
Semalaman, Leo mengelilingi kota mencari keberadaan Elena. Memerintahkan semua anak buah nya untuk memeriksa setiap hotel, apartemen, dan semua penginapan yang ada di kota itu.
Namun, tidak ada satu informasi pun yang Leo dapatkan tentang keberadaan Elena.
Bagaikan di tekan bumi, Elena menghilang tanpa jejak.
"Kemana kamu Elena? " lirih Leo.
Sekarang sudah pukul 3 dini hari, Leo masih berada di luar. mencoba mencari keberadaan wanita yang akan menjadi ibu dari anak anak nya nanti. Entah kapan itu akan terwujud, Leo tidak peduli. Terpenting saat ini baginya, dia dapat menemukan Elena.
DRRTT...
Leo melirik ponsel nya, panggilan dari Romi.
Dengan cepat, Leo langsung menerima panggilan suara dari Romi.
"Halo om?"
"Leo, bagaimana. Apa kamu sudah mendapatkan informasi tentang Elena?" tanya Romi panik.
"Belum om, tapi aku tidak akan menyerah. Om tenang saja yah"
"Terimakasih Leo, maaf telah merepotkan kamu" lirih Romi. Terdengar dari nada suaranya, Romi sangat mengkhawatirkan putrinya.
Setelah panggilan tertutup, Leo mencoba mengecek ponselnya. Aku Instagram teman teman Elena. Siapa tahu ada informasi penting di sana.
"Aku yakin, dia bersembunyi di rumah kedua sahabatnya" gumam Leo memeriksa setiap akun Lisa dan Rose.
Huh.
Terdengar hembusan nafas gusar dari Leo. Tidak ada informasi apapun dari kedua akun gadis itu.
Leo melihat foto Elena yang sedang tersenyum bersama Lisa dan Rose di salah satu unggahan akun Instagram Lisa.
"Cantik sekali" gumam Leo tersenyum manis. Tangan nya mengusap wajah Elena. Dia jadi ingat di mana masa masa ketika dia bertemu Elena pertama kali.
Waktu itu, Leo baru saja selesai meeting bersama client di sebuah cafe.
Saat dia berjalan keluar, tanpa sengaja dia bertubrukan dengan seorang gadis SMA.
Leo terhuyung ke belakang, sedangkan gadis itu terjatuh di lantai.
Hari itu, mereka berdua bertengkar. Elena membentak Leo dan marah marah sambil menangis. entah apa penyebabnya menangis sampai saat ini Leo tidak tahu.
Sejak saat itu, Leo malah tertarik dengan Elena. Dia mencari tahu soal sekolah Elena.
Bahkan, Leo rela menjadi seorang guru di sebuah yayasan. Dia juga menjadi pemegang saham terbesar di sekolah itu.
Dengan begitu, Leo bisa dengan mudah melakukan apapun pada gadis pujaan nya.
Hingga sekarang, gadis itu menjadi calon istri nya. Tapi, malah berjalan seperti ini. Gadis nya menolak.
"Mungkin moment pertemuan kita salah, maka nya kamu tidak pernah suka kepadaku" gumam Leo.
__ADS_1
Cling~
Leo membuka akun WhatsApp nya. Ada sebuah pesan masuk dari Rose.
08xxx
Pak, jangan khawatir. Elena baik baik saja.
Leo terkejut, mendapatkan pesan tersebut. Dia hendak menghubungi Rose, namun sebuah pesan kembali masuk.
08xx
Jangan hubungi aku. Tolong rahasiakan jika kau mendapat informasi dari ku. Aku hanya tidak mau kedua orang tuanya khawatir.
Fyuu..
Leo bisa bernafas lega sekarang, ternyata Elena berada di rumah Sahabat nya.
Setidaknya dia tidak perlu khawatir tentang keselamatan Elena dari berbagai macam sumber kejahatan di luar.
"Kau membuat ku hampir jantungan" lirih Leo.
Pria itu langsung menghubungi papi Elena, memberitahu bahwa Elena sedang berada di rumah Sahabat nya.
Rose kembali ke dalam kamar, dia menatap Elena dan Lisa yang sudah tertidur pulas di atas tempat tidur.
"Maafkan aku Elena, tapi aku tidak mau keluarga mu khawatir. Aku terpaksa memberitahu pak Leo" batin Rose.
"Lo sedang apa Rose?" tanya Elena membuat Rose tersentak kaget.
"Tidak ada, gue baru saja dari toilet."
Rose buru buru naik ke atas ranjang. Lalu kembali tidur di samping Elena. Dia juga memeluk elena dari samping.
"Tidur yang nyenyak" lirih Rose berbisik.
"Thanks" balas Elena tersenyum. Tangan nya memegang tangan Rose yang melingkar di perutnya.
...----------------...
Pagi hari nya, Elena bangun terlambat. Dia menggeliat manja seraya merenggangkan otot otot tubuhnya.
"Lisa...Rose, kalian kenapa tidak membangunkan gue??" omel Elena marah dengan mata yang belum terbuka.l sempurna.
Tidak ada jawaban apapun, Elena segera membuka mata dan betapa terkejut nya dia melihat siapa yang tengah duduk di samping ranjang.
"Baru bangun? apa kau tidak akan ke sekolah?" seru Leo dengan nada dingin.
Elena mengucek mata, dia berpikir ini adalah halusinasi nya saja saja.
Elena menepuk pipi nya, terasa sakit. Lalu dia kembali menatap kearah Leo.
"Apa ini mimpi?" Gumam Elena. Dia tidak sadar sejak tadi Leo mendengar apapun yang dia katakan.
__ADS_1
"Bagaimana mungkin, dia ada di sini. Ini pasti halusinasi" ujar Elena berusaha untuk menyenggol Leo.
"Eh kok bisa. Ini nyata?" pekik nya terkejut saat Leo memegang kedua tangan nya.
"Eh.. Lo ngapain di sini?" bentak Elena yang baru tersadar dengan kehadiran Leo di kamar Lisa.
Leo dengan santai menatap Elena, dia melempar seragam sekolah kearah Elena.
"Mandi, dan segera bersiap. Aku akan menunggu kamu di bawah!" seru Leo seraya berlalu keluar dari kamar itu.
Elena melongo, bagaimana mungkin Leo bisa tahu dia ada di sini. Siapa yang telah memberitahu pria itu?.
Seperti yang Pria itu perintahkan. Elena telah bersiap untuk berangkat ke sekolah. Dia turun ke bawah, menemui kedua sahabatnya yang ternyata sudah duduk di meja makan dengan wajah menekuk.
"Lisa, Rose" panggil Elena yang hendak mengomel pada kedua gadis itu.
Namun, kehadiran seseorang membuat Elena menghentikan niatnya.
"Jadi, ini calon istri Lo bro?"
Elena menatap datar pria yang kini berdiri di hadapan nya. Dia tengah berbicara dengan Leo yang duduk di salah satu kursi meja makan sambil menatap tajam kearahnya.
"Si-siapa ?" tanya Elena.
Lisa mengangkat wajah nya, menjelaskan pada Elena bahwa pria itu adalah kakak pertama.
"El, dia Hito. Kakak pertama gue" ujar Lisa.
"Hai, kamu Elena kan? wanita yang membuatpp..."
Leo cepat cepat membungkam mulut Hito saat menyadari pria itu akan membongkar sesuatu yang tidak boleh di umbar.
Melihat tingkah Leo seperti itu, membuat ketiga gadis itu melongo.
Lisa pun tidak tahu, jika selama ini kakak nya teman baik guru killer di sekolahnya.
"Mengapa jadi begini?" gumam Rose heran.
"Jadi, siapa yang memberitahu gue ada di sini pada pria ini?" tanya Elena menatap kedua sahabatnya sinis.
Hito berhasil melepaskan bekapan tangan Leo di mulutnya. Lalu memberitahu Elena soal kejadian sebenarnya.
"Leo memintaku untuk mencari Lo di berbagai tempat. Saat dia mengirim pesan, saat itu pula kita bertemu di ruang tamu.
Namun, sayang beribu sayang. Gue belum membaca pesan itu. Gue baru membaca nya ketika akan tidur, tepatnya pukul 4 subuh!" terang Hito panjang lebar.
Mendengar itu, Elena melirik Leo. Apa dia mencari dirinya semalaman? apa dia begitu manis rela melakukan apapun untuk nya?
Tapi untuk apa? mereka saling membenci satu sama lain, tidak mungkin dalam sekejap dia jatuh hati pada nya.
Elena benar benar tidak bisa memikirkan hal itu. Melihat Leo tersenyum kearahnya. Membuat emosi Elena kembali memuncak.
"Aku yang menyuruhnya datang ke sini" lirih Hito lagi.
__ADS_1