My Crazy Boyfriend

My Crazy Boyfriend
Apalagi sekerang?


__ADS_3

Bunyi ponsel Karamel cukup membuat Garel greget dan kepo ingin tahu siapa yang sedari tadi menelpon juga siapa penelpon sampai membuat adiknya enggan mengangkat.


"Drrttt... Drrttt..."


Ponsel itu kembali berbunyi untuk kesekian kakinya. Garel menoleh kesal keatas ponsel itu, dan untuk kesekian kalinya juga Garel gagal meraih ponsel itu.


Karamel melirik abangnya tajam seakan tahu apa keinginan dari laki-laki yang menidurkan tubuh diatas kasurnya itu. "Jangan coba-coba." Karamel mengingatkan.


Garel seakan tak peduli, ia sok cuek dan kembali memainkan ponselnya, begitu juga dengan Karamel, kembali sibuk dengan laptopnya.


"Cleng cleng cleng,"


Suara notifikasi berbunyi, pertanda sebuah pesan masuk.


Dengan cepat Karamel meraih ponselnya sebelum direbut Garel, terbukti sekarang tubuh Garel sudah condong setengah hendak mengambil ponsel yang tergeletak di samping laptop.


Karamel kembali melirik abangnya tajam.


Yang ditatap hanya mengerutkan bibir dan mengedik bahu sok acuh, padahal dalam hati dia sudah sangat greget dan kepo.


from 08531224****


kenapa kamu enggak angkat telepon?

__ADS_1


"Cleng cleng cleng,"


Suara notifikasi berkali kali terdengar lagi. Dan itu, masih dari pengerim yang sama.


***from 08531224******


jangan berani-berani cueki aku ya?!


from 08531224****


kalo kamu enggak angkat teleponnya untuk apa kamu pakai ponsel hah?


from 08531224****


Ini peringatan 1, kalau kamu memang nggak angkat telepon, aku pergi kerumah kamu sekarang.


from 08531224****


Karamel mengeram kesal membaca pesan yang bertubi-tubi masuk dari orang yang sama. si gila.


"Apa lagi yang mau dia lakuin sih?" gerutunya kesal.


"Kenapa dek?" Garel yang ternyata masih setia memasang kuping dan curi-curi ngintip mendengar gerutuan Karamel. Hal itu cukup membangkitkan kedobelan rasa keponya. pasti ada apa-apa dengan adiknya ini.

__ADS_1


"Engga kenapa-napa," ketus Karamel. "Abang kepo aja kayak cewek. Sana keluar dari kamar Ramel, ngapain disini?" Karamel menolak tubuh abangnya, tapi Garel enggan beranjak, dia masih setia rebahan di kasur Karamel.


Karamel masih tidak mau mengalah, ia masih mendorong-dorong abangnya, tak mau abangnya mendengar apa yang akan mereka bicarakan nanti di telepon.


"Sana pergiii...Ihh... sana..."


"Kenapa sih dek? biasanya juga kamu nggak masalah abang lama-lama di kamar kamu. lah sekarang?" Garel memicingkan matanya. "Kamu mau ngapain...? abis baca pesan masuk kamu langsung usir abang, hayooo... mau ngapain?"


Karamel membulatkan mata. "Ih abang ngomong apasih? Ini Karamel mau mandi juga, nggak ada yang aneh-aneh. Sana keluar, Karamel mau mandi udah bau." Karamel mendorong kuat abangnya sampai terjatuh ke lantai. Karamel terkekeh girang. "Cepet sanaa..."


Garel menatap adiknya kesal, ia tahu pasti ada sesuatu yang adik perempuannya itu sembunyikan. Dengan rasa kesal, akhirnya Garel meninggalkan kamar Karamel.


"Ukh akhirnya keluar juga tuh si tukang ganggu." Karamel kembali duduk atas kasurnya dan kembali sibuk di depan layar lapptop. Tidak lama setelah itu ponselnya kembali berdering, pertanda panggilan masuk.


Karamel meraih ponselnya, menatap nomor penelpon dengam kesal dan was was. Apalagi yang mau dilakuin si gila ini? Apa tidak cukup dengan kejadian kemarin yang serba cepat dan dadakan? Apalagi sekarang.


08531224*** Calling...


Sebelum sambungan itu mati dan bertambah hal baru yang lebih buruk, contohnya seperti si gila berkunjung kerumahnya, dengan cepat nan kesal Karamel mengangkat panggilan itu. lebih baik mangambil pilihan yang aman bukan?


"Hallo bidadari kecil..."


_______

__ADS_1


nah nah nah...


sampai sini dulu yaaa*...


__ADS_2