
Sudah 3 hari aku tidak sadarkan diri di ruangan itu, Ramlan yang begitu setia bolak-balik Rumah Sakit untuk mengecek setiap kondisiku saat itu.
Aku tidak tahu lagi, apa aku di takdirkan untuk merepotkan semua orang?
Setelah mendengar kabar buruk tentang kondisiku, Dewi sahabatku langsung pulang ke Indonesia. Tidak tidak beda jauh dari Ramlan, begitu sangat cemas dan khawatir saat mendengar kabar itu.
"cekrekkk" suara pintu terbuka, Dewi yang masih belum pulang ke rumah, dan langsung mampir ke Rumah sakit tempat aku di rawat.
"Rammm sorry, gimana keadaan Raraa hari ini? tanya Dewi dengan tergesa-gesa. Terlihat di raut wajah nya begitu banyak kecemasan.
"Seperti yang kau lihat Wi? Dari setelah kejadian itu Raraa belum sadarkan diri juga" Ramlan hentak berdiri dan menjelaskan kejadian saat itu
"Ya ampun Raa, Lo kuat yaa !! gue ada disini. gue pulang buat Lo" ucap Dewi sembari membukukkan tubuhnya dengan satu tangan mengelus kepalaku
"Ram gue denger Raraa bekerja ya? kenapa sih lo biarin dia gitu aja? kita kan udah tau kondisi Raraa di awal gimana?" Dewi terus saja menggerutu
"Gue juga gak mau kali Raraa kerja wi, tapi dia baru bilang pas dia udah ada panggilan kerja. dengan alasan dia bosan dengan hidup nya yang terus mengurung di kamar" ucap Ramlan dengan penuh kesal, seolah-olah Dewi menyalahkan dirinya.
Tiba-tiba tanganku sedikit bergerak, "Raa---mmm..." panggilku dengan suara yang begitu susah di ucapkan.
"Raaa...ini gue Raa" Dewi langsung melihat ke arahku dan mengelus kepalaku
"Sayanggg aku disini" Ramlan pun ikut membukukkan tubuh nya dan memegang tanganku yang di kelilingi selang infusan
"Deee---wii" ucapku sembari membuka mata dengan begitu pelan.
"Alhamdulillah Raa, Lo udah sadar. Iyaa ini gue. Gue pulang raaa" tak terasa butiran air mata Dewi terjatuh di ujung kedua matanya
"Segera panggil dokter Ram" perintah nya!!
"Tunggu sebentar ya Raa" Ramlan langsung berlari membuka pintu dan memanggil dokter
"Dokkk dokter..."
Dokter dan beberapa perawat langsung memasuki ruangan itu, seperti biasa mereka memeriksa keadaan kondisiku.
"Bagaimana dok?" tanya Dewi
"Kondisi Raraa mulai stabil, tapi untuk 4-5 hari Raraa belum bisa di perbolehkan untuk pulang ya !!" ucap seorang dokter
"Baik dok terimakasih" balas Ramlan
...****************...
Hari ini menuju Kemoterapi, lagi lagi aku banyak menyusahkan banyak orang.
Tak tega melihat Ramlan dengan wajah kusut yang tak sempat mengurus dirinya.
"Kau terlihat cape sayang?" tanyaku yang sedang di suapi semangkuk bubur oleh dirinya
__ADS_1
"Tak usah kau hiraukan aku, yang terpenting kau harus sehat!" balas nya
"Maafkan aku, aku sudah terlalu sering merepotkan mu" hikkss hikkss dengan air mata yang sudah tidak bisa ku bendung lagi
"Sayang dengarkan aku !! tidak sama sekali aku terbebani oleh mu. ini sudah menjadi tugasku. Jika kau sayang padaku tolong bantu aku dengan kesembuhan Bu" seraya tangan ku tergenggam erat kedua tangannya
"yaaa benar apa yang di katakan kekasihku, jika aku tidak sembuh semakin aku merepotkan dirinya. Semanagt Raa kau pasti bisa" (Batinku)
"cekrek...." Dewi memasuki ruangan, langsung menjatuhkan tas nya ke sofa
"Hai Raa, apa kau sudah merasa baik-baik saja hari ini?" tanya nya dengan sedikit mengelus tubuhku
"Masih terasa lemas wi, doakan aku segera aku sembuh" ucapku
"Oh ya Ram, bagaimana kondisi Raraa kata dokter? apakah ada perubahan?" tanya dia
"Hari ini Raraa menjalankan kemoterapi kembali wi, dan kali ini harus lebih rutin dari seperti biasanya" jawabnya
"Baiklah kalau begitu, akupun sepertinya tidak akan dulu pergi ke Jepang. Melihat kondisi Raraa seperti ini mana bisa aku meninggalkan nya"
"terimakasih wi, kupercayakan kepadamu"
"kau sudah sarapan? pergilah dulu mencari sarapan dan ganti baju mu. dari kemarin terlihat kau sangat sekali tidak memperhatikan tubuhmu, biar Raraa aku yang jaga" perintah nyaa
"Baiklah kalau begitu, aku akan pulang dulu sebentar. nanti siang saat waktunya kemoterapi aku segera cepat kembali lagi kesini. ku titip dia padamu" balas nya dengan wajah yang kusut tak terarah
Ramlan langsung bergegas pergi meninggalkan aku dan Dewi di ruangan itu. Aku kasihan kepadanya, begitu lelah nya dia menjaga ku akhir-akhir ini, apalagi sambil di tugaskan dengan bisnis nya. pasti otaknya serasa kacau.
"Boleh wi"
Dewi mengeluarkan beberapa buah dari dalam paperbag nya itu, karena sebelum datang kesini dia menyempatkan membeli di supermarket terdekat di area rumah sakit ini.
"lo harus sembuh, tidak kasihan Lo kepada gue dan Ramlan yang harus terus-terusan bersedih melihat kondisi Lo seperti ini?" tanya nya dengan tangan yang sambil mengupas buah apel
"Gue pun gak mau seperti ini wi, gue pengen nya sehat normal seperti Lo. Tapi kenapa tuhan ngasih cobaan yang begitu berat ya Wi" rintih ku
"Sabar yaa, haruskah gue kasih tau kedua orangtua Lo wi??" tanya nya lagi
"Tidak, aku tidak ingin merepotkan mereka. aku malu wi, sudah bertahun tahun aku tidak berjumpa dengan mereka. sangat merasa berdosa sekali" bulir-bulir air mata jatuh tak tertahan
"Pak...Bu...Raraa rindu"
"Sudahlah yang terpenting kau sehat dulu, setelah sehat nanti ku antar kau bertemu dengan mereka" dengan mengelus kepalaku
...****************...
Jam sudah menunjukkan jam 13.00 siang, setelah Dewi menyuapi buah, dan Ramlan sudah kembali lagi ke rumah sakit.
"Sayang sebentar lagi kemoterapi akan segera di mulai, semagat yaa!!" ucap Ramlan dengan berdiri sambil mengingatkan rambutku.
__ADS_1
Dewi segera mengambilkan ku kursi roda yang ada di dekat sofa mendorong nya lalu meletakan nya di dekat ranjang tempat tidurku.
"Kalian jangan pergi kemana-kemana, terutama kau sayang" perintahku
Suster memasuki ruangan.
"Maaf pak, Bu, nyonya Raraa sudah di tunggu oleh Dokter di ruangan untuk segera menjalani Kemoterapi"
"Baik sus, sebentar lagi segera kesana" ucap Dewi
"Baik kalau begitu saya duluan, permisi"
Ramlan segera menggendongku ke dan menduduki bokongku ke tempat kursi roda.
lalu mendorong nya keluar menuju arah ruangan kemoterapi dengan di ikutinya Dewi dari belakang.
Kemoterapi sedang di lakukan, Dewi dan Ramlan memperhatikanku dari sudut ruangan.
Wajah mereka tampak terlihat sedih melihat kondisiku sekarang ini.
"Bagaimana hubunganmu dengan Irfan?" tanya Ramlan, dengan kedua tangan memasuki kantong celana nya
"Baik Ram, dia menitipkan salam padamu. Maaf baru ku katakan sekarang. untung Lo mengingatkan" balas nya dengan mata yang masih menatap ke arahku
"Syukurlah kalau dia baik-baik saja, kapan rencana dia akan pulang?"
"Bulan depan dia akan segera menyusulku kesini, dia terlihat sangat sibuk akhir-akhir ini. Oh ya bagaimana dengan rencana mu untuk menikahi Raraa di bulan depan?" tanya nya
"sepertinya gue tidak akan menunggu sampai bulan wi, Rencana Minggu depan akan segera gue urus soal pernikahan ini" Ramlan menatapan dalam ke arahku
"Serius Lo? tapi kan kata dokter Raraa pemulihan Raraa membutuhkan 3 Minggu lagi" menatap langsung ke arah Ramlan dengan wajah yang begitu serius
"Justru itu, gue tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan itu. bukan kah semakin cepat semakin baik?" tanya nya lagi
"Terserah Lo saja Ram, gue dukung apapun itu demi kebaikan kalian berdua. Gue sangat percaya Lo mampu menjaga Raraa. Ehh tapi bagaimana dengan pekerjaan nya?"
"2 hari lalu sudah ku kirimkan email pengunduran diri ke perusahaan nya tanpa sepengetahuan Raraa, maka dari itu secepatnya gue ingin segera menikahi Raraa, tak usah bersusah payah lagi dia bekerja keras untuk dirinya" ujar nya
30 menit sudah mereka berbincang, dan kemoterapi pun sudah selesai.
Di tidurkan nya lagi di ranjang kasur singgle bad itu dengan di penuhi selang oksigen dan dan tak lepas juga dari selang infusan.
"Sekarang kau istirahat, aku akan menjagamu" ucap Ramlan.
Aku hanya mengangguk dan tidak lama kemudian langsung tertidur pulas.
Dewi pun pulang terlebih dahulu, karena ada yang harus di selesaikan dengan tugas nya.
Di ruangan itu hanya ada aku dan Ramlan.
__ADS_1
Sembari menemaniku tidur, dia duduk di sofa dengan membuka lipatan laptop nya dan mengerjakan beberapa tugas bisnis nya.