
Elena keluar dari kamar mandi, dia mendapati Leo alias suaminya tidur terlentang di atas tempat tidurnya.
"Astaga, ni om om malah tidur di ranjang. Gue kan suruh di sofa!" Gerutu Elena melangkah cepat mendekati Leo.
Elena menarik selimut, menyenggol kasar yang Leo agar terbangun dari tidurnya.
"Heh, bangun. Ngapain tidur di ranjang gue!"
"Hey!!!"
Elena terus menggoyangkan tangan Leo, semakin lama semakin kencang.
Namun, pria itu malah semakin nyenyak dalam tidurnya.
"Dasar kebo!" Dengus Elena kesal.
Elena duduk di tepi ranjang, menatap sinis pada Leo yang masih nyenyak dalam tidurnya.
Entah apa yang harus dia lakukan agar pria itu segera bangun dari tidurnya.
"Leo!!!!" teriak Elena kesal.
Dia merasa sangat lelah dan ingin segera tidur. Namun, pria yang kini sudah berstatus menjadi suaminya mengambil tempat tidurnya.
Elena ingin tidur di sofa, tapi dia tidak terbiasa tidur di tempat yang sempit.
"Oh ayolah Leo...." Erang Elena kesal, dia menarik tangan Leo. Berharap pria itu segera bangun dan memberikan ranjang nya.
"Eng. . ."
Leo mengerang, dia menggeliat mengubah posisi tidurnya.
Elena pun ingin bergeser ketika pria itu semakin mendekat padanya. Namun, belum sempat dia beranjak, Leo malah merangkul tubuhnya dan menarik Elena masuk ke dalam pelukannya.
"Ih Leo! lepasin gue!"
"Leo!!!" teriak Elena berusaha melepaskan pelukan tangan Leo.
"Leo!!! Lepasin!"
"Ihhh... Ni bocah ngapain sih, ambil kesempatan dalam kesempitan!" erang Elena kesal.
Sedangkan Leo, dia malah memejamkan mata dengan senyum lebar menghiasi wajahnya. Dia semakin mengeratkan pelukan nya pada tubuh sintal Elena.
Karena memang Elena benar benar capek, gadis itu akhirnya mengalah dan memilih untuk tidur bersama Leo.
Matanya sudah sangat berat ingin segera tidur, melawan dan membangunkan pria kebo itu sama saja membuang buang waktunya saja.
Waktu cepat berlalu, sekarang sudah pukul 7 malam.
Bianca dan Eva sudah menyiapkan makan malam. Mereka memanggil semua anggota keluarga untuk segera makan.
"Eva, aku memanggil Elena dan Leo dulu yah"
"Ok Bi, aku akan memanggil para pri kita di halaman" balas Eva.
Bianca tersenyum, dia segera pergi menuju ke kamar pengantin baru itu.
__ADS_1
Tuk! Tuk!
Bianca mengetuk beberapa kali pintu kamar putrinya. Namun tak kunjung ada sahutan.
"Apa mereka tidur?" gumam Bianca yang kembali mengetuk pintu kamar Elena.
"Nak, bangun. Ayo makan malam"
Tuk!! Tuk!!
Dahi Elena mengerut, suara ketukan mulai mengganggu tidurnya.
"Elena, Ayo bangun. Kita harus makan malam nak, papi sama yang lain udah menunggu" ujar Bianca dari luar.
"Iya Mi" sahut Elena sembari menggeliat pelan. Namun, dia merasa sedikit kesusahan.
"Mengapa begitu susah?", batin nya.
Elena membuka matanya, dia semakin bingung melihat sebuah kulit tepat di depan matanya.
"Kulit apa ini?" gumam nya pelan.
Mata Elena langsung membulat sempurna saat menyadari kalau itu adalah Leo.
"Ahh!!!!"
Bruk.
Secara spontan Elena mendorong Leo dan menendang pria itu hingga terjatuh ke lantai.
"Aww...." Leo meringis kesakitan.
"Nak, apa yang terjadi? apa kalian baik baik saja?" tanya Bianca khawatir.
"Iya mi, kami baik baik aja. Mami tunggu di bawah aja" sahut Elena berteriak.
"Baiklah, Mami tunggu di luar" sahut Bianca lagi. Dia pun segera turun ke bawah.
Elena menatap Leo sinis, pria yang sudah berani menyentuh nya.
Leo berdiri, dia hendak naik ke atas ranjang. Namun, Elena melarangnya.
"Lo kenapa tidur di ranjang huh? gue kan udah suruh tidur di sofa!" omel Elena marah.
"Gue gak biasa tidur di sofa" jawab Leo ketus.
"Yaudah di lantai. Pokoknya gue gak mau tahu. Ranjang ini milik gue!" tegas Elena nyolot.
"Yaudah, gak papa. Gue tidur di lantai. Tapi entar Lo tanggung aja yah, dosa durhaka sama suami. Masuk api neraka, di bakar. Mampus Lo" ujar Leo menakut nakuti Elena.
Leo tersenyum, melihat Elena terdiam memikirkan ucapan nya barusan. Itu artinya, Elena sangat mudah untuk di takut takuti.
Pelan pelan Leo beranjak ke kamar mandi, membiarkan Elena yang masih terdiam dengan pemikiran nya sendiri.
"Benar juga, gue gak mau mati, terus masuk Neraka. Gak, gue gak mau" Elen menggelengkan kepalanya kuat.
"Yok turun!" ajak Leo, menyadarkan Elena dari lamunannya.
__ADS_1
"Huh?"
Elena menurut saja, mengikuti Leo yang menggandeng tangan nya keluar dari kamar. Pikiran nya masih belum pulih. Hati nya masih dipaluti oleh rasa takut.
"Ciee..... Pengantin baru main gandeng aja"
"Bikin iri deh"
"Uuu... Kak Yolan, nyusul gih"
Eh.
Elena tersentak kaget, dia langsung melepaskan gandengan tangan Leo di tangan nya.
Godaan dari para sepupunya, membuat Elena merasa malu.
Gadis yang sudah menikah itu berjalan cepat, dia mengambil tempat duduk di samping Papi nya.
Sedangkan Leo, dia terlihat biasa saja. Dia duduk di samping istri nya. Karena memang hanya kursi itu yang kosong.
Acara makan malam berlangsung penuh dengan kegembiraan. Elena yang biasanya hanya makan sendirian, kini dia merasakan kebersamaan bersama keluarga besarnya.
Ada nenek, kakek, orang tuanya, para sepupu nya, om Yoga, Tante Eva, Dan... Leo.
Elena tersenyum, hatinya sangat bahagia. Meskipun dia harus merelakan hidupnya demi waktu special ini.
"Nak Leo, Elena. Kemungkinan besok Papi sama Mami akan berangkat ke Jerman!"
Deg.
Seakan dunia mulai hancur, Elena langsung terdiam setelah mendengar ucapan papi nya.
Secepat itukah rasa bahagia nya hilang? apa tidak boleh lebih lama lagi?
"Nenek juga harus kembali ke Belanda, kakek mu harus check kesehatan" ujar Nenek nya.
Elena semakin merasa sesak, dia akan segera kesepian lagi. Keluarganya akan kembali dengan kesibukan mereka masing masing.
"Baiklah Pi, Nek. Kami akan mengambil cuti satu hari lagi. Kami akan mengantar kalian semua" balas Leo.
"Iya kan Elena?" ucap Leo memegang tangan istrinya.
Saat itu, Leo terkejut. Tangan Elena terasa dingin. Tatapan nya juga mulai kosong.
"El.." Leo ingin bertanya. Namun, Elena lebih dulu berdiri dari duduk nya.
"Aku sudah selesai, aku akan ke kamar sekarang." Ucap Elena langsung pergi meninggalkan meja makan.
"Baiklah nak, kau pasti lelah." Sahut Eva.
"Emh... Aku juga sudah selesai, aku menyusul Elena dulu." Pamit Leo.
"Baiklah Nak" balas Romi.
Mereka semua memaklumi sikap Elena dan Leo yang cepat selesai, merek pasti merasa sangat lelah.
Namun, Eva dan Romi mengetahui apa yang saat ini di rasakan oleh Elena. Mereka memilih diam dan percaya bahwa Leo mampu mengatasi permasalahan Elena. Dia pasti akan merubah sifat dan pola pikir putri mereka.
__ADS_1
"Semuanya akan Baik!"