My Crazy Boyfriend

My Crazy Boyfriend
Prolog


__ADS_3

Karamel membeku. Ia tidak tahu harus berpikir apa untuk saat ini, kepalanya tiba-tiba saja berhenti berfungsi.


"Sekarang kamu pacarku,"


Kata-kata itu masih saja tergiang-giang di dalam pikirannya.


"Kurasa dia sudah gila," gumam Karamel.


"Ya! tentu saja, dia gila," tegas Karamel, meyakinkan hatinya.


Dengan hati yang masih bertalu-talu, Karamel mengambil tasnya berniat untuk langsung pulang dan tidur. hari pertamanya di sekolah Blue Sky yang terkenal elit ini membuat pikiran dan batinnya terasa begitu lelah.


Karamel, si perempuan asal Aceh Utara, memiliki tubuh yang mungil, pipi yang chuby, mata yang besar, kulit putih kemerah-merahan dan rambut ikal berwarna hitam pekat, ia terlihat begitu manis dan menggemaskan, terlebih dengan ekspresi kesal menunggu supirnya yang belum juga datang di depan gerbang sekolah.


"Aduh... Pak Buto kemanasih? kok belum datang juga?" gerutunya.


"Tit tit..."


Suara klakson motor membuat Karamel yang sudah kesal tambah kesal.


"Apaansih?" dumel Karamel.


"Tit..."


Suara klakson motor masih saja terdengar.


"Apaansih? masih luas noh jalan, enggak mesti harus nabrak aku juga kan?"


"Tit..."


"Apaansih?" berang Karamel.


"Naik," titah si pemilik motor berwarna merah dengan helm full face-nya.


"Naik?" ulang Karamel bingung.


"Cepat naik," suara dingin dan sadis itu kembali terdengar.


"Enggak ah, entar kamu culik aku lagi."

__ADS_1


"ck," si pemilik motor berdecak kesal, mematikan motornya, membuka helm full face dan menatap Karamel tajam.


Karamel terdiam, hatinya kembali terpacu hebat, tangannya dingin dan bergetar.


"Naik," titah Andi dingin.


Karamel masih membeku di tempat.


Jengah melihat ke kakuan Karamel, Andi turun dari motornya, meraih tangan mungil Karamel dan mengangkatnya dengan enteng ke atas motor besar miliknya bak mengangkat sebongkah kapas.


"Pegangan."


"Bremm!"


Sentak, Karamel memeluk pinggang Andi saat ia tersadar dari alam bawah sadar oleh pacuan ban motor yang menggila.


"Aku masih mau hidup...!" teriak Karamel dengan pegangan yang semakin erat.


Andi tidak tahu, kalau ini adalah hari pertama bagi Karamel menuduki pantatnya diatas motor, dan langsung dengan body yang begitu besar.


"Aku mau turunn... turunin akuu..." teriaknya lagi.


Andi tersenyum kecil.


Spontan, ban motor berdecit. Motor besar berwarna merah itu berhenti dengan begitu tiba-tiba.


"Kamu nangis?" tanya Andi tajam, tersirat kekhawatiran.


"Huhuhu... kalau kamu mau bunuh diri jangan ajak orang lain dong... hiks hiks," Karemel menangis sesegukan di punggung Andi.


Andi merasa bersalah dan khawatir dengan keadaan Karamel. Akan tetapi, ia merasa senang Karamel memeluknya saat ini.


"Ka_kalau kamu benci sama aku, dendam sama aku bilang, jangan bunuh aku kayak gini... huaaaa..." tangis Karamel semakin menjadi. Bahkan, Andi bisa merasakan deguban hati Karamel yang menggebu dan tangannya yang bergetar.


"Maaf," lirih Andi.


"Kamu pikir aku ini apa? boneka? yang bisa di bawa main gitu aja? heks," Karamel masih terisak.


"Kamu bukan boneka sayang, kamu itu pacar aku, pacar Andi."

__ADS_1


Sentak, Karamel menoleh. Menatap mata Andi yang sedang menatapnya. Lalu kembali merendamkan wajahnya pada punggung Andi dengan tangis yang semakin menjadi.


"Huaaaa... aku enggak mau sama orang gilaaa... huaaa... mamaa... aku mau pulang..." Teriaknya histeris.


Andi mengerut alis dalam, "sama orang gila?" tanya Andi murka, "Tidak akanku biarkan, kamukan milikku! takku biarkan seorang pun menyentuhmu, apalagi memilikimu. Termasuk orang gila." Ucapnya tegas, dengan rahang mengeras.


Karamel terdiam sejenak, lalu kembali terisak, "Huaaa... mamaa... orang gilanya enggak nyadar kalau di gilaa...heks heks... Aku mau pulang..."


"Iya iya, kita pulang," Ucap Andi lembut, mulai memajukan motornya.


"Enggak mau pulang pakai motor."


"Oke oke," tanpa banyak membantah dan melawan, Andi mematikan motornya dan meronggoh ponsel dari saku celana.


Tak lama setelah mengetik sesuatu di layar ponsel, sambungan telepon terdengar.


"Iya pak?" sapa suara di sebelah sana.


"Bawa mobil saya ke sini sekarang," titah Andi dingin.


"Ke mana pak?" tanya suara di seberang sana.


"Akan saya kirimkan alamatnya," ucap Andi sebelum mematikan teleponnya.


"Heks heks..." Karamel masih terisak.


"Tenang, tak lama lagi mobil akan datang."


Karamel menoleh, dengan mata yang bengkak dan berair, bulu mata lintik semakin lintik terkena air mata, membuat Andi gemas ingin mencium bola mata besar itu.


Tak lama setelah Andi mematikan hubungan telepon, sebuah mobil sport berwarna merah berhenti dengan mulus tepat di depan mereka.


Karamel melongo.


"Ayo kita pulang," ajak Andi.


"Kurasa, aku mati saja," gumamnya.


______________

__ADS_1


sampai sini dulu,


besok akan up date episode 1🖤


__ADS_2