
Sudah satu Minggu sejak kejadian Elena kabur. Kini Gadis itu tidak bisa pergi kemana pun dengan bebas. Dia selalu di kawal oleh bodyguard, atau bahkan di langsung di ikuti oleh Leo.
"Apa ini, gue merasa hidup menjadi tahanan rumahan" gerutu Elena.
Elena melirik beberapa pria bertubuh besar berdiri tidak jauh dari nya. Mereka sedikitpun tidak melepaskan pandangan mereka dari Elena.
"El, sampai kapan Lo akan di awasi seperti itu?" Tanya Lisa.
Elena hanya bisa menggelengkan kepalanya, dia tidak tahu entah sampai kapan.
Terakhir papi nya bilang, dia akan di kawal hingga waktu pernikahan tiba.
"El, dari pada Lo terus terusan kaya gini. Mending Lo terima aja perjodohan dengan pak Leo"
"Lo gila ya Rose!" dengus Elena kesal. Mana mungkin dia mau menikah dengan pria itu. Udah kejam, dingin pula. Mau jadi apa anak nya nanti.
"Gak gitu El. Lo coba aja dulu. Setidak nya Lo bisa aman semasa Lo sekolah dan selama kedua orang tua Lo sibuk."
"Maksud Lo?"
Elena mulai tertarik dengan usulan Rose.
"Maksud gue, Lo bisa menikah dengan pak Leo. Di coba aja dulu, siapa tau cocok. Kalau gak cocok, yah tinggal bicarakan dan ambil jalan terbaik. " jelas Rose.
"Cerai maksud Lo?"
"Bisa di bilang begitu" lirih Rose.
"Menurut gue sih, pak Leo gak akan lepasin Lo. Apalagi melihat bagaimana usaha dia mencari Lo kemarin" sahut Lisa.
"Makanya, di coba saja dulu. Dari pada kaya gini, Lo jadi marahan sama kedua orang tua Lo. Mereka sakit hati dan kecewa sama Lo. Sekolah Lo jadi terganggu."
Elena terdiam, pikirannya mulai menelaah setiap perkataan kedua sahabatnya.
Benar apa yang Rose katakan. Elena tersiksa dengan hubungan nya dengan kedua orang tuanya.
Sudah sering di tinggal, eh malah berantem. Maunya setia mami dan papi pulang, Elena di manja. Bukan berdebat seperti ini.
"Entar deh gue pikirin lagi" gumam Elena.
Rose dan Lisa tersenyum, setidaknya mereka berhasil membuat pola pikir Elena terbuka.
Sebenarnya, Rose bertemu dengan Leo kemarin. Dia memastikan bahwa Leo benar benar mencintai Elena.
Rose tidak mau Leo menikahi Elena hanya perjodohan saja. Tidak ada cinta yang mendasari mereka.
"Semoga pak Leo benar benar mencintai Lo El. Seperti yang dia katakan sama gue" batin Rose.
Di antara Lisa dan Rose. Rose lah yang paling peka, dia tahu ketika Sahabat nya ada masalah. Ketika Sahabat nya butuh sesuatu yang mungkin sulit untuk di bicarakan.
"Oh iya"
__ADS_1
Lisa mengambil sesuatu dari dalam tas nya. Membuat Rose dan Elena menatap bingung pada nya.
"Ini untuk Rose, dan ini untuk Elena."
Lisa memberikan permen bunga pada Rose dan Elena. Satu orang satu.
"Dari siapa ini, kenapa tiba-tiba Lo memberikan kami ini?" tanya Rose heran.
Lisa memutar mata malas, sejujurnya dia tidak suka dengan semua ini.
"Ayolah guys, sejujurnya gue juga tidak suka dengan hal ini"
"Huh?" Rose dan Elena saling melempar tatapan heran.
"Kalian tahu tidak, ini dari Kakak gue Hito" Tunjuk Lisa pada permen bunga Rose.
"Dan ini dari pak Leo!" lanjut Lisa menunjuk permen Elena.
Sontak Elena membuang permen itu ke lantai.
"Hei, kenapa Lo membuangnya?" pekik Lisa memunguti permen milik Elena.
"Gue gak mau menerima apapun dari pria itu!" dengus Elena.
"Kenapa?"
Deg.
"Pa-Pak Leo" gumam Lisa gugup. Dia yang duduk menghadap langsung ke arah Leo.
Elena menggigit bibir bawah nya, entah apalagi yang akan terjadi setelah ini.
Leo berjalan mendekati meja mereka. Saat ini, mereka yang berada di sebuah cafe.
"Kenapa kamu membuang buang makanan seperti itu? apa tidak ada sopan santun mu terhadap makanan?"
Suara Leo terdengar sangat tajam di telinga Elena. Dia ingin langsung membalas pria itu, tapi mereka di depan umum. Elena masih memiliki rasa malu.
"Jangan pancing gue untuk bertengkar" dengus Elena.
Lisa dan Rose hanya bisa terdiam, ketegangan ini sangat luar biasa. Ingin rasanya mereka menghilang saja dari hadapan dua orang yang saling bertengkar ini.
"Baiklah, kalau begitu. Katakan pada ku, kenapa kamu membuang permen itu!"
"Gue tidak suka!"
"Kenapa?"
"Karena Lo yang memberinya!" teriak Elena kehabisan kesabaran. Dia sangat tidak suka di pertanyakan seperti itu terus menerus. Seolah apa yang dia lakukan harus di atur oleh pria ini.
Orang orang mulai memperhatikan mereka. Banyak yang bertanya tanya apa yang terjadi, ada juga yang hanya diam sambil memperhatikan.
__ADS_1
"Kau membentak ku?" marah Leo.
"Lo duluan yang ikut campur dalam hidup gue!" balas Elena membentak. Kini dia sudah berdiri dan menatap Leo tajam.
"Aduh, mulai lagi. Gimana mereka akan menikah jika seperti ini" lirih Rose dalam hati.
Huff....
Leo menarik nafas dalam, kemudian menghembuskan nya secara perlahan.
Setelah merasa tenang, Leo kembali menatap Elena dan tersenyum.
"Ayo kita pulang, aku sengaja datang ke sini hanya untuk menjemput kamu" ajak Leo lembut.
Lisa dan Rose melongo melihat perubahan sikap Leo. Baru saja emosi, dan Sekar sudah kembali lembut lagi.
"Apa dia robot? bisa menyetel emosi?" gumam Lisa.
"Gue gak mau pulang sama lo. Gue ada mobil!" tolak Elena. Dia juga terkejut melihat perubahan sikap Leo secara praktis seperti itu.
"Mobil nya sudah di bawa oleh bodyguard" ujar Leo tersenyum miring.
Sekarang Elena tidak bisa beralasan lagi.
Elena terkejut, dia melirik kedua sahabatnya.
"Gue akan pulang bersama mereka" ujar Elena mendapat alasan.
Leo melirik Lisa dan Rose, tatapan matanya seolah memberikan perintah agar kedua gadis itu mencari alasan untuk menolak ucapan Elena.
Rose berdiri, sedikit gelagapan dia mengambil tas dan kunci mobilnya. Mencari alasan apa yang harus dia katakan, agar tidak terlibat dengan kedua orang ini.
"Ehm... maaf El, gue harus pulang sekarang, nenek gue suruh mampir ke rumahnya"
"Yaudah anter gue dulu"
"Gak bisa El, gue buru buru" ujar Rose langsung buru buru pergi.
"Eh, kok pergi. Tunggu gue Rose!!" teriak Lisa mengejar Rose.
"Gue berangkat dulu El" teriak Lisa sebelum dia benar benar pergi menyusul Rose.
Kini tinggallah Elena, menatap bingung dengan sikap kedua sahabatnya.
"Sekarang, tidak ada alasan lagi Elena. Ayo pulang"
Leo menarik pelan tangan Elena, namun di tepis oleh gadis itu.
"Gue gak mau pulang sama Lo!" tolak Elena.
Gadis itu mengambil tas nya, kemudian berlalu pergi meninggalkan Leo di sana.
__ADS_1
Meskipun tidak ada mobil, tidak di antar Rose. Elena bisa menggunakan Taxi. Dia tidak harus pulang bersama Leo.