My Dear Ramlan

My Dear Ramlan
Ramlan Masuk Rumah Sakit


__ADS_3

"makasih banyak ya semua, sayang kalian banyak" aku yang masih terharu langsung memeluk mereka


"aaaaaaa jangan nangis, kita semua sayang sama Lo Raa" jawab Dewi sambil memeluk


Ku tiup lilin di atas kue yang begitu cantik, balon warna warni yang ku lempar, hari itu merasa begitu sangat bahagia.


Sedang asyik berbincang-bincang, sambil makan kue yang telah ku potong. Tiba-tiba ada bunyi telpon masuk ke ponsel nya Irfan.


"dertttt dertttt dertttt....."


"Iya Tante, apa tante? oke oke Irfan segera kesana. Tante sharelock aja ya "


Entah dari siapa yang menelpon, wajah Irfan yang terlihat sangat kaget.


kita semua masih terdiam, menunggu Irfan selesai menelepon.


"gaisss gawat, Ramlan masuk rumah sakit. ayo cepet kita kesana" ajak Irfan kepada kita semua.


kita semua bergegas pergi ke Rumah Sakit menumpangi mobil Irfan.


Saat dalam perjalan mengapa hati ini sangat begitu khawatir terhadap cowok es batu itu.


"duhhhhh sadar sadar Raa, ini cuma rasa khawatir aja. oke tenang ya Raa huhhhhh..." (batinku)


...****************...


*Setelah Sampai di Rumah Sakit*


"Tanteeee...." sontak Irfan memanggil dan menghampiri wanita berkulit putih, penampilan yang super modis sedang berdiri di ruang pasien.


"Irfan...Ramlannnn fan..." wanita itu menangis di pelukan Irfan seolah mereka kelihatan sangat akrab sekali.


"Tenang Tante, semuanya pasti baik-baik saja. Ramlan gak akan kenapa-kenapa percaya sama Irfan yaa" Irfan berusaha menenangkan wanita tersebut, mereka duduk bersama.


"Oh iya Irfan mereka siapa? kalau ini Tante tau Indri kan??"


"Iya Indri Tante, teman sekampus nya Ramlan. Tante yang sabar yaa. Oh iya ini Raraa dan ini Dewi teman sekantor magang Tante, cuma beda universitas"


"Hallo Tante, Raraa" aku yang mengulurkan tangan untuk bersalaman dengan wanita itu.


"Dewi..." salam Dewi


"Saya Maria, Mama nya Ramlan. Terimakasih banyak ya sudah mau meluangkan waktu kesini"


"Iya sama-sama Tante, Tante yg kuat yaa. in syaa allah Ramlan baik-baik saja" aku yang berusaha menenangkan hati Mama nya Ramlan.


"tapi ngomong-ngomong kok kalian bisa barengan kesini nya?" tanya Tante kepada kita semua


"Iya Tante, kita tadi lagi merayakan ulang tahun nya Raraa. dan tadi Irfan sempat hubungi Ramlan katanya masih di toko buku" jawab Irfan


"Oh begitu, selamat ulang tahun ya Raa. maaf gara-gara Tante acara kalian jadi terganggu"


"makasih Tante, gapapa kok tan. lagian acaranya juga udah mau selesai"


"reketttttt...." terdengar suara pintu, seorang dokter yang keluar dari ruang pasien.

__ADS_1


"Keluarga Tuan Ramlan?"


"Iya dok, saya Mama nya. gimana keadaan anak saya"


"Anak ibu untuk saat ini belum di perbolehkan pulang ya, harus menjalani perawatan 2-3 hari disini. Di karenakan banyak darah yang keluar dari kepala nya. Maka dari itu kami membutuhkan donor darah golongan A, apa disini ada yang mempunyai golongan darah A??"


"Ambil darah saya aja dok !!" aku yang tanpa basa basi menawarkan diri. Karena kesembuhan Ramlan lebih penting


"Oke kalau begitu, mari ikut dengan saya"


Aku yang langsung mengikuti langkah dokter, tidak seperti biasanya diriku sepeduli ini kepada orang lain.


Dan perasaan ini sangat berbeda.


Selesai semuanya, aku langsung menghampiri kembali ke kediaman dimana mereka tadi berkumpul.


Masih terlihat Mama nya Ramlan yang begitu tidak tenang dan khawatir.


"Tanteee..." sapaku


"Raraa...terimaksih banyak. Tante berhutang Budi kepadamu" peluk erat sambil menangis


Pelukan itu sangat terasa nyaman sekali, mungkin begini ya rasanya di peluk seorang ibu. Aku yang tidak pernah merasakan itu semua, sekarang aku merasakannya.


"Tante..kesembuhan Ramlan adalah paling utama. Tante jangan merasa berhutang Budi kepada Raraa. Raraa akan sangat merasa sedih jika tidak bisa membantu Ramlan. Percaya sama Raraa semua akan baik-baik saja"


...****************...


keesokan harinya seperti biasa aku masuk kantor lebih awal, karena akhir-akhir ini pekerjaan kantor cukup menguras energi.


"Helloww...Raa Raraa..." Dewi memanggilku dengan melambaikan tangan nya. Aku hendak melamun memikirkan kondisinya Ramlan tidak terdengar Dewi memanggil


"Raaaaaaaa are you oke"


"Hahhh apa Wi kenapa?? gue ini masih ngerjain dokumen nya. Lo butuh cepet ya..Sorry sorry.." balasku


"Lo kenapa?? dari tadi gue perhatiin bengong Mulu. Lu masih kepikiran Ramlan? iya??


"Iya nih wi, gak tau kenapa"


"hmmmm udah filling gue sih dari awal pasti Lo suka kan sama dia?? ngaku deh gak usah nutup-nutupin perasaan Lo"


"Gue juga bingung wi kenapa perasaan gue jadi kaya gini ke dia. Padahal Lo tau sendiri kan sikap gue awal nya ke dia gimana"


"Makanya jangan terlalu benci benci banget deh sama orang, ujung-ujung nya jadi BENCI BILANG CINTA"


Dewi masih saja mengejekku seperti itu


"Yaudah gini aja, pulang kerja Lo jenguk dia aja. Gue yakin dengan Lo dateng kesana Ramlan lekas membaik" Dewi menyarankan aku untuk nengok cowok es batu ke Rumah Sakit


Bagaimana tidak, secara aku tuh gengsi banget. Takut Ramlan menilai nya gue yang suka sama dia. Tapi gimana lagi, rasa nya rindu banget. Ahhhh heran deh sama hati ini.


"Lo mau anter gue kan kesana? please !! " aku memohon kepada Dewi


"Hemmm gimana ya wi, bukan nya gue gak mau tapi emang gue gak bisa. Gue harus bantu-bantu bokap di toko karena lagi banyak orderan. Sorry yaaa... gapapa kan sendiri? atau ajak Indri sama Irfan pasti mereka mau" Tolak nya

__ADS_1


"Yaudah deh kalau gak bisa, gue bakalan memberanikan diri aja sendiri. Lagian gue gak mau ngerepotin mereka, nanti takutnya mereka berpikiran gue suka lagi sama Ramlan"


"Lahhhh emang Lo suka kan??" Ejek nya lagi


"Ahhhhh dewiiiiiiiii" ku cubit tangan nya, saat sedang berhadap-hadapan di ruang kerja.


"hei hei hei ..... kenapa?? berisik, ini kantor" Bu ati menegur kita


"Hehe maaf ya Bu" Dewi yang tengah merasa takut senyum cengengesan


"Lu sihhh ah" bisik Dewi kepadaku


...****************...


*Di Rumah sakit*


"Mahhhhh..." saut Ramlan yang tengah sadar dari tempat tidur nya


"Sayangggg.....pelan-pelan" Mamah nya membantu Ramlan untuk bangun


"Aku kenapa Ma?" terdengar jerihan suara yang lemas dari mulut Ramlan


"kemarin kamu kecelakaan sayang, sebentar ya Mama panggilkan dokter dulu"


"Dok dok..."


segera dokter masuk , dan memeriksa keadaan Ramlan


"Cukup membaik, tapi jangan terlalu banyak gerak dulu yaa. Istirahat yang cukup ! kalau begitu saya permisi dulu ya Bu"


"Terimakasih dok" jawab Mama nya Ramlan


"Maaa, mama lihat sebuah kotak hitam?" tanya nya


Mama nya berjalan menuju lemari kecil di samping tempat tidur nya Ramlan.


Terlihat mengeluarkan kotak berwarna hitam berpita merah dari sebuah Ransel.


"Maksud mu ini sayang?" Memberikan kotak itu kepada Ramlan


"Syukurlah tidak apa-apa. Tolong simpan dulu ya Ma" perintah nya


"Untuk Raraa ya??" tanya Mama sambil tersenyum manis


"Kok Mama bisa tau Raraa?"


"Saat terjadi kecelakaan, Mama langsung menelpon Irfan. Dan tidak lama setelah itu Irfan datang bersama teman-teman nya. Kamu harus berterimakasih kepada Raraa ya sayang, dia yg sudah mendonorkan darah nya untuk kamu" mengelus rambut Ramlan dengan nada yang begitu lembut senyuman yang begitu manis.


"Raraa lakuin itu semua untuk aku Mah?"


"Iya sayang, dia anak yang baik, cantik terlihat sepintas oleh Mama dia adalah anak yang begitu mandiri. Ya yang mamah lihat seperti itu, tapi tidak tahu dia seperti apa kedepannya. Mama seperti nya ingin jauh lebih kenal sama dia sayang, kapan-kapan kamu ajak main ke rumah yaa" paksa nya


Raut muka Ramlan berubah seketika, dia tersenyum. Masih tidak menyangka wanita yang selama ini dia suka, ternyata amat begitu peduli.


Mungkin rasanya dia ingin segera sembuh agar bisa segera bertemu.

__ADS_1


__ADS_2