
“B-Bukankah kau Reynanda dari keluarga Tama” ucap Veronica saat melemparkan pertanyaan ke hadapan pria yang menepiskan tanganya, bahkan pria tampan itu memutar sedikit tubuh untuk menatap kearah Veronica.
“Jika benar, kenapa memangnya?” tanyanya dengan pandangan dingin.
Bahkan ia menjawab pertanyaan itu, ketika menatap Adellia dengan senyum sunging yang nyaris tak terlihat, hingga pandangan Rey terbalas dengan bingung atas situasi canggung yang terjadi antara mereka.
“Kenapa kau ikut campur dengan urusan ku. Dan kenapa kau membela wanita seperti dia” geram gadis itu seraya mengusap pergelangan tanganya yang kebas.
Hingga senyum tipis yang ia ulas dengan dingin, mengambang sembari menatap penuh arti kepada mata Adellia “Entahlah, aku tidak tahu kenapa aku terus saja ingin menolongnya. Mungkin karna dia adalah orang yang pantas untuk mendapatkan pertolongan”
Tangan Adellia mengepal, jantungnya bergetar penuh sakit, menerima kata pembelaan yang ia muluskan Reynanda untuk menghina.
"Ah.....kau benar" sambut Veronica penuh bangga, ketika pria itu menghina dengan cara berbeda, bahkan Veronica tidak percaya jika ia sedang menyelamatkan harga dirinya untuk tidak menjatuhkan tangan kewajah gadis miskin itu, untunglah Reynanda mencegatnya, jika tidak Veronica akan terlusut kebodohan yang nanti disesalinya.
“Apa kau menghinaku?” lirih Adellia dengan suara dingin yang ia lontarkan dengan pertanyaan, entah kenapa sikap Reynanda terkesan seperti membencinya, apa yang membuatnya bereaksi berlebihan menghina dengan cara halus.
Pria itu memang menolong Adellia dari tamparan gadis gila bernama Veronica, tapi sepertinya ia malah memberikan tamparan dahsyat berbentuk verbal yang lebih menyakitkan.
“Apa aku tengah menghinamu?” ungkap Reynanda sembari membalikan perkataan kehadapan gadis berani itu. “Bukankah aku tengah menolongmu, apa orang sepertimu tidak bisa menghargai pertolongan orang lain, dan selalu menganggap tinggi diri sendiri, sayangnya.......”
Seketika ia melangkahkan kaki ke hadapan Adellia, seraya mengantungkan ucapanya, Reynanda mulai mendekatkan bibir ke telinga si penerima, untuk mejatuhkan kata yang siap di lanjutkanya. “Aku membenci orang sepertimu, sungguh!” sontak gadis itu tediam, ia bungkam seribu bahasa, atas lontaran menyakitkan yang sulit ia terima
Adellia masih saja terpana, diatas kebingungan yang membius raganya, bahkan gadis itu tidak bisa berkata-kata sembari menatap manik perak yang seperti malaikat, namun ternyata jelmaan iblis yang jahat.
Di mata Adellia, pria itu hanya seperti orang gila yang selalu menolong dirinya, namun disaat bersamaan, ia juga bisa memperlakukan Adellia dengan sebaliknya.
__ADS_1
Memangnya apa masalah yang terjadi antara mereka hingga ada manusia seperti ini, benar-benar dunia yang menjijikan.
“Seharusnya sebagai kalangan yang merasa memiliki kualitas, kau harus elegan dengan derajatmu, bagaimana bisa kau merendahkan diri untuk berurusan dengan orang seperti ini, itu sama saja jika kau tak jauh beda dengannya” sambung Reynanda kehadapan Veronica.
Sekali lagi, gadis itu terdiam bisu mendengar perkataannya, bahkaan Veronica tidak tahu harus membalas seperti apa, disatu sisi Reynanda nampak membela dirinya, namun disisi lain, ia malah menghina.
Sedangkan mata Veronica menyipit atas kata yang baru saja di lontarkan Reynanda padanya, ia tidak mengerti, dimana tempat pria itu berada, apakah dipihak Adellia, atau di tempatnya, namun jika ia berada di tempat Veronica kenapa tatapan itu memancar penuh ancaman hingga tubuh Veronica berginik menyaksikanya.
“Memangnya seberapa tinggi derajatmu” tangang Adellia sembari mengapalkan tangan untuk mendongak penuh pertentangan.
Bahkan gadis itu sedang bersiap-siap jika saja kata yang terlontar terlalu menyakitkan nantinya, untuk orang seperti mereka, bukankah suatu kebangaan memberikan pukulan fisik jika dengan verbal Adellia selalu rendah.
“Kau sudah sadar seperti apa diriku, kenapa harus bertanya. Seharusnya pertanyaan itu cocok untuk mu, orang seperti apa dirimu yang mampu berlagak tinggi di dunia yang tidak cocok untuk mu. Orang-orang sepertimu hanya akan menjadi parasit yang tidak tahu diri, berlagak berkuasa tapi tidak sadar akan posisi, cepatlah pergi sebelum kau mempermalukan dirimu lebih jauh lagi”
Hingga tamparan yang Adellia persiapkan, memang ia berikan dengan sempurna, tangan kecil itu di layangkan ke hadapan Reynanda tanpa ampun, jiwa toleransi yang tidak ingin mengunakan kekuatan fisik, saat ini jebol sudah, ia tidak pernah berfikir jika orang yang ia anggap malaikat, ternyata memiliki pemikiran dangkal yang tidak beretika, seharusnya Adellia yang pantas mengatakan hal ini para mereka.
Dan sekarang, pria itu dengan lancang menjatuhkan kata sebaliknya, bukankah ia amat lucu hingga Adellia tidak mampu menertawai tingkahnya.
“Aku tidak pernah mengerti ada masalah apa kau hingga membenciku, tapi satu hal yang harus kau tahu. Seperti apapun fikiranmu tentangku, yang jelas aku tidak seperti yang kau katakan. Aku bahkan cukup geli melihat tingkah tidak sadar diri ini, bahkan rasanya aku cukup muak melihat wajah angkuh dan terlibat denganmu, aku menyesal pernah menganggapmu berbeda dari mereka yang selalu aku rendahka, tapi sebenarnya tak ada yang berbeda, karna kalian semua sama”
Sungguh ia beranjak pergi dari pesta, bahkan bulir dimatanya tumpah ketika bicara penuh luka, kenapa pria itu keterlaluan sekali, memangnya apa yang ia punya hingga menghina Adellisa sepedih ini.
Tanpa terduga, Rey berhasil menahan tanganya, mengenggam erat pergelangan tangan itu, saat air mata Adellia bercucuran akibat perbuatanya, sungguh mata Reynanada terpaku diam dengan sepercik rasa bersalah, ia menyangka, tangisan seorang wanita mampu mengacaukan perasaanya.
“Lepaskan dia!” bentak Enggi hingga mengelegarkan pesta, bahkan semua orang menatap kearahnya.
__ADS_1
Pria itu menarik paksa tubuh Adellia, melepaskan cengkraman tangan mereka, menarik gadis itu hingga berpaling kepelukannya, hingga Adellia mendongakan kepala kearahnya dengan air mata yang berserakan disana.
Enggi berhasil mengamankan Adelia kesebagian kedekapan hangatnya, hingga tubuh Adellia yang refleks melepas, di rangkul lagi dengan erat, seoalah menyembunyikan gadis itu disisinya untuk diam dan berlindung saja.
“Aku tdak tahu, masalah apa yang membuat Tuan Muda Reynanda menganggu gadisku" sontak kalimat itu menarik perhatian semua orang, begitupun dengan Adellia. "Aku harap ini kali terakir kau menganggu Adellia, untuk hari ini dan seterusnya aku memperingatimu Tuan Muda” ketusnya.
Hingga hening membentang dengan decakan tak percaya atas Adellia, mata Salsabilla menatap nanar saat kekasih masa mudanya mengenali Adellia, Enggi juga sama seperti Reynanda, selain itu Havier yang Salsabilla sukai malah memilihnya, siapa sebenarnya gadis itu, apakah benar ia sekedar gadis biasa?
Havier mengepal tangan atas kata yang terdengar oleh telinganya, bahkan ia berada di kerumunan orang untuk menyaksikan perdebatan itu, sungguh rasa kesal memuncak, hingga tanpa sadar menyesakan dadanya.
Pria itu menetralkan diri, seraya mengeluarkan energi negatif yang tanoa sadar menyesakan.
“Adel, apa kau baik-baik saja?” cemas Enggi seraya menundukan pandangan kearah Adellia, membuat gadis itu menganggukan kepala untuk menjelaskan bahwa ia baik-baik saja. “Maaf aku terlambat, apa kau takut”
"Tidak, aku ingin pergi dari sini"
"Ayo kita pergi" balasnya sembari meraih tangan Adellia untuk beranjak dari sana.
Bahkan gadis itu dengan penurutnya terlihat nyaman di pelukan Enggi, bahkan membuat jantung Rey mengelegar kesal saat seseorang menjadi pahlawan kesiangan menyelamatkan harga dirinya.
“Adell” tukas Havier seraya mencegat kepergian Enggi dan Adellia.
Namun kehadiran pria itu, di sambut dingin oleh Enggi, hingga pancaran keduanya terkesan bertentangan membuat Adellia merasa sungkan ada di tengah mereka.
Tangan yang perlahan Adellia lepaskan, di tarik paksa oleh Enggi tepat di hadapan Havier, membuat pria itu menjatuhkan padangan bingung atas semua ini, apa maksud sikapnya? Kenapa ia memperlakukan Adellia seperti ini.
__ADS_1
"Enggi....lepaskan-"
"Ayo kita pergi" terusnya dengan dingin, sembari menarik Adellia untuk pergi dari pesta itu.