My Dear Ramlan

My Dear Ramlan
Perjodohan yang tidak di inginkan


__ADS_3

*Beberapa Bulan kemudian*


Malam itu aku hanya terdiam, menatap langit yang indah di hiasi kerlap kerlip berjuta-juta bintang.


Ku ambil kotak hitam berpita merah, lalu ku ambil kotak musik dan ku mainkan, ku pejamkan kedua mata meresapi alunan musik yang begitu nyaman di dengar.


Air mata tiba-tiba terjatuh di pelipis kedua pipi, sungguh aku tidak seberuntung mereka yang bisa hidup damai didunia.


Wanita lemah sepertiku harus berusaha kuat untuk bisa menjalani hidup yang sudah Tuhan berikan.


apakah bahagia itu akan ada untuk aku?


Terus saja kata-kata itu menghantui di pikiranku. Seolah-olah aku tidak yakin akan bisa hidup lebih nyaman di dunia.


...****************...


"Raaaa bangunnnn!!" teriakan dan suara tangan mengetuk pintu dari luar kamar


"Iyaaa Bu, sebentar" jawabku yang masih mengantuk


Ku langkahkan kaki menuju luar kamar dan menghampiri meja makan.


Sepertinya Bapak dan Ibu sudah menunggu kehadiranku untuk sarapan pagi


"Ra bapak mau ngomong" sambil meminum secangkir kopi


"iya, ada apa pak?"


"Sore ini kamu jangan pergi kemana-mana, teman bapak beserta keluarga nya mau berkunjung ke rumah kita" perintah nya


"Loh kok mesti harus ada Raraa pak?" tanyaku


"Soalnya Ibu sama Bapak mau menjodohkan kamu sama teman bapak itu" ucap ibu


Seperti di sambar petir, bagaimana hati ini tidak marah. Aku yang harus menuruti perintah Bapak dan ibu soal perjodohan ini.


Bertahun-tahun aku selalu menuruti semua perintah Bapak dan Ibu, tapi kali ini rasanya aku ingin teriak sekeras mungkin. Lagi dan lagi aku harus menderita karena selalu menuruti apa kemauan Bapak dan ibu.


"Apa Bu? , tapi Bu Raraa masih kuliah. 2 tahun lagi Rara lulus. lagian Rara ingin bekerja dulu Pak Bu.."


"Soal biaya kuliah, teman bapak yang akan menanggung semuanya. Mereka orang kaya Raa. Kita tidak harus banting tulang lagi untuk memikirkan biaya hidup" bapak dengan suara tinggi nya semakin aku benci dengan semua ini


"Pak...Bu...


Raraa tidak suka di jodoh-jodohkan seperti ini, Raraa akan mencari kerja sampingan untuk mencukupi kebutuhan kita. Tolonglah Raraa selalu mengikuti apa yang kalian mau, tapi untuk kali ini Raraa mohon."

__ADS_1


"Raraa dengarkan Bapak !! kamu mau kerja apa?? toh penghasilan kamu pun hanya cukup untuk biaya kuliah saja. pokoknya sore ini kamu diam di rumah. dengarkan kata-kata Bapak!!" Bentak nya kepadaku


Suasana pagi saat itu seperti berada di bawah sinar matahari, sangat panas. Aku yang langsung pergi meninggalkan meja makan dan mengunci pintu kamar, menangis menjerit tidak tertahan dengan perlakuan Bapak dan Ibu yang pikirannya hanya harta dan harta.


"Dasar anak tidak tau di untung" muka bapak yang memerah memendam amarah


"Sudahlah pak jangan terlalu di pikirkan, Raraa pasti nurut saja apa yang kita perintahkan. iya kan??" kata ibu


Jika aku tidak menuruti perintah kedua orang tua angkatku, bisa-bisa aku di usir dari rumah.


saat itu hati merasa bingung, harus apa dan harus bagaimana. Tuhannn... kenapa Engkau memberiku kehidupan seperti ini, rasanya sangat tidak adil bukan.


"Raa cepetan siap-siap, mereka sudah di jalan menuju rumah!" terdengar teriakan ibu dari luar kamar


Aku yang masih berdiam diri, meratapi kehidupanku seperti ini. Mau tidak mau aku harus segera bersiap-siap, tidak apa-apa ini semua aku lakukan untuk Bapak dan ibu. Tidak peduli bagaimana nanti nya nasibku yang penting Bapak dan ibu bahagia.


"Tokkk....tokkk....tokkk... Assalammualaikum"


terdengar suara memanggil dari luar rumah.


"Iyaaaa waalaikumussalam" jawab ibu yang bergegas melangkahkan kakinya menuju pintu ruangan


"Ehhhh jeng silahkan masuk, ayo duduk duduk.." sapa nya dengan penuh senyum bahagia


"Pakkk.. bapakk... Pak Hutomo dan keluarnya sudah datang" teriak nya


Ibu menjemput Bapak yang tengah siap-siap menyambut kedatangan keluarga Pak Hutomo.


Tidak lama kemudian mereka berdua menghampiri.


"Hutomoooooo..apa kabar?" sapa Bapak sambil merangkul pak Hutomo


"Wahyu...ya seperti inilah yang kau lihat" tertawa serentak


semua saling bersalam salaman termasuk pria dengan paras yang cukup menawan berpakaian kemeja berwarna maroon duduk di tengah antara pak Hutomo dan ibu nya.


"Oh ya Wahyu, kenalkan ini istri saya dan ini anak semata wayang saya Bima. Yang ku ceritakan waktu itu" ujar pak Hutomo


"Oh iya iya , sudah bujang yaa. dulu waktu bertemu masih kecil. Oh iya ini istri saya"


"Oh ya Bu cepat panggilkan Raraa!"


segera ibu bergegas memanggilku


"Raa cepat !! mereka sudah menunggu" ketus ibu di luar kamar

__ADS_1


"Iya Bu tunggu sebentar" aku yang sudah siap, dan masih memandang cermin di hadapanku.


"Gapapa Raa, Allah tidak diam. Allah akan mempermudah segalanya, bismillah" (batinku) sambil terpaksa tersenyum pasrah.


"lama sekali, ayo cepet" sambil mendorong pundakku untuk melangkah dimana mereka berkumpul


Aku yang hanya diam, tidak bisa berkata apapun.


mendengar perbincangan mereka yang semakin lama rasa nya semakin mengganggu kedua telingaku.


"Ya Allah bantu aku" (jerit batinku)


"Nahhhh ini dia Raraa putri ku, cantik bukan??" gurau nya


"Wahhhh persis seperti ibu nya ya Ma, cantik !!" candanya


Sengaja aku tidak berdandan, hanya memakai baju bekas hari raya idul Fitri tahun kemarin. Tetapi masih saja mereka memujiku seperti itu, seolah-olah memancing daya tarik keluarga pak Hutomo agar lebih mantap untuk menjodohkan aku dengan anak semata wayang nya.


Pria muda itu menatapku penuh dengan senyuman, Entahlah sedikitpun aku tidak terpesona dengan wajah tampan nya. Ingin rasanya saat itu aku pergi berlari sejauh mungkin.


Bukan perjodohan seperti ini yang ku harapkan.


"Ngomong-ngomong Bima sekarang masih kuliah atau bagaimana jeng" sontak ibuku


"Bima sedang melanjutkan S2 nya di Amerika jeng, yaa kalau pulang juga bantu-bantu Papa nya di kantor" jawab nya


"Wahhh hebat ya, udah tampan berpendidikan tinggi, nurut lagi sama orang tua" sindir ibu dengan tatapan mata mengarah kepadaku


"Yaa gimana lagi Wahyu, aku sudah tua cuma Bima satu-satu nya yang bisa menggantikan ku nanti" cakap pak Hutomo


"Hahaha tidak apa-apa, kita sama sama sudah tua Tom. maka dari itu perjodohan ini harus di segerakan. Aku sudah tak sabar ingin menggendong cucu" Tawanya


"Hahaha iya benar benar"


Rasanya ingin muntah mendengar kata-kata itu, Ahhhhh sangat benci sekali berada di ruangan ini.


Tak terasa waktu begitu cepat, lega rasanya saat percakapan ini akan segera berakhir.


Ingin sekali aku cepat pergi meninggalkan tempat ini.


"Yasudah kalau begitu, saya dan keluarga saya pamit dulu ya. Untuk waktu nya kita atur Minggu depan sambil makan malam di rumahku"


"Baik baik...saya dan keluarga pasti datang. hati-hati yaa"


Beberapa menit kemudian mereka pulang, aku yang menatap wajah Bapak dan ibu dengan penuh emosi langsung pergi meninggalkan mereka tanpa ada satu atau dua kata yang keluar dari mulutku.

__ADS_1


Aku benci hari ini !!


__ADS_2