
“Menarik” lirih Reynanda ketika pria itu menarik senyum di sudut bibirnya yang nyaris tak terlihat.
Sungguh, kejadian yang terjadi di depan matanya membuat Reynanda cukup terkekeh atas drama yang berbentuk lelucon, bahkan ia jarang mmendapatkan hal ini pada hubungan manapun, selain hubungan yang Adellia yang cukup mengesankan.
Bukankah gadis itu benar-benar sesuatu, hingga menarik perhatianya, kali ini Reynan sangat penasaran dengah kelanjutan cerita cinta barisan, kenapa Reynanda berfikir, jika sekolahnya kali ini sangat menarik, jika begini tentu Reynanda akan mempertimbangkan untuk pindah lagi.
“Tuan muda, apakah anda akan ke villa atau ke rumah utama?” tanya sang sopir yang kala itu mengendarai mobil dengan tenang.
Membuat pria tampan berwajah dingin yang duduk di kursi penumpang, menolehkan sedikit kepala atas pertanyaan itu, kemana Rey akan pulang, akankah ke Villa atau ke rumah utama? Jika di fikir, suasana hati yang cukup bahagia malam ini, membuat pria itu sangat terhibur atas kisah rumit kehidupan Adellia, untuk semua kebahagia yang ia rasakan, Reynanda tidak ingin merusaknya.
“Kita ke villa saja” ungkapnya dengan kalimat tenang, seraya menutup mata memikirkan kejadian yang baru saja di saksikan.
Namun disela-sela Reynanda menutup kedua matanya, tawa penghiburan itu berulang kali terulas nyata, membuat sopir yang tengah mengemudikan mobil merasa sangat asing dengan Tuanya, bahkan ini sudah kesekian kalinya wajah pria dingin itu mengulas senyum dan tawa secara bersamaan, hal apa yang membuat Tuan Muda Rey sebahagia itu, sampai-sampai ia tersenyum sumbringah tanpa jeda.
*
Adellia berlari menyelurusi koridor sekolah, bahkan pagi-pagi sekali ia ingin masuk ke kelas tanpa singah dimanapun, Adellia melihat Anggara si tukang tidur sudah ada disana, membuat dirinya melangkah untuk mendekati pria itu seraya meletakan tas yang ia sandang dilaci meja.
“Angga, apa Vier belum datang?”tanya Adellia kepada temanya, tentu Anggara tidak menangapi perkataan Adellia. “Angga. Aku seris nanya tentangn Vier, apa dia nggak datang hari ini?” ucapnya dengan heboh hingga membangunkaan si tukang tidur dengan paksa, bahkan suasana kelas yaang tenang pagi ini benar-benar membuat tidur Anggara hampir memasuki alam nyeyak.
“Apaansih Dell, aku benar-benar mengantuk. Aku bahkaan rela datang pagi-pagi sekali untuk melanjutkan tidur, karna aku baru pulang ke rumah jam 5 pagi” protes pria itu pada Adellia, membuat gadis yang kala itu mengerai rambutnya yang setengah basah berdecak kesal.
“Ya sudah. Tidurlah” dengusnya sembari keluar dari kelas.
“Adell. Tadi kau nanya Vier ya!" tukas Anggara dengan segera. "Aku lupa mengatakanya, dia menghubungiku jam 3 pagi. Katanya dia tidak mau masuk hari ini” seketika langkah kaki Adellia terurungkan, ia menatap bingung kearah Anggara seraya meminta kejelasan, tapi pria itu membenamkan kepalanya diantara lengan yang sudah bersilang diatas meja.
Saat ini Adellia tengah berfikir, apakah Havier marah padanya tentang kejadian semalam.
“Astaga!!! Bagaimana ini” gerutu gadia itu saat keluar dari ruangan kelas.
Adellia benar-benar membenci kesalahpahaman ini, bahkan ia tidak mengerti kenapa Reynanda dan gadis gila itu menganggu dirinya, jika bukan karna mereka, mungkin hubungan Vier dan Enggi tidak akan berantakan.
“Dasar cecunguk brengsek!!!” bentaknya penuh jengkel, seraya menendang tempat sampah besi yang menjakiti ujung kakinya, sungguh Adellia ingin sekali membuat perhitungan dengan mereka, tapi ia sadar, orang yang memulai pertengkaran duluan dialah pelakunya, untuk itulah Adellia harus membuat perhitungan dengan cara mata dan elegan, agar tidak mempertaruhkan harga dirinya.
"Hanya saja apa yang harus aku lakukan untuk memperbaiki hubungan Dnggi dan Havier, rasanya aku benar-benar menyesal atas kejadian semalam. Kenapa beberapa hari ini hidupku selalu di sibukan dengan masalah. Astaga!! Dan ini semua terjadi semenjak aku bertemu pria bernama Reynanda itu, apakah ia pembawa sial dalam kehidupan damaiku. Ya tuhan, apakah ini jawaban atas doaku. Jika memang ini jabawanya, aku mohon kau cabut doaku yang meminta kehidupan rumit. Aku ingin kembali kedalam kehidupan membosankan seperti dulu lagi" batin Adellia saat dirinya berdiri di samiping mading kelas untuk mencabut pengumunan yang sudah kadarluawarsa.
“Selamat pagi adellia” sepa seseorang yang kala itu mengalihkan pandanganya, mata Adellia menyipit menyaksikan gadis pemalu yang tengah mengunakan kaca mata dengan postur tubuh yang kecil darinya.
“Selamat pagi. Bukannya kamu gadis yang semalam—“
“Iya. Namaku Erika, terimakasih sudah membantuku kemarin siang. Aku benar-benar berterimakasih padamu Adel” terusnya dengan sungguh-sungguh, bahkan ia menundukan kepala 90 derajat hingga membuat Aellia amat bingung dan canggung.
“Hei, apa yang kau lakukan, tidak perlu begitu. Sudah sepantasnya aku melakukan itu, kenapa kau berterimakasih dengan berlebihan, aku tidak terbiasa menerima sikap seperti ini Erika” seru Adellia dengan senyum getir, ia benar-benar tidak bisa membiarkan seseorang membungkuk pada dirinya.
“Adellia, aku benar-benar berterima kasih padamu. Jujur saja, aku hampir ingin mengakiri hidupku, sebab aku selalu di tindas oleh Veronica dan teman-temanya. Dan kemarin kau menyelamatkan hidupku, aku sunggu berterima kasih Adellia, jika ada lain waktu, izinkan aku membantumu”
__ADS_1
Rasanya perkataan gadis itu membuat Adellia tersentuh, ia tidak menyangka seseorang akan berterimakasih atas sikap seperti ini padanya, tapi yang Adellia tidak menyangka penderitaan itu hampir saja membuatnya memutuskan fakta gila, hingga Adellia meraih tubuh Erika yang gugup di depanya untuk di tenangkan.
“Kau sudah bertahan sampai hari ini saja aku sangat bangga padamu. Jangan menyerah hanya karna orang-orang yang tidak berguna seperti mereka, sebab untuk orang yang bahagia menindasmu, menyerah hanya akan menjadi kemenangan untuk mereka”
“Adellia…” sungguh Erika tidak bisa menahan dirinya unruk tidak menangis.
Perkataan yang gadis itu ucapkan, benar-benar membuat Erika merasa haru, bahkan Erika tidak menyangka jika Adellia sangat berbaik hati padanya “Kenapa kau baik sekali”
“Tidak. Kau salah Erika, aku tidaklah orang baik, aku hanya ingin menjadi manusia biasa”
"Tetap saja, kau terlalu baik Adellia"
Pelukan hangat ia berikan, bahkan setelah tenang Adellia mengulas senyum kehadapan Erika, saat gadis itu mengusap air matanya.
“Rey” teriak seorang wanita yang kala itu begitu riang melintas di depan kelas Adellia, bahkan Adellia yang tengah bicara dengan Erika mengalihkan pandagan padanya.
Ellysia terlihat sangat antusias menghampiri Reynanda, gadis bermata hazzel dengan rambut blonde dan proporsi tubuh seimbang, sungguh mengalihkan perhatian semua orang. “Aku rindu sekali” ucapnya dengan manja seraya memeluk Reynanda dengan mesra,
Sedangkan pria itu menatap panjang kearah Adellia yang menyaksikan pemandangan itu, hingga akirnya mengalihkan pandangan kearah Ellysia.
“El, ada apa denganmu. Lepaskan aku” ketusnya sembari menolak Ellysia, bahkan pandagan Adellia yang masih menatap itu tidak teralihkan dari mereka.
“Kenapa aku tidak boleh memeluk calon suamiku sendiri. Aku seharusnya kembali besok lusa, demi dirimu aku memadatkan jadwal untuk segera pulang, dan kau malah menepiskan diriku, bukankah kau sangat kejam Rey”
“Aku iri sekali dengan mereka”
“Mereka sangat cocok”
“Astaga, romantisnya"
Begitu banyak perkataan yang terdengar hingga membuat Adellia memperhatikan sekitar, ternyata dunia orang kaya sangat berbeda dengannya, bahkan di bangku putih abu-abu mereka sudah di jodohkan untuk menikah, tentu saja pernikahan bagi keluarga mereka sebagai ajang bisnis untuk memperkuat kekuatan dua keluarga, bahkan nampaknya kedua orang itu tidak saling mencintai dengan semestinya, membuat Adellia cukup miris jika sampai hidup diantara orang-orang seperti mereka, untunglah ia terlahir sebagai wanita biasa.
Baru saja Adellia ingin berbalik, matanya terpaku melirik kearah Erika. Gadis itu sedari tadi bersembunyi di balik tubuh Adellia seolah ia tengah menyembunyikan dirinya, bahkan Adellia baru menyadari bagaimana gugupnya Erika saat ini, hingga mata Adellia teralihkan kearag gadis yang ada di samping Reynanda, dan sepertinya Erika tengah ketakutan dengan gadis itu.
“Ika cupu!” teriak wanita itu, membuat mata Adellia menuntut menatap dirinya. “Kenapa kau diam saja disana” terus Ellysia dengan hebohnya, bahkan ia melepaskan cengkraman tanganya dari Rey untuk berlalu kearah Erika.
Dengan polosnya gadis itu melepaskan tas yang ia sandang di tubuhnya, ia menyodorkan tas itu kehadapan Erika yang berdiri gugup di posisi, tentu saat ini Adellia berada diantara mereka, membuatnya menatap panjang seolah banyak pertanyaan yang ada di benaknya.
“Kenapa kau diam saja, ambil tas-ku. Bawakan ke kelas” geram Ellysia dengan nada perintah, bahkan membuat Adellia cukup terpana dengan sikap wanita itu, apakah ia sering melakukan hal seperti ini kepada Erika sehingga sikapnya terkesan amat santai tanpa ada beban, memangnya bagaimana nasib Erika di kelas, hingga ia berulang kali di perlakukan dengan tidak wajar.
“B-baik lah El—“
Adellia menepis tas yang di genggam gadis itu, bahkan menjatuhkanya ke lantai hingga semua orang terpana melihat dirinya, tidak terkecuali dengan Erika.
Apakah Adellia tidak sadar jika Ellysia adalah gadis paling berpengaruh di kelas, ia seperti ratu yang tidak boleh di bantah dan tidak boleh di abaikan, sehingga Ellysia menjadi gadis berkuasa yang sering memerintah Erika bahkan mereka pernah mengolok-ngolok dirinya.
__ADS_1
“Ellysia maafkan Adell, dia tidak sengaja. Aku akan membawakan tas mu” timpal Erika yang kala itu meraih tas sang ratu yang tergeletak di lantai.
Bahkan ia bersujud untuk mengambilkan tas itu dengan penuh kehati-hatinya, membuat Adellia merasa amat geram untuk meraih tubuh Erika agar segera bangkit.
“Apa kau budak mereka!!” bentak Adellia dengan marah, bahkan rasanya ia semakin kesal setiap saat gadis itu selalu di perlakukan tidak pantas oleh semua murid di sekolah ini.
Apakah karna Erika kalangan beasiswa yang di biayai oleh orang tua mereka, sehingga se-enaknya memperlakukan mereka seperti ini.
“A-adel kau tidak boleh—“
“Hei, siapa ini. Apa kau memiliki masalah denganku, dari keluarga mana kau berasal” tukas Ellysia dengan sombong, bahkan rasanya, ia amat jengkel menatap kearah gadis yang tidak sopan padanya, jika bukan karna ada Eeynanda mungkin Ellysia akan memberinya pelajaran hingga jera.
“Aku?” sahut Adellia dengan menantang, bahkan gadis itu menatap penuh perhitungan seolah amat mencengkram melirik gadis yang begitu rendah di matanya “Aku tidak dari keluarga terpandang, aku adalah kalagan yang sama dengan Erika” putusnya dengaan tegas, membuat semua orang bicara mengenai Adellia hingga mereka menghina dirinya, namun Adellia tidak peduli sebab baginya tidak dosa terlahir dari keluarga miskin, sebab hal yang paling miris itu, saat seorang anak terlahir di keluarga kaya akan materi, namun miskin budi pekerti, contahnya saja di sekolah ini.
Hingga sebuah pandangan penuh penghinaan dan ketidak percayaan terpampang nyata di wajah Ellisa, bahkan ia tidak menyangka seorang kaum rendahan seperti gadis itu menantang dirinya. “Kau bahkan terlahir dari keluarga miskin—“
“Tapi kau tidak sadar diri akan posisimu di sekolah ini!!” tukas Adellia ketika menyambung perkataannya, membuat gadis itu terdiam seolah tidak bisa berkata “Kau benar, dan aku sudah mendengar hal itu seribu kali dari murid di sekolah ini. Dan untuk keseribu kalinya aku katakan, lalu kenapa? Jika kita semua duduk di bangku yang sama, apa yang menjadi pembedanya” bentak Adellia penuh murka, bahkan suaranya mengeras ketika membalas perkataan sang ratu bernama Ellysia.
Sungguh ini kali pertamanya Ellysia tidak bisa mengatakan apapun, wajahnya mengelap saat ucapanya di balas begitu ketus oleh gadis rendahan itu, namun ada Reynanda disani, membuatnya perlu menahan diri dan kesabaran.
Hingga beberapa orang teman Ellysia yang ada di depanya, mendapatkan isyarat mata dari gadis yang sering di katakan Ratu itu, bahkan membuat mereka bergerak untuk mendekati Adellia.
“Jika kau tidak bisa di sadarkan dengan kata-kata, biarkan kami melakukan sesuatu untuk menyadarkan dirimu” timpal seorang wanita denga rambut di kucir untuk mendorong tubuh Adellia hingga terpental ke belakaang, membuat Adellia terpana atas apa yang di lakukan mereka, sebanyak apapun Adellia bermasalah dengan orang-orang di sekolah ini, mungkin baru mereka yang mengunakan fisik pada dirinya.
“Apa yang kalian lakukan, jangan sakiti Adell!” teriak Erika yang kala itu ingin membantu, membuat Ellysia menarik kasar tanganya untuk berdiam di posisi.
“Apa kalian fikir aku bisa tunduk dengan kekerasan. Setidaknya di sekolah ini masih ada peraturan dan kode etik siswa. Jadi aku peringatkan untuk tidak melakukan sesuatu yang akan kalian sesali” tegasnya diantara ketakutan yang mencengkram.
“Aku tidak peduli, apa kau tidak tahu jika uang itu bisa mengalahkan hukum. Dan dengan apa yang kami miliki sangat mudah melanggarnya. Jagan terlalu polos untuk percaya jika hukum bisa melindungi kaum lemah, hukum itu hanya ada untuk mereka yang berkuasa” balasnya dengan penuh penghinaan, membuat Adellia amat marah atas kata-kata tercela yang mereka keluarkan.
Alasan Adellia membenci mereka, adalah karna hal ini. Mereka selalu mengunakan uang untuk kepentingan pribadi, menindas orang lemah hanya untuk mencari pengakuan jika mereka kuat, jika dunia ini hanya di penuhi sampah seperti mereka, rasanya berjuangpun akan sia-sia untuk di lakukaan orang seperti Adellia.
Sebuah tas di lemparkan kearah gadis yang tengah bersiap-siap memukul Adellia, bahkan ia meringis sakit saat kepalanya di jatuhkan tas yang cukup berat dengan beberapa benda di dalamnya. “Sialan! Siapa yang melemparku” teriaknya ketika membakikan badan kearah belakang.
“Aku” sahut Reynanda yang kala itu melangkah cepat untuk menarik Adellia, bahkan gadis itu terpana mellihat gurat marah di wajah Reynanda, tentu Ellysia yang kala itu mencengkram tangan Erika juga terpana atas apa yang ada di depan matanyam
Kenapa Reynanda menyelamatkan gadis itu, bukankah sedari dulu Reynanda tidak pernah peduli akan hal ini, bahkan pria itu amat mendukung Ellysia hingga membuat Ellysia semakin menjadi-jadi untuk menjadi Ratu agar di sukai oleh Reynanda.
“Kau boleh menindas siapapun yang kau mau, tapi tidak untuk dia” tegasnya dengan ultimatum kesal, bahkan rasanya perkataan Rey yang cukup emosional itu menyita seluruh perhatian semua orang. “Karna mulai hari ini, dia adalah gadisku” sontak semua orang terpana melihat apa yang di katakan Tuan Muda Reynanda, begitupun dengan Adellia, hingga Ellysia yang terngaga tidak mampu mengatupkan mulutnya.
“R-Rrey apa yang—“ sahut Ellysia dengan nada tidak percayam
“Ter-khusus kau El, jangan pernah menyentuh gadis ini” hardik Rey pada calon tunaganya, bahkan tatapan mata yang mengancam itu benar-benar membuat Ellysia terpana dengan tidak menyangka, sejak kapan mereka saling mengenal, apakah terjadi sebuah hubungan antara mereka, dan sejak kapan?
“Apa yang kau lakukan, lepaskan aku. Aku tidak—“ tubuh gadis itu ditarik paksa hingga membuat Adellia terdiam karna kekuatan Reynanda, cengraman tanganya amat kuat sampai-sampai Adellia tidak mampu melepaskan dirinya.
__ADS_1