
Adellia membereskan kamar ketika teman-temanya sudah pulang, bahkan gadis itu membentangkan tubuh diatas ranjang saat fikirannya masih memikirkan Havier, biasanya pria itu selalu mewarnai hari Adellia dengan tingkah menyusahkan, tapi kenapa semenjak Havier tidak ada kabar rasanya sangat sepi.
Bahkan berulang kali Adellia memeriksa ponselnya, tetap saja sama seperti biasanya, tidak ada balasan dari pria itu bahkan ponselnya dimatikan sedari tadi.
“Apa kali ini, Vier benar-benar marah padaku? Tapi kenapa?” tanya Adellia ketika memikirkan perihal kemarin.
Ia sunguh tidak bisa mengatakan apapun selain mempertanyakan dimana letak kesalahanya, sehingga Enggi begitu marah kepada Havier, bukankah tidak ada hal yang perlu dimarahkan, sebenarnya apa yang terjadi di hubungan mereka, sehingga Adellia tidak bisa menebak dimana letak kesalahanya.
“Apa aku harus menghubungi Enggi saja” fikir gadis itu ketika membalikan posisi kearah samping, sungguh Adellia mempertimbangkan niatanya, tapi ia takut hal ini hanya akan memperburuk masalah.
“Tidak! Lebih baik aku coba saja, masalah selanjutnya biarkan saja” ucapnya ketika mengotak atik ponsel itu untuk menghubungi Enggi.
Nada menyambungkan masih terdengar jelas, sepertinya pria itu tengah sibuk sehingga tidak menjawab panggilan Adellia.
Sedangkan di seberang panggilan itu.
“Tunggu” tangan Enggi memutus rapat yang tengah berlansung, bahkan membuat mereka tidak menyangka jika Tuan Muda Enggi menghentikan rapat yang berlangsung cukup serius, tentu saja membuat para kariyawan disana memberikan ruang untuk diam.
“Hallo Adel, ada apa?” tanya Enggi dengan nada ramah, membuat Adellia mengigit bibir bawahnya akibat gugup, sebab ia tidak mengerti harus memulainya dari mana.
"Ha-Hallo" balasnya penuh sungkan. “Apa kau sibuk?” tanya gadis itu dengan rasa segan, membuat Enggi melirik kearah kariyawan yang memilih diam di depannya.
"Tidak, aku tengah senggang ada apa?” tanya pria itu dengan sikap tenang, membuat beberapa orang yang ada disana saling memandang penuh bingung.
“Ada yang ingin aku bicarakan” terus Adellia dengan kalimat rendah.
“Benarkah, aku akan ketempatmu, lebih baik kita bicarakan secara langsung” sahut Enggi dengan penuh semangat, membuat beberapa kariyawan amat bingung atas sikap dari tuan muda Enggi, ia biasanya sangat profesional soal pekerjaan, tapi sekarang ia malah memutus rapat ini untuk menemui seseorang yang baru saja menelfon, siapa yang di hubungi oleh Tuan Muda Enggi hingga dirinya begitu semangat sekali untuk pergi meninggalkan rapat sore ini.
“Tapi, kau tidak perlu—“ ponsel itu terputus, rasanya percuma Adellia mengatakan tidak, jika pria itu sudah ingin pergi kesini.
“Yasudahlah, aku akan berganti pakaian dulu”
Adellia beranjak kearah lemari pakaian, sebab pakaian yang ia gunakan saat ini sangat tidak sopan untuk di bawa keluar.
Meskipun pria tidak boleh berkunjung ke kos pria, setidaknya di halaman depan ada taman kecil dan sebuah tempat duduk rindang di bawah pohon besar, dengan begitu mereka bisa bicara disana dengan nyaman, mungkin memang benar apa yang Enggi katakan, bicara langsung mungkin akan lebih mudah bagi mereka.
Suara mobil yang sudah masuk ke perkarangan kosan, menyita perhatian para wanita yang ada di balkon atas, bagaimana kagetnya mereka sorang pria tampan keluar dari mobil mewah itu seraya mendongak kearah mereka.
Sederet pujian terdengar oleh Adellia, lagi-lagi dihujani berbagai pertanyaan muncul atas siapa pemilik pria itu, mungkin dia adalah gadis yang sangat beruntung.
__ADS_1
Adellia turun dari tangga, bahkan menarik perhatian berberapa gadis yang ada dibalkom atas, ternyata pria tampan itu datang untuk Adellia, kenapa gadis sombong penghuni kos belakang itu selalu di jemput pria tampan dengan mobil mewah, bahkan sudah 3 lelaki yang mereka kenali hingga detik ini.
Semua mata menatap penuh iri, hingga rasanya Adellia cukup canggung saat berjalan menghampiri Enggi.
“Apakah kau sudah lama menunggu?” tanya Adellia dengan sapaan manisnya.
“Tidak, aku baru saja sampai” ucapnya ketika berdiri di samping mobil untuk menatap Adellia.
“Oh begitukah” balasnya ketika memandang kearah belakang, rasanya gadis-gadis menyebalkan itu semakin banyak berkumpulan diatas sana, memang tidak di pungkiri ketampanan pria itu memang menarik hati, tapi sayangnya dia tidak akan suka kepada wanita manapun.
“Apa kau mau kita bicara sambil jalan-jalan saja. Aku rasa sangat canggung untuk bicara disini” tawar Enggi dengan sikap mesra.
Membuat Adellia berfikir sejenak hingga pertimbanganya menuai keputusan.
“Ya sudah, kita pergi saja. Aku juga tidak suka dengan gadis-gadis rumpi itu”
Adellia melangkah kearah depan untuk memasuki pintu mobil, bahkan pria itu mengambil alih untuk membukanya, dengan sikap lembut penuh sopan, Enggi menutup pintu mobil agar beralih kearah sampaing, menguasi kursi kemudi.
Kedua orang itu berada di dalam mobil dengan canggung, rasanya Adellia sangat bingung memulai percakapan darimana, sebab memang terjadi sesuatu dianta Vier dan juga Enggi.
Tapi, bagaimana cara Adellia harus memulainya, apakah ia harus memulai dari pertengkaran malam itu, atau langsung saja bertanya tentang Vier.
“Apa yang ingin kau tanyakan?” putus Enggi saat mengendarai mobilnya, ia melirik kearah Adellia seolah ingin mengetahui hal apa yang ingin disampaikan gadis tersebut.
Meskipun Adellia amat mengerti hubugan tidak lazim diantara kedua orang itu, tetap saja Adellia tidak sangup untuk bicara terang-terangan tentang mereka, rasanya kecanggungan akan terbentang jika Adellia membahasnya.
“Astaga dari mana akan aku mulai” batin gadis itu dengan resah.
“Adellia, ada apa? Apa yang ingin kau tanyakan?” paksa Enggi sembari memalingkan wajah beberapa saat kearah gadis yang ia sukai.
“i-Ini masalah vier” seketika pria itu terdiam, bahkan raut wajahnya saja berubah dalam hitungan detik, hingga jantung Adellia berdegup kencang seperti dirinya melakukan kesalahan “Aku minta maaf Enggi atas apa yang terjadi malam itu, tapi aku sungguh mengkhawatirkan Vier, hari ini ia tidak bisa di hubungi dan dia juga tidak masuk sekolah. A-Apakah kalian berdua memiliki masalah, ataukan aku mempunyai salah?” tanya gadis itu dengan sunguh-sungguh, membuat wajah Enggi mengelap seraya memilih diam untuk tidak membalas perkata Adellia.
“Aku sungguh minta maaf jika pertanyaan dan sikap ku menyinggung, tapi aku benar-benar khawatir akan Vier, sebelumnya dia tidak pernah mendiamkan diriku seperti hari ini, dan sebelumnya aku tidak pernah merasakan jarak diantara pertemanan kami. Aku sungguh-sungguh tidak enak hati semenjak malam itu” terus Adellia sekali lagi, membuat pria itu menepi seraya memposisikan dirinya dengan nyaman.
“Kenapa kita berhenti?” tanyanya dengan bingung, membuat pria yang kala itu membisu tanpa menjawab dirinya, memandang Adellia dengan tatapan dalam.
“Katakan apa yang ingin kau katakan sejujurnya?” terus Enggi dengan nada perintah.
Membuat Adellia menggit bibir bawahnya karna ragu, sunguh ia tidak bisa mempertanyakan hal yang seperti privasi, tapi nampaknya Enggi menantang dirinya untuk mengetahui maksud Adellia.
__ADS_1
“A-Apakah kalian sudah mengakiri hubungan?” tanya gadis itu dengan gugup, bahkan ketika bicara saja ia amat gemetar seoalah kata-kata yang terlontar amat berat saat di ucapkan.
“Benar, kami sudah mengakirinya”
Seketika hening membentang diantara mereka, mata Adellia membulat saat mendengar jawaban dari pria itu, kenapa mereka mengakirinya, bukankah sebelumnya hubungan keduanya baik-baik saja.
“K-Kenapa?” tanya Adellia dengan tidak terima, bahkan nampak sekali kekecewaan di kedua matanya, tentu Adellia merasakan bagaimana hancurnya Vier hari ini, di tambah ia sudah menyukai Enggi sedari lama, sedangkan pria itu malah tenang ketika hubungan mereka berakir.
“Untuk apa aku melanjutkan sesuatu yang tidak aku suka, tidak ada kenyamanan, tidak ada ketulusan, semua itu hanya akan berujung menjadi kepura-puraan. Dan aku sudah lelah” ucapnya dengan nada rendah, namun tersyirat banyak arti di dalam kata itu.
“Apa maksudmu sebenarnya? Apakah ada penganti Vier, sejak kapan?” dengkus Adellia dengan tidak terima.
“Aejak awal!” ucapnya dengaan yakin, bahkan tatapan Enggi begitu dalam kearah Adellia, hingga membuat gadis itu percaya, jika seseorang yang ia sukai kali ini, benar-benar membuat Enggi jatuh cinta, jika tidak, mana mungkin ada orang seyakin ini untuk memutuskan hubungan.
“Apa kau mempermainkan Vier selama ini? Kau tahu sendiri bagaimana Vier menyukaimu, dia bahkan rela melepaskan apapun hanya untukmu, tapi kenapa kau mempermainkan perasaanya!” bantah Adellia dengan tidak terima, setidaknya jika bukan karna Vier, Adellia tidak akan mengenal Enggi, dan mungkin sebaliknya.
Dan sekarang mereka malah berpisah hanya perkara Enggi sudah menyukai yang lain, dan ia sudah membohongi hubungan ini sedari awal, bukankah ini amat kejam untuk Vier, pantas saja pria itu menghindar dari Adellia.
“Enggi, aku adalah orang yang awalnya tidak pernah setuju dengan hubungan kalian, aku orang yang rasanya ingin membenci kalian, namun ketika aku mulai mempelajari betapa lukanya Vier dan memahami perasaan Vier, dan melihat hal ini dari sisi berbeda, aku mulai merasakan jika kita hanyalah manusia biasa, hal yang tidak pernah bisa manusia lawan adalah nafsu dan logikaku selalu menyalahi hal itu. Tapi aku mengerti bagaimana rasanya menjadi berbeda, menyembunyikan diri sesungguhnya, membohogi diri sendiri untuk berpura-pura, aku melihat tidak ada kebebesan bagi Vier, dan ia yang selalu tersiksa atas gejolak dirinya, terus saja memendam banyak luka untuk orang sekitarnya, tapi kali ini aku menyaksikan Vier terluka, bagiku ini terlalu kejam jika sedari awal kau hanya mempermainkan dirinya. Enggi kau—“
“Apa di fikiranmu hanya ada Vier dan Vier, bagaimana dengan aku. Apa kau pernah melihat ku dari sisi berbeda” bantah pria itu, membuat Adellia tertegun mendengar perkataanya, apa maksud Enggi sebenarnya.
Tentu saja Adellia melihat Vier dan Enggi dari sisi berbeda, memangnya sisi apa lagi yang Enggi miliki. “Kau bahkan tidak menyadarinya” seketika ucapan itu membuat kening Adellia berkerut.
“Apa maksudmu sebenarnya?” tanya Adellia dengan tatapan bingung.
“Tidak ada. Lupakan saja Dell, terkait Vier, lambat laun ia akan sembuh dengan waktu” ucapnya hingga menginjak pedal gas sembari melajukan mobil.
“Tidak semudah itu untuk sembuh dari luka, bagi orag-orang diposisi Vier hal ini sangat berbeda, karna tidak mudah mencari penganti yang bisa memahami dirinya” keluh Adellia yang menyuarakan Vier kepada Enggi.
Hingga rasanya telinga pria itu di buat pengap oleh nama-nama yang membuat jiwanya terus menolak.
“Enggi…”
“Adell…sedari tadi aku menerima argumentasimu, tapi tolong hargai diriku. Aku mengerti kau hanya menganggap Vier teman mu, dan aku orang lain, karna itulah aku tidak membantah apapun. Tapi keputusan ini adalah tentang hidupku, kau tidak perlu untuk ikut campur”
“Apakah begitu aku di matamu?” tanya Adellia kepada pria itu, hingga perkataan Adellia menyita perhatian Enggi, bahkan mata gadis itu berkaca-kaca sebab dirinya dianggap sebagai orang asing yang tidak perlu bersuara. “Apakah bagimu aku orang lain?” tanya Adellia dengan perasaan sakit, rasanya kedekatan Adellia dan Enggi sudah terjalin cukup lama, bahkan semenjak ia mengenal Vier, Adellia juga mengenal pria ini, tapi ternyata dirinya hanya orang asing, dan Adellia sendiri yang menganggap dirinya sebagai sahabat baik.
“Tidak Del, bagiku kau adalah orang yang selalu ingin aku lindungi” sontak perkataan itu membuat Adellia terdiam, matanya membulat kaku menatap kearah pria itu, hingga tubuhnya membeku atas kata yang baru saja Enggi katakan, apa maksud pria ini sebenarna, ingin menjadikan Adellia sebagai orang yang ingin ia lindungi, apakah hal itu bisa di artikan sebagai suatu hubungan yang lebih “Karna orang yang aku sukai, adalah kamu!”
__ADS_1
Sontak hening membentang, jantung Adellia berhenti berdetak, nafasnya tidak mampu di kendalikan , hingga tubuhnya merinding hebat, bahkan ia sulit bernafas hingga sesak melanda secara tiba-tiba.
Apa maksud Enggi sebenarnya, bukankah ia adalah orang yang tidak akan mungkin jatuh cinta pada Adellia, dan sekarang ia mengatakan seseorang yang di sukainya adalah Adellia, apa sebenarnya yang terjadin