My Dear Ramlan

My Dear Ramlan
Baju Kebaya Persahabatan


__ADS_3

...*2 tahun kemudian*...


Tidak terasa waktu begitu berlalu, menatap dinding kaca yang suguhkan gerimis yang melanda angin tertiup pelan, cuaca saat itu terasa sangat dingin.


Aku yang tengah duduk menikmati secangkir teh hangat dengan sepotong pancake coklat almond yang di berikan bi Isah.


Memainkan kotak musik kado pemberian dari Ramlan saat itu.


Hari ini terasa sunyi, sudah hampir 1 Minggu Ramlan tak kunjung datang karena membantu masalah kantor di luar negeri yang sekaligus di pimpin oleh ibu nya sendiri.


tidak ada kabar apapun hari itu, rasanya sangat rindu.


meskipun Ramlan bukan kekasihku tapi perhatiannya menunjukkan seperti kita menjadi sepasang kekasih.


"Tok..tok..tok permisi non" terdengar suara wanita paruh baya dari luar tidak lain pasti itu bi Isah


"masuk bi, tidak di kunci" jawabku


"Non ada telpon dari non Dewi" bi Isah sambil menyerahkan telpon yang sedang di genggam nya kepadaku


"Dewi?? tumben dia menelpon melalui telpon rumah (ujarku dalam hati)


"ini non, saya permisi yaa"


"Hallo wi, kenapa?"


"Hallo Raa, lu gak bisa gue hubungi kenapa?" tanya Dewi


sontak aku langsung melihat ke arah meja dan meraba ponselku.


"Astagaaaaa kenapa bisa semalam aku lupa mencharger ponselku" (gumamku)


"Sorry sorry gue gak tau hp gue mati, lupa gue charger. kenapa pagi buta gini Lo hubungin gue??"


"Lusa acara kelulusan, Lo lupa yaa??


Lagi dan lagi aku hampir lupa dengan acara kelulusan itu. akhir-akhir ini pikiranku merasa tidak baik-baik saja. mungkin terlalu memikirkan Ramlan yang sudah hampir 1 Minggu ini tidak memberi kabar.


"astagfirullah, sorry ya wi. untung Lo ingetin"


"udah gue duga, yaudah jam 1 siang gue jemput yaa. Kita bakalan ke boetique punya Tanteku. kata Mama disana kebaya nya bagus-bagus"


"Oke gue tunggu"


Tut..Tut..tut.. Dewi yang langsung mematikan telpon genggam nya.


Sempat merasa sedih, di hari bahagiaku nanti mungkin aku tidak di kelilingi oleh orang-orang yang aku sayang. Sudah jelas Dewi pasti selalu ada karena kita satu universitas dan satu fakultas.


terbesit di dalam pikiranku, rasanya aku merindukan kedua orangtua angkatku. sudah lama aku tak bertemu dengan mereka. Pasti mereka sangat kecewa dengan apa yang aku lakukan saat ini.


Akan tetapi melihat semua kejadian-kejadian itu, aku tidak bisa memungkiri bahwa aku sampai saat ini masih benci. Entah sampai kapan perasaan kecewa ini memudar, tapi aku yakin suatu saat Tuhan pasti merencanakan sesuatu yang indah lagi.


...****************...


"tettt..tettt.." suara klakson mobil terdengar dari halaman rumah. seperti nya itu Dewi. Ternyata dugaan ku benar, iya itu Dewi. kita akan pergi ke boutique milik Tante nya.


Dewi membuka kaca mobil nya "Ayo Raa"


Kita langsung pergi, dan Dewi melajukan mobil nya dengan sangat santai.


2 jam sudah perjalan yang kita tempuh, karena memang jarak rumah nya Ramlan yang ku singgahi sangat cukup jauh.


Kita langsung masuk dan memilih-milih baju kebaya disana.


Tidak Heran jika boutique milik Tante nya selalu ramai di kunjungi, dengan desain yang anggun dan modern semua penjuru kota selalu datang silih berganti kesana.


"Haii Tante, apa kabar? sapa nya Dewi kepada wanita yang berkulit putih bersih terawat, paras nya yang begitu tidak bosan untuk di lihat, di tambah memakai rok span dan blezer berwarna putih di hiasi jam tangan mewah melingkari tangan kirinya.


"Sayangggg, akhirnya kamu kesini juga"


"Oh ya Tan , kenalin ini Raraa sahabat Dewi"


"Raraa, Tante!!" menyodorkan tangan untuk bersalaman dengan Tante nya Dewi

__ADS_1


"Mariska, Tante nya Dewi. Adik dari Mamah nya. Yaudah kalian lanjut pilih-pilih aja dulu. Jika tidak ada yang cocok segera kabarin Tante yaa. Haffun !! " ujar nya dengan mengelus pundak nya Dewi dan lanjut menghampiri semua customer-customer nya


"Ayoo Raa.." tarik tanganku menuju ruangan yang penuh dengan baju kebaya. Tidak hanya baju kebaya saja yang terdapat disana. Mulai dari pakaian pengantin, jas, sepatu, tas, dan pakaian-pakaian lain nya ada tertata rapi disana.


"gubrakkkk"


"Aduhhhh sorry sorry.." suara lelaki itu tidak asing lagi bagi Dewi.


Dewi segera mengangkat kepalanya dan melihat ternyata pria itu Irfan, yang sedang asyik memilih sebuah jas yang tidak sengaja Dewi senggol sehingga jas tersebut terjatuh.


"Irfan?"


"Dewi?" Langsung mereka beranjak berdiri secara bersamaan.


"Kebetulan sekali yaa kita bertemu disini, sedang apa kau disini"


"A---ku sedang mencari baju kebaya untuk acara kelulusan lusa nanti" sambil terbata-bata karena tersipu malu


"Ohhh begitu, sama akupun. Acara kelulusanku besok. kalau tidak sibuk datang ya" mendengar apa yang di katakan Irfan seraya Dewi tidak menyangka. Hati yang mulai dag Dig dug tak karuan, membuat salah tingkah


Aku yang sedang sibuk memilih baju, terlihat di ujung ruangan sahabat ku sedang berdiri dengan seorang pria berpakaian Hoodie army. Aku melihat sosok Irfan disana. Langsung ku bergegas mengganggu menghampiri mereka yang tengah asyik berbincang.


"Wi.. sudah?? tanyaku padanya


"Belum Raa, aku masih bingung semua nya bagus-bagus" jawab nya merengek


"Irfan?? apa kabar?" tanyaku


"Hai Raa, gue baik. Lo sendiri gimana? denger-denger Lo kemarin sempat sakit yaa? sorry gue gak bisa lihat waktu itu"


"Gue baik kok, iya gapapa. lagian gue juga udah sembuh"


Tiba-tiba dari belakang Tante Mariska menghampiri kita yang tengah asyik mengobrol.


"Gimana ada yang suka??" jawab nya


"belum nemu Tan, bagus-bagus soalnya jadi aku dilema" jawab Dewi sambil sedikit tertawa


"ini siapa?" tanya Tante Mariska


"Ohhh gitu, saya Mariska Tante nya Dewi sekaligus pemilik boutique ini"


"Oh ini milik Tante, wah bisa bisa aku ambil jas ini di kasih diskon sama Tante" canda nya sambil tertawa


"Gampang! pilih-pilih aja dulu"


"Dewi, Raraa ikut Tante sebentar" perintah nya


Kita langsung mengikuti langkah Tante Mariska, dan meninggalkan Irfan yang berdiri dengan jas nya yang masih di genggam oleh tangan kanan nya.


"lain kali kita ngobrol lagi ya fan, bye"


Memasuki ruangan kerja Tante Mariska, sangat indah dengan desain yang begitu elegan dan memikau serta di terangi lampu yang sangat cantik dan cermin-cermin yang berjejer di setiap sisi ruangan.


Tante Mariska membukakan pintu lemari dan mengambil 2 potong baju kebaya. di luar dugaan , kebaya itu terlihat sangat benar-benar anggun jauh beda dengan yang ada di depan penjualan.


"Gimana dengan ini? apa kalian suka?"


"Ya ampun Tante, ini sangat indah sekali. Cantikan Raa?" tanya Dewi


"Sangat cantik wi" aku yang masih mengagumi keindahan kebaya itu


"Pakai saja jika kalian suka, Tante berikan kepada kamu dan Raraa"


"Sungguh Tante??"


Seperti tertimpa rezeki nomplok, sangat bahagia sekali. Aku dan dewi langsung mencoba nya dan memperlihatkan hasil coba itu kepada Tante Mariska.


Tante Mariska yang tengah duduk di kursi kerja nya, terdiam melihat kita mengenakan baju kebaya itu. Terlihat bercakan bulir air matanya yang seakan-akan ingin terjatuh.


"Kalian cantik sekali" Tante Mariska terbangun dari tempat duduk nya dan menghampiri kita, dan mata nya tertuju kepada postur tubuh aku dan Dewi. Terlihat sekali raut wajah nya yang nampak sedang sedih.


Entah apa yang sedang di rasakan Tante Mariska saat itu.

__ADS_1


"Tante kenapa?" apakah tidak cocok?" tanyaku


"Tidak ... tidak... ini sangat cocok untuk kalian. Tante hanya membayangkan kepada sahabat Tante yang sudah tiada. Baju ini Tante rancang bersama dengan nya untuk kelulusan S2 saat itu. Akan tetapi Tuhan berkata lain, hanya Tante saja yg mengenakan kebaya itu sendirian. Dan kali ini kamu Raraa memakainya , ini sangat terlihat cantik" Tante Mariska membayangkan kalau yang mengenakan kebaya itu sahabat nya yang sudah meninggal bukan aku.


Pantas saja kebaya ini tidak untuk di perjual belikan ternyata kebaya ini mengandung arti bagi Tante Mariska. Kasihan sekali.


Aku melihat Dewi, lalu menggenggam tangan nya. Tak mau kejadian serupa seperti yang di alami Tante Mariska terjadi juga kepada persabahatan aku dan Dewi.


Selang beberapa jam, aku sudah selesai.


bergegas akan pergi untuk menonton bersama Dewi.


terlihat di sofa bersebrangan dengan ruang kasir, Irfan sedang duduk dan memainkan ponsel nya.


Kita segera menghampiri kepada pria berhoddie army itu.


"Irfan belum pulang? atau Lo belum selesai memilih jas yang ada disini? tanyaku


"Oh sudah kok, gue cuma nunggu kalian aja"


"nunggu kita? ada apa? ada yang harus kita bantu?"


"Tidak .... aku hanya ingin mengajak kalian mempir minum kopi saja. apa kalian bisa?"


Kita tidak bisa menolak permintaan nya, karena merasa tidak enak hati ia menunggu disini dengan waktu yang cukup lama.


Akhirnya kita menerima permintaan Irfan, pergi ke sebuah cafe tidak jauh dari boetique milik Tante Mariska.


"Emm tapi kita..."


"Bisa kok, yaudah kita temenani kamu ngopi. kebetulan sekitaran sini ada cafe yang ngopi nya tuh enak banget" Dewi langsung menerima permintaan nya dan memotong pembicaraanku


"Hadeuhhh giliran Irfan aja, semua rencana yang kita susun di berantakan gitu aja"


Kita masuk ke cafe bernuansa itally itu, dan memilih tempat duduk yang tidak ramai orang lain tempati.


Sedangkan Dewi langsung menghampiri meja kasir untuk memesan coffe dan makanan ringan. Karena hanya dia yang sudah paham betul dengan Cafe ini.


"Oh ya Fan, kapan acara kelulusan di kampus kamu?"


tanyaku sambil berjalan menuju arah kursi yang akan kita duduki


"Besok jam 9 pagi, kalau bisa Lo sama Dewi Dateng yaa!" ajak nya


"hah besok?? sampai sekarang pun Ramlan belum juga pulang dan tidak ada kabar sama sekali kepadaku. huh benci aku padanya"


(batinku)


"oh begitu, rencana setelah ini Lo bakal ngapain?"


"sementara waktu gue bantu-bantu dulu bokap kelarin bisnis nya disini, abis itu gue langsung pergi ke Jepang"


Dewi yang menghampiri dan membawa coffee serta cemilan yang telah di pesan ke hadapan aku dan Irfan.


"Sorry sorry yaa"


"thank wi"


"Oke, btw lagi ngomongin apa sih. serius banget kelihatan nya?" tanya penasaran


"Nggak .. kita lagi bahas setelah lulus ini kita mau ngapain" jawabku


"Oh gitu, kalau lu Raa setelah ini mau kerja atau gimana?" tanya Irfan padaku


"Gue kayanya nyari kerjaan deh, lagian gue gak mau ngerepotin Ramlan terus apalagi Sabahat gue ini" langsung merangkul Dewi dengan penuh tawa


"Ramlan?" tanya Irfan


Aku langsung menceritakan semua yang telah terjadi kepada Irfan saat itu.


Disana Irfan paham betul dengan kondisi ku setelah mendengar apa yang telah terjadi.


Irfan tau Ramlan adalah laki-laki yang baik, meskipun terkadang katanya sikap nya selalu dingin dan cuek tapi rasa peduli nya sangat tinggi kepada orang-orang sekitar.

__ADS_1


Beda hal nya dengan Irfan, terlihat seperti playboy sikap nya yang selalu memuji-muji wanita wanita lain, dan sering berkunjung ke club' club' malam.


mungkin setelah kelulusan nanti, Irfan akan berubah sifat nya. mengikuti jejak sabahatnya Ramlan.


__ADS_2