
"Apa? Lo di jodohkan sama pak Leo?"
Elena langsung membekap mulut Lisa, melirik ke kiri dan kanan takut ada yang mendengar teriakan Lisa.
"Jangan teriak juga kali" dengus Elena.
"Lo serius El, dijodohin sama guru Killer itu?" tanya Rose dengan ekspresi tidak percaya.
Bagaimana tidak, Elena yang super cuek dijodohkan sama Leo yang super dingin , killer pula.
"Lo gak lagi becanda kan El?" tanya Lisa, kali ini dengan suara pelan.
Elena menghembuskan nafas gusar. Kedua sahabatnya sangat tidak percaya, padahal dia sudah berkata jujur.
"Gue gak bohong Lisa, Rose!"
Jawab Elena yang sukses membuat kedua sahabatnya itu melebarkan mata.
"Oh my God. Terus Lo terima gak??" tanya Lisa.
"Kagak lah, ngapain gue nikah sama tu guru bego. Gak mau lah gue!" jawab Elena enteng.
"What???? Lo udah gila. Di saat semua orang menginginkan posisi Lo. Lo malah nolak gitu aja?"
"Ya ampun Elena, Lo benar benar tidak waras"
Decak Rose dan Lisa, mereka sangat sangat tidak menyangka Elena bisa dengan mudah menolak Leo. Pria tampan dan sangat mapan itu.
"Elena Lo benar benar sudah gila?"
Elena memutar bola matanya malas.
__ADS_1
"Kalian ini kenapa sih, gue yang di jodohkan dan menolak nya. Tapi, malah kalian yang uring-uringan." Dengus Elena.
"Gimana kita gak uring-uringan si El, Lo nolak pak Leo. Pria sesempurna itu. "
"Udah lah. Gue jadi gak selera makan dengar ocehan kalian berdua"
Elen beranjak dari duduk nya, membayar makanan nya pada ibu kantin. Lalu pergi meninggalkan kantin.
"Eh eh Elena!! El!! " Teriak Rose.
Namun, Elena tidak mendengarkan mereka. Dia malah terus berjalan lurus hingga tidak terlihat lagi di mata kedua gadis itu.
"Ah malah ngambek" gumam Lisa. Dia buru buru membayar makanannya. Kemudian menyusul Elena bersama Rose.
"Ayo buru, dia ngambek itu" seru Rose.
Elena berjalan cepat menuju ke kelas, mulut nya terus mengomel tentang kedua sahabatnya yang malah tidak memihak kepadanya.
Elen terus menggerutu, dia tidak memperhatikan jalan nya.
Ketika berbelok di lorong kelas. Elena tidak sengaja menubruk seseorang.
Orang itu tidak bergeming setelah di tabrak Elena. Sedangkan gadis itu, dia malah terpental dan terhenyak di lantai karena tubuhnya yang tidak seimbang.
"Aduh, bokong gue" ringis Elena merasa sakit di bagian belakang tubuhnya.
Perlahan Elena bangkit, dia mendongakkan wajah nya untuk melihat siapa yang telah menabraknya.
"Kamu gak papa?" tanya Leo.
Elen terkejut, ekspresi wajah nya langsung berubah menjadi judes.
__ADS_1
"Bapak sengaja yah, buat saya jatuh?" hardik Elena keras.
Padahal Leo berkata lembut dan sopan. Tapi, elena malah membalasnya dengan nada sinis dan keras. Anak anak lain yang ada di sekitar situ pun melihat kearah mereka.
"Kenapa kamu berteriak Elena, saya hanya bertanya apa kamu baik baik saja atau tidak. Tapi, kamu malah membentak saya. Sangat tidak sopan!" omel Leo.
"Terus mau bapak apa huh? sudah jelas bapak yang menabrak saya!" balas Elena masih dengan nada tinggi.
"Sangat tidak sopan. Kamu harus kena hukuman Elena. Ayo ikut saya!"
Leo menarik tangan Elena ke tengah lapangan. Berdiri di depan tiang bendera.
"Sebagai hukuman kamu tidak sopan kepada guru. Kamu harus hormat sampai jam ketiga selesai!" ucap Leo dengan tampan dingin nya.
"Bapak gila yah. Siapa yang salah siapa yang kena hukum!" protes Elena.
"Kamu bersikap tidak sopan sama saya, apa tidak pantas saya menghukum kamu?" ucap Leo balik bertanya.
"Tanyakan pada teman teman mu, mereka menjadi saksi perbuatan tidak sopan mu itu"
Elena melirik ke sekeliling nya. Dia baru sadar sejak tadi menjadi bahan tontonan.
"Astaga, mengapa gue jadi bahan tontonan " batin Elena.
Rose dan Lisa melihat kerumunan, penasaran apa yang sedang terjadi. Mereka langsung menerobos kerumunan itu.
"Ada apa sih?" gumam Lisa penasaran.
"Ya ampun Elena? baru aja pergi. Tapi, sudah membuat masalah" decak Rose menepuk jidat nya.
Elena terpaksa menuruti apa yang Leo katakan. Mengingat di mana dia saat ini.
__ADS_1
Andai saja mereka berada di luar sekolah. Akan Elena pastikan pria itu menyesali perbuatan nya.