
Rasanya sangat sedih menghinggapi hati Elena. Dia mengantar kepergian Mami dan Papi nya ke bandara.
Lagi dan lagi Elena kembali di tinggal oleh kedua orang tuanya.
Meskipun kali ini dia di tinggal bersama seorang suami. Tapi tetap saja, Elena tidak merasa aman. Dia lebih suka tinggal bersama kedua orang tuanya.
"Sudah, jangan sedih lagi. Mami papi pergi cuma sebentar kok" ucap Leo suami Elena.
Elena menatapnya kesal, tanpa berbicara Elena meninggalkan Leo begitu saja.
Setibanya di luar bandara, Elen melambaikan tangan untuk memberhentikan taxi.
Slerrttt..
Sebuah mobil taxi berhenti di hadapan Elena, saat akan masuk ke dalam. tiba tiba Leo menahan nya dan mengatakan pada supir taxi .
"Maaf pak, tidak jadi!" seru nya.
Supir taxi mengangguk pelan, meskipun dalam hati menggerutu.
"Lah, kok Lo batalin sih!" dengus Elena marah marah.
"Kenapa harus naik taxi, kamu kan datang ke sini sama aku!" balas Leo berusaha untuk sabar.
Elena memutar mata jengah, dia tidak mau dekat dekat dengan Leo. Karena pria itu, dia jadi nikah muda.
"Mau kemana?" cegat Leo lagi saat elena hendak pergi.
"Gue mau pulang. Dan gue gak mau bareng Lo!"
"Oh yah? kamu udah berani nolak aku? udah berani melawan aku?" ancam Leo.
"Memangnya, sejak kapan gue takut sama Lo? kenapa gue gak berani sama Lo? minggir!"
Elena kembali menepis tangan Leo. Namun, pria itu tidak menyerah. Dia tetap memaksa Elena ikut dengan nya.
Elena di paksa masuk ke dalam mobil, di pasangkan sabuk pengaman nya oleh Leo.
"Awas kalo kamu berani melarikan diri!" ancam Leo.
__ADS_1
Pria itu segera menutup pintu, lalu mengitari mobilnya menuju ke sebelah kemudi.
Huh.
Elena menghempaskan punggung nya ke sandaran jok mobil. Leo adalah pria yang paling menyebalkan di muka bumi ini.
Mereka pun pulang ke rumah. Elena keluar dengan kesal dari mobil.
Ketika masuk ke dalam rumah, Elena kembali di kejutkan oleh keadaan rumah yang sudah sepi.
"Mereka sudah pergi" ujar Leo.
Elena melirik pria itu dengan ekor matanya. Dengan acuh dia berlalu masuk ke dalam kamar nya.
"Huh, bahkan mereka pergi tanpa pamit sama gue!" gerutunya.
Perasaan sepi mulai menggerogoti hati Elena. Seperti sebelum sebelumnya, dia merasakan kesendirian ini.
Ceklek
Elena memalingkan wajahnya, saat melihat sosok Leo masuk ke dalam kamarnya.
Dia tidak heran lagi, tidak merasa canggung lagi ketika pria itu berada di dalam ruangan yang sama dengannya.
Elena tidak menyahut, dia memilih untuk diam. Hingga Leo duduk di samping nya dan memegang bahunya.
"Jangan sentuh gue!" tepis Elena sinis. Dia mendorong Leo hingga pria itu terhenyak di lantai.
"Kasar banget" gerutu Leo seraya bangkit dari sana.
Waktu cepat berlalu, Elena duduk di balkon kamarnya. Menatap ke langit gelap tanpa bintang. Sama seperti hidupnya yang kelam tanpa sinar bintang yang mewarnai hidupnya.
Di usia dini dia sudah menikah dengan seorang pria yang tidak dia sukai.
"Elena!" panggil Leo.
Dengan malas, Elena menoleh. Menatap Leo dengan tatapan datar.
"Makanan sudah siap. Ayo makan!" ajak Leo dengan nada sinis.
__ADS_1
"Gue gak lapar" ucap Elena, namun seakan tidak berkompromi. Perut Elena malah berkhianat darinya.
Kruyuuk...
Elena menunduk malu, sedangkan Leo malah tersenyum sinis.
"Ayo makan, tidak baik menahan lapar terlalu lama" ajak nya lagi.
Mau tidak mau, Elena terpaksa mengikuti Leo menuju ke ruang makan.
sesampainya di ruang makan, Elena terkejut melihat hidangan makanan di meja makan.
"Ayo makan, jangan di lihatin saja" ujar Leo.
"Ini Lo yang masak?" tanya Elena ragu ragu. Seingatnya, art nya sedang ijin pulang kampung.
"Menurut mu, siapa lagi di sini yang mau memasak?"
Elena mendengus, sempat sempatnya pria ini menyindir dirinya.
"Baiklah, gue akan makan. Terimakasih" lirihnya.
Elena duduk di kursi meja makan bersebrangan dengan Leo.
Dia menyendok nasi dan beberapa lauk yang sudah di masak oleh Leo.
Semuanya terlihat sangat lezat, saat di makan pun rasanya sangat enak seperti penampilannya.
"Hmm..."
Elena bergumam kagum, dia melupakan bahwa Leo masih ada di hadapan nya. Kepalanya tampak bergoyang goyang ketika menyuapi setiap makanan ke dalam mulutnya.
"Apakah seenak itu?" tanya Leo.
Seketika itu, Elena langsung sadar dari sikapnya. Ekspresi wajahnya langsung berubah menjadi biasa saja.
"Gue lapar, makanya habis banyak" elak nya.
"Tidak masalah, setidaknya kamu bisa memakannya" balas Leo mengulum senyum. Dia tahu pasti ekspresi wajah Elena sangat menikmati makanannya.
__ADS_1
Setelah merasa kenyang, Elena langsung membereskan meja makan. Leo sempat melarangnya melakukan semua itu. Namun, Elena tetap bersikeras untuk melakukan nya.
Meskipun dia masih belum menerima pernikahan ini. Tapi, Elena tetap tahu kewajiban seorang istri. Seharusnya dia yang memasakkan untuk suaminya.