My Complicated Boyfriend

My Complicated Boyfriend
Episode 17 - Pulang denganku.


__ADS_3

Mata Enggi menuju kearah Reynanda, bahkan ia tidak menyangka setiap kali selalu bermasalah denganya, hingga membuat Enggi menahan geram seraya melirik tajam pada pria yang selalu ikut campur tentang Adellia.


“Kenapa kau selalu ikut campur!!” kesal pria itu seraya menantang menghadap Reynanda.


“Karna aku tidak suka jika ada pria yang menyentuh gadis bodoh ini, apalagi mengkasarinya!” sautnya dengan yakin sembari memeluk Adellia yang kala menangis sesugukan di dekapanya.


Adellia tergugu, atas sepengal kata Reynanda yang mengusik pendengaranya, baru saja ia ingin keluar dari pelukanya, Reynanda dengan segera mengeratkan dekapan mesra.


Membuat air mata Adellia tidak bisa tertahan lagi, ia benar-benar membutuhkan pelukan dan mengiginkan ruang untuk bersedih di pelukan seseorang.


“Aku tidak berniat untuk mengkasari Adellia” balas Enggi dengan nada bersalah, bahkan matanya terpaku melihat gadis yang ia sukai menangis di pelukan seseorang, sunguh hatinya berdenyut perih melihat hal ini, bagaimana bisa Enggi menyakiti Adellia bahkan rasanya belati tajam yang sudah berkarat siap megiris tiap bagian yang utuh dihatinya.


“Aku tidak tahu ada masalah apa diantara kalian, hanya saja untuk kebaikan bersama, lebih baik aku mengantar gadis ini pulang” putus pria itu dengan nada tegas, bahkan membuat Enggi membusungkan dada mendengar putusan yang ia jatuhkan terkait Adellia.


“Apa maksudmu, apa kau fikir aku akan memberikan Adellia kepadabpria sembarangan di tengah jalan ini. Jangan gila, biar aku antarkan dia pulang, karna aku pergi bersamanya dan pulang juga bersamanya” paksa pria itu dengan kokoh, membuat Reynanda tersenyum sungging mendegarnya.


"Kalau begitu, mari kita tanya Adellia, dia mau pulang dengan siapa" kali ini kalimat Reynanda yang terus terlibat dengan Adellia membuyarkan pendengaranya.


Gadis itu mengeluarkan kepala seolah kata menuntut yang Rey lontarkan memaksanya menghadapi pilihan ini.


Hingga mata polos berwarna biru itu dengan manik tajam yang sudah bergelimang bening membuyarkan akal sehatnya, Reynanda menatap sendu pada Adellia bahkan waktu seperti berhenti diantara mereka, bahkan Adellia tidak menyangka kenapa di setiap saat dirinya terpuruk, selalu bertemu pria ini, Reynanda selalu menyelamatkanya, membantunya, bahkan ia menyediakan pelukan untuk Adelia menangis disana, atas semua itu, rasanya sangat memungkinkan Adellia pulang bersamanya.

__ADS_1


“Bisakah kau mengantarku pulang?” tanya Adellia dengan pandangan sayu diantara bola mata yang sudah mengecil akibat pembengkakan kelopak mata.


Untuk pertama kalinya, Reynanda tertegun mendapatkan permintan yang mengetarkan hatinya, tentu saja Reynanda bersedia, bahkan tanpa di minta ia ingin membawa pergi Adellia dari hadapan pria itu.


“Ayo kita pulang” ajaknya sambil mengandeng tangan Adellia.


Bahkan sebelum itu Reynanda melirikan mata kehadapan Enggi, untuk mengatakan dialah pemenangnya.


“Adellia…......” lirih Enggi dengan penuh bersalah, bahkan tubuhnya masih di guyur hujan di pertengahan malam itu, dan ia masih berdiri pasrah di wajah langit mendung yang seperti hatinya nan kacau “Aku sungguh-sunggguh mencintaimu.....” lirihnya dengan jujur, membuat jantung Reynanda berdegup kencang seoalah ia tidak nyaman dengan ungkapan itu.


Adellia yang terhenti dengan langkahnya, benar-benar tidak peduli, gadis itu memilih pergi untuk jauh dari sana, membuat Reynanda mengenggam tangan Adellia untuk membawanya ke mobil, mendudukan Adellia di kabin penumpang seraya mengabil posisi disana.


“Pak lim, kemarikan jasmu” pinta pria itu dengan nada tegas, sebab bajunya juga sama basahnya dengan Adellia, untuk itulah ia tidak bisa membalutkan pakaianya pada tubuh gadis itu.


Pak lim membuka pakaian hangatnya dengan segera, untuk dijulurkan kearah belakang, membuat Reynanda menerimanya dengan segera.


“Kenapa kau menangis, bukankah kau senang menerima ungkapan cinta dari seseorang” ketus pria itu sambil membalutkan pakaian ke tubuh Adellia yang mengigil, bahkan terasa sekali kulilnya amat panas, sehingga Rey cukup khawatir memandanginya. “Berhentilah menangis, badanmu sudah tidak baik-baik saja” terusnya dengan nada perintah, namun Adellia hanya diam saja, bahkan tangisanya semakin menjadi-jadi, membuat Reynanda amat bingung menangani gadis ini.


“Apa masalah yang kau alami memangnya?” ketus pria itu.


Hingga suara tangisan Adellia semakin mengaung dikabin penumpang, membuat pak Lim menyembunyikan senyumnya dengan susah payah, saat Tuan Muda terlihat seperti membujuk anak kecil.

__ADS_1


Sedangkan pria itu semakin bingung atas tingkah Adellia, bahkan setiap pertanyaan yang ia sampaikan dibalas dengan tangisan yang menderas “Baiklah, baiklah. Aku tidak akan menanyaimu lagi, sekarang berhentilah menangis” bujuk pria itu sambil menepuk bahu Adellia dengan lembut.


Sedangkan gadis itu melirik kearah Reynanda dengan tangis sesungukan yang menyipitkan matanya, rasanya Rey tidak mampu menahan kesedihaan dikedua mata itu, Adellia sunguh menjadi kelemahan dirinya saat menangis, biasanya jika wanita lain akan ia tendang dari mobil ini, tapi kenapa gadis ini seperti ingin ia peluk dan lindungi


“Kemarilah” pintanya sambil memberikan kehangatan pada sebagian tubuh Adellia.


Bahkan kepala gadis itu mendarat disisi dadanya yang hampir membakar kulit akibat panas kepalanya. “Kenapa dia sangat panas sekali” batin Rey yang kala itu cukup khawatir dengan kondisi Adellia, hingga pelukan yang menghangatkan itu lambat laun menghentikaan tangisan gadis bodoh itu, membuat Rey diam atas pelukan yang menghangatkan


“Pak lim, panggil Elios ke villa, dalam 15 menit ia harus samapai disana!!” perintah Reynanda dengan mutlak.


Membuat pria berumur itu menganggukan kepala seraya menguhubungi dokter Elios sesegera mungkin.


Sepanjang perjalanan pulang, Reynanda memandan karah jendela, kenapa jantungnya berdebar kencang dan ia merasa nyaman, bahkan gadis ini terus saja membuat Rey ingin melindungi dan memeluknya, hingga keheningan di kabin penumpang membuat tatapan Rey terpaku kearah Adellia.


“Gadis kepala batu, kenapa kau diam saja?” pangil pria itu saat menepuk pipi Adellia dengan lembut.


Hingga Reynanda menolehkan kepala untuk menyaksikan gadis itu, bagaimana kagetnya Rey saat Adellia sudah terdiam dalam mata tertutup di pelukanya.


“Ah!! Sial!! Cepat kendarai mobilnya.” bentak pria dingin itu dengan paniknya, bahkan rasanya ia cukup takut atas apa yang menimpa Adellia. “Kenapa gadis ini sangat bodoh, bagaimana bisa ia hujan-hujanan di tengah jalan. Apa tidak ada tempat lain untuk bertengkar selain tengah jalan” kesal Rey ketika menyaksikan keadaan Adellia.


 Untuk pertama kalinya, paman Lim melihat tuan muda Reynanda panik, memangnya siapa gadis yang sedang di peluk dengan seluruh perlindungan itu? Bahkan gadis itu mampu membuat dirinya tidak jijik terhadap wanita, jika begini, Tuan Muda pasti menempatkan gadis itu sebagai sesuatu di penting baginya, hingga ia bisa mengeluarkan rasa cemas tanpa ada kebohongan sama sekali.

__ADS_1


__ADS_2