My Dear Ramlan

My Dear Ramlan
Balon Cinta Untuk Raraa


__ADS_3

Hati ini seperti di sayat-sayat pisau yang tajam, emosi yang semakin membara, haruskah aku pergi dari rumah neraka ini.


jam menunjukkan pukul 23.00 malam, hujan masih tak kunjung reda seakan-akan langit tahu kalau hati ini sedang tidak baik-baik saja.


Aku yang berniat untuk pergi dari rumah, karena sudah tidak tahan akan perlakuan mereka yang sangat kelewatan.


Ku buka pintu dengan pelan, berjalan merintih dengan diiringi suara tangisan yang tak kunjung berhenti. Sakit rasanya, Entah harus pergi kemana dan kesiapa aku mengadu.


Aku dengan basah kuyup memberanikan diri untuk pergi ke rumah Dewi, mungkin untuk sementara aku akan ikut menumpang hidup beberapa hari disana.


"tok...tok..tok.."


ku ketuk pintu rumah Dewi, Dewi segera membuka pintu.


"Raa kenapa? apa yang terjadi?" tanya nya dengan wajah yang begitu sangat mengkhawatirkan keadaanku


"Wi..boleh aku menginap disini untuk beberapa hari?" pintaku dengan rintihan suara yang masih menangis


"Masuk Raa..." ajak nya


Dewi membawaku ke ruangan belakang, dia memberiku handuk dan menyajikan secangkir teh panas untuk aku yang tengah basah kuyup.


Mungkin disini aku akan jauh lebih tenang, rasanya aku tidak ingin pulang lagi ke rumah yang dimana sudah ku anggap seperti neraka. Tidak peduli apa yang akan terjadi kedepannya baik untuk kedua orang tua angkatku maupun diriku sendiri.


"Sebenarnya apa yang telah terjadi Raa?"


Aku yang masih terdiam tidak menjawab pertanyaan Dewi, aku masih kecewa dan masih terbayang bagaimana hidup aku lebih menderita saat ini.


"Oke gapapa, Lo tenganin aja dulu yaa. kalau hati Lo udah siap cerita...cerita aja sa gue"


Dewi menatapku dengan penuh kasihan, bagaimana tidak dia sahabatku dari sejak SD pasti jauh lebih tahu bagaimana kehidupan rumahku.


Bersyukurnya orangtua Dewi begitu amat sayang kepadaku, mereka sudah menganggap ku seperti anak kandung nya sendiri.


...****************...


"Raa.. bangun yuk kita sarapan"


Tiba-tiba badanku menggigil, suhu tubuhku panas dengan wajah terlihat pucat.


Dewi menghampiriku, memastikan bahwa keadaanku baik-baik saja.


Akan tetapi semua tebakan nya salah.


"Ya ampun Raa badan Lo panas banget...Ma mama..." Dewi berlari meminta bantuan Mama nya untuk mengecek kondisiku yang tengah terbaring lemas.


"Ma, Pa..Raraa suhu tubuh nya panas banget. Ayo cepetan"


mereka semua berlari menuju kamar, Papa nya Dewi langsung membawaku kedalam mobil untuk segera bergegas pergi ke rumah sakit.


Aku yang masih tidak sadarkan diri saat itu, masih menyalahkan diri sendiri. Ternyata hidupku selain menderita merepotkan banyak orang. Pikirku saat itu


"Raa sabar ya Raa..." ucap Dewi yang begitu sangat cemas, menatapku yang tengah tertidur di atas paha nya.


*Isi Pesan*


"Ram..Raraa masuk Rumah Sakit"


Ramlan yang sedang asyik bermain PS melihat layar handpone dan membaca pesan dari Dewi.


Dengan wajah yang begitu cemas, tanpa balasan apapun langsung menelpon Dewi


"Hallo wi, Raraa kenapa?"


"semalem Raraa tidur di rumah gue, pagi nya gue cek suhu badan nya panas banget"


"Oke oke, Lo sharelock ya, Gue kesana sekarang"


Ramlan langsung bergegas pergi menuju rumah sakit.


1 jam sudah berlalu, Ramlan mamarkirkan mobil keluar dan berlari memasuki Ruangan.


"Ram...." lambaian tangan Dewi seolah memberitahu bahwa aku di rawat di ruangan itu


"Gimana keadaan Raraa wi" nada yang begitu sangat cemas


"masih di tangani dokter Ram, kita doain aja semoga Raraa gak kenapa-napa"


"Awal nya kenapa sih, kok bisa Raraa kaya gini"


"Semalem dia Dateng ke rumah gue dengan basah kuyup. Entah apa yang terjadi dengan keluarga nya. Raraa belum sempat cerita sih, gak biasanya dia kaya gini Ram. setiap bertengkar sama orang tua nya dia suka langsung kasih tau, tapi ini nggak sama sekali"


"emang Raraa sering ya berantem sama orang tuanya?"


"yaaa begitulah, gue gak mau cerita banyak tentang Raraa ke elo. Elo cari tau sendiri aja atau tanya langsung sama orang nya"


Disini aku masih belum sadarkan diri juga, sekujur badan terasa lemas tak berdaya untuk bergerak.

__ADS_1


"Keluarga nya Nyonya Devia"


seorang dokter yang keluar dari ruangan pemeriksaan memanggil.


Sontak semua berdiri dan menghampiri dokter tersebut.


"Saya temannya dok" ucap Ramlan


"eeeee keluarga nya ada? Ayah atau ibu nya?"


"Saya dengan Teman orang tua nya Raraa dok, kebetulan orang tua nya tidak bisa kesini di karenakan sedang sibuk di luar kota" balas Mamaku yang mengarang cerita agar ada alasan supaya Raraa bisa di tangani lebih lanjut oleh team rumah sakit ini.


"Oke baik kalau begitu, ibu bisa ikut ke ruangan saya" Ajak nya


Mamanya langsung mengikuti langkah dokter dan memasuki ruangan.


"Apa yang terjadi dengan Raraa Dok??"


"Maaf Bu sebetulnya masalah ini harus saya beritahu kepada orang tua nya, di karenakan orang tua nya tidak bisa hadir mau tidak mau saya harus memberitahu kepada orang terdekat nya Raraa yaitu ibu sendiri"


"Rara baik-baik saja kan dok?"


Dokter memberikan sebuah map berisi kertas putih dengan tulisan bahwa Rara mengidap leukemia atau kanker darah.


Mamanya Dewi syok dengan pernyataan dokter, ia menangis merasa kasihan kepadaku.


"Raraa mengidap Kanker hati stadium 3, yang dimana kanker ini sudah berukuran besar dan gampang menyebar, satu satu nya cara untuk Raraa bisa bertahan hidup ialah sering sering untuk melakukan terapi dan juga jauhkan dari hal-hal yang memicu pikiran nya terganggu, seperti setres dan yg lainnya"


tidak lama kemudian Mama nya Dewi keluar dari ruangan dokter, langkah kaki nya terlihat sudah tidak mampu lagi untuk berjalan.


menangis, merintih, tidak akan terbayang bahwa kejadiannya akan seperti ini.


"Mamaaaaa..." teriak Dewi berlari menyigap langsung Mama nya yang akan terjatuh


"Maaaa" teriak papa nya


"Tante" Ramlan membantu Mama nya Dewi untuk untuk duduk di kursi samping ruang rawat


"Maa, kenapa? ada apa?"


"Rara wi Raa..." merintih menangis tak tertahan, diberikannya map tersebut kepada Dewi. sontak Ramlan dan papa nya yang ikut membaca.


"Raaaa" Dewi menangis dengan tangan yang menutup bibir merah merona nya itu


"Ya Allah.." Ramlan yang masih tidak menyangka dengan kondisi Raraa yang sekarang ini.


...****************...


Dewi berdiri di dekat pagar besi dengan berpakaian menggunakan jaket tebal penuh bulu, menatap memandang ke arah depan melihat kerlap kerlip nya lampu di bawah.


"Wi, nih kopi" Ramlan menyodorkan secangkir cup kopi kepada Dewi yang tengah melamun.


"Thank Ram.."


mereka berdua saling memandang ke depan, dengan regukan kopi yang sedang di nikmati.


"Sampai sekarang Raraa masih belum sadar juga Ram, gue bingung harus ngabarin bokap nyokap nya gimana. Sedangkan kondisi Raraa seperti ini itu pasti ulah mereka juga"


"Lo sesayang itu ya sama Raraa??" tanya Ramlan kepada Dewi


Dewi tersenyum membayangkan masa kecil nya bersama Rara. Rara sudah di anggap seperti sodara nya sendiri oleh Dewi. Sedih nya aku mungkin menjadi sedih nya Dewi juga, sakit hati nya aku juga menjadi sakit hati nya Dewi.


"Lo ngasih pertanyaan yang sangat bodoh ke gue" tawa sinis kepada Ramlan


"Dulu Raraa sering sekali mengalah demi gue, dari mulai mainan, makanan, apapun itu asal gue bahagia. setiap gue lagi susah lagi sedih dia satu-satunya orang yang selalu ada buat gue. Sekarang gue ngerasa bersalah banget, disaat kondisi Raraa kaya gini, gue gak bisa lakuin apa-apa" tangisnya terisak-isak


Ramlan mengusap pundaknya Dewi, berusaha menenangkan hati nya. Sakit hati rasanya jika sahabat yang di sayangi nya harus mengalami kepedihan hidup seperti ini.


Malam sudah berlarut, terlihat Dewi yang tengah tertidur di bangku sofa dalam ruangan.


Ramlan yang masih duduk, memperhatikan kondisiku yang masih lemah tak berdaya.


"Raa kuat ya!! ada aku disini, kamu gak usah merasa takut lagi. kita hadapi sama-sama. Aku janji tidak akan membiarkan orang lain menyakitimu termasuk orang tua angkat mu" mengelus tanganku, dengan penuh perhatian.


*Keesokan harinya*


"Pagi Maa.."


"Pagi sayang, Mama buatin pancake coklat almond kesukaan kamu"


"Maa boleh buatin satu lagi gak, buat Raraa hehe"


"boleh dong sayang, Mama kangen nih sama Raraa. Gimana kondisi nya sekarang?" tanya Mama sambil membuat pancake yang di perintahkan Ramlan barusan


"Belum tahu Ma, Dewi juga belum ngabarin kondisi Raraa saat ini sudah mendingan atau belum"


"Hmm kasian yah, anak secantik dan sebaik Raraa kenapa harus di beri ujian seperti ini. Yaudah biar kamu gak cape bolak balik ke rumah dan ke rumah sakit. Sebaiknya malam ini kamu temani Raraa saja ya. Kasihan kalau terus menerus Dewi yang jagain"

__ADS_1


"bener boleh Ma? terus mama sama siapa di rumah?"


"Udah gak usah mikirin mama, Mamah kan ada bi Isah ada pak Ujang juga di rumah. atau nanti mamah telpon Tante Tiara untuk temani mamah di rumah"


"yaudah kalau begitu aku siap-siap dulu ya ma"


"eee eee ini pancake nya sayang"


"oh iya lupa, makasih ya ma" pamit nya sambil mengecup pipi Tante Maria


Segera Ramlan melajukan mobil nya untuk menemuiku di Rumah sakit.


mobil terhenti, terlihat lampu merah menyala tanda untuk semua kendaraan berhenti.


terlihat dari jauh ada seorang bapa-bapak paruh baya berjualan balon.


Ramlan membukakan kaca mobil nya, memanggil bapak-bapak paruh baya itu.


"Pak..saya mau balon nya dong, yang bentuk hati"


Bapak-bapak itu sontak mengambilnya dan memberikannya kepada Ramlan.


"Makasih ya pak, kembalian nya buat bapak saja"


lampu lalu lintas berpindah warna menjadi warna hijau, Ramlan melanjutkan lagi perjalannya.


"Krekkk..." suara pintu


"Raa..ini aku. Liat gue bawa apaan. pasti Lo suka..cepet bangun yaa!!"


Aku yang masih belum tak sadarkan diri, terlihat jarum suntik yang masih menempel di tanganku.


Nada detak jantung masih terdengar.


tidak lama kemudian suara Adzan Ashar berkumandang, Ramlan pergi berwudhu lalu menghempaskan sejadah ti lantai , bersujud berdoa meminta agar aku cepat siuman.


Seperti mimpi, seolah-olah alam bawah sadarku mempertemukan ku dengan Ramlan secara nyata.


Dalam mimpi itu, aku dan Ramlan yang mengenakkan pakaian serba putih berada di sebuah taman yang indah penuh dengan bunga matahari.


"Raraaaaaa...." sapanya dalam mimpi. aku yang tidak menjawab, dan hanya tersenyum. Dalam mimpi itu Ramlan tengah memetikkan setangkai bunga matahari, untuk di berikan nya kepadaku.


"Raa..ingat kataku kamu harus menjadi matahari yang tidak pernah ingkar janji, untuk setia datang lagi dan tidak pergi. Kita pulang ya Raa.."


"Ramm aku bahagia disini, aku takut untuk pulang. aku takut kedua orang tua angkatku memaksa aku untuk menikah dengan pria yang tidak aku cintai"


"Raaaa ada aku, kita hadapi sama-sama. Apapun yang akan terjadi nanti nya..percayalah kamu akan baik-baik saja selama ada aku di sampingmu"


"janji???"


"Aku janji Raa, kita pulang yaa"


Dalam mimpi itu aku tersenyum dan pergi bersama Ramlan yang tengah memaksaku untuk tetap bersama nya.


"Rammmm..Dewiiii...." aku tersadar, memanggil nama mereka dengan pelan. Ramlan yang sedang berdzikir langsung menghampiriku.


"Raaaaa ini aku raaa, Ya allah Alhamdulillah. kamu tunggu sebentar ya Raa aku panggilkan dokter dulu"


"Dok dokter.." segera dokter bergegas memasuki ruang pasien dan langsung memeriksa kondisiku.


"Alhamdulillah...kondisi Raraa sekarang sudah mulai stabil, tetapi jangan banyak gerak terlebih dahulu yaa. Nanti perawat disini yang akan mengantarkan resep obat nya"


"Alhamdulillah, makasih dok"


Terlihat sekali kebahagiaan terpancar dalam raut wajah nya Ramlan setelah mendengar kondisiku mulai stabil.


Aku mencoba untuk bangun, dan Ramlan langsung membantu dan memberikanku minum.


"Apa yang terjadi Ram? Dewi dimana?"


"Udah kamu gak usah mikirin ini itu dulu, Dewi masih ngampus. nanti dia langsung kesini kok. Kamu laper yaa?? karena udah 2 hari kamu tidur hehe. yaudah ini aku bawain pancake buatan mama. di makan yaa!"


terlihat Balon berbentuk hati itu di pasang di ranjang kasur tempat Raraa.


"Eh ini apa? balon?"


"iya tadi aku sengaja beli balon di jalan, khusus buat kamu"


"Dasar ada-ada saja, makasih banyak yaa" tawaku saat itu.


"kamu tau gak nama balon nya apa??"


"Apa??" jawabku heran


"BALON CINTA UNTUK RARA, biar kamu gak merasa bahwa kamu itu sendirian, kita semua sayang sama kamu Raa"


Bersyukur, karena masih banyak yang sayang dan peduli sama aku. yaa walapun keadaan aku sekarang seperti ini.

__ADS_1


Tapi mereka berusaha menghiburku, membuatku bisa tertawa lepas, seolah waktu kemarin lalu tidak terjadi apa-apa.


__ADS_2