My Dear Ramlan

My Dear Ramlan
Membawa Raraa ke Rumah kedua Ramlan


__ADS_3

Hari ini Aku menjalani kemo terapi di temani Dewi dan Ramlan. Selama aku sakit merekalah yang telah sudi mengurusku.


Kebaikan mereka tidak sebanding dengan apa yang telah aku lakukan saat ini, rasanya ingin segera pergi dari tempat yang berbau obat-obatan ini.


"Raa hari ini kemo terapi pertama, semangat ya!" ujar Dewi yang tengah mendorongku yang sedang duduk di kursi roda dengan tangan yang menekuk menahan air infusan yang menggantung.


Aku hanya berbalas tersenyum, dengan wajah yang masih terlihat sangat pucat.


Dewi dan Ramlan mengantarkan ku ke ruangan itu, tdi bantu oleh Ramlan dan dua orang perawat untuk membangunkan ku dari kursi roda.


30 menit sudah berlalu, penyakit yang semakin hari terus menerus menggerogoti tubuhku dan aku hanya bisa pasrah dalam hal ini.


Besok nya, Dewi sedang berkemas membereskan semua pakaianku. Karena hari ini aku sudah di perbolehkan pulang oleh dokter.


"Aku bingung wi"


"loh kenapa? apa yang kamu bingungkan Raa"


"Hari ini aku pulang, tapi aku tidak ingin pulang lagi ke rumah"


"memang nya gue akan mengantar lo pulang begitu saja ke tempat kediaman orang tua angkat lo Raa..iya kali gue harus membiarkan Lo sendiri dengan keadaan sakit seperti ini?"


"Krekkkk...." terdengar seseorang dari luar membukakan pintu


"Sudah siap wi??" tanya Ramlan


"Sudah Ram, kita pergi sekarang??


"Kalian mau bawa gue kemana?" tanyaku dengan penasaran


"Udah Lo diem, Lo aman kok sama kita"


Entah apa yang mereka rencanakan saat itu, aku yang hanya bisa diam mengikuti apa yang di perintahkan oleh sahabatku Dewi.


Ramlan menggendongku meletakan tepat di kursi roda, membawaku menuju luar ruangan.


Suasana di dalam mobil hening seketika, aku yang duduk di depan mataku melihat ke arah jalan.


tersadar ini bukan arah menuju rumahku atau rumah nya Dewi. Aku terdiam, tidak ingin berbicara. Karena aku percaya mereka akan membawaku pergi agar aku bisa hidup lebih tenang lagi.


Sampai di sebuah rumah, dengan di kelilingi tanaman hijau.


udara nya sangat segar, membuat pikiranku lebih tenang dan damai.


"Rumah siapa ini Ram??" tanyaku dengan keadaan masih duduk di kursi roda dan syal yang menghangati tubuhku


Ramlan tak menjawab pertanyaanku, dia langsung memasuki rumah tersebut, tanpa permisi seolah-olah terlihat ia sering mengunjungi rumah ini.


"Nyaman tidak wi?"

__ADS_1


"Oke sih, cocok lah untuk Raraa sementara tinggal disini"


sontak wajahku yang langsung menatap wajah Dewi dan Ramlan dengan penuh heran.


"Aku tinggal disini? ini rumah siapa?"


"Raa untuk saat ini, kamu tinggal disini dulu yaa. Sampai kamu benar-benar sehat. Maaf aku tidak bisa mengantarkan mu Kembali ke rumah kedua orangtua angkatmu, aku khawatir nantinya orang tua mu akan menyakiti mu lagi" Ramlan yang tengah diam di belakangku, tertunduk menghampiri aku yang masih duduk di kursi roda itu.


"Raa..gue percaya sama Ramlan, Lo bakalan aman disini. jauh dari orang orang toxic seperti orangtua mu itu. Tenang masalah kuliah. Aku udah bilang pada dosen untuk memberimu tugas online"


Peluknya Dewi kepadaku, tak tersa air mataku menetes. Tidak tahu seperti apalagi caraku berterimakasih atas kebaikan mereka.


Memang benar kata Dewi, aku justru bakalan lebih tenang disini, di banding di rumah Dewi yang pastinya akan lebih merepotkan banyak orang disana. Tidak hanya itu, pasti kedua orangtua ku juga akan tetap mencari keradaanku di rumah Dewi.


Untung nya Tante Maria menyuruh anak semata wayangnya itu membawaku ke rumah ini, tak lain rumah ini masih milik keluarganya.


...****************...


Pagi itu Ramlan yang tengah sibuk di dapur menyiapkan sarapan untuk aku dengan nya.


Dia terlihat tampan dengan menggunakan epron melingkari tubuh nya.


"Ram??" panggilku menghampirinya


"Pagi Raa, sini duduk. Hari ini ku buatkan sup yang enak untukmu" dengan membayangku munuju meja makan.


Dia memberiku semangkuk sup, menyuruhku untuk mencicipi nya.


"Gimana? kamu suka?"


"Sukaaa, tak menyangka kamu pandai memasak"


"sejak papa gak ada, aku sering membantu Mama di dapur memasak. kata mama aku harus bisa segalanya, tatkala beliau sakit atau apa aku yang harus menyiapkan makanan untuknya"


"emang di rumah mu tidak ada asisten rumah tangga? lalu bagaimana sekarang, Mama mu sendirian di rumah itu?"


"Tenanggg, ada bi Isah dan pak Ujang juga kok. Ya kali aku harus masak tiap hari. Aku hanya harus bisa saja bukan berarti setiap hari menyiapkan segalanya" Tawanya


Aku tertawa, tak menyangka laki-laki semanja dia bisa semandiri ini. Kali ini aku yang berhutang Budi padanya.


"Raaa... berjanji ya kamu akan sembuh" memegang tanganku dengan kuat


"Rammm...udah gak usah kamu khawatirkan, lagian aku sekarang badanku sudah merasa enakan. kamu jangan cemas" balasku dengan cemas.


"Aku justru mengkhawatirkan mu Raa. saat ini kamu harus membayar ku karena selama kamu sakit aku yang membantu mu"


"Hah membayar? ku kira gratis, ternyata aku berhutang padamu" keluh ku saat itu


"Hahahaha...bercanda. aku cukup kau bayar dengan kesembuhan mu, setelah benar kau sembuh tidak ada kata hutang lagi padaku"

__ADS_1


"tokk...tokk..tokkk.." Terdengar suara dari luar mengetuk pintu.


"Tunggu ya Raa"


Ramlan melangkah menuju ruangan tamu, untuk membuka pintu.


"Ehhh bi Isah, silahkan masuk"


Ternyata bi Isah datang, terlihat bi Isah menenteng kedua tas nya, sepertinya di suruh oleh Tante Maria untuk menemaniku disini dan membantu membereskan rumah ini.


"Kok bi Isah bisa kesini, apa Mama yang suruh?" tanya nya


"Iya den, kata Ibu untuk beberapa hari ini saya di suruh menemani non Raraa dan Aden di rumah ini. Sebelum Ibu mencarikan Asisten baru untuk rumah ini" ujar nya


"Siapa Ram" teriaku sambil melangkahkan kaki menuju ruang tamu


"Oh ya Raa, kenalin ini bi Isah. Bi Isah ini Raraa"


"Hallo bi"


"Iya non, cantik yaa. pantesan saja den Ramlan betah tinggal disini" ejeknya


"ini calon bi, doakan" ucap nya sambil bercanda


"Ramlan ihhhh" tepas nya aku memukul bahu nya


"Ayo bi aku antarkan ke kamar, bibi istirahat saja dulu yaa!"


Ramlan segera mengantarkan bi Isah ke kamarnya. Lalu setelah itu dia menghampiriku keluar rumah.


Udara yang begitu sejuk, terlihat tanaman-tanaman yang sangat indah.


"Raa, aku punya sesuatu untukmu, sini ikut aku" Ramlan menarik tanganku dan membawaku ke halaman belakang.


terlihat tanaman bunga matahari yang sangat indah, apalagi tersedia tempat duduk untuk bisa menikmati halaman tersebut.


"wawwww" sontak aku terpana dengan keindahan yang ada di halaman belakang


"Kau suka Raa?"


"Ramm ini indah sekali" senyumku bahagia


"ketika kau bosan, pergilah kesini. kau harus menjaganya agar tumbuh semakin cantik"


"Pasti..pasti ku rawat Ramm"


langkahku meninggalkan Ramlan yang tengah berdiri menuju tanaman bunga matahari itu.


Kupu-kupu yang cantik hinggap disana, kehidupan ini yang aku maksud Tuhann...

__ADS_1


Tolong jangan pernah ambil kebahagiaan ini dari hidupku !!


__ADS_2