My Crazy Boyfriend

My Crazy Boyfriend
1 Pahlawan Karamel!


__ADS_3

Karamel melangkahkan kakinya munuju lantai bawah. Keberadaan Garel dikamarnya membuat Karamel merasa pengap untuk berada di kamar saat ini.


"Mau kemana?" tanya sebuah suara saat Karamel melewati meja makan.


"A?" Karamel menoleh keasal suara. "Mau ke ruang tengah ma, mau nonton," jawab Karamel, kembali melanjutkan langkahnya yang sempat tertahan.


Amanda--Mama Karamel, menggikuti Karamel dari belakang saat melihat kelakuan anaknya yang tidak seperti biasanya. Tidak banyak bicara dan tidak ceria. Sama sekali bukan karakter seorang Karamel.


Amanda ikut duduk di samping Karamel di sofa panjang di depan TV.


"Kenapa?" tanya Amanda.


Karamel menoleh, "Kenapa apanya ma?"


"Anak mama yang ceria, hari ini kenapa muram banget?" tanya Amanda, "di gangguin Bang Garel?" tambahnya.


"I__"


"Enggak kok Ma."


Baru hendak Karamel menjawab, sebuah suara yang datang dari arah samping kanan menyela suara Karamel. Karamel tambah kesal dengan kelakuan abangnya itu. Entah kapan Garel membiarkannya hidup tenang.


"Garel...! kamu apakan adikmu ini hah? mukanya udah melebihi kecut jeruk purut," ucap Amanda yang menatap Garel tajam.

__ADS_1


"Enggak abang apa-apakan kok Ma. Garel kan sayang banget sama adik kecil... masak Garel jahilin adik kesayangan. Iya enggak dik?" ucap Garel yang duduk di sebelah kanan Karamel dan merangkulnya erat.


"Ih, abang apa apaan sih?! lepasin! sakit tahu," teriak Karamel yang berusaha melepaskan rangkulan abangnya. Amanda yang duduk di sebelah mereka, seketika terlupakan.


"Enggak mau, enggak mau, coba aja lepasin sendiri," ujar Garel dengan notasi mengolok-olok. "Katanya anak pencat silat, sabuk hitam lagi, tapi... masak lepasin rangkulan lemah beginian aja kagak bisa," kata Garel meremehkan.


Kesal dengan remehan Abangnya, Karamel menyikut tulang rusuk Garel dengan begitu keras, membuat Garel seketika meringkuk kesakitan.


"Aw!" ringisnya kesakitan.


"Mampus," balas Karamel.


"Eh eh eh... kalian kenapa main begituan? Mentang-mentang sama-sama anak pencat silat bisa main kasar? enggak ada acara-acara main kasar, Mama enggak suka," tegur Amanda saat melihat becandaan anak-anaknya. Jika seandainya yang dibecandakan menjadi serius bagaimana? misalnya nanti tulang rusuk Garel patah karena sikutan Karamel. Kan bahaya!


"Abang tuh yang ngulah duluan Ma," adu Karamel.


Karamel menghela nafas berat dan melirik tajam abangnya yang sudah cekikikan--bahagia diatas penderitaan adiknya yang sedang kena siramana rohani tentang sikap anggun seorang perempuan.


"Mama nyesal tahu izinin adik ikut pencat silat waktu SMP. Lihat efek sampingnya sekarang, adik sama sekali enggak punya sikap anggun-anggunnya seorang perempuan," Amanda kembali melanjutkan pidatonya.


"Ma__"


"Enggak papa loh ma," sela Garel. "Lihat anak perempuan mama ini," Garel kembali merangkul adiknya yang sudah tertunduk dalam. Karamel selalu merasa sedih dan kesal saat Amanda menceramahinya tentang sikapnya yang tidak ada anggun-anggunnya.

__ADS_1


"Tangguh, kuat, dan paling penting bisa menjaga diri dari ngengat-ngengat liar di luar sana," tambah Garel.


"Abangkan ada," sahut Amanda. "Abang yang seharusnya menjaga adik dari ngengat-ngengat liar. Kalau tidak, untuk apa abang belajar pencat silat?"


Garel menghela nafas, "Kan Garel nggak selalu akan ada di samping adik buat jagain dia Ma. Kalau ada ngengat yang ganggu adik tapi abangnya lagi enggak ada gimana? kan bahaya ma! Makanya adik perlu belajar pencat silat," ucap Garel yang mengusap-usap belakang kepala Karamel.


Amanda menghela nafas pasrah, tak ada gunanya berdebat tentang Karamel dengan Garel. Apapun yang terjadi, Garellah pemenangnya. "Tapi Mama enggak suka kalau kalian bercandanya pakai kekerasan," ulang Amanda. "Sekali lagi mama liat kalian becanda pakai kekerasan, mama ngelarang adikmu untuk ikut organisasi pencat silat di sekolah barunya," tegas Amanda yang langsung beranjak pergi meninggalkan Garel dan Karamel yang sudah tertunduk lesu. Karamel sangat ingin mengikuti organisasi pencat silat di sekolah barunya.


Karamel menoleh menatap abangnya dengan bibir mengerut ingin mengadu.


"Tenang, adik abang pasti ikut organisasi pencat silat kok," ucap Garel, membuat bibir Karamel seketika menarik segaris senyum.


"Karamel sayang abang," tutur Karamel, memeluk abang satu-satunya.


Adakalanya dimata Karamel Garel menjadi orang paling menyebalkan sedunia, tapi adakalanya Garel menjadi pahlawan yang selalu ada untuknya. Sekesal apapun Karamel pada abangnya, Ia sangat menyanyangi si tukang jahil ini.


"Ia, abang tau kok, kalau dada bidang abang nyaman buat di peluk," ucap Garel, membuat Karamel otomatis menolak tubuh bidang Garel dan pergi meninggalkan Garel di ruang tengah sendirian.


"Lah? cogan ditinggal."


_____


hehehe...

__ADS_1


maaf masih agak abstrak.


semoga kalian menikmati😉


__ADS_2