
Di sini lah Elena berada saat ini. Dia duduk di samping Leo di dalam mobil Leo.
Mereka akan pergi ke butik ternama di kota nya ini.
Elena sejak tadi hanya diam saja, pandangan matanya tertuju pada pemandangan kota di luar kaca mobil. Dia tidak tertarik untuk sekedar membuka suara mengajak Leo berbicara.
Entah itu menanyakan, mereka akan pergi kemana. Atau bahkan sekedar bertengkar dengan pria itu.
Mobil berhenti di depan sebuah butik mewah. Gedung butik ini mencapai 3 lantai. Terdapat class dan type pakaian di setiap lantainya.
"Ayo.. " Ucap Leo.
Namun, Elena sudah turun lebih dulu sebelum ucapan Leo selesai.
Leo menarik nafas dalam, dia harus lebih sabar menghadapi gadis belia ini.
Mereka masuk ke dalam butik. Pegawai dengan stelan baju modis langsung menghampiri mereka.
"Selama datang di butik kami, ada yang bisa kami bantu?" sambut pegawai itu ramah.
"Tolong perlihatkan gaun pengantin yang paling bagus di toko ini" ucap Leo.
"Oh mari tuan, di lantai 2. Di sana akan ada banyak gaun pengantin yang baru realis."
Pegawai itu menuntun Leo dan Elena masuk ke dalam lift.
"Terimakasih" ucap Leo.
Pegawai itu tersenyum malu. Bagaimana tidak, pria tampan seperti Leo mengucapkan kata Terima Kasih dengan senyum manis kepadanya.
"Narsis" dengus Elena. Itu adalah kata Pertama dari elena sejak mereka meninggalkan rumah tadi.
"Jangan iri, wanita memang suka dengan pria tampan" decak Leo bangga.
Elena tidak menyambung ucapan Leo lagi, karena saat itu pintu lift sudah terbuka dan mereka langsung keluar dengan sambutan hangat dari pegawai yang melayani lantai 2.
Lihat lah, mereka juga sama seperti pegawai di bawah tadi.
Elena melangkah masuk, melihat lihat pajangan gaun yang sangat cantik.
Pegawai butik itu dengan senang hati menjelaskan setiap detail gaun itu. Semaksimal mungkin dia membuat Elena tertarik.
"Nona, dari semua gaun yang ada di sini. Gaun inilah yang paling istimewa. Desain dan bahan nya di pilih khusus oleh desainer kami. " Jelas wanita yang ternyata adalah manager butik itu.
Elena terdiam, dia menatap gaun yang pegawai itu jelaskan tadi.
"Gue merasa tidak asing dengan gaun ini" gumam Elena dalam hati. Dia terus meneliti setiap desain gaun dari depan hingga dari belakang.
__ADS_1
"Siapa perancang nya?" tanya Elena.
Leo mengerut heran, mengapa Elena malah menanyakan siapa perancang nya. Bukan kah itu tidak penting?
"Mrs. Yolanda Dantar" jawab pegawai itu dengan bangga.
"Siapa yang menyebut nama ku?"
Seorang wanita cantik dengan kaca mata di atas kepalanya berdiri di belakang mereka.
Elena berbalik, ekspresi wajahnya langsung berseri ketika melihat siapa yang berdiri di sana.
"Kakak!!!"
Elena berjalan cepat, memeluk wanita yang merupakan kakak sepupunya.
"Hei bocah. Ternyata kamu yang melihat gaun ku" gumam Yolanda membalas pelukan Elena.
"Aku sudah menduganya, gaun ini adalah hasil rancangan mu" ujar Elena mengurai pelukannya dengan Yolanda.
"Mrs." Semua pegawai langsung menunduk hormat.
Yolanda Dantar adalah pemilik butik ini. Karena dia menggunakan nama Suaminya sebagai nama butiknya. Elena tidak mengenalinya. Karena memang ada banyak yang memiliki nama sama seperti suami Yolanda.
"Ini.." Yolanda melirik Leo.
"Dia calon suami ku. Kakak sudah tahukan ceritanya?"
"Yah aku sudah tahu, tapi aku baru melihat pria tampan ini"
Yolanda mengulurkan tangan nya pada Leo. Berkenalan dengan calon adik iparnya.
"Hai Yolanda. Kakak terkejam Elena. Jika kau macam macam dengan adik ku. Kau akan lecek di lantai" ucap Yolanda setengah mengancam.
"Apakah ini ancaman?" balas Leo tersenyum miring.
"Tentu saja bukan ancaman. Tapi peringatan" sahut Yolanda melepaskan jabatan tangan mereka.
"Kak Yolan" ucap Leo.
"Tentu adik ku Leo" balas Yolanda tersenyum tipis.
Elena mengerut bingung. Bagaimana mungkin kakak sepupu nya ini tahu nama Leo, padahal pria itu belum menyebutkan siapa namanya.
"Jangan heran. Apa kau lupa? Leo ini kan anak nya om Yoga dan Tante Eva. Dia sering bermain di rumah mu dulu. Aku tidak akan lupa Elen." Ucap Yolanda menjawab kebingungan Elena.
"Sejujurnya, hanya kamu yang melupakan aku honey" ujar Leo mengedipkan sebelah mata nya pada Elena.
__ADS_1
"Apakah sedekat itu dia bersama keluarga ku?" pikir Elena.
Bagaimana mungkin Elena bisa melupakan semua ini. Di saat semua keluarganya mengingat Leo. Dirinya malah melupakan pria itu.
"Baiklah, kak. Aku akan memilih gaun putih ini. Kau pasti sudah tahukan, ukuran baju ku?"
"Yayaya....Aku sudah tahu. Kau boleh pergi sekarang" Dengus Yolanda kesal.
"Hei kak, jangan kesal. Biarkan aku dan calon istri ku ini menikmati waktu lebih banyak" Sahut Leo membuat Elena merasa jijik.
"Yayaya.... Waktu hanya milik kalian berdua. Pergilah, aku akan mengurus semuanya untuk kalian!" usir Yolanda.
Sebenarnya, Yolanda sudah mendengar cerita dari tantenya. Yaitu Bianca, dia tahu bahwa Elena akan datang ke butik ini jauh jauh hari. Karena itulah dia merancang sebuah gaun yang merupakan gaun impian Elena ketika masih duduk di bangku SMP.
Elena masuk ke dalam mobil, duduk dengan santai di jok samping kemudi.
Tak lama kemudian, Leo pun masuk dan langsung melajukan mobil nya membelah jalan.
Keheningan kembali terjadi di antara mereka. Tidak ada satu orang pun yang mau menyumbangkan suaranya untuk sekedar menghilangkan keheningan.
Elena menatap jalanan, dahinya mengerut ketika dia melihat jalur beda yang mereka lewati.
"Eh, ini bukan Jalu pulang!" ujar Elena tanpa menoleh pada Leo.
"Memang bukan. Aku ingin membawa mu ke suatu tempat!" balas Leo santai.
"Tidak. Gue tidak mau ikut sama Lo. Gue ingin pulang!"
"Maaf honey, aku tidak meminta persetujuan mu. Ini keputusan ku, mulai detik ini, kamu harus mengikuti apa yang aku katakan!" ucap Leo penuh penekanan.
Mulut Elena menganga, dia tidak percaya Leo sudah mulai berani pada dirinya. Belum menikah saja dia sudah semena mena. Apalagi sudah menikah!.
"Lo itu tuli atau apa sih. Gue bilang, gue mau pulang. Cepat ubah jalurnya. Antar gue pulang"
"Tidak Elena ku sayang. Aku akan membawa mu ke suatu tempat dulu. Kita akan berhenti sejenak di sana!" putus Leo kekeuh.
Kemana, Kemana Leo akan membawa dirinya??. Tidak, Elena mulai panik. Dia memikirkan sesuatu yang jahat dari Leo.
Elena mencoba membuka pintu mobil, namun sayangnya Leo sudah menguncinya.
"Jangan coba coba untuk melompat honey. Itu sangat berbahaya" ujar Leo.
Elena memejamkan mata, dia ketahuan oleh Leo.
"Huh. Mau Lo apa sih Leo! Gue capek drama seperti ini Sam Lo. Bisa gak sih, Lo beri gue ketenangan walaupun hanya sedikit saja!"
Cittt..........
__ADS_1