My Hot Teacher

My Hot Teacher
Di Bawa Pulang


__ADS_3

Elena masih kesal dengan Lisa dan Rose. Mengapa mereka tidak membangunkan dirinya ketika Leo datang. Jika dia tahu Leo datang, maka dia akan pergi lebih cepat.


"Ayo ke sekolah" seru Elena pada kedua sahabatnya.


Namun, Rose dan Lisa tidak bergeming. Mereka hanya menggeleng kecil pada Elena.


"Ada apa, mengapa kalian seperti ini. Kita harus segera ke sekolah. Ini sudah telat 5 menit" tanya Elena heran.


"Kalian tidak perlu ke sekolah, aku sudah meminta ijin atas nama kalian ke wali kelas" ucap Leo tegas.


Elena berbalik, menatap sinis pada Leo.


"Siapa Lo, berani sekali mengambil keputusan atas hidup kita! "


Leo tidak menjawab, dia melangkah lebih dekat pada gadis cantik itu. Gadis yang sebentar lagi akan menjadi istri nya.


"Ja- Jangan mendekati gue!" serga Elena mulai gugup.


Leo tidak peduli, dia mengabaikan Lisa dan Rose ada di sana. Dia malah menarik Elena agar lebih dekat dengan nya.


"Ap-"


"Gue calon suami Lo, apapun yang terjadi sama Lo. Itu tanggung jawab gue!" ucap Leo dengan ekspresi serius. Tangan nya semakin kuat mencengkram lengan Elena agar tidak bisa kabur.


"Lepasin gue, gue gak mau jadi istri Lo!" berontak Elena berusahalah kabur.


Namun, Leo tidak bergerak sama sekali. Lisa dan Rose hanya bisa menunduk. Mereka tidak bisa berbuat apa apa.


"Jadilah mata mata yang baik" bisik Hito pada adik nya dan Rose.


Cup.


Hito sengaja mengecup pipi Rose sebelum pergi. Membuat mata gadis itu membulat sempurna.


"Lis... Lo lihat gak, tadi itu apaan?" tanya Rose syok.


Lisa hanya memutar malas matanya. Kakak nya memang seperti itu, dia suka tapi malah membuat anak orang salting dulu.


"Gak usah ambil hati Rose, dia emang gitu" celetuk Lisa membuat kakak nya yang sudah pergi namun dapat mendengar ucapan kecewa.


"Lepasin gue bego!" bentak Elena membuat Rose tersadar dengan situasi mereka saat ini.


"Ok fine Elena, Lo ingin gue keras sama Lo kan" ujar Leo.


Elena terkejut, Leo menggunakan bahasa Lo gue kepadanya. Tidak seperti biasanya, aku saya dan kamu.


Elena tersentak, Leo menariknya dan memaksanya ikut bersama nya.

__ADS_1


"Tolong antar barang barang Elena ke rumah nya" suruh Leo sebelum dia benar benar pergi bersama Elena yang masih memberontak.


"Lepas Leo, gue gak mau ikut sama Lo!" Teriak Elena.


Leo tidak peduli, dia tetap menarik Elena. Bahkan Leo menggendong tubuh langsing Elena, dan membawanya masuk ke dalam mobil.


"Jalan pak!" titah Leo pada supir.


Pria itu sengaja membawa supir ke rumah Hito, karena dia tau membawa Elena tidak akan semudah itu. Jadi, dia harus membawa supir agar dia bisa memegangi calon istri cantik nya ini.


"Mau Lo apaan sih. Kenapa Lo ikut campur sama urusan hidup gue!"


"Gue gak perlu menjawab pertanyaan ini lagi Elena." sahut Leo santai.


Huh.


Elena mendengus kesal, menghempaskan tubuhnya pada jok mobil.


Sungguh mengesalkan, Elena tidak bisa berkata kata lagi. Pria ini sangat sulit untuk di lawan.


Mobil melaju cepat, tidak menuju ke arah sekolah. Melainkan melaju pulang ke rumah.


Elena menatap jalur yang mereka tempuh. Dia menatap marah, dan ingin protes pada Leo lagi.


Belum sempat mengeluarkan sumpah serapah nya. Leo lebih dulu membungkam mulutnya dengan satu jari.


Huh


Elena menepis tangan Leo, matanya menajam pada Leo. Supir yang sedang mengemudi di depan hanya bisa mencuri pandang dari spion.


"Lo gak bisa atur hidup gue, Lo itu bukan siapa siapa Leo! gue gak akan pernah menjadi istri Lo!" teriak Elena tidak bisa menahan diri lagi.


"Terserah Lo bilang apa, yang jelas, Minggu depan. Lo akan menjadi istri gue. Terserah Lo mau atau nggak, gue gak peduli" tekan Leo tepat di samping telinga Elena.


"Lo-"


Leo tidak mendengarkan lagi, pria itu bersandar pada sandaran jok mobil, lalu memejamkan matanya.


"Hei, Kenapa Lo malah tidur. Pembicaraan kita belum selesai! " teriak Elena.


Leo tidak peduli, dia malah acuh dengan mata terpejam. Meskipun sebenarnya telinga Leo mendengarkan setiap kata yang keluar dari mulut calon istri nya.


Huh


"Menyebalkan!"


Tak lama kemudian, mobil pun tiba di rumah. Leo membawa Elena keluar. Dia menarik tangan Elena, namun di tepis oleh gadis itu.

__ADS_1


"Jangan sentuh gue, jijik" dengus nya, lalu masuk lebih dulu dari Leo.


"Awas saja, jika Lo sudah menjadi istri gue. Berteriak minta ampun pun, akan gue garap" dengus Leo menahan kesal.


Elena masuk ke dalam rumah, dia di sambut oleh Mami dan Papi nya di ruang tengah.


"Elena" panggil Bianca menghampiri putri nya. Memeluk penuh rasa kelegaan.


Akhirnya, putri satu satunya kembali juga setelah menghilang semalaman.


"Dari mana saja kamu Elena?"tanya Romi mengintrogasi.


Bianca melepas pelukannya pada Elena, membiarkan nya berbicara dengan suaminya.


"Dari mana kamu?" ulang Romi karena tak kunjung dia jawab oleh Elena.


Leo masuk ke dalam, dia duduk di samping kedua orang tua nya yang ternyata juga ada di sana.


"Dia di rumah Lisa, seperti nya menenangkan diri" ujar Leo membantu Elena beralasan.


Dia tahu, Elena takut melihat kemarahan Papi nya.


"Kamu ini, buat orang khawatir saja. Meskipun kabur kaburan. Perjodohan itu tidak akan di batalkan. Kamu tetap akan menikah dengan Leo. Dan waktu nya akan di percepat!" tegas Romi.


Elena mendongak, menatap Papi nya dengan tatapan tidak percaya.


Bagaimana mungkin papi nya bisa berubah menjadi kejam seperti ini? apa yang salah. Mengapa mereka begitu egois.


"Mi, katakan sama Papi. Aku gak mau menikah dengan nya!" mohon Elena pada Bianca.


"Maaf nak, mami tidak bisa berbuat apa apa. Keputusan ini sudah di putuskan"


Elena tersendat, Mami nya bahkan tidak mau membantunya. Dia benar-benar kecewa, tidak ada yang bisa mengerti dirinya.


Dengan air mata yang keluar begitu saja, Elena menatap kedua orang tuanya. Dia bahkan menghapus kasar air matanya saat mutiara bening itu menghalangi pandangan nya.


"Terserah! lakukan apapun yang kalian mau. Setelah kalian meninggalkan aku begitu saja, sekarang kalian mencoba uny mengatur hidup ku dengan memberi tekanan seperti ini. Wah... Hebat, orang tua seperti kalian patut di beri penghargaan!"


Elena tersenyum getir, sambil bertepuk tangan.


"Hebat. Kalian benar benar hebat" lirih Elena kecewa.


Leo menatap gadis nya, dia sebenarnya tidak tega melihat kondisi Elena seperti itu. Namun, dia juga tidak punya pilihan. Dia sangat ingin menjaga Elena.


Tidak lama lagi, Papi Romi Dan Mami Bianca akan pergi. Elena akan sendiri di rumah. Leo tidak mau membiarkan nya sendiri.


"Keputusan ini yang terbaik" gumam Leo meyakinkan hatinya.

__ADS_1


__ADS_2