gadis itu memandang nanar jika pelukan menenangkan dari Enggi membuatnya tenang.


“Bahkan aku tidak mengenalnya, hanya saja untuk beberapa hal, aku selalu terlibat dengan pria itu” mata Enggi menyitip atas jawaban yang menyebalkan itu, ia melepaskan pelukan dengan enggan, seraya menatap mata Adelli penuh tuntutan.


"Terlibat?"


"Maksudku, dia beberapa kali menolongku, dan menjadi siswa pindahan di sekolah" ungkap Adellia dengan polos, membuat mata Enggi mengerjap tak percaya jika Reynanda pindah ke sekolah Adellia..

__ADS_1


“Apa dia menyakitimu?” tanya pria itu lagi, seraya membawa gadis itu keluar dari sana.


“Tidak. Dia hanya menyebalkan” kesal gadis itu dengan kalimat naif, seraya menuruti perintah Enggi untuk menempati tempat duduk disamping kursi kemudi.


"Apa dia sering mentulitkanmu disekolah?" tanya Enggi penuh peduli, seraya memasangkan alat pengaman bekendara di tubuh Adellia.


Membuat gadis itu mengelengkan kepala dengan keras, seolah ia tidak merasa sulit karna Reynanda. Melihat jawaban itu, Enggi mengulas senyum dengan syukur, sembari berlalu kearah samping, setelah menutup pintu mobil, bahkan mata Enggi terhenti melihat Havier yang memandang panjang kearah mereka.


Pria itu benar-benar tidak peduli, ia memasuki menghidupkan mesin mobilnya, untuk mengantarkan Adellia pulang, bahkan di tengah perjalanan Adellia masih saja membahas Havier, hal itu lantaran efek bersalah yang ia emban, membuat Enggi berulang kali mengalihkan topik pembicaraan, bahkan rasanya ia merasa kesal untuk membahas pria itu.


“Kenapa kau bisa ada di pesta?” tanya a


Adellia untuk memutus keheningan yang tengah tercipta, membuaat Enggi memalingkan wajah kearah Adellia sebelum ia menjawab pertanyaan itu.


“Aku tidak sengaja memiliki pertemuan bisnis disana, awalnya aku hanya ingin menyapamu. Tapi melihat pemandangan yang tidak megenakan seperti tadi, membuatku benar-benar marah”


“Tapi Enggi, kenapa kau harus marah”


“Kenapa lagi-lagi kau bertanya pertanyaan yang sama. Tentu saja aku marah karna aku menyayangimu”


Hingga hening terbentang antara perdebatan mereka, Adellia menatap nanar saat mata sayunya meredupkan cahaya pertentangan yang tadi tertampil jelas di manik mata bulat itu.


“Aku hampir saja tertipu dengan ungkapan itu” putus Aellia seraya mencebikan bibirnya untuk mengejek Enggi, mencairkan sausana agar mereka saling bersikap nyaman.


“Aku tersanjung jika kau bisa tertipu” sahut pria itu dengan tawa pelik yang ironis ia tampilkan.

__ADS_1


Hingga tawa merekah di kedua wajah mereka terulas di sepanjang jalan pulang, bahkan Enggi mengendarai mobil dengan kecepatan sedang sesuai protokol jalan, pria itu benar-benar tidak percaya dirinya akan senyaman ini ketika bersama adellia.


Hingga Enggi berfikir, jika Adellia mengetahui kebenaranya. Akankah gadis itu menerima Enggi apa adanya seperti hari ini? Atau malah merusak hubungan manis mereka yang membuatnya mengubur dalam mimpi memiliki Adelia.


__ADS_2