My Hot Teacher

My Hot Teacher
Di jodohkan?


__ADS_3

"Kenapa gue harus memakai pakaian seperti ini? kenapa gak biasa aja sih. Harus Dress segala, udah kaya ketemu calon mertua aja!"


Huh!


Elena terus mendengus kesal, menggerutu entah kepada siapa. Dia sedang mencoba mengenakan dress berwana abu abu muda.


Ini adalah dress pemberian Mami nya, entah sejak kapan Mami nya suka membelikan nya pakaian seperti ini.


Elena lebih suka dengan penampilan casual nya. Baju kaos lengan pendek atau panjang, lalu di padukan dengan celana pendek atau celana lengan panjang.


Bukan tomboy, tapi itulah penampilan yang Elena suka.


"Huh, lumayan lah. Meskipun gue selalu terlihat cantik. Tapi, kali ini gue merasa terlihat sedikit lebih dewasa. Hihih..."


Elena terkikik geli melihat penampilan nya di kaca. Dia berputar putra, melihat bagian bawah dress nya yang mengembang.


"Ok baiklah, malam ini gue akan menjadi anak yang manis dan penurut. Wanita elegan dengan dres abu abu muda."


Setelah memastikan penampilan nya bagus, tidak norak atau amburadul. Elena pun keluar dari kamar. Sejak tadi, Mami nya juga sudah berteriak memanggil nama nya.


"Elena. Ayo cepat turun!"


Nah tu kan, Suara Mami nya kembali terdengar memanggil namanya.


Elena bergegas turun, dia memasuki ruangan keluarga.


Seluruh mata tertuju kepada nya, membuat Elena menunduk karena malu. Dia tidak melihat siapa saja yang ada di ruangan itu. Elena hanya tahu, dia sekarang duduk di samping Mami nya.


Dia tidak tahu bahwa ada seseorang yang terpanah dengan mulut menganga melihat penampilan luar biasa Elena.


"Tutup" bisik Eva menekan dagu runcing putranya ke atas, agar tertutup rapat. Dia juga tersenyum geli melihat putranya terpesona dengan Elena.


Leo hanya tercengir, kemudian kembali menatap gadis yang tidak ia sangka ada di hadapan nya.


Ternyata Elen adalah Elena, murid teladan yang selalu membuat Maslaah dengan nya.


"Oh God, jika dia yang di jodohkan sama gue. Gue gak akan nolak" batin Leo bersorak.


Elena masih menunduk, dia belum sadar ada gurunya di dalam rumah nya. Jika dia tahu, entah bagaimana reaksinya nanti. Leo juga sedang menantikan moment itu.


"Sayang, jangan menunduk terus. Lihat deh, ada Tante Eva dan om Yoga. Kamu masih ingat kan?" tanya Bianca.


Elena mengangguk, dia perlahan mengangkat wajahnya. Tersenyum manis pada Eva dan Yoga.

__ADS_1


"Wah, kamu makin cantik yah Elen. Sudah berapa bulan yah kita gak ketemu " ujar Yoga. Dia memang paling sering bertemu dengan Elena karena gadis itu sering ke kantor papi nya.


"Iya om" jawab Elena.


Senyum nya hilang, ketika mata bulat nya menangkap sosok yang paling tidak ia sukai. Sosok yang tidak pernah ia harapkan datang ke rumahnya.


Leo tersenyum manis, ketika mata nya bertemu dengan mata bulat milik Elena.


"Loh, bapak ngapain di sini?"


Huh?


Semua orang terkejut, Elena berdiri dari duduk nya. Menatap sinis pada Leo.


"Nak, ada apa ini? kamu kenapa memanggil nak Leo bapak?" tanya Bianca terkejutnya. Dia ikut berdiri untuk membujuk Elena. Tapi, putrinya itu tidak mau duduk kembali.


Eva , Romi dan Yoga ikut berdiri.


"Mami, dia itu guru di sekolah Elen. Mami tahu, dia itu paling jahat, ngasih tugas gak pake otak. Menganggap kami sekelas itu robot bisa mengerjakan latihan dengan sangat cepat!" ungkap Elena menunjuk Leo.


"Guru?" Yoga melirik putranya, dia baru tahu jika putra nya adalah seorang guru. Entah sejak kapan itu terjadi, Yoga memilih untuk tidak bersuara.


"Wah, ternyata kalian sudah sangat dekat yah" ujar Eva.


"Tidak Tante, kami tidak dekat. Tapi, dia selalu mencari masalah dan mencari kesalahan aku!" bantah Elena yang langsung di tegur oleh Romi.


Leo tidak bergeming, dia masih duduk santai di sofa. Senyum miring dan penuh makna tercetak di bibirnya.


Elena tahu arti dari senyum itu, biasanya Leo akan memperlihatkan senyum seperti itu ketika Elena mencoba membantah nya.


"Elena, ayo duduk lah. Kita bicara baik baik. Mungkin ada kesalahpahaman di antara kalian!" bujuk Bianca lembut.


Elena pun menurut, mereka semua kembali duduk. Tapi, tatapan sinis dan marah Elena tidak lepas dari Leo yang juga menatap nya.


Baru tadi siang, deklarasi bahwa Elena sah menjadi asisten Leo. Sekarang, dia harus mengetahui bahwa pria itu adalah putra dari teman papi dan Mami nya.


Huh, ini sungguh gila. Elena tidak bisa mempercayai ini.


"Elena, tujuan papi sama mami, mengadakan pertemuan ini adalah, untuk membicarakan pernikahan kalian!"


"Huh!"


Elena kembali berdiri, dia cukup syok dengan hari ini. Berbagai kabar dan penderitaan menghampiri nya di hari ini secara bertahap.

__ADS_1


"Apa Pi, pernikahan?" ulang Elena merasa pendengaran nya salah.


Tapi, melihat papi nya mengangguk. Elena jadi yakin bahwa telinganya tidak salah.


"Iya nak. Karena Mami dan Papi sering keluar kota dan keluar negeri. Jadi papi memutuskan untuk menikahkan kamu dengan nak Leo!" jelas Romi lagi.


Elena menggeleng kuat, dia tidak bisa menerima keputusan ini. Pernikahan bukanlah permainan yang bisa siapa saja lakukan dengan mudah.


Harus ada keyakinan dan yang paling harus ada cinta di dalam nya.


"Papi, katakan sama Elena. Ini hanya Prank! Elena tidak mungkin menikah dengan orang yang tidak Elena kenal."


"Tidak nak, kita sudah saling kenal sejak lama. Bahkan kamu sejak kecil sudah bertemu dengan nak Leo!" sahut Bianca membantu menjelaskan.


Eva melirik putranya, Leo terlihat santai dengan bibir mencetak senyum manis. Dia tidak mengeluarkan suara apapun dengan kondisi seperti ini.


Di dalam hatinya, Eva menyimpan beberapa pertanyaan yang akan dia lontarkan pada putranya nanti.


"Elena gak mau nikah sama dia, Lagi pula elena masih kecil. SMA aja belum kelar!" tolak Elena.


"Soal sekolah bisa di atur. Lagi pula nak Leo guru juga kan di sana. Dia bisa mengatur semuanya untuk mu nak" ujar Romi.


"Kamu tidak perlu mengkhawatirkan itu nak" sahut Yoga.


"Tidak, aku tetap tidak mau menikah dengan dia! Tidak mau Titik!!!"


Elena berlari meninggalkan ruangan tengah, dia masuk ke dalam kamar, menutup pintu dengan hempasan kuat. Sehingga menimbulkan suara keras .


"Maaf yah Eva, Romi, atas kelakuan Elena. " sesal Bianca merasa tidak enak pada kedua sahabatnya.


"Tidak masalah Bi, dia pasti terkejut. Adia masih terlalu muda m, jadi reaksinya sangat wajar" balas Eva memaklumi.


Romi dan Yoga melirik kearah Leo. Dia masih diam dengan senyum manis. Hal ini membuat Romi kesal dengan putranya.


"Kamu kenapa diam saja?" tegur Romi.


Leo tersadar, dia melirik ayah dan Bundanya. Lalu menatap Romi dan Bianca secara bergantian.


"Maafkan aku, bukan maksud ku diam saja. Tapi, dia sedang menyuarakan isi pikiran dan hatinya. Bagaimana mungkin aku berbicara. Jadi itu sangat wajar dan biarlah." terang Leo.


"Tapi, setidaknya kamu itu angkat bicara. Buat dia tenang. Ini gak, malah kamu buat dia membenci mu dengan menjadi guru killer di sekolahnya " omel Eva.


"Sudah lah bunda, dia besok akan kembali ceria, apalagi ada teman teman nya" sahut Leo cuek.

__ADS_1


"Huh kamu ini" dengus Yoga kepala pada putranya.


Malam itu, mereka mengobrol tanpa Elena. Gadis itu tidak mau keluar, dia benar benar kecewa oleh keputusan kedua orang tuanya.


__ADS_2