My Dear Ramlan

My Dear Ramlan
My Dear Ramlan


__ADS_3

Dengan memakan waktu sekitar 12 jam kita sudah sampai di kota Malang, kita langsung memasuki hotel yang sudah di pesankan nya tadi pagi.


Kita memutuskan untuk beristirahat dahulu, karena waktu itu kita sampai di jam 03.00 dini hari.


setelah memasuki are kamar, terdapat tulisan yang begitu romantis di setiap cermin.


dengan banyak bunga mawar merah yang di taburi di atas kasur berbentuk LOVE serta selimut berbentuk kedua hewan angsa.


"Welcome to Tuan Ramlan dan Nyonya Devia , selamat menikmati. semoga hari-harinya menyenangkan. Happy Wedding"


Aku tersenyum bahagia, melihat semua ini.


"Kau yang melakukan ini semua untuk aku sayang?" tanyaku pada Ramlan


"Iyaa, ku harap kita akan bersenang-senang setelah ini" jawabnya


"Aku bahagia sayang" memeluk dengan erat ke arah suamiku


"Yasudah, setelah obat nya di minum kau istirahat ya.


pagi jam 10 kita akan segera naik ke Bromo"


"Baik sayang" aku hanya mengangguk mendengar perintah dari Ramlan suamiku


Setelah dia memandikan ku dengan air hangat, dan diapun sudah membersihkan diri.


Obat yang sudah ku minum, lalu aku langsung tertidur.


"Sayanggg kau harus bahagia, kau harus hidup lebih lama lagi. Sudah banyak sekali derita yang selama ini kau jalani, jadi untuk kali ini kita harus menikmati kebersamaan ini. sebelum aku pergi" (batinnya) sambil menatap ke arahku dan mengelus jidat dan tanganku.


Cup...


Ramlan mengecupkan kedua bibirnya ke arah jidat kepalaku


"Aku mencintaimu, sangat mencintaimu"


...****************...


"drrttzzzz drrrtzzz..." terlihat di layar ponsel "IRFAN"


Ramlan : Iya hallo


Irfan : Hai bro, sorry ganggu, kau sedang apa? gue dan Dewi akan berkunjung ke rumah Lo, gimana keadaan Raraa


Ramlan : gue sedang berada di Malang, Raraa mengajakku ingin berlibur disini


Irfan : Malang? serius Lo??


Ramlan : iyaa, Rara ingin sekali naik ke gunung Bromo


Dewi langsung merebut ponsel milik kekasih nya itu


Dewi : lu yang bener aja ajak Rara kesana dengan kondisi dia yang belum stabil


Ramlan : dia yang memaksa, Lo seperti gak tau aja gimana jadi nya kalau Gue tolak keinginan sabahat Lo itu


Dewi : kenapa Lo gak ngabarin gue, tau gitu gue bakalan ikut bareng kalian biar bisa jagain Raraa disana


Ramlan : lo tenang aja, gue juga bawa perawat. tenang Raraa pasti baik-baik saja. Lusa gue balik. Nanti gue kabarin lagi kalau gue sudah sampai rumah


tuttt...tuttt... Ramlan mematikan ponsel nya


"Mengganggu saja pasangan menyebalkan itu"


jam menunjukkan pukul 08.00 pagi, Ramlan langsung membangunkan aku dari tidur.


"Sayanggg bangun yuk, ini sudah pagi" dengan pakaian yang masih memakai piyama


"emmm sayangg aku masih ngantukkk" dengan suara yang sangat berat aku katakan


"Kata nya pengen naik ke Bromo, benar tidak ingin" rayu nya


"Hmmm iya iya aku bangun sayang, mandikan aku cepat !! " perintahku dengan bercanda


"Wahhh dengan senang hati dong, ayo kita mandi berdua" Ramlan langsung membawaku dengan menggendong nya menuju arah kamar mandi


"ehhh ehhh lepaskan aku hanya bercanda sayang"


"Tidak akan ku dengar, kau sudah memancing gairahku" jawab dengan tertawa dan tubuh bersemangat nya


Kita langsung mandi, dan bersiap-siap untuk pergi.


Aku yang memakai celana jeans sepatu boots hitam tinggi, dengan jaket berbulu tebal dan syal yang melingkari menutupi leher, kedua tangan sudah di selimuti oleh sarung tangan, serta tidak lupa topi dan kacamata hitam.


tidak kalah dengan penampilan suamiku.


Susah jika orang yang sudah tampan dari lahir, mau di pakai apapun tetap saja tampan.


Suamiku memakai celana jeans panjang, sepatu bermerek Nike, di tambah dengan Hoodie berwarna hijau army tidak lupa aksesoris seperti kacamata, dan topi, kedua tangan yang sudah terbungkus oleh sarung tangan dan tidak lupa mengalungkan kamera di leher dengan panjang tali sedada.


Kita langsung pergi menuju arah gunung Bromo saat itu, dengan perawat yang tidak bisa jauh mendampingiku dan memantau keadaanku dari belakang.


1 jam sudah kita sampai, begitu indah ciptaan sang maha agung. Pandangan yang begitu menakjubkan, langit terpapar biru cerah dedaunan yang begitu sangat indah.


Tuhannn apakah ini surga kecil yang ada di bumi?


Disana aku langsung menikmati nya, menaiki mobil Zip lalu berjalan-jalan.


Ramlan yang tidak pernah jauh dari kameranya mengabadikan setiap moment-moment saat bersamaku.


berfoto bersama , tertawa lepas, hari itu aku habiskan untuk bersenang-senang.


...****************...


2 hari sudah kita lewati acara berlibur.


besok waktunya sudah pulang lagi ke Jakarta, siang ini aku berencana untuk membeli pernak pernik sebagai oleh-oleh liburanku.


Berbelanja, makan, beberapa hal lain sudah kita lewati. Semua sudah terekam di dalam kamera kesayangan suamiku.


Kita memutuskan kembali ke hotel, karena keadaanku disana sudah tidak memungkinkan untuk melanjutkan berkeliling kota Surga itu.


"Kau sangat kelelahan sayang, istirahat lah dahulu" printah nya


"baiklah, jangan khawatir aku hanya merasa sedikit pusing"


perawat langsung memasukan jarum suntik ke tanganku, dan memberiku beberapa perawatan di dalam hotel itu.


Setelah di masukan cairan itu melalui jarum suntik, seketika aku langsung tertidur lelap.


"Sepertinya nyonya Raraa sudah tertidur, saya sedikit memasukan vitamin ke dalam tubuh nya agar lebih lama untuk beristirahat dan sedikit tubuhnya tidak akan merasakan kelelahan" ucap seorang perawat


"Terimakasih banyak" ucap suamiku


"Maaf tuan Ramlan apakah kita bisa berbicara berdua sebentar, ada hal yang harus saya sampaikan dari dokter Faizz" perintah nya


Seorang perawat dan suamiku langsung pergi menuju luar ruangan.

__ADS_1


Mereka ke tempat santai, sambil meminum segelas juice disana.


"Maaf sebelumnya tuan Ramlan, seperti yang anda ketahui kondisi nyonya Raraa semakin hari semakin memburuk. Bagaimana pendapat anda soal keputusan yang di berikan dr.Faizz kemarin?? apakah anda sudah siap?" karena ini harus segera di lakukan dengan waktu dekat, kalau tidak seperti yang anda ketahui resiko nya akan seperti apa"


"Saya sudah memikirkan dari sebelum-sebelumnya, beri waktu saya 3 hari lagi untuk tetap bisa bersama nya" ucap Ramlan dengan wajah yang begitu sangat terlihat sedih


"Baik kalau begitu, saya akan sampaikan lagi kepada dr.Faizz"


"Raa maafkan aku, sungguh aku mencintaimu"


...****************...


Malam itu kita bersiap-siap untuk pulang ke Jakarta, karena Ramlan hanya memberi waktu 3 hari disini.


harusnya besok kita pulang, tapi ntah kenapa Ramlan mendadak menyuruhku bersiap-siap untuk pulang.


"Kau kenapa sayang?" tanyaku melihat wajah Ramlan terlihat seperti banyak beban


"tidak kenapa-kenapa, memang nya ada yang salah denganku sayang?" tanya Ramlan


"Wajahmu terlihat seperti ada masalah, apakah kau baik-baik saja?" tatapku


"Aku hanya sedih kita berlibur sebentar, tapi ya bagaimana lagi mendadak kantor ada sedikit masalah. tidak apa-apa yaa kita pulang malam ini? nanti akan aku ajak kau pergi libur ke Paris" Ramlan berusaha membohongi dirinya


"Kau berjanji?"


"Janji" dia tersenyum ke arah ku


Segera aku pergi meninggalkan hotel itu dan bergegas pergi menuju Jakarta untung pulang.


"Besok aku harus menemui Dewi dan Irfan, mereka harus tau yang sebenarnya" dalam hatinya, dengan melirik ke arah ku yang sedang tertidur dan juga melihat ke belakang perawat yang tengah tertidur pula.


"Waktu ku tidak lama, aku hanya punya waktu 3 hari untuk Raraa...ya tuhan apa yang harus aku lakukan dengan waktu 3 hari itu??"


"Sayanggg..." dia menggoyangkan tubuhku


"Raa... bangun yuk, kita sudah sampai"


aku terbangun dan melihat ke arah belakang , perawat itu sudah tidak ada. Mungkin sebelum sampai rumah Ramlan mengantarkan nya terlebih dahulu.


Aku langsung turun dari mobil, dan berjalan bersaman bersama Ramlan menuju rumah.


"Assalammualikum ... Bii.. tok...tok..tok..."


Ramlan terus mengetuk pintu nya.


"Aden, non Raraa cepat sekali pulang nya" tanya nya


"Iya bi, badanku sudah mulai lelah. makanya tidak terlalu menikmati liburannya. oh ya bi tolong bawakan ini, dan di paperbag berwarna coklat itu oleh-oleh untuk bibi" ucapku


langsung aku memasuki ke dalam rumah dengan di gandeng oleh suamiku, dan langkahku menuju kamar.


"Sayang .. siang ini kau tunggu saja di rumah yaa. aku akan ke kantor dulu sebentar. tidak akan lama"


"istirahat dulu sayang, kau cape sepanjang perjalan kau yang membawa mobil" perintahku


"ini mendesak, aku akan segera cepat pulang. jika ada apa-apa kabari aku"


"Hmm baiklah, kau hati-hati. jika sudah selesai cepat pulang jangan mampir kemana-mana"


CUP...


"iya sayang, kau baik-baik di rumah" sambil mencium puncak kepalaku.


setelah itu, Ramlan keluar dari kamar.


"Mau kemana lagi den" teriak bi Isah dengan kedua tangan membawa sapu dan kemoceng


Ramlan berlari menuju luar dan melajukan mobil dengan cepat.


Sampai di sebuah cafe, di ujung ruangan terlihat 2 orang sudah menunggu, iya itu Irfan dan Dewi sahabatnya.


sebelumya saat Ramlan masih di malang sudah menghungi kedua sahabat nya untuk janjian di cafe tersebut.


Setelah memarkirkan mobilnya, Ramlan menghirup kedua sahabatnya yang sedang asyik menikmati segelas kopi disana.


"sorry telat, gue baru sampe" ucap Ramlan dengan nafas yang ngos ngosan


"minum dulu nih, Lo terlihat sangat lelah" Irfan memberikan nya segelas es kopi yang sudah di pesankan nya tadi


beberapa menit kemudian , setelah habis meminum es kopi dengan sekaligus langsung Ramlan bercerita.


"Hausss pak" ejek Dewi


"Sorry sorry" jawab nya


"Ada apa Lo nyuruh kita Dateng kesini secara tiba-tiba" tanya Irfan


" Ada yang harus kalian tau tentang ini, dan ini penting. Gue gak mau cerita ini sampai bocor ke Rara apalagi nyokap gue, paham??" dengan wajah yang sangat serius


"Yaudah Lo cerita" kata Dewi


Ramlan menceritakan semuanya, dengan panjang lebar. berharap teman nya bisa menerima keputusan yang telah di ambil oleh Ramlan yang sudah di siapkan dengan jauh-jaub hari.


"Lo gak bercanda kan?" tanya Irfan


"Apa pernah gue bercanda?"


"Astagaaaaa... kalau menurut Lo ini jalan satu-satu nya, gue serahkan semuanya sama Lo" Irfan langsung merangkul sahabatnya itu dan memeluk seerat mungkin.


Sedangkan Dewi masih terdiam, wajahnya nampak berkaca-kaca. Dewi tidak bisa berbuat apa-apa. jika itu adalah keputusan terbaik Dewi dan Irfan mendukung saja meskipun rasanya sangat berat.


...****************...


*3 hari sudah"


Kebahagian sudah banyak sekali aku rasakan, aku bahagia sekali mempunyai suami yang begitu telaten menjaga aku, tidak pernah ada sedikitpun keluh kesah yang ada pada dirinya.


Saat sedang menyiram tanaman di halaman belakang, tiba-tiba kepalaku sangat sekali terasa sakit. Aku kaget darah yang keluar dari kedua lubang batang hidungku, ku usap terlihat darah di tanganku.


segera ku matikan selang air itu, terasa sekali badanku terduduk lemas seperti tidak ada tenaga.


"Sayaanggggggggg...." teriakku


Ramlan yang sedang menyiapkan sarapan pagi dan obat-obatan sontak kaget mendengar teriakan ku saat itu, ia menghampiri ke arah halaman belakang, terlihat aku disana sudah tidak sadarkan diri.


"astagfirullah Sayang..." Ramlan langsung membawaku ke dalam mobil dan melajukan mobilnya dengan cepat menuju rumah sakit.


Bi Isah yang kaget melihat nya, langsung menelpon Mama mertuaku dan memberitahu nya untuk segera datang menyusul ke rumah sakit.


di dalam perjalan, Ramlan terlihat begitu panik. sontak dia mengeluarkan ponsel nya dari saku celana nya langsung memberitahu nya.


"Hallo Fan, beritahu Dewi gue sedang menuju rumah sakit. Raraa jatuh Pingsan" di matikan nya ponsel itu dan mobil terus melaju kencang


"Sayanggg ku mohon bertahan" dengan menggigit bawah bibir nya merasa dunia seakan hancur secara tiba-tiba.


15 menit sudah sampai di rumah sakit.

__ADS_1


Pihak rumah sakit sudah tau dengan keberadaanku, dia langsung membawaku ke ruangan seperti biasa.


Ramlan dengan mondar mandir sangat merasa sedih.


Disana terlihat Dewi, Irfan, dan Mama mertua berlari menuju Ramlan yang tengah berada dalam kesedihan.


"Mamaaaa" Ramlan langsung memeluk nya dan menangis.


"Mama disini, Sabar sayang"


tidak lama kemudian dokter keluar.


segera menghampiri Ramlan.


dokter mengangguk seolah-olah memberi isyarat kepada Ramlan, begitupun sebaliknya.


Ramlan segera mengikuti langkah dokter.


"Fan ku mohon ingat kata-kataku" Ramlan memegang erat tangan Ramlan.


Dewi yang menangis tak tertahan, begitu pun Irfan langsung memeluk Dewi dan menangis secara bersamaan.


tidak lupa dengan Mama nya, menangis sesenggukan.


"Raaa kali ini kau pasti sembuh, tidak ada lagi rasa sakit itu. Raa ku titipkan tulang ini sebagaimana mana tanda aku selalu ada untuk menjagamu. Aku sangat mencintaimu. berbahagialah sayangku" (ucap Ramlan dalam hati)


"Bagaimana tuan Ramlan, apakah sudah siap?" tanya dokter Faizz


Ramlan mengangguk seolah memberi isyarat bahwa dia telah siap.


1 hari sudah berlalu, semua orang tampak ada di ruangan itu.


Mama, Dewi, Irfan, bi Isah, dan pak Ujang.


Aku sudah tersadar , melihat ke arah mereka.


mereka tersenyum ke arahku.


"Maa, Dewi.." panggilku, mereka menghampiri ke arahku


"Bagaimana keadaanmu sayang? apakah terasa lebih enakan? ucap mama mertua ku yang tersenyum menahan air mata yang jatuh


"Iya ma, badanku terasa lebih segar. apakah aku sudah sembuh wi?" aku mengalihkan pandanganku melihat ke arah Dewi


"Kau sudah sembuh total Raa, kata dokter kau tidak akan Merakan sakit lagi seperti dulu" jawab Dewi


"Benarkah?? ya Allah bahagia sekali. Suamiku pasti senang wi"


"tapi dimana Ramlan? apakah dia sedang keluar mengurus administrasi atau mengambilkan obat??" tanyaku


mereka semua terdiam tidak ada yang berbicara, mereka hanya menangis.


"Maaa mana suamiku? wi.., Irfan, kenapa kalian semua diam, sebenarnya ada apa??" aku menangis histeris tidak paham kenapa mereka tidak menjawab soaln Ramlan


"sayanggg..sudah sudah.. kau ingin bertemu dengan suamimu?? Mama akan antarkan kamu menemui nya"


Tidak lama kemudian , mereka membawaku ke koplek pemakaman yang tidak jauh dari rumah ku.


"Ma kenapa mama membawaku kesini, Ramlan mana ma" tanya ku terus menerus.


"Sebentar lagi kau akan menemui nya sayang" ucap mamah


beberapa langkah menuju pemakaman, dan terlihat di batu nisan nama suamiku. aku tidak mengerti apa yang telah terjadi.


"makam siapa apa ini? kenapa tulisan nya sama seperti nama suamiku ma?" tanyaku


mereka hanya menangis, dan Irfan menjelaskan semuanya, bahwa Ramlan telah mendonorkan tulang sumsum belakang nya demi kesembuhan ku. karena pada saat itu dia tidak punya pilihan lain selain nyawa nya yang harus si pertaruhkan.


mendengar cerita itu, aku menangis sejadi jadinya disana, dunia saat itu seolah-olah sangat hancur. tubuh yang tadinya berdiri tegap tiba-tiba langsung lemas begitu saja.


...****************...


Dedaunan banyak berguguran tertiup angin, tanaman matahari itu seolah-olah layu tak bermekaran lagi, kotak musik di biarkan menyala begitu saja.


aku yang masih mengurung diri di kamar, meratapi kepergian suamiku.


sejak kejadian itu aku sering melamun dan bersedih seolah tidak gairah lagi untuk menjalankan hidup.


Dewi beserta mama dan bi Isah tidak tega melihatku terus menerus seperti ini.


"Raa boleh aku masuk?" Dewi dengan membukakan pintu kamar yang tidak terkunci


"Masuklah" aku yang masih duduk di di ranjang kasur hanya bisa menangis dan menangis.


"Raa sudahlah lah, ikhlaskan saja. aku tau ini sangat berat untukmu, Ramlan akan lebih sedih jika melihat mu terus menerus seperti ini" rayu Dewi padaku


"Aku sangat mencintainya wi, masih belum bisa aku menerima kenyataan ini" balasku dengan menyenderkan kepalaku ke pundak nya Dewi


"Ini ada titipan dari Ramlan sebelum dia menjalankan operasi itu, tapi dia berpesan kepadaku. sebelum kau membuka nya berjanjilah untuk tersenyum"


sebuah flasdisk berwarna hitam yang ternyata isi nya video-video dan foto moment-moment kita di saat mulai menjadi karyawan magang sampai terkahir kemarin kita berlibur ke Bromo


Kita semua melihat nya, suasana menurut hari aku dan mamah yang menangis terisak-isak dan yang lainnyapun ikut menangis setelah melihat video itu.


"Ram kau sudah berjanji kepadaku, kita akan pergi ke Paris bersama. tapi kenapa kau ingkari janji itu"


...****************...


*Beberapa bulan kemudian*


Mama mertua ku sudah berangkat lagi ke London, mama memutuskan untuk tinggal disana. katanya tidak sanggup untuk tinggal disini yang terus menerus ingat dengan kenangan anak semata wayang nya.


Dewi dan Irfan pun pergi lagi ke Jepang, menyelesaikan studi nya disana.


Akupun berencana untuk pergi dan pindah rumah dari sini, karena terlalu banyak kenangan manis bersama nya. Bi Isah dan pak Ujang setia menemaniku kemanapun aku pergi. karena beliau pun sudah di amanahkan oleh almarhum suamiku untuk tetap menjagaku.


Mama sudah menjual rumah besar nya itu, dan memberikan uang nya kepadaku untuk aku membeli rumah baru.


sengaja tidak aku jual rumah sederhana itu, karena jika sewaktu-waktu aku merindukan nya, aku bisa pergi kesana sekedar menumpang beristirahat.


Aku berencana untuk tinggal di daerah Bandung, dimana disana mungkin aku akan jauh lebih baik lagi, dan juga disana aku aku di sibukkan dengan bisnis yang belum di selesaikan oleh Almarhum suamiku.


Sebelum pergi kesana aku mampir dulu ke makam nya Ramlan.


"Sayanggg aku datang, maaf bukan aku berniat untuk pergi meninggalkan mu sendiri disini. jika aku terlalu luput dalam kesedihan semakin aku sakit mengingatkan semuanya, dan aku janji setiap sebulan sekali aku akan mengunjungimu kesini" dengan penuh tangis dan langsung ku letakkan rangkaian bunga matahari itu di dekat batu nisan nya.


...****************...


..."My Dear Ramlan"...


Terimaksih banyak atas cinta dan kasih sayang nya yang begitu luar biasa.


kau pria yang baik, Tuhan pasti menempatkan surga yang indah untukmu disana.


Terimaksih sudah menjadi matahari, meskipun kau sedikit ingkar janji.


meskipun ragamu sudah tidak bisa ku lihat lagi, tapi kau titipkan separuh nyawamu untuk melindungi dan manjagaku disini.

__ADS_1


Suamiku, aku mencintaimu...


TAMAT......


__ADS_2