My Hot Teacher

My Hot Teacher
Khawatir


__ADS_3

"Ayah, Bunda. Apa keputusan ini tepat? apa ini tidak membuat Elena tertekan? dia masih muda dan aku tidak mau membuat dia semakin membenci ku" lirih Leo.


Saat ini mereka tengah bersantai di ruang keluarga. Leo baru saja tiba di rumah dan sudah selesai mandi.


Pria itu menceritakan pada kedua orang tuanya soal pembicaraan di rumah Elena tadi.


"Tidak Leo, ini sudah waktu yang tepat. Elena sudah gadis, dia tidak bisa di tinggalkan seperti itu lagi." sahut Eva.


"Benar nak, dia juga butuh perhatian seseorang. Sebelum orang lain menyalahgunakan kesempatan dalam kondisi Elena. Lebih baik, kamu menikahi nya" sahut Yoga.


"Hem.. Leo malah merasa ragu Yah, Bun. " Lirih Leo.


Eva memegangi tangan putranya, mengecup nya banyak banyak.


"Kenapa kamu takut? bukan kah kamu menjadi seorang guru demi Elena?"


Deg.


Leo terkejut, bagaimana bunda nya mengetahui alasan dia menjadi guru.


"Jangan pertanyakan dari mana bunda tahu, yang jelas tebakan bunda benar kan?" ujar Eva menjawab keterkejutan putranya.


Leo tidak bisa mengelak, dia hanya bisa tercengir.


"Nak, jika kamu memang mencintai Elena. Kamu harus berjuang mendapatkan hatinya. Ayah yakin, dia juga mencintai mu" ucap Yoga menyemangati putranya.


Leo mendongak, ucapan ayah nya benar. Dia harus berjuang untuk mendapatkan cinta Elena. Bukan malah pasrah seperti ini.


Drrtt.. Drrtt...


Leo melirik ponselnya yang tiba-tiba bergetar di sela sela pembicaraan mereka.


"Om Romi?" gumam Romi membaca nama yang terpampang nyata di layar ponselnya.


Entah mengapa jantung Leo tiba-tiba berdetak cepat. Seolah sedang mengkhawatirkan sesuatu.


"Angkat nak" ujar Yoga.


Leo pun menerima panggilan itu, dia menempelkan ponsel nya ke telinganya.


"Hallo om, ada apa?" tanya Leo sopan.


"Maaf nak Leo, mengganggu waktu nak Leo"


"Tidak apa apa om" balas Leo.


"Apa yang terjadi om?" tanya Leo lagi, karena Romi tak kunjung mengatakan sesuatu.


Rasa khawatir semakin besar di hati Leo, saat dia mendengar suara tangisan Bianca.


"Apakah kamu mengetahui siapa saja teman Elena? apa kamu memiliki nomor ponsel mereka?"


Jleb.


Leo mulai merasakan perasaan buruk soal Elena.


"Memangnya kenapa dengan Elena om, mengapa mencari teman teman nya?" tanya Leo penasaran.


Eva dan Yoga juga ikut penasaran mendengar pembicaraan Leo saja.


"Elena kabur, dia meninggalkan semuanya kecuali buku pelajaran dan pakaian nya"


"Apa? Elena kabur?" ulang Leo terkejut.


Eva dan Yoga juga terkejut, bagaimana bisa Elena kabur dari rumah.

__ADS_1


"Iya nak Leo, mungkin dia pergi ke rumah teman nya. Apa nak Leo punya kontak mereka?" tanya Romi penuh harap.


"Sebentar om, saya akan mencoba mencari nya."


"Terimakasih nak, terimakasih banyak." ujar Romi sebelum panggilan di tutup.


"Apa yang terjadi nak, mengapa Elena kabur?" tanya Eva ikut khawatir.


"Seperti dia menolak perjodohan ini, dan memilih untuk kabur" jawab Leo. Dia sibuk mencari kontak wali kelas Elena untuk mendapatkan nomor ponsel Lisa dan Rose.


"Ayah, Bunda, Leo pergi mencari Elena dulu, mungkin dia belum jauh" pamit Leo pada kedua orang tuanya.


"Hati hati nak, jika sudah ketemu kabari bunda dan ayah yah" balas Eva dan Yoga.


"Semoga Elena tetap aman" doa Eva dalam hati.


Leo bergegas masuk ke dalam mobil nya, melaju cepat meninggalkan rumah.


Hati nya langsung kacau, dia sangat khawatir terjadi apa apa pada calon istri nya itu. Apalagi hari sudah malam begini.


Berbagai macam kemungkinan masuk ke dalam pikir Leo.


Bagaiman jika dia di ganggu preman? bagaimana jika dia melakukan sesuatu yang bodoh?


"Ah sial! Elena belum menjadi istri ku saja kau sudah membuat jantung ku hampir terlepas" gumam Leo menghembuskan nafas gusar.


Pria itu sudah mendapatkan nomor ponsel Rose dan Lisa. Dia segera menghubungi kedua gadis itu secara bergantian.


Drrt.... Drrtt...


Rose melirik ponsel nya, dia terkejut melihat layar ponselnya.


"Astaga!" pekik Rose mengagetkan Elena dan Lisa.


"Ada apa?" tanya Lisa penasaran.


Rose menunjukkan layar ponselnya pada kedua sahabatnya. Foto Leo terpampang jelas di sana. Meskipun nomor WhatsApp itu tidak ada nama, tapi mereka tahu jika itu adalah Leo.


"Bagaimana ini? dia pasti sudah tahu Lo kabur El" Ujar Rose.


"Angkat aja, dengerin dulu apa yang dia bilang. Terus Lo pura pura gak tahu aja jika dia nanyain Elena" ucap Lisa.


Rose melirik Elena, seakan meminta persetujuan.


"Angkat lah" ujar Elena.


Rose pun langsung menggeser tombol hijau untuk menerima panggilan WhatsApp dari Leo. Dia juga tidak lupa menekan pembesar suara, agar Elena dan Lisa bisa mendengar percakapan mereka.


"Halo, selamat malam Rose. Kamu pasti sudah tahu ini saya. Jadi saya tidak perlu mendengar pertanyaan ini siapa?" ucap Leo terdengar sangat mengerikan.


"Anjir, ngeri banget" decak Lisa tanpa bersuara. Hanya gerakan bibirnya saja yang terlihat.


"Iya pak, ada apa yah?" balas Rose gemetar.


"Saya tahu kamu sahabat Elena. Dia kabur dan saya menebak dia saat ini ada bersama kamu!"


Rose hampir menjatuhkan ponselnya, dia terkejut dengan ucapan Leo menebak dengan benar.


"A-Apa pak, Elena Kabur?" ucap Rose berpura pura terkejut.


"Apa kamu tidak tahu?"


"Tidak pak, saya baru saja terbangun. Sejak pulang sekolah tidak bertemu dan berbicara dengan Elena" jawab Rose berpura-pura menguap.


"Apa kamu tidak berbohong?" tanya Leo lagi, seolah dia benar benar tidak percaya pada Rose.

__ADS_1


"Iya pak, saya tidak akan berbohong" jawab Rose gugup.


"Baiklah, jika kamu mengetahui di mana Elena, kabari saya"


"Baik pa-"


Belum sempat Rose menyelesaikan jawaban nya, Leo sudah memutuskan panggilan nya secara sepihak.


"Huh dasar, pria sombong" dengus Rose pada ponselnya, seolah olah itu adalah Leo.


"Lo baru tahu" cibir Elena.


Rose bergidik negeri, setelah merasakan langsung betapa dinginnya guru pujaan nya itu.


Drrtt.. Drrt...


Sekarang giliran Lisa yang terkejut, ponsel nya bergetar.


"What? dia menghubungi kita semua. Apa dia mendapatkan nomor ponsel kita dari wali kelas?" ujar Lisa kaget.


"Dia itu predator handal, apapun bisa dia lakukan. Dia adalah wakil kepala sekolah, jika kalian lupa" ujar Elena.


Lisa menerima panggilan Leo, dia melakukan hal yang sama dengan Rose tadi.


Tapi, Lisa tidak mengatakan alasan yang sama. Dia mengatakan bahwa dia sedang berada di puncak bersama keluarga nya.


"Apa kau pergi kepuncak dalam waktu dekat?" tanya Leo mulai curiga.


Lisa langsung panik, dia tidak tahu harus mengatakan apa untuk menjawab pertanyaan intimidasi Leo.


Melihat kebohongan mereka hampir berakhir, Elena cepat cepat mengetik sesuatu kemudian menyuruh pelayan yang melewati mereka membaca nya.


"Lisa, ayo sini kumpul!!" teriak pelayan itu berakting.


Mengerti apa yang Elena lakukan, Lisa pun ikut berakting.


"Iya iya..."


"Maaf pak, saya harus menutup panggilan nya"


Tutt....


Fyu.


Lisa langsung meletakkan ponselnya di atas meja. Menghirup udara sebanyak banyaknya. Dia merasa berbicara dengan Leo membuat nafasnya perlahan menghilang.


"Akhirnya terbebas juga" ucap Rose dan Lisa bernafas lega.


Elena memberi tip pada pelayan yang sudah membantunya. Lalu menyuruh pelayan itu pergi dengan ucapan terimakasih terlontar dari mulutnya.


"Sekarang bagaimana? gue yakin Leo tidak percaya dengan apa yang kita katakan " ujar Rose.


Leo bukan kah orang bodoh, dia sangat pintar dan cerdik. Dengan kegugupan Rose dan Lisa tadi membuat Leo curiga.


"Malam ini gue akan menginap di rumah Lo" putus Elena pada Lisa.


"Tidak masalah" sahut Lisa.


"Gue juga akan ke sana" sahut Rose ikut. Dia juga ingin bersama dengan kedua sahabatnya. Menemani Elena yang sedang di landa masalah.


"Terimakasih, kalian sudah membantu gue" lirih Elena haru.


"Its oke baby, kita akan selalu ada buat Lo. Best friend forever" ujar Lisa dan Rose kompak.


Elena tersenyum bahagia, dia merasa beruntung mendapatkan teman sehebat dan sebaik Rose dan Lisa.

__ADS_1


Malam itu, tanpa memikirkan kekhawatiran kedua orang tuanya. Elena menginap di rumah Lisa, bersama rose juga tentunya.


__ADS_2