My Complicated Boyfriend

My Complicated Boyfriend
Episode 6 - Reynanda.


__ADS_3

Reynanda Adriantama seorang murid baru di SMA Citra Merdeka, sekolah Swasta yang bertaraf Internasional tentu saja sekolah kalagan elit yang amat sulit dimasuki oleh para siswa, bahkan siswa Beasiswa hanya beberapa saja yang bisa masuk kesana, salah satunya adalah Adellia yang merupakan siswa berprestasi yang selalu memenagkan juara umum selama 2 tahun berturut-turut, dan saat ini menjadi ketua Osisi ditahun ajaran terakir.


Reynanda ternyata anak dari keluarga Tama yang tidak lain anggota Direksi di sekolah ini, kepala sekolah di SMA Citra Merdeka ini adalah istri dari pamanya, dan anggota yayasan tentu saja jajaran keluarga Tama yang berpengaruh baik didalam bisnis dan juga pemerintahan, pria itu merupakan kalangan elit yang amat dihargai oleh para petinggi, dan Reynanda seorang pindahan dari Australia yang memiliki darah aussie di tubuhnya, sebab ibunya blasteran Indonesia dan Australia, begitupun dengan Reynanda sendiri yang sudah merupakan komplikasi antara budaya Indonesia dan juga budaya Australlia sendiri, membuat dirinya menjadi pria dingin yang sulit di dekati, meskipun begitu tidak membuat para wanita menyerah untuk mendekati Reynanda ditahun ajaran ini.


Seluruh orang membicarakan tentang dirinya, dari segala aspek ia sangat luar biasa, tapi bagi Adellia itu hanya kelihatannya saja. Entah kenapa telinga Adellia dibuat lelah untuk terus mendengar nama itu, bahkan hari ini ia tidak menyangka seluruh gadis-gadis disekolah sangat menyukai ketampanan dari Reynanda, meskipun tidak bisa di pungkiri, pria itu memang tampan, bahkan bagi Adellia yang tidak tertarik dengan pacaran cukup terpaku memandang Reynanda di malam itu.


Hanya saja sifat buruk pria itu sudah membuat Adellia hilang simpati untuk mengajaknya bergaul, meskipun Adellia terkenal dengan sikap ramah dan mudah diajak berteman, rasanya ia akan membuang jauh nama Reynanda dilist pertemananya, sebab Adellia cukup berterimakasih atas malam itu, namun tidak mau menganggunya.


“Dell, menurut mu anak baru itu gimana?” tanya Tania yang kala itu bertopang dagu melihat Adellia, bahkan ia begitu bersemangat membuka gosip cerita.


“Sangat tampan” ucapnya dengan wajah malas, ia memilih menyodorkan sendok ke kumulutnya untuk menelan makanan yang akan mengenyangkan perut, bahkan Adelkua ingin menyumbat mulutnya dengan makanan supaya tidak menjawab apapun lagi terkait Reynanda.


“Tentu saja dia tampan. Aku ingin minta pendapatmu, apa kau tidak tertarik dengannya?” tanya gadis itu dengan hebohnya, membuat mata Adellia membulat menatap kepada Tania, bahkan membuat makanan itu gagal di cerna hingga Adellia tersedak akibat penuturannya.


Dengan segera Chytia menyodorkan air mineral kemasan sembari memainkan ponsel dengan cuek, gadis itu memang seperti itu, meskipun sibuk dengan ponsel, tapi telinganya mendengar apa yang orang katakan didekatnya.


“Apa yang kau katakan. Berhenti omong kosong, yang benar saja orang seperti itu masuk dalam pertimbangan pacarku” dengus Adellia kehadapan temanya


“Aku hanya mengatakanya saja, kenapa wajahmu memerah. Apa kau benar-benar menyukainya” tanya Tania sekali lagi, dengan gelak tawa mengejek. “Benarkan?” sambungnya lagi, hingga menarik perhatian Chytia yang sedari tadi sibuk dengan ponselnya.


“Benarkah kau menyukainya Dell?” timpal gadis itu pada Adellia.


“Tidak!! Apa kalian gila, aku bahkan tidak mengenalnya” balas Adellia saat menajamkan kedua matanya, hinggaa Sean dan Havier mendatangi mereka sembaru menduduki kursi disamping Adellia.


Havier memberikan susu ketan kepada empat temanya, tentu mereka amat menyukai susu ketan yang di simbolkan untuk pertemanan.


Adellia menancapkan sedotan kecil itu ke tempatnya, lalu membuat chears dengan teman-temanya sebelum akirnya Adellia menyeruput minuman ketan kemasan.


Wajahnya yang masih memerah membuat Adellia tidak habis fikir, kenapa ia bisa tergoda hanya dengan ejekan seperti itu, bahkan ini bukan seperti dirinya.


“Dell apa kau sakit? Kenapa wajahmu memerah?” ledek Sean hingga gadis itu mengelengkan kepala, sedangkan dua wanita menyebalkan itu tertawa untuk mengoloknya.


“Kenapa kalian mengodanya lagi” terus Sean pada kedua gadis yang merupkan lawan berdebatnya, membuat Tania memukul lengannya seolah tidak membenarkan tuduhan itu.


“Aku hanya bertanya, kenapa kau memukulku” dengus pria itu ketika menajamkan mata kearah Tania.


“Karna kau memang pantas di pukuli” ucapnya saat mencebikan bibir kearah Sean.

__ADS_1


“Sean!! Kenapa kau selalu bermasalah dengan kami, Ha. Apa kau tidak memiliki kerjaan lain” timpal Chia untuk membela Tania, membuat pria itu benar-benar kesal dengan dua wanita tersebut, kenapa mereka selalu berlawanan denganya, tapi jika Sean tidak ada, mereka sering mengatakan rindu. Memang wanita adalah makhluk Tuhan yang paling merepotkan.


“Sudahlah, kenapa kalian malah bertengkar” cegat Adellia sambil memandang kearah tiga orang yang berdebat, rasanya pertengkaran tanpa mereka seperti kopi tanpa gula, sudah menjadi hal yang lumbarah untuk tiga orang itu berdebat.


“Adel, apa yang kau lakukan sepulang sekolah nanti?” tanya Havier dengan sedikit hati-hati, membuat gadis itu mengelengkan kepala sebab tidak memiliki kegiatan apapun.


"Apa kau bisa menemaniku keacara ulang tahun teman mamaku ” tanya Havier dengan penuh harap, membuat Adellia mengelengkan kepala seolah enggan menyetujuinya.


“Dell…” rengek pria itu dengan memaksa, membuat Adellia berdecak kesal atas sikapnya.


“Tidak bisakan kau untuk tidak merepotkan, bahkan baru kemarin sore aku menjadi pacar settingan dan sekarang harus melakukan akting lagi. Bahkan aku bisa saja memenangkan piala Oscar jika terus melakukanya”


“Hei, ayolah Dell, aku mohon Dell, mamaku selalu memaksa. Bahkan aku di marahi habis-habisan ketika putus dengan Salsabilla, dan dia malah menjodohkan aku dengan anak temanya lagi. Aku ingin terbang saja ke Negara yang bisa menerima kehadirianku” dengusnya dengan frustasi, hingga pandangan Adellia membatu menatap Havier.


Adellia yang kala itu menyeruput minumnya tentu tidak tega melihat hal itu, gadis itu menghela nafas dengan berat seolah amat mengerti kesusahanya, hidup disituasi yang tidak bisa menerima kita tentu sudah menjadi kehidupan yang amat sulit. Tapi ia juga tidak bisa melukai kedua orang tuanya, untuk itulah Adellia sulit untuk menolak permintaan Havier.


“Dell ayolah.... Apa kau mau? Mau ya” pinta pria itu dengan mata berkaca-kaca, namun Adellia hanya diam saja.


Rasanya ia tidak bisa mengiyakan meskipun hatinya sudah menerima. “Dell….” Rengek Havier sekali lagi ketika menguncang bahu Adellia dari arah samping “Ayolah Dell, please...” paksanya.


“Baiklahh.. baiklah” ucapnya dengan malas, membuat Havier memberikan senyum polosnya dengan penuh tulus.


Sedangkan Adellia cukup bosan dengan belajar dan sekolah, di tambah teman yang menyebalkan. Tapi sepertinya kehidupanya akan berjalan dengan terus membosankan, hingga suatu saat Adellia pasti akan merindukan kebosanan seperti ini.


*


Bel yang menandakan waktu pulang sudah berbunyi, bahkan sudah memberitahukan jika jam belajar telah berakir dan meminta untuk seluruh siswa hati-hati dalam berkendara dan kembali besok hari dengan semangat baru.


Tentu saja Adellia mengemasi barang-barangnya, ia yang duduk di samping Anggara tentu sebagai siswa yang paling belakang lantaran Anggara amat suka untuk tidur, pembagian tempat duduk ini terjadi secara random dimana Adellia tidak menyangka akan mendapatkan posisi paling belakang, namun seperti inilah permainan nasib, jika sudah di putuskan kita sebagai manusia hanya mampu menjalani.


Di koridor yang amat ricuh itu, banyak sekali siswa dan siswi yang berlari hingga kerumunan mereka hampir memadati jalan, semuanya menyandang tas punggung dan selempang samping, bahkan ada para wanita yang seperti ratu sebab tasnya di bawakan oleh siswi lain yang mungkin lebih emah di bandingkan dirinya.


Dan Adellia rasanya cukup muak dengan mereka sehingga amat jenuh untuk ikut campur, namun tanggung jawabnya sebagai ketua Osis membuat jiwa tanggung jawab gadis perfeksionis itu muncul degan sendirinya.


Adellia mengambil alih tas yang di bawakan oleh gadis berkaca mata dengan tubuh kurus dan rambut acak-acakan, sepertinya ia korban olok-olokan temanya di dalam kelas, membuat langkah Tania, Chia, Havier dan juga Anggara terhenti, mereka bahkan tidak menyangka jika Adellia akan ikut campur lagi tanpa di duga, membuat gadis yang memendekan rok dengan baju mengetat yang bahkan menampilkan lekuk tubuhnya itu menantang menatap Adellia, kedua tatapan mereka memancar hingga gadis itu amat merendahkan tatapanya atas Adellia yang ikut campur.


“Lihat ini, apakah ini ketua osis yang bijaksana itu” hinanya dengan suara keras, bahkan gelak tawanya membuat beberapa teman-teman disisi gadis itu menertawai Adellia, membuat Tania ingin melangkah kearah Adellia namun Havier mencegat tanganya.

__ADS_1


“Terimakasih atas pujian kalian” balas Adellia dengan begitu tenang, bahkan ia mengenggam tas yang ia ambil kendali itu dengan amat sopan, membuat gadis yang berlagak seperti Ratu tersebut memandang dirinya dengan penuh kebencian “Tapi, ada masalah apa di tas ini sehingga di bantu oleh seseorang untuk membawakanya, apakah tasmu berisikan banyak buku pelajaran sehingga meminta gadis malang ini untuk membawanya” ucap Adellia ketika meraih resleting tas yang ia genggam.


Bahkan Adellia menyunggingkan senyum penuh penghinaan melihat kearah gadis di depanya yang begitu memancarkan emosi tak tertahankan, ia menumpahkan seluruh isi tas yang ada disana hingga kosmetik gadis itu berceceran di mana-mana, membuat semua orang terpana atas sikap Adellia yang begitu berani.


“Apa kau gila” bentak Veronica yang tidak mampu menahan dirinya lagi, bagaimana bisa ia melakukan hal seperti ini, tidakah ia tahu jika kosmetik itu adalah edisi terbatas dan juga merupakan barang mewah yang sulit di ganti oleh siswa beasiswa sepertinya.


“Beraninya kau merusak barang-barangku, dasar tidak tahu diri” sambung Veronica sekali lagi hingga tanganya hampir melayang untuk meraih rambut Adellia, namun dengan segera Adellia menahanya.


Tatapan Adellia menatap tajam hingga rasanya berbeda dari dirinya yang tersenyum manis, membuat semua orang bersorak menyaksikan sikap Adellia yang amat berani melawan Veronica.


“Aku tidak tahu kenapa kau bisa bertingkah seperti ini, tapi apa kau tidak tahu. Membawa kosmetik ke sekolah sama saja melanggar peraturan. Apakah aku yang sudah melonggarkan diri hingga tidak melakukan razia minggu ini, sampai ada sisiwa yang ke sekolah hanya membawa kosmetik. Sekolah bukan tempatmu untuk berdandan, jika kau hanya ingin membawa ini kesekolah, lebih baik keluar dari sekolah untuk mencari tempat yang sesuai dengan tingkah laku mu yang memalukan ini” membuat semua orang terpana atas sikap Adellia.


Bahkan tatapan Veronica memancar tajam kearah ketua Osis yang menyebalkan tersebut, bagaimana bisa gadis rendahan seperti ini mampu sesombong itu melawan dirinya, dan Adellia malah merendahkan Veronica di hadaoan semua orang, sungguh sikap Adellia membuat Veronica naik pitam.


“Kau bahkan hanya siswa beasiswa yang masuk kesekolah ini dengan uang orang tuaku. Dan sekarang kau malah bertingkah seperti ini, apa kau kira dunia ini adil untuk orang yang tidak tahu diri sepertimu, Ha”


“Jika dunia tidak bisa adil padaku, maka aku sendiri yang akan membuat keadilan pada dunia. Kau seharusnya bisa menghargai posisi kedua orang tua mu, jika benar dia yang membiayai sekolahku degan uang sumbanganya, bukankah orang tuamu adalah orang terpandang. Tapi jika sikap burukmu ini terekspos ke media luar, apa kau yakin kedua orang tuamu masih menduduki posisinya saat ini, aku tidak tahu siapa namamu Nona Muda. Tapi biar aku katakan, selama kita seumuran dan duduk di bangku sekolah yang sama, kau dan aku sama rata tanpa ada perbedaan status ekonomi atau kasta. Jangan buat hidup ini seperti drama yang kau tonton, karna kehidupan nyatamu tidak akan semudah di Drama itu”


Adellia menghempaskan tangan gadis itu dengan kasar, membuat Veronica meringis sakit melihat sikap kasarnya, bahkan tas kosong yang Adellia genggam dengan tatapan jijik ia hempaskan seolah tidak berharga, dengan sikap angkuhnya Adellia menepuk telapak tanganya seolah sudah selesai membereskan hama.


“Kau!" teriak Veronica seolah ia tidak mampu menoleransi lagi.


"Apa!" balas Adellia dengan penuh pertentangan.


"Atas dasar apa kau seperti ini padaku, Ha! Akan aku keluarkan kau dari sekolah ini dengan koneksi ayahku” bentak Veronica yang tidak terima atas penghinaan itu, bagaimana mungkin orang seperti Adellia mampu mencoreng harga dirinya.


"Hei" teriak Adellia dengan jengkel, ia bahkan menarik kerah baju Veronica hingga gadis itu terdesak kearahkan, tatapan tajam yang mampu menatuki Veronica benar-benar Adellia perlihatkan dengan sesungguhnya. Bahkan wajah mereka berhadapan secara lantang hingga tubuh Veronica bergindi ngerti atas pancaran matanya, bahkan Adellia seperti gadis gila yang menyungingkan senyum dengan geli seraya memandang Veronica yang begitu malang di depan matanya.


“Aku juga akan mengunakan koneksiku untuk menjatuhkan dirimu dan keluargamu” lantang Adellia saat melirik kearah samping, membuat mata Veronica memindai deretan orang-orang Adellia, bahkan seorang pria yang tengah mengunyah permen karet itu, tengaj merekam dirinya, hinggaa Anggara tertawa puas setelah mematikan rekaman vidio di tangannya “Temanku Tania adalah influencer yang memiliki pengiku 16 milliar di sosial medianya, temanku Chia juga sama denganya, bahkan Anggara dan juga Havier sudah tidak perlu aku jelaskan lagi. Dengan vidio yang akan tersebar nanti, mari kita lihat siapa yang akan menjatuhkan siapa” tutur Adellia seraya menghempaskan baju yang tengah ia cengkram itu.


Sunggu gertakan Adellia membuat Veronica menciut takut, ia akan hancur jika vidio itu di luncurkan kesosial media, bahkan rasanya Veronica tidak percaya orang-orang disisi gadis itu termasuk kalangan atas yang hamoir sepantaran dengan keluarganya.


Adellia melipat kedua tanganya, membuat teman-teman Adellia tertawa atas Veronica yang tidak tahu diri, apakah gadis itu tengah keluar dari sebuah Drama yang dimana mengunakan orang tua untuk menjatuhkan seseorang, bukankah Veronica amat memalukan sekali setelah kalah talak atas perdebatan diantara Adellia dan dirinya.


“Aku tidak tahu seberapa hebat keluargamu. Dan aku juga tidak tahu siapa namamu. Tapi aku peringatkan, jangan pernah mengunakan hal-hal seperti ini di sekolah yang kita semua sama-sama duduk di bangku yang sama. Apalagi kepada orang-orang yang kau angap lemah, karna kita tidak pernah tahu ketika roda kehidupan berputar, bisa saja orang yang kau tindas itu adalah orang yang nantinya diatas kastamu” hingga mata Adellia memancar tajam dengan kilau intimidasi penuh maksud, membuat Veronica terdiam seolah tidak mampu berkata apa-apa lagi. Rasanya ia tidak bisa membalas wanita itu lantaram mulutnya sudah terkunci di tanpa di terka.


“Ayo kita pergi” ajak Adellia kepada teman-temanya, membuat mereka berjalan dengan pongah seraya mengikuti langkah Adellia, bahkan seluruh murid memberikaan mereka jalan seperti mempersilahkan seorang Raja dan Ratu Abad ini memamerkan dirinya, hingga Anggata menarik kaca mata hitam untuk ia kenakan, sedangkan Havier menarik dasi rapi yang untuk dilongarkan, sedangkan Tania dan Chia berjalan mendekati Adellia untuk merangkulnya, hingga mata semua orang terpana dengan karisma luar biasa yang dimiliki oleh anak remaja itu, nampaknya komposisis mereka berlima amat luar biasa, bahkan rasanya membuat semua orang itu tidak bisa bertaka apa-apa selain menatap kagum tanpa bicara.

__ADS_1


Reynanda yang kala itu berdiri akibat kemacetan yang terjadi, cukup tersenyum kecut menyaksikan sikap seorang gadis yang di luar perkiraanya, apakah gadis itu benar-benar berfikir dunia seperti ini cocok untuk dirinya, bahkan rasanya Reynanda tidak menyangka masih ada keadilan di dunia ini, bukankah bermain-main dengan gadis itu adalah hal yang cukup luar biasa. Rasanya menunjukan pada gadis bernama Adellia arti kekuasaan adalah suatu kepuasan untuk membungkam mulut wanita yang tengah beromong kosong.


__ADS_2