
"Mami jahat, Papi jahat. Mereka tidak ada yang mengerti keinginan Ku. Tidak ada yang memahami apa yang aku mau. Mengapa mereka memaksakan kehendak mereka. Sementara aku, tidak pernah memaksakan kehendak ku pada mereka"
Elena menangis menelungkup di atas ranjang nya. Dia benar-benar kecewa dengan keputusan kedua orang tuanya. Setelah selama ini dia mentolerir nasibnya.
Kini, kedua orang tuanya malah memaksanya untuk menikah.
Cukup lama Elena menangis, akhirnya dia menghapus air matanya.
"Apa aku terlalu merepotkan mereka? Baiklah, aku tidak akan merepotkan mereka lagi"
Elena segera bangkit dan berganti pakaian.
Sedangkan di ruang tamu, Leo masih berbicara dengan Romi. Dia masih merasa tidak enak dengan keputusan ini.
Leo memang menyukai elena, tapi dia tida mau menikahi Elena di saat gadis itu masih belum mencintainya.
"Om, aku merasa ini belum waktunya"
"Tidak nak, awal nya memang om ingin, kamu menjaga Elena untuk beberapa bulan ke depan. Tapi, om berpikir lagi. Itu tidak akan aman, dia pasti tidak akan mendengarkan kamu." Terang Romi.
"Benar nak, karena nanti kalian juga akan menikah. lebih baik dari sekarang saja. Dengan begitu, kamu memiliki hak penuh atas hidup Elena" sambung Bianca.
Leo terdiam, apa yang om Romi dan Tante Bianca memang benar. Elena pasti tidak akan mendengarkan dirinya. Itu sudah pasti.
Bianca tersenyum, dia mendekati Leo. Memegang kedua tangan Leo dengan tatapan penuh harap.
"Sikap Elena sangat keras, selama ini dia selalu sendirian tanpa sampingan kami yang selalu sibuk bekerja. Tapi, Tante percaya. Kamu bisa mengubah Elena kami menjadi Elena yang lembut. Hanya kamu yang bisa melakukan itu nak. Hanya kamu" lirih Bianca penuh harap.
Leo terkesiap, dia masih belum percaya akan diberikan kepercayaan sebesar ini dari kedua orang tua Elena.
"Tapi Tan..."
"Sudah nak, kamu pasti bisa. Om sama ayah kamu sudah membicarakan ini. Sebelum keberangkatan om dan tante ke Jerman. Kalian harus menikah. Tepat nya 2 Minggu dari sekarang "
Leo mendongak, menatap Romi terkejut. Dia tidak menyangka akan secepat ini.
Elena yang berada di ujung anak tangga paling atas terkejut mendengar semua ucapan papi nya.
"Apa? menikah? 2 Minggu lagi??" batin Elena.
Tidak, Elena menggeleng kuat. Dia tidak akan mau menikah dengan Leo. Ini keputusan yang tidak jelas.
Elen kembali ke kamarnya. Dia sebenarnya berniat ingin pamit pergi ke rumah Lisa.
Namun, setelah mendengar pembicaraan mereka. Elena tidak jadi pamit. Dia malah kembali masuk ke dalam kamar nya dan mengambil beberapa buku pelajaran nya dan juga beberapa pakaian.
Sebelum pergi, Elena juga mentransfer uang saku nya ke dompet online nya.
...----------------...
__ADS_1
Mal hari nya, Romi meminta istrinya memanggil Elena. Sejak tadi siang putri satu satunya mereka itu tidak menampakkan diri.
"Sayang, panggilkan putri kita. Dia pasti belum makan"
"Iya mas" balas Bianca yang langsung beranjak menuju ke kamar putrinya.
Tok! Tok!
"Elena, bangun nak. Ayo kita makan malam. Kamu pasti belum makan kan?"
Tok!! Tok!!
Bianca terus mengetuk pintu kamar putrinya, namun tidak ada balasan.
"Apa dia tidur?" pikir Bianca.
Wanita itu mencoba menekan knop pintu yang ternyata tidak terkunci.
"El.. -_"
Mata Bianca melebar besar, Elena tidak ada di mana pun.
"Elena! "
"Elena?"
"Mas!!!!" teriak Bianca histeris.
Mendengar teriakan istri, Romi langsung berhamburan ke kamar putri nya menemui istrinya.
"Ada apa Bianca, kenapa kamu berteriak sayang?" tanya Romi panik. Istri nya sudah menangis di lantai.
"Sayang, ada apa?"
"Elena mas, dia tidak ada di kamar. Pakaian dan bukunya juga tidak ada. Seperti nya dia pergi mas.."
"Apa?" Romi memeriksa lemari dan juga meja belajar putrinya.
Semuanya telah kosong, Elena sudah membawa barang barangnya kabur.
Bianca semakin menangis saat melihat seluruh kartu kredit dan black cart milik Elena di atas ranjang.
"Dia pergi tanpa membawa apapun yang bisa menghidupi nya mas. Lihat ini..." Ucap Bianca memberikan kartu kartu itu pada suaminya.
Romi menatap kartu kartu itu, dia tidak percaya putrinya akan senekat ini.
"Hubungi semua teman nya" seru Romi.
"Tidak bisa mas, bahkan kita tidak tahu siapa saja teman nya." Jawab Bianca semakin menangis.
__ADS_1
Kini barulah mereka merasa bahwa mereka tidak becus menjadi orang tua. Sibuk dengan pekerjaan, pulang pergi ke luar negeri untuk mencari uang.
Sedangkan putri mereka malah kesepian, bahkan mereka tidak tahu siapa dan bagaimana teman teman putri mereka sendiri.
Di dalam keputusasaan mereka, Bianca teringat pada Leo yang merupakan seorang guru di sekolah putri mereka.
"Mas, hubungi Leo. Dia pasti tahu siapa saja teman Elena, dia guru nya!" seru Bianca.
Romi mengangguk, dia juga baru teringat akan hal itu. Dengan segera, Yoga menghubungi Leo.
Sedangkan di luar sana, Elena duduk di sebuah cafe tempat dirinya dan kedua sahabatnya nongkrong bersama.
Tadi, Elena sudah menghubungi Lisa. Meminta kedua sahabatnya datang untuk menemui dirinya.
Hanya butuh waktu 20 menit, Lisa dan Rose tiba di di cafe itu. Mereka berdua terkejut melihat Elena membawa koper.
"Lo ngapain bawa koper, mau kemana?" tanya Lisa heran.
"Tau ni bocah, udah kaya orang kabur aja lu" sahut Rose.
"Gue emang kabur" jawab Elena santai.
"Huh???"
Elena menatap kedua sahabatnya kesal, bisa bisanya mereka berdua terkejut kompak seperti itu.
"Lo gak lagi bercanda kan El? Lo kabur kenapa?" tanya Lisa masih belum bisa mempercayai ucapan gadis itu.
Elena pun mulai menceritakan semua yang terjadi setelah dia pulang sekolah tadi. Bagaimana kedua orang tuanya akan menikah kan dirinya dalam waktu 2 Minggu ke depan.
Masalah utama nya adalah, karena dia akan menikah dengan Leo.
Elena tidak mau itu terjadi, dia sudah bersumpah tidak akan menikah dengan Leo.
Lisa dan Rose menjadi prihatin, namun mereka juga tidak habis pikir dengan Elena.
Bagaimana mungkin gadis ini bisa menolak Leo yang super tampan itu.
"Andaikan itu gue, gue gak akan menolak nya!" Gumam Rose yang langsung membuat Elena berdecak kesal.
"Yaudah, Lo ambil aja" dengus nya.
"Yee... Kalau dia mau gue juga udah ambil. Orang dijodohin nya Sam alo" sahut Rose.
Elena memutar mata jengah, dia malah heran pada kedua sahabatnya ini. Bahkan kepada seluruh gadis yang ada di sekolah nya.
Bagaimana mungkin mereka menyukai pria seperti Leo. Di mata Elena, pria itu tidak memiliki kelebihan selain membuat masalah saja dengan dirinya.
"Mereka sudah gila" selalu kata itu yang Elena pikirkan setiap kali melihat mereka yang tergila gila pada Leo.
__ADS_1