My Crazy Boyfriend

My Crazy Boyfriend
speechless!


__ADS_3

Sekarang Karamel tidak peduli bahwa orang yang sedang ia genggam tangannya adalah orang gila. Yang Karamel pedulikan sekarang adalah apa yang akan terjadi ke depannya.


Jantungnya sudah seperti suara tut tut kereta api saja. menggebu begitu gila.


"Tenang," ujar Andi yang menatap Karamel dan sesekali menoleh ke arah tangan mereka dengan senyum yang merekah lebar.


"Gimana bisa tenang coba? tiba-tiba kamu bawa aku ke rumah nenek kamu begini. Ck," decak Karamel kesal.


"Nenek aku baik kok orangnya."


"Iya baik," sahut Karamel, "sama kamunya!" tambahnya.


"Hehehe..." Andi terkekeh geli dengan tingkah Karamel. "Nenekku baik sama semua orang kok."


"Ah, kamu cuma mau nenangin aku aja kan? sok sok bilang nenek kamu baik sama semua orang. Udah ah, aku mau pulang, cepat antar aku pulang," tegas Karamel. "Ayo cepattt," rengeknya.


Di saat Karamel menarik-narik tangan Andi, suara derit pintu terdengar membuat Karamel membeku seketika.


"Ada apa ribut-ri__eh... cucu nenek ada di sini ternyata," ekspresi perempuan setengah baya itu berubah drastis saat melihat cucunya. "Wuahh... bawa menantu lagi. Sini-sini masuk." Tanpa menghiraukan ekspresi dan ke kakuan Karamel. Nenek Andi, menarik dan membawanya dalam dekapan lalu mengiring Karamel masuk. Karamel terdiam seribu bahasa.


"Nenek... hati-hati rangkul pacar Andi, masak rangkul orang kayak rangkul boneka," ucap Andi kesal.


"Hehehe... maaf! nenek terlalu excited," ucap nenek Andi yang melepas rangkulannya dan memeluk pinggang Karamel dengan sebelah tangan.


"Salam kenal, nama nenek Shanisa,"


"Ah? hehe iya, salam kenal juga, nama_"


"Nama kamu Karamel kan?" sela Shanisa cepat.


Karamel terlihat begitu syok. Bagaimana bisa nenek Andi mengetahui namanya? sedangkan mereka baru saja bertemu.


"Tidak perlu terkejut seperti itu, Andi bercerita banyak tentang nak Karamel," ucap Shanisa.


Spontan Karamel menoleh ka atas Andi. Andi hanya membalas tatapan tajam Karamel dengan senyum yang hangat nan lembut, membuat Karamel tambah kesal saja.


Dimana semua bukti yang ia dengar dari teman-teman barunya?


dingin? cuek? Ya ampun... dimana semua sifat itu? bolehkah Karamel menerima sifat itu? Karamel leleh dengan sifat kekanak-kanakan laki-laki di sampingnya ini.

__ADS_1


"Karamel sayang, duduk disini dulu ya? nenek mau mengambil sesuatu untuk nak Karamel," Ucap Shanisa, membuat Karamel bertanya-tanya.


Tak lama setelah Shanisa pergi, seorang pelayan membawa beberapa gelas minuman dan makanan-makanan yang terlihat begitu lezat.


"Eh Andi!" panggil Karamel.


"Hem?" sahut Andi dengan senyum manis.


"Apaan sih kamu senyum-senyum begitu," kesal Karamel. "Buat orang gagal fokus aja," gumamnya.


Andi terkekeh kecil. Walaupun Karamel hanya bergumam, gendang telinga Andi masih bisa menangkap suaranya.


"Kenapa?" tanya Andi lembut.


"Ah? oh iya," Karamel sedikit tersentak dengan suara Andi karena ia sedang menenangkan hatinya yang masih mengebu, apalagi dengan sikap nenek Andi yang begitu ramah terhadapnya membuatnya tak tahu harus bersikap bagaimana.


"Itu beneran nenek kamu?" tanya Karamel akhirnya.


"Iya," jawab Andi.


"Wuahh... tadi pertama aku lihat di depan pintu aku pikir itu cucu nenek kamu."


Karamel hanya tersenyum kik-kuk. "Andi," panggil Karamel lagi.


"Em?" sahut Andi dengan tawa yang langsung mereda. Ia mengfokus total ke arah Karamel.


"Nenek kamu mau ngambil apa ya? Aku jadi takut."


"Entah," jawabnya. "Tapi tenang saja, nenek aku tidak akan memberi kamu racun kok,"


"Ih kamu apa-apaan sih? Aku nanya serius juga," kesal Karamel.


Andi terkekeh, "Ih... kamu kenapa gemesin baget sih?" ujar Andi yang mencubit gemas pipi Karamel. "Cek, memang bidadari kecilku begitu imut."


"Ih, jangn di cubit, sakit tahu," Karamel mengusap-usap pipinya yang tidak terasa sakit, hanya saja ia terlalu syok dan salting dengan tingkah Andi yang begitu dadakan.


"Sakit ya?" tanya Andi khawatir, "Aduh, maafin aku, aku tadi kelepasan," ucap Andi merasa begitu bersalah. "Sini aku lihat pipinya," tanpa menunggu persetujuan dari Karamel, dengan cepat nan lembut Andi meraih wajah Karamel, takut Karamel kembali merasa sakit. "Ya ampun! pipi kamu merah banget, apa_"


"Ck, apaansih? main pegang-pegang sembarangan," sela Karamel cepat, ia menutupi kedua pipinya yang sudah seperti kepiting rebus. Pipi Karamel memerah bukan karena cubitan Andi, tapi karena tingkah Andi terhadapnya.

__ADS_1


"Ukhhh... kalian so sweet banget,"


Reflek, Karemel dan Andi menoleh kearah suara yang tiba-tiba saja terdengar.


"Sana kamu, udah cukup mesra-mesraan dari tadi," usir Shanisa, membuat Andi mengerut bibir kesal tetapi ia tetap menurut.


"Nih, buat kamu sayang,"


Karamel menatap gelang yang begitu cantik dan terlihat antik di tangan Shanisa. Ia tak tahu harus mengeluarkan kata seperti apa. Tak mungkin Karamel menerima itu.


"Sini nenek pakein." Baru hendak Shanisa meraih tangan Karamel, dengan cepat Karamel menyembunyikan tangannya.


"Ma_maaf ne_nenek, bu_bukannya Karamel tak menghargai pem_berian ne_nek, hanya saja Karamel ti_tidak bisa menerimanya," tolak Karamel dengan suara tergagab.


Shanisa tersenyum lembut. Ia tahu, anak ini tidak akan menerimanya begitu saja.


"Maaf," ucap Karamel dengan menundukkan kepalanya, ia merasa tidak enak.


Semuanya terlalu cepat bagi Karamel. Bahkan semuanya terjadi dalam sehari. Tembakan dengan paksaan, pergi kerumah nenek Andi, bertemu dengan nenek Andi dan sekarang_ diberikan barang yang terlihat berharga untuknya. Semuanya terlalu cepat.


"Begini saja, sekarang kamu terima ini, tidak apa-apa kalau kamu tidak memakainya yang penting kamu terima ini," ujar Shanisa dengan wajah berharap. "Karena gelang ini adalah gelang yang nenek simpan khusus untuk istri cucu nenek," tambahnya, membuat Karamel tambah syok dan tak enak menerima gelang itu karena dia tidak akan menjadi istri dari cucunya.


"Maaf," lirih Karamel.


"Sini nek, Karamel akan terima kok, diakan calon istri Andi." Andi meraih gelang itu dan menyimpannya di dalam saku celana. "Nanti Andi yang akan pakaikan pada Karamel."


Shanisa hanya tersenyum kecut. Ia begitu berharap bisa memakaikan gelang itu pada istri cucunya.


Mendengar kata-kata Andi dengan cepat Karamel menoleh, "Iyakan bidadari kecil?" ucapnya dengan senyum yang merekah. "Kalau begitu nek, kami pamit dulu ya? Asalamuàlaikum!"


"Waàlaikum salam!" jawab neneknya lesu.


Andi menarik tangan Karamel dan membawanya keluar. Dalam hati ia berjanji pada neneknya akan memakaikan gelang itu pada Karamel, bagaimana pun caranya.


________


Sampai sini dulu ya guys...😍


nanti malam update lagi🖤

__ADS_1


jangan bosan-bosan sama ceritanya yaa..😄


__ADS_2