My Hot Teacher

My Hot Teacher
First Kiss


__ADS_3

Citttt......


Elena terhuyung ke depan. Beruntung tubuhnya tertahan oleh sabuk pengaman. Jika tidak, maka sudah di pastikan kepalanya terbentur pada dasboard mobil.


"Lo gila yah! Lo mau bunuh gue!" Hardik Elena sembari mengusap dada.


Dia benar benar syok dengan perbuatan Leo yang menginjak rem secara tiba tiba.


"Kamu mau tenang?" lirih Leo.


Elena mengerutkan dahi, entah apa yang pria ini maksud.


" Tentu saja Gue mau tenang, Gue ingin hidup tanpa Lo!" balas Elena menusuk ke ulu hati Leo.


Membuat pria itu menatap datar padanya. Entah apa yang sedang pria itu pikirkan Elena tidak tahu. Namun, tatapan nya membuat Elena jadi salah tingkah.


Tidak tahan di tatap lekat seperti itu, Elena menyuruh Leo menjalankan mobil nya kembali.


"Hei, pria tua. Cepat jalankan mobilnya. Antar gue pulang" seru Elena tidak berani menatap pada Leo.


Leo tidak bergeming, dia perlahan membuka sabuk pengaman nya tanpa sepengetahuan Elena.


Huhh...Huhh...


Nafas keduanya sama sama tersengal, seperti orang yang baru saja selesai lomba lari.


Elena tidak berani menatap wajah Leo, dia malu. Malu karena menikmati permainan pria itu.


"Gue mau pulang!" lirih Elena di sela sela nafasnya.


Sedangkan Leo hanya berdehem menetralkan suasana yang mulai terasa canggung.


Leo memalingkan wajahnya, melihat spion mobil untuk memastikan tidak ada kendaraan lain dari arah belakang.


Dalam hatinya, Leo sangat bahagia. Dia tidak menyangka akan membuat Elena mendesa secepat itu.


Seperti orang gila, pria itu senyum senyum sendiri.


"Manis" gumam nya dalam hati.


Sesampainya di rumah, Elena langsung turun dari mobil. Berlari masuk ke dalam rumah tanpa menoleh lagi ke belakang.


"Apa apaan ini, dia pria cabul dan akan menjadi suami gue!" maki Elena kesal.

__ADS_1


Brak!


Elena melempar tas selempang yang ia bawa ke sembarangan arah.


Hatinya sangat kesal, Leo mengambil first Kiss nya. Padahal dia akan memberikan kepada pria yang akan menjadi cinta pertamanya.


"Oh God, kenapa gue harus bernasib buruk seperti ini!"


Huhh..


Elena melempar tubuhnya ke atas ranjang, menutup wajah nya dengan kedua telapak tangan.


Elena merasa sangat malu, sangat sangat malu. Betapa bodohnya dia menikmati permainan Leo yang sedang melecehkan dirinya.


"Apa ini, mengapa gue menikmatinya!!!" teriak Elena tidak habis pikir dengan dirinya sendiri.


Elena mengusap kuat bibirnya, dia masih dapat merasakan betapa lembutnya Leo mempermainkan bibirnya.


Hangat nya sentuhan lidah pria itu masih lekat di ingatannya.


"Huh!"


Elena menepis kuat ingatan itu, dia berubah menjadi marah. Bangkit dari tempat tidur, lalu pergi ke meja riasnya untuk melihat pantulan wajah nya di cermin.


Dengan kasar, Elena menggosok bibirnya dengan telapak tangan nya. Dia berusaha menghapus jejak yang tidak terlihat di bibirnya.


"Arrrrggg!!!!!!!! Leo, awas saja Lo. Gue gak akan biarin hidup Lo tenang. Gue akan membuat Lo kacau seperti gue kacau hari ini!"


Prang!


Sekali sapuan tangan, semua barang barang yang ada di pallet makeup nya hancur lebur ke bawah.


Bruk..


Elena terhenyak di lantai, dia tidak bisa menahan tubuhnya. Dia benar-benar merasa hancur. Apalagi mengingat besok adalah hari pernikahan nya dengan Leo.


Kebebasan, hidup nyaman, masa depan. Semuanya akan hancur. Seperti botol skincare dan parfum nya itu.


"Hiks...Hiks..."


Ceklek


Bianca masuk ke dalam kamar putri nya, dia terkejut melihat Elena terduduk di lantai dengan pecahan kaca di sekelilingnya.

__ADS_1


"Elena! Sayang, ada apa ini!" pekik Bianca mendekati putrinya. Memeluk erat putrinya.


"Mami...."


"Iya sayang, Mami di sini. Jangan menangis yah, ayo cerita sama mami. Apa yang terjadi?" tanya Bianca seraya menghapus air mata Elena.


Elena tidak menjawab, dia tahu apapun yang akan dia katakan. Tidak akan mengubah apapun. Dia hanya bisa diam dan menangis di dalam pelukan Mami nya.


"Sayang.... Cerita sama mami, apa yang terjadi" bujuk Bianca.


"Hiks... Hiks..."


Elena tidak kunjung menjawab, dia hanya membisu dalam tangisnya.


Entah apa yang putrinya rasakan, Bianca hanya bisa memeluknya dan memenangkan putrinya. Dia tidak bisa memaksa agar putrinya bicara kepadanya.


Cukup lama Elena menangis di dalam pelukan nya, Bianca merasa putrinya mulai tenang dan terdiam.


"Sayang" elus Bianca pada wajah manis Elena.


Ternyata putrinya tertidur di dalam pelukan nya.


Cup.


"Tidurlah yang lelap sayang, Esok adalah hari paling bahagiamu" bisik Bianca.


Wanita setengah baru baya itu perlahan mengambil bantal dengan susah payah agar tidak mengganggu Elena tidur. Lalu, dia menggantikan posisi paha nya menjadi bantal.


Bianca tidak kuat mengangkat tubuh putrinya ke atas ranjang. Dia hanya bisa membiarkan elena tidur di atas karpet bulu, lalu pergi memanggil suaminya.


"Sebentar ya sayang, mami akan panggilkan seseorang untuk memindahkan mu ke atas kasur"


Cup.


Sekali lagi Bianca mengecup kening Elena sebelum dia benar benar keluar dari kamar.


Tak lama kemudian, Bianca kembali lagi bersama Romi.


Pria itu terkejut melihat putri semata wayangnya tidur di atas lantai.


"Sayang, jangan protes dulu. Cepat angkat dia , dan pindahkan ke atas ranjang. Supaya aku bisa membersihkan semua ini" ujar Bianca. Dia tahu suaminya ingin bertanya, makanya dia langsung bertanya.


Setelah selesai memindahkan Elena, lalu menyelimutinya dengan selimut tebal. Bianca langsung menarik suaminya keluar dari kamar Elena, agar tidur putrinya tidak terganggu.

__ADS_1


"Ayo keluar" seru Bianca.


Romi hanya bisa menurut saja. Dia mengikuti istrinya keluar, dan menutup pintu dengan sangat pelan.


__ADS_2