
Jam sudah menunjukkan pukul lima sore, waktu kerja sudah selesai. Aku yang masih berpikir antara harus pergi atau tidak untuk menemui Ramlan di Rumah Sakit.
Rasa nya campur aduk, bingung karena malu. Rindu itu semakin meronta-ronta, isi hati ini terus saja menarik agak aku pergi menemui nya.
"Good luck ya, semangat !!" Dewi yang selalu menyemangati meskipun dia yang tidak bisa menemani pergi
Aku masih terdiam di kantin, masih memikirkan soal ini.
"derttt derttt derttt..."
Terlihat di layar handpone nomor yang tidak di kenal memanggil.
"siapa ni?" tanyaku sendiri
"Hallo.."
"Hallo Nak Raraa, ini Tante Maria. Sorry ya Tante ganggu"
Oh my good , ternyata Tante Maria yang nelpon. Jantung yang semakin berdegup kencang hati yang berbunga-bunga membuat meyakinkan hati untuk bertemu dengan Ramlan
"Oh Tante, gapapa Tan. kok Tante tau nomor Raraa" tanyaku pada Tante Maria
"Iya barusan Tante meminta nomor Raraa dari Irfan tapi Irfan pun sempat gak punya jadinya barusan minta dulu dari Dewi katanya. Rara lagi dimana??
"Oh gitu, eummm Rara ini lagi di kantin deket kantor tan. kenapa??"
"Kalau nak Raraa tidak keberatan boleh Tante minta tolong??"
"Oh ngga kok tan, ini udah pulang kerja. santai sihh, Minta tolong apa Tan??"
"Kamu bisa ke Rumah sakit dulu sebentar buat jagain Ramlan?? soalnya Tante suruh Irfan, Irfan lagi ada acara dulu sama keluarga nya. sebenarnya Tante ini malu minta tolong sama kamu"
"yesssss akhirnya bisa ketemu juga" (batinku) sambil memukul meja kantin dengan pelan
"Raaa? masih mendengar suara Tante?"
"Oh iya Tan, bi..sa bisaaa kok" jawabku sambil girang
"makasih banyak ya Raa, kalau begitu Tante mau langsung berangkat dulu ke acara. kamu langsung kesini saja yaa"
"oke Tante baik, Raraa segera kesana sekarang" jawabku dengan gugup bahagia
suara telpon langsung terputus.
...****************...
"Yesssss......" seketika aku berdiri sesenang itu
"kenapa Bu?" tanya pak Adam kepadaku, sambil memegang Sapu di tangan nya
"Ehhh pak Adam...ngga kenapa-napa kok pak" jawabku dengan malu
"Owalahhhh kirain kenapa, kalau begitu saya permisi ya Bu, marii"
"Mari pak Adam...."
__ADS_1
Aku langsung bergegas pergi, sambil jalan masih dengan suasana kegirangan. mungkin apa yang dibilang Dewi temanku benar, aku sedang merasa jatuh cinta.
Aku yang hampir 3 Tahun menutup hati, baru kali ini merasakan getaran getaran hati yang begitu membuatku bahagia, semoga saja aku bisa secepatnya lagi membuka hati.
tidak lama kemudian, sesampainya aku di depan pintu keluar kantor, aku langsung menaiki sebuah taxi untuk bergegas pergi menemui Ramlan yang masih terbaring sakit.
...****************...
*Tiba di Rumah Sakit*
Aku berjalan menuju ruangan dimana Ramlan di rawat inap, terlihat dari luar jendela Ramlan sedang tertidur terbaring di atas ranjang. Tak tega rasanya melihat dia seperti ini.
Ku buka pintu dengan pelan, langkahku menuju tempat tidur.
Jarum suntik yang masih menempel di tangan nya, perban yang masih di ikat di kepala nya, tapi wajah itu tetap tampan meskipun keadaan nya sedang tidak baik-baik saja.
Saat itu aku langsung duduk, di kursi dekat dengan Ramlan. menyimpan tas di dekat kursi.
Aku yang masih gengsi, dan selalu bersikap marah-marah di depan Ramlan, padahal hati bahagia bisa berada di samping nya.
"Coba aja kalau gak naik motor, gak akan gini kan kejadiaan nya. Membuat khawatir saja"
aku yang berbica sendiri. Pikirku mungkin tidak akan terdengar oleh nya, karena dia masih belum bangun.
Tidak terasa waktu begitu cepat, suara Adzan magrib telah berkumandang.
Aku bergegas ke kamar mandi untuk menumpang wudhu disana.
setelah selesai, Ku kibarkan sajadah dan ku kenakan mukena di tubuhku. Lanjut untuk mengerjakan ibadah sholat magrib.
Selesai sholat ku duduk kembali di samping Ramlan, mukena yang masih belum ku lepas. Ku tatap wajah nya ku pegang tangan nya dalam hati berbicara
Sontak aku tertidur, tidak lama kemudian Ramlan bangun. Dia melihatku yang masih mengenakan mukena.
Tersenyum manis, sambil mengelus kepalaku.
"Raaaa..." terdengar suara yang begitu lemas
"Ram..maaf maaf aku ketiduran" sontak aku terbangun, Ramlan menatapku dan memegang kedua tanganku
"Thank ya Raa..."
"terimakasih buat apa Ram?"
"Mama bilang Lo yang udah donorin darah buat gue, gue hutang Budi sama Lo"
"Oh itu, udah gak usah di pikirin. Emang Lo sanggup bayar hutang Budi ke gue?" Candaku padanya
"Gue siap apapun yg Lo mau gue lakuin" dengan penuh yakin Ramlan menjawab
"Oke kalau gitu, gue cuma minta Lo sembuh. Udah itu aja, Kalau Lo sembuh berarti kita impas gak perlu ada kata hutang-hutangan lagi. Deal?" ujarku sambil menyodorkan tangan
"hahaha dasar"
"Eh tertawa lagi"
__ADS_1
"Raaa, hari ini gue bahagia Lo ada disini" menatapku yang sangat begitu dalam
Aku hanya bisa tersenyum saat mendengar kata-kata itu, Ku bantu Ramlan untuk menyender dan ku beri dia minum yg sudah tersedia disana.
"Bentar ya, gue lepas mukena dulu"
"Krekkkk.." terdengar suara pintu. terlihat dua orang perawat mengantarkan makan malam untuk Ramlan
"Permisi mbak, saat nya pasien makan malam. Dan ini obat nya" Seorang perawat yang sedang menyodorkan makanan nya di hadapan Ramlan.
"Terimakasih" sapaku
"Lo harus makan dulu ya, udah gitu langsung minum obat. Sini biar gue suapin"
Aku yang langsung mengambil semangkuk bubur dan sendok, lalu menyuapi Ramlan yang tengah terbaring.
"Lo tuh harus banyak makan, gak boleh telat minum obat. Biar cepet pulih. Kalau Lo pulih kantor bakal terasa rame lagi kalau ada Lo" Omelku kepadanya
"Ohhh jadi selama gue gak masuk kantor terasa sepi gitu?" godanya
"Emmmm maksud gue tuh gini, eeeee Irfan iya Irfan gak ada temen nya, kasian dia" rasa malu yang membuatku jadi salah tingkah dengan jawaban Ramlan.
"Ohh gitu yaaa, oke oke Irfan eummm" ledek nya sambil senyum senyum.
"duhhhh Raa raaa ko bisa kaya gini sih" (Batinku)
"Oh ya Ra, tolong ambilkan kotak hitam di dalem lemari dong" perintah nya kepadaku
Ku buka lemari tersebut, dan ku ambil sebuah kotak hitam berpita merah langsung ku berikan kepada Ramlan.
Aku yang masih asyik memainkan sendok bubur, dan tidak sedikitpun berpikir bahwa kotak tersebut akan di berikan kepadaku.
"Raaa.."
"Iya, kenapa? mau minum?"
"Bukan, ini untuk mu. Selamat ulang tahun ya Raa. Sorry telat. sebetulnya sebelum gue kecelakaan, gue mampir dulu beli kado buat Lo"
Amazing... ternyata dia peduli juga
"buat gue?"
"Iya buat Lo, buka nya nanti pas Lo di rumah aja ya" perintah nya !
"Okeee, thank yaa" senyumku
Tidak lama kemudian Tante Maria datang, syukurlah sekarang aku bisa pulang. Kalau tidak, bagaimana nasibku bisa-bisa aku di caci maki oleh kedua orangtua angkatku.
"Hai sayang, maaf banget yaa Tante agak lama, soalnya acaranya rame banget. Makasih banyak loh. Tante jadi gak enak sama kamu"
"It's oke Tante gapapa, karena ini udah malem Raraa pamit ya Tan. kalau ada apa-apa hubungi aja Raraa"
"Sekali lagi makasih yaa sayang"
"Yaudah Raraa pamit ya Tan, Ram cepet sembuh yaa" senyumku
__ADS_1
Aku langsung berpamitan pulang, sesampainya di lobby ternyata hujan cukup deras.
Segera ku pesankan taxi online, agar segera cepat pulang ke rumah sebelum jam 12 malam.