
5 hari sudah aku merada rumah sakit, badanku masih lemah tak berdaya.Sepertinya kondisiku semakin hari semakin memburuk. Tidak ada tanda-tanda akan sembuh dalam waktu dekat ini.
"Sayang kemarilah" perintahku kepada Ramlan yang saat itu dia sedang duduk di sofa dengan benda lipat nya itu
"Iya sayang, kau mau apa? buah?" jawabnya sembari menutup layar benda lipat nya dan melangkah menuju ranjang tempatku berbaring.
"Sayang, apakah kau lelah mengurusku?" tanyaku dengan menarik tangan nya dengan pelan
"Bicara apa kau ini, jelas saja ini sudah menjadi kewajibanku" balasnya
"Jika kau merasa lelah, pergilah cari wanita yang lebih baik dariku. Aku bisa nya hanya menyusahkan mu" sedikit melemparkan wajahku tak menatap wajah nya.
Sebenarnya tak tega ku utarakan kata-kata itu, sakit seperti tertusuk pisau yang menancap langsung ke bagian dadaku.
"Kau bicara apa? jika aku merasa kau repotkan sudah dari dulu aku pergi. Tak paham lagi aku dengan pikiran mu" Ramlan langsung pergi keluar meninggalkan aku sendiri di ruangan rawat.
"Bisa-bisa nya kau tega berbicara seperti itu kepadaku Raa...padahal lusa sudah mau ku siapkan segalanya untuk bisa hidup bersama denganmu" (batinnya)
Aku yang masih terbaring lemah, hanya bisa menangis.
"Ya Tuhan kenapa kehidupanku serumit ini, tidak bisakah kau mempermudah semuanya" (batinku)
tak lama setelah itu aku terlelap tidur, tidak tahu kapan mulai memasuki ruangan itu.
*Pesan Masuk*
Dewi : Ram hari ini gue gak bisa ke RS, toko kue punya bokap gue gak ada yang jagain. Gue titipkan Raraa sama Lo
Ramlan : Oke
"Rasanya badanku cape sekali, mumpung Raraa sedang tertidur aku mau ikutan istirahat juga" ucap nya pelan, dengan membaringkan tubuh nya ke kursi sofa dan satu tangan menutupi wajah nya
__ADS_1
...****************...
*Keesokan hari nya*
Aku meminta kepada dokter untuk rawat jalan saja, sudah bosan aku berada di ruangan yang berbau obat-obatan. meskipun dokter menyarankan untuk beberapa hari lagi, namun aku menolak. Akhirnya pihak rumah sakit memperbolehkan aku untuk di rawat di rumah saja.
"Hari ini kita pulang sayang" Ramlan mendorong ku yang tengah duduk di kursi roda menuju mobil nya yang sudah terparkir di depan lobby.
30 menit sudah kita sampai di rumah nya Ramlan, ia tidak membawaku ke rumah yang sebelumnya aku singgahi karena jarak rumah sakit memerlukan 2 jam menuju rumah yang satu nya lagi.
"Kenapa kau membawaku kesini" ucapku
"Sayang, sementara waktu kau tinggal dulu disini yaa. aku pun sudah menyuruh bi Isah kesini untuk membantu mu memerlukan sesuatu. Rumah ini cukup luas, kau tidak akan bosan" ucap nya
"Tapi bagaimana dengan tanaman bunga matahari itu? aku tidak mau beringkar kepadamu. harus segera ku rawat agar tumbuh baik bunga itu"
"Kau tak usah khawatir, akan ku lihat setiap hari nya. sudah ayo kita masuk" kita melaju menuju pintu masuk rumah nya.
Rumah Ramlan yang utama cukup luas, dengan model ala-ala Jerman klasik dengan warna rumah perpaduan gold dan putih itu.
"Sayang ini akan ada acara apa?" tanyaku heran
"Besok kita akan melangsungkan acara akad nikah, apa kau bahagia?" balas nya dengan tersenyum dan menunduk di sebelahku
"Kita akan menikah? yang benar saja, bahkan kau belum menghubungi kedua orang tua kandungku. bagaimana bisa pernikahan ini berlangsung"
"Sayang, tenang saja. sudah ku persiapkan matang-matang dari jauh-jauh hari. Ayah kandung mu akan datang percayalah. tapiiii...." dengan bingung
"Tapi apa??" tanyaku menoleh kepada wajahnya
"Apakah kita akan mengundang orang tua angkat mu juga sayang? aku belum memberitahu nya karena masih takut tidak ada izin darimu"
__ADS_1
"Ntahlah, jika kita mengundang mereka takut acara ini akan berantakan. kau tidak tahu bagaimana sifat kedua orangtua angkatku. lebih baik tidak, tapi suatu saat kita akan menemui nya" Ucapku dengan berat sekali aku katakan
"Baiklah sayang, aku serahkan kepadamu. sekarang kau harus istirahat. Besok adalah hari bahagia kita" dengan sambil membawaku ke arah kamar yang begitu besar dengan model yang simple dan minimalis"
...****************...
"Raa kau begitu sangat cantik" Dewi menatapku ke arah cermin.
Aku yang saat itu di kamar dengan menggunakan kebaya pernikahan berwarna putih dengan di penuhi pernak-pernik dengan perpaduan kain songket batik berwarna coklat tua.
"Aku akan menjadi seorang istri wi" mataku berkaca-kaca menatap ke cermin dengan dewi yang setia di belakangku memegang kedua pundakku.
"HAPPY WEDDING sahabatku, semoga kau bahagia selalu" ucapan itu sangat begitu menyentuh ke dalam hati naluriku, tak ku sangka ati akan menjadi seorang istri.
"tokk...tokk...tokk..." terdengar suara ketukan pintu yang membangunkan ku dari pelukan sahabatku
"Non apakah sudah selesai, semua sudah menunggu" teriak bi Isah dari luar bilik kamar.
Dewi langsung mendorongku yang masih duduk di kursi roda membawaku keluar. Terlihat semuanya sudah siap.
Ramlan sengaja tidak mengundang siapapun, hanya beberapa orang terdekat saja.
Dia begitu sangat tampan, mengenakan jas hitam dan celana berbahan kain. Dia menatapku dengan penuh haru. Rasanya hubunganku yang selama ini kita jalani tidak sia-sia. Terlihat juga ayahku ada disana, tersenyum dengan penuh kerinduan.
Acara akad pun sudah berlangsung, semua tampak berjalan dengan lancar. Semua orang memberi ucapan dan doa yang tiada henti.
Hari itu sungguh masih tidak percaya, aku sudah SAH menjadi seorang istri.
"Sayang selamat ya, kau berhak bahagia. Mama titipkan putra mama kepadamu. jika dia nakal jewer saja telinga nya" ucap Tante Maria yang sekarang mungkin sudah menjadi mertuaku.
"Aku tidak akan menyakiti istriku Ma, percayalah kepada anakmu ini" balasnya dengan penuh tawa
__ADS_1
"Anakku kau sangat terlihat cantik, maafkan ayah" Ucap pria paruh baya itu tidak lain dari ayah kandungku sendiri. Beliau memelukku.
Suasana langsung penuh haru saat itu.