
"Tidak ada otak, guru kurang aja, pria bejat, tidak tahu malu!"
Entah makian apa lagi yang akan Elena lontarkan pada Leo. Dia sungguh membenci pria itu. Apalagi semenjak dia mengetahui bahwa pria itu akan di jodohkan dengan dirinya.
Amit amit, Elena sudah memastikan bahwa dia tidak akan menerimanya.
Lihat saja sekarang, Elena baru saja kembali ke kelasnya untuk mengambil tas.
Di bawah terik nya matahari, Elena harus hormat bendera hingga jam pelajaran berakhir.
Dia tidak sanggup, tapi harus bagaimana lagi. Dia harus melakukan nya, guru killer itu tidak memberinya kesempatan untuk bernafas lega, atau menikmati waktu nyaman di sekolah. Ada aja, yang akan menjadi masalah untuk hidupnya, yang membuat dia harus menjalani hukuman.
Kringg!!!!!
Fyuuu...
Elena menghembuskan nafas lega, akhirnya penderitaan nya selesai juga.
Elena berjalan gontai menuju ke kelas nya. Di saat teman teman nya berhamburan keluar dari kelas. Elena malah masuk untuk mengambil tas.
"Ni, minum dulu. Lo pasti haus kan?"
Elena menerima sodoran air mineral dari Lisa.
"Thanks" balas Elena.
Lisa dan Rose tersenyum, mereka menemani Elena duduk di dalam kelas untuk melepaskan penat.
Mereka tahu, Elena pasti sangat capek. 2 jam berdiri di bawah sinar matahari tidak lah mudah. Lisa dan Rose dapat merasakan panas nya terik matahari ketika melihat Elena di sana. Namun, mereka juga tidak bisa berbuat apa apa.
"Yuk cabut" seru Elena.
Lisa dan Rose mengangguk, mereka langsung meluncur ke parkiran.
"El, Lo langsung balik atau mau nongkrong?"
"Gue balik aja, nyokap bokap gue lagi di rumah. Sayang kalo gue keluar. Kalian tahu sendirikan mereka jarang di rumah" jelas Elena sendu.
Lisa dan Rose mengangguk mengerti, mereka sangat prihatin pada Elena. Meskipun dia terlihat ceria, bahagia. Namun, sebenernya gadis itu sangat kesepian.
Selalu di tinggal oleh kedua orang tuanya, apalagi dia adalah anak tunggal.
"Gue cabut duluan yah"
"Oke, hati hati El" sahut Lisa dan Rose kompak.
Kedua gadis itu melihat Elen masuk ke dalam mobil. Kemudian, setelah Elena melaju pergi, barulah mereka masuk ke dalam mobil Lisa, dan melaju pergi juga.
__ADS_1
Sesampai nya di rumah, Elena terkejut melihat ada mobil asing terparkir di depan rumah nya.
"Mobil siapa ini?" Elena bergegas masuk ke dalam rumah, dia penasaran dengan pemilik mobil itu.
"Mami, Elena pulang" teriak Elena penuh semangat.
Meskipun kemarin malam dia marah dan merajuk, tapi tetap saja Elena tidak boleh marah terlalu lama kepada orang tuanya.
Dia merupakan gadis yang paling menghormati kedua orang tua.
Langkah kaki Elena terhenti, air muka nya langsung berubah ketika melihat Leo berada di rumah nya.
"Ngapain lagi bapak ke rumah saya?" tanya Elena marah.
Romi langsung menegur sikap tidak sopan putrinya.
"Elena! Jaga sikap kamu!"
Bianca menarik nafas, dia beranjak mendekati putrinya. Dengan lembut Bianca menuntun putrinya untuk duduk di sofa bersama merek.
"Nak, duduk dulu. Bicara baik baik. Jangan menggunakan emosi"
"Mami, Elena kan sudah bilang. Elena tidak mau menerima perjodohan ini. Tapi, mengapa dia masih datang ke sini!"
"Elena, jaga sikap kamu. Nak Leo datang ke sini, karena papi yang mengundangnya!" sela Romi.
"Om Romi meminta aku menjaga gadis manja tidak tahu aturan seperti kamu selama 3 bulan!" jawab Leo.
Tatapan mata pria itu tidak beralih dari wajah gadis yang selama ini dia idam idamkan.
"Apa?"
Elena menatap mami dan papi nya, meminta penjelasan tentang apa yang baru saja pria itu katakan.
"Tolong jelaskan sama Elena, apa yang dia maksud Mi?"
"Maaf nak, dia berkata benar. Mami dan Papi akan ke luar negeri untuk waktu yang lama. Jadi, kami meminta Leo untuk menjaga kamu selama mami dan papi pergi" terang Bianca.
"Menjaga?" ulang Elena heran.
"Buat apa mami sama papi meminta tolong sama dia, bukan kah selama ini mami dan papi selalu meninggalkan aku bersama bi Retno? papi dan mami nyaman nyaman aja kan? mengapa kali ini harus meminta pertolongan dari nya hm?"
"Jawab Pi, kenapa?" Elena beralih menatap papi nya.
Dia tidak habis pikir dengan pola pikir kedua orang tuanya. Selama bertahun tahun. Sejak dia Kelas 6 SD. Kedua orang tua nya tidak pernah sungkan untuk meninggalkan dirinya bersama art mereka.
Walaupun mereka masih pulang sekali seminggu, atau sekali dua Minggu.
__ADS_1
Lihat pula, selama dia sudah sekolah menengah atas. Mami dan papi nya mulai pulang sekali sebulan.
Jadi, pertanyaan nya adalah, mengapa baru sekarang mereka memikirkan soal tidak nyaman kepergian mereka meninggalkan dirinya sendiri.
"Jawab Pi, mengapa baru sekarang?" tanya Elena menyudutkan kedua orang tua nya.
Leo dapat melihat kekecewaan dari sorot mata Elena. Dia bisa merasakan betapa kesepian nya gadis ini selama ini.
"Tenang saja Elena, setelah menikah nanti. Aku tidak akan membuat kamu kesepian." janji Leo di dalam hati.
"Papi akan menikahkan kamu dengan Leo. Itu keputusan akhir dan tidak bisa di ganggu gugat!" putus Romi tak terbantahkan.
Elena marah, dia berdiri dari duduk nya. Menatap papi nya dengan tatapan tidak percaya.
"Selama ini, Aku masih mentolerir apapun yang kedua orang tua ku lakukan. Kalian pergi, kalian pulang. Seolah tidak pernah memikirkan aku. Aku masih memakluminya, karena aku tahu semua itu demi masa depan ku.
Tapi..."
Elena menggeleng kuat, air mata mulai bercucuran di kedua pipi tembam nya. Sebenarnya dia tidak sanggup melanjutkan ucapan nya. Namun, dia harus melanjutkan nya.
"Kali ini, aku tidak akan mentolerir lagi. Aku tidak mau menikah dengan dia!" teriak Elena seraya tangan nya menunjuk pada Leo.
"Elena!" bentak Romi
Pria itu ikut berdiri, dia juga tidak bisa mentolerir sikap tidak sopan putrinya ini.
Elen tersenyum getir, air matanya semakin deras mengaliri pipinya.
" Bahkan sekarang papi mulai membentak Elena. Bahkan papi berteriak dengan suara keras pada Elena. Papi jahat! papi jahat!!"
Elena berlari menuju ke kamar nya, dia tidak sanggup lagi mendengar keputusan mutlak kedua orang tuanya ini.
"Elena.."
"Biarkan saja dia" seru Yoga mencegah istrinya yang hendak mengejar putri nya.
Bianca terpaksa menuruti suaminya, dia juga tidak bisa berbuat apa apa. Ini semua demi kebaikan Elena.
"Om Tante, apa tidak terlalu cepat bagi Elena? aku takut dia tertekan" ujar Leo merasa bersalah. Dia tidak tega melihat Elena seperti itu.
"Tidak bisa nak, Om sama Tante udah gak bisa melihat dia sendirian di rumah ini. Harus ada yang menjaga nya." jawab Romi lirih.
Sebenarnya Romi juga tidak tega, bahkan dia menyesali dirinya yang tega membentak putrinya tadi.
"Maafkan papi nak, papi harus melakukan semua ini. Demi kamu" batin Romi.
Bianca mengusap lengan suaminya, dia tahu apa yang saat ini suaminya rasakan.
__ADS_1