
Desa klantan.
Suasana desa di sore hari sangat lah sejuk dan juga cerah, anak-anak kecil masih nampak bermain di sekitar rumah, di temani para ibu-ibu yang berkumpul di warung kelontong, yang sudah menjadi base camp mereka di kala sore hari, tempat dimana kabar penting tersebar dan juga tempat dimana aib seseorang terbongkar dan di kupas dengan tajam setajam silet.
Seperti sore hari ini, para warga di buat gempar dengan undangan pernikahan yang mereka terima, di kertas tebal bermotif batik dengan logo besar Wijaya group di bawahnya, mengundang para warga di acara ijab kabul salah satu warga mereka Risa Olivia, dengan salah satu kelurga Wijaya Nino Artanegara.
Tak tanggung-tanggung, Maria mengundang hampir seluruh warga desa untuk datang di acara mereka bersama kelurga masing-masing, Maria pun juga menyediakan fasilitas transportasi untuk menjemput dan juga mengantar mereka.
Undangan itu juga sampai di tangan kelurga Dito, membuat sang mantan suami terpukul dan juga terpuruk seolah tak terima dengan apa yang telah dia lihat, dengan cepat Dito merobek undangan itu membuang nya ke tempat sampah.
Dia belom terima dan dia juga masih memiliki sedikit waktu untuk berusaha, dan membuktikan pada Risa bahwa dia masih begitu sangat mencintai dirinya, dia yakin dengan niat tulus nya mampu membuat hati Risa akan berbalik mencintai nya.
"Aku akan gunakan sedikit waktu ini untuk mendapatkan mu kembali" Ucap Dito pada diri sendiri mencoba memberikan semangat .
Dia segera mengambil telefon genggam miliknya, dengan cepat mencari nomor sang mantan istri yang sudah beberapa tahun tidak dia gunakan.
Dengan perasaan campur aduk dia mencoba mengirim pesan, dia beralasan ingin bertemu dengan Divan dan mengajaknya untuk beberapa saat, chat pun terkirim dan menunjukan centang dua, membuat hati Dito sedikit bahagia bahwa sang Matan masih mengunakan nomor yang sama.
Tak beberapa handphone bergetar, dengan cepat Dito membuka aplikasi, alangkah senangnya saat melihat pesan masuk dari Risa, wanita itu menyetujui dan mengajak nya bertemu nanti malam di sebuah mall.
Dito pun menyetujui dan segera membalas pesan Risa kembali, dia pikir tuhan sengaja mempermudah usahanya, hingga tuhan mengabulkan keinginannya dengan cepat.
__ADS_1
"Aku yakin kali ini aku akan berhasil, aku harus bersiap dari sekarang Agar terlihat Perfect nanti malam" Ucap Dito dengan semangat empat lima, dan berlalu pergi dari rumah mengunakan montor kesayangannya.
.
.
.
.
.
Mansion keluarga Wijaya.
Divan pun nampak sibuk melihat YouTube bersama Xelo di handphone milik Risa, sedangkan Maria dia memilih di taman belakang menemani sang cucu bersama bude Retno.
Di tengah keasikan menonton, fokus Risa terpecah ketika Xelo melempar nya dengan bantal sofa, Risa dan Nino pun menoleh ke arah sang pelaku, yang kini menatap mereka dengan tatapan tajam.
"Kalau di Panggil tuh nyaut, mentang-mentang pacaran kuping jadi budek tauk" Ucap Xelo dengan kata-kata tajam yang mulai terdengar biasa di telinga Risa.
"Kenapa sih xel?"Tanya Risa dengan sabar menghadapi pria tampan yang memiliki sifat hampir sama dengan Rama itu.
__ADS_1
"Nah gitu dong, entar malam gue mau ajak Divan ke mall, and jika Rama dan Exel sudah pulang aku ajak juga" ucap Xelo dengan mata fokus lagi ke arah handphone, membuat Risa dan Nino mendengus kesal.
"Tidak boleh kalian pasti akan pulang larut malam, dan itu tidak baik buat Divan" Jawab Nino di angguki oleh Risa.
Xelo pun mengalihkan pandangannya ke arah Risa dan Nino, diikuti oleh Divan yang juga nampak tak terima dengan keputusan sang papa, namun bocah itu memilih diam dan mengerucutkan bibirnya.
"Dih kan gue gak izin, cuman memberitahu kalau pun tidak di izinkan gue tetep akan pergi bersama, yaa kan Divan?" Ucap Xelo dengan sinis dibalas acungan jempol oleh Divan.
Risa dan Nino pun menggeleng kepala melibat kekompakan dua pria itu, membuat Risa mengalah dan mengizinkan sang putra untuk pergi, walaupun Nino sedikit tak rela dan melayangkan protes.
Setelah mendapat izin Xelo dan Divan segera berlari menuju kamar masing-masing untuk bersiap, tak begitu lama Rama dan Exel terlihat memasuki mansion dan berlaku menuju kamar mereka.
"Wihhh kebetulan kalian datang, mau ikut gue sama Divan ke mall enggak?"Tanya Xelo ketika dua sahabat nya telah kembali.
"Sekarang?"Tanya Exel dengan bingung.
"No, entar malam mau ada misi menghilangkan bibit bibit pembinor "Ucap Xelo dengan ketus semakin membuat Rama dan Exel bingung, dan menunjukan raut wajah bertanya kepada Xelo.
"Tadi gue main sama Divan dengan handphone Tante Risa, gue gak sengaja lihat notifikasi jika Dito mengirim pesan, dia ngajak Divan dan Tante untuk bertemu gue balas aja, dan gue yang akan menemani Divan menemui pria brengsek itu" Ucap Xelo membuat Rama tersenyum namun membuat Exel meradang.
"Astaga Lo tau gak sih, apa yang Lo lakuin itu gak sopan, seharusnya Lo izin dulu ke yang punya handphone jika mau baca pesan, dan ini apa Lo malah membalas nya tanpa izin dan tanpa sepengetahuan sang pemilik!!!"Tegur Exel dengan marah melihat perilaku sangat tidak sopan dari sang sahabat, Xelo pun hanya senyum Pepsodent menunjukkan Gigi putih nan rata itu.
__ADS_1
"Gue akan ikut menemani kalian" Ucap Rama membuat Xelo kegirangan, namun membuat Exel tambah meradang.
jangan lupa like coment and vote