
Malam yang yang sunyi berubah gaduh ketika Rama kembali terbangun, pria itu kembali histeris dan berteriak meminta ampun, membuat Risa Nino dan Divan yang bertugas menjaga pun seketika terkejut, Nino langsung berdiri dan berjalan mendekat ke arah Rama mencoba untuk menenangkan.
"Ampun haahhhhhh, gue mohon jangan sentuh gue!!!!!!"Teriak Rama histeris ketika melihat Nino mendekat ke arahnya, Nino pun dengan cepat mendekap sang adik dengan kuat mencoba melakukan terapi.
"It's ok, ada aku disini kamu aman" ucap Nino di dekat kuping Rama, pelukannya semakin mengendur ketika pria mulai tenang dan mencoba mengatur nafas.
"Aku takut, aku sakittt"Rintih Rama merasakan sakit begitu luar biasa di bagian inti tubuhnya di depan dan belakang,
Nino yang sudah tau hal ini akan di rasakan Rama bergidik ngeri, robekan di bagian belakang Rama Begitu lebar membuat dokter memberikan beberapa jaitan, ditambah lagi benda pusaka kebanggaan Rama sedikit tergilir dan lecet, menambah penderitaan Rama semakin lengkap.
"Kamu yang tenang yaa, aku akan berusaha sekuat tenaga agar kamu cepat sembuh"Ucap Nino berderai air mata dengan menghadiahi satu kecupan di kening sang adik.
Nino membelai puncak kepala sang adik dengan penuh kasih sayang, membuat Rama juga semakin tenang meskipun masih terdengar suara rintihan.
"Tidur jangan pikirkan apa pun, lihat ada aku, Risa dan Divan disini kami tidak akan membiarkan siapa pun melukai mu" Ucap Nino tidak henti-hentinya mengusap puncak kepala Rama, dia pun memanggil Divan untuk mendekat ke arahnya.
"Uncle sakit yaaa?"Tanya Divan berdiri di kursi mencoba mensejajarkan tinggi, Rama pun nampak melirik ke arah Divan dan tersenyum, rupanya pria itu mulai mengingat ingatan nya kembali, dan itu membuat Nino senang karena trauma Rama tak separah apa yang dia bayangkan.
"Kok uncle bisa sakit sih papa, kata uncle elo uncle lama bukan manusia biasa?"Tanya Divan dengan polos membuat Nino begitu susah menahan tawa.
Begitu juga dengan Risa,wanita itu menutup mulutnya rapat-rapat agar tak mengeluarkan suara, Rama pun hanya diam tanpa mengeluarkan sepatah kata pun, namun tatapan tak bisa bohong bahwa dia sedikit lebih baik dari sebelumnya.
Waktu terus berputar hingga jam menunjukan pukul tengah malam, Rama sudah tertidur ditemani Divan yang memeluknya dengan posesif, Nino pun membiarkan ketika Rama merasa nyaman dan membalas pelukan calon anaknya itu.
"Apa tidak papa Divan tidur disitu?"Tanya Risa sedikit was-was, dia takut Rama kembali histeris seperti sebelumnya.
"Tidak papa, Rama akan berubah untuk hari-hari kedepannya, aku tak akan mengizinkan dia bertemu semua orang Agar psikis nya membaik, aku bisa pastikan dia akan kembali histeris ketika bertemu orang asing, yang mengingatkan peristiwa keji itu"Jelas Nino membuat Risa paham.
__ADS_1
Nino pun membaringkan tubuhnya di atas kasur yang berada di depan televisi, yaa ruangan yang mereka tempati adalah ruangan khusus untuk keluarga Wijaya group, jadi tak bisa diragukan lagi dengan fasilitas yang di suguhkan.
Melihat Nino yang ikut berbaring, Risa pun refleks langsung bangkit dari tidurnya, dan duduk di tepi kasur.
"Kenapa?"Tanya Nino mendadak menjadi bodoh, citra doktor yang dia banggakan seketika copot entah kemana.
Risa pun menghadiahi tatapan tajam Nino, dibalas dengan senyum manis yang membuat siapa saja terpesona dibuatnya, namun tidak dengan Risa dia masih dengan tatapan tajam nya.
"Utu Utu sini bobok sama ayang, aku gak bakal apa-apa in kok tenang"Ucap Nino mengalah dengan tangan menepuk bagian kosong di samping nya.
"Apa aku harus percaya?"Tanya Risa dengan tatapan menyelidik, dia takut Nino berbuat hal-hal tidak diinginkan yang hanya membuat kerugian untuk dirinya.
"Tentu, aku bukan tipe pria seperti Rama yang suka berhubungan badan sebelum menikah"Ucap Nino bersamaan dengan suara lenguhan Rama, langsung membuat dia terdiam dan melirik Rama dengan hati-hati, dia bisa bernafas lega rupanya Rama masih tertidur dengan pulas nya.
"Cepat tidur atau engkau tidak akan bisa tidur dengan nyenyak"Bisik Nino langsung membuat Risa merebahkan diri, tak lupa dia juga meletakkan guling pembatas sebagai benteng pertahanannya.
"Tuhan aku berharap ini sebagai awal dari semuanya, biarkan penderitaan ini berhenti sampai disini".
.
.
.
.
.
__ADS_1
Mansion keluarga Wijaya.
Pagi ini Maria begitu bersemangat untuk menyambut hari, pagi-pagi sekali dia sudah membersihkan diri dan bersiap, dia pun langsung menggendong Sang cucu dan mengajak nya untuk ikut sarapan pagi.
"Pagi bu Retno kok report-repot sih Bu, kan ada asisten rumah tangga"Sapa Maria kepada Retno yang ikut menyiapkan sarapan pagi.
"Gak repot kok Bu, malah seneng bisa masak sesuai keinginan, kalau dirumah terbatas bahan bakunya" Jawab bude Retno membuat Maria tersenyum, dia tak salah berbuat baik kepada orang.
Mereka berdua pun memulai sarapan pagi, ditemani dengan baby Natan yang berada di tempat khusus untuknya, sarapan mereka tak di hadiri Anton pria itu langsung menuju ke rumah sakit, ketika mendapat kabar dari Nino sang putra sudah sedikit membaik.
Maria tidak ikut karena mengikuti saran dari Nino, Nino menyarankan agar Maria sedikit bersabar karena Rama masih sedikit sensitif ketika bertemu dengan wanita.
Setelah selesai sarapan, Maria dan Retno membawa bayi itu untuk berjemur dan menemani dua wanita itu mengobrol, Maria sedikit lebih tenang ketiak Rama sedikit membaik, Nino juga menyarankan agar dia tak begitu memikirkan Rama, yang hanya akan membuat kesehatan nya terganggu.
Dua wanita itu asik membahas kos-kosan milik Retno, Maria yang paham betul tentang bisnis berniat menyuntikan dana untuk memperluas bisnis bude Retno, Retno pun menyetujui setelah mendapat penjelasan dari Maria tentang pentingnya investasi jangka panjang, agar hidup nya di hari tua bisa terjamin dan tidak terlalu merepotkan orang lain.
Ditengah asik mengobrol ada seorang pelayan mendatangi dan memberitahu, ada Vanessa yang ingin menemui baby Natan, Maria yang sudah tahu tentang hubungan Rama dan Vanes pun memerintahkan pelayan untuk membawa Vanes kepadanya.
Sebagai nenek dia ingin cucunya merasakan kasih sayang kedua orang tuanya, dan satu lagi dia bisa mengorek informasi tentang Richard, yang dia curigai sebagai dalang di balik penculikan Rama.
Vanes yang mendapat izin pun dengan hati-hati berjalan mendekat, tak di pungkiri dia takut kejahatan yang baru saja dia lakukan akan terbongkar.
"Selamat datang Vanes silahkan duduk"Sapa Maria dengan lembut membuat Vanes tercengang, dia yakin kelurga Wijaya tak menaruh curiga kepada nya, dan itu bagus untuk langkah kedepannya yang semakin terbuka dengan lebar.
bersambung .
coment and like dong, please.
__ADS_1