
Mansion utama keluarga Wijaya.
Seisi rumah mendadak gempar dengan kabar yang di sampaikan citak, bahwa pewaris tunggal Wijaya group hilang dalam penculikan, semua itu diketahui ketika citak mendapatkan alarm bahaya dari alat yang terpasang di tubuh Rama.
Kebetulan citak sedang dalam menjalankan tugas yang diberikan Rama, yaitu menjemput sang buah hati dan juga mengantarkan Risa ke rumah utama untuk menjenguk Nino.
Namun di tengah perjalanan dia harus berpisah dan menyerahkan tugas mengantar Risa ke salah satu anak buahnya, sedangkan dia dan beberapa anak buah yang tersisa segera menuju ke tempat lokasi yang berhasil terlacak.
Sayang beribu sayang, dia hanya menemukan mobil mewah Rama saja dan tak jauh dari mobil itu terparkir, Exel dan Xelo ditemukan dalam keadaan sangat mengesankan dengan baju tak beraturan dan juga wajah penuh dengan darah, citak segera meminta bantuan ke rumah utama dan juga seluruh anak buahnya,.
Setelah memeriksa bahwa Exel dan Xelo masih bernafas, dengan cepat para ajudan membawa dua pria itu ke rumah terdekat untuk segera mendapatkan pertolongan darurat.
Tak butuh waktu lama, Puluhan pengawal dari rumah utama sudah sampai ke lokasi, langsung di pimpin oleh Anton Airlangga wakil CEO Wijaya group, Anton segera berlari ke arah citak dan menanyakan apa yang terjadi sebenarnya.
"Apakah tidak ada petunjuk sedikitpun?"Tanya Anton begitu frustasi setelah mendengar penjelasan citak, jika dia sudah menyisir seluruh lokasi namun nihil dia tak menemukan tanda-tanda sang tuan muda ada disana.
"Kami sedang berusaha sekuat tenaga kita tuan, saya juga tak menyangka tuan muda bisa di kalahkan dengan begitu mudah, mengingat ada tuan Exel dan Xelo bersama nya yang kita semua tau, bagaimana kehebatan bela diri dua tuan muda Hartanto dan maxton itu" Jelas citak tak menyangka, dia tau bagaimana hebatnya bos nya itu bertarung, di usia nya yang sangat muda kiprahnya di dunia arus bawah sangatlah epic, hingga dia bisa melawan siapa saja yang hendak menyerang Wijaya group.
"Citak biar pengawal Wijaya yang berjaga disini, perintah kan seluruh anak buah Rama untuk menyelidiki dengan cepat, aku akan berkoordinasi dengan Hartanto dan maxton group, untuk bergabung dengan kita dalam kasus ini dan satu lagi jangan sampai libatkan polisi" perintah Anton dengan tegas, membuat citak segera menganggukkan kepala dengan patuh, tak di pungkiri aura kepemimpinan Anton tak pernah pudar meski usianya tak lagi muda.
Anton memerintahkan puluhan anak buahnya untuk berjaga dan mencari petunjuk di lokasi kejadian, sedangkan dia dan lima pengawal segera kembali ke mansion untuk mengamankan keluarganya yang mungkin akan menjadi sasaran selanjutnya, untuk citak dia juga menarik seluruh anak buahnya dan kembali ke markas besar di mana alat-alat canggih dan mahal berada.
__ADS_1
Tak di pungkiri penculikan tuan muda Wijaya adalah ancaman serius, mansion utama pun dalam setatus siaga penuh sekarang, membuat para anak buah Wijaya group dari segala penjuru berkumpul, membuat sekeliling mansion seketika penuh.
Gerbang utama terlihat dibuka memberikan jalan dua mobil yang beriringan memasuki area mansion, para pengawal sudah tau jika itu mobil tuan besar tapi mereka juga bingung kenapa tuan besar kembali dengan dua mobil.
"Bagaimana keadaan Rama mas, apa dia sudah ditemukan?" Maria segera memberondong pertanyaan kepada sang suami.
Anton dengan lembut menarik Maria ke dalam pelukannya, pria itu menyembunyikan tangisnya di dekapan sang istri, Maria pun seketika paham jika sang putra sedang tidak baik-baik saja.
Di tengah suasana sedih dan mencekam ini, tiba-tiba suasana pecah dengan suara bayi yang menangis dengan begitu kencangnya, Risa pun nampak bingung dan membuat pelayanan yang sudah tau siapa baby Natan itu mendekat dan ikut menenangkan.
"Dedek Natan kangen uncle lama, biasanya dia bobok bertiga sama Ivan sama uncle jam segini" celoteh Divan di pangkuan sang papa.
"Heeh, Ivan pelnah tidul baleng bertiga saat uncle culik dedek di lumah sakit".
Duarrrrrrrr.
Boom waktu yang Rama simpan dengan rapi akhirnya meledak dengan sendirinya, Maria langsung mendekat ke arah sang bayi yang masih menangis itu, tubuhnya langsung bergetar hebat ketika melihat wajah tampan miniatur Rama saat kecil itu, yaa tuhan saking paniknya dia sampai melupakan kehadiran bayi tampan itu.
"Dia anak Rama, aku yakin dia anak Rama"Ucap Maria dengan melihat semua orang di sekelilingnya, pelayan yang ditugaskan merawat Natan di villa pun akhirnya berbicara.
"Sebelumnya saya meminta maaf nyonya, tetapi saya diperintahkan tuan muda untuk menjaga kerahasian ini, tapi karena ini keadaan genting saya berani bersumpah, bahwa bayi dalam gendongan nona Risa itu anak kandung tuan muda, bahkan saya sendiri yang merawatnya beberapa hari ini" jelas pelayanan membuat tangis Maria semakin menjadi, bahkan teriakan itu begitu keras membuat Anton dan Nino mendekat, dan merangkul wanita yang paling mereka sayangi itu.
__ADS_1
"Anak ku melewati ujian yang sangat berat, tapi kenapa dia begitu kuat saat di hadapan kita, aku gagal menjaga nya, aku gagal menjadi ibu, aku gagal menjadi nenek!!!"Teriak Maria dengan histeris membuat Anton menggendong sang istri untuk masuk ke dalam kamar.
Tinggalkan suara tangis Baby Natan yang belum berhenti, pelayan pun masih panik dan mencoba menenangkan, tapi nihil bayi itu bahkan tak sedikitpun memelankan suara nya.
"Astaga tubuhnya panas sekali, ambillah obat penurun panas di kamar pribadi ku disana tersedia lengkap"Perintah Nino ketika mengambil alih baby Natan ke pangkuannya, rupanya bayi itu mengerti jika sang papa sedang tidak baik-baik saja, membuat ikatan batin ayah dan anak ini saling berkaitan.
"Sayang mintakan air hangat, ember dan kain untuk mengompres"Pinta Nino kepada Risa membuat wanita itu segera berlari ke dapur diikuti dengan beberapa pelayan.
Sedangkan Divan, bocah itu nampak diam di dekapan sang nenek, rupanya dia paham mamah dan papah nya sedang panik membuat dia beralih ke Retno, yang memilih duduk dan mengamati.
"Ini tuan sirup nya" ucap pelayan segera diambil oleh Nino, dokter muda itu dengan cekatan menyuapkan sirup ke baby Natan.
Dan benar saja, tak menunggu Begitu lama bayi mulai terdiam, matanya mulai terlihat sayu menandakan sang bayi akan tertidur, Nino pun meminta Risa mendorong dirinya masuk ke kamar dan menidurkan bayi itu di kamar nya.
"Divan mau bobok sama papa dan dedek bayi enggak?"Tanya Nino membuat sang bocah kegirangan, Divan pun dengan cepat menidurkan dirinya di samping kanan sang papa, sedang baby Natan dia tidur di samping kiri.
"Divan biar sama aku, kamu tidur saja bersama nenek, aku yakin hari esok akan lebih heboh dari hari ini"
bersambung...
Jangan lupa like coment and vote terimakasih sudah membaca.
__ADS_1