
Pagi hari yang cerah ditemani sejuknya suasana Taman, kini Maria, Retno, dan Vanes mengobrol sambil menemani Baby Natan berjemur, Vanes bercerita bagaimana sedihnya dirinya ketika di tinggal oleh sang mama, terlebih Richard sekarang telah pergi entah kemana, membuat dirinya bagaikan hidup sebatang kara.
Mendengar cerita Vanes Maria sedikit tersentuh, namun dia seketika teringat ketika Vanes bercerita Richard telah pergi, darahnya mendidih dan semakin yakin Richard lah dalang dari penculikan Rama, tuduhan Maria semakin di perkuat dengan pemilik pulau pribadi dimana Rama di Sandra, citak memberitahu kan bahwa pulau itu milik Richard Artanegara.
"Tante akan berbicara kepada Rama untuk mendapatkan jalan tengah atas hubungan kalian, dan Tante hanya bisa berharap hubungan kalian tetap baik-baik saja demi Natan" Ucap Maria memberikan nasehat ketika Vanes selesai bercerita, saat Rama menculik baby Natan dari rumah sakit.
Perempuan itu dengan pintar memutar balikan fakta, dan menuduh Rama telah memisahkan baby Natan dan dirinya, dia juga mengarang cerita jika Rama mengancam akan mengambil hak asuh sepenuhnya, jika dia tak mau melayani nafsu birahi tuan muda Wijaya itu, dan dia membawa bukti video yang menampilkan betapa ganasnya sang tuan muda di ranjang.
"Sebagai ibu aku sangat menginginkan Natan saja, meskipun aku harus mendapatkan ancaman dan hinaan dari Rama, aku rela"Ucap Vanes dengan meneteskan air mata, berhasil menarik perhatian Maria.
CEO Wijaya group itu memberikan pelukan kepada ibu dari cucunya itu, sebagai sesama wanita dia juga begitu sakit, namun apa boleh buat sekarang keadaan tidak memungkinkan.
Kondisi Rama sendiri sangat memprihatinkan membuat Maria hanya bisa pasrah, bersabar dan berdoa untuk kesembuhan putra mahkota nya itu, untuk urusan Vanes dan Natan dia mengizinkan Vanes bertemu.
Namun dengan satu syarat, yaitu saat Rama sedang tidak ada atau Vanes boleh menemuinya saat diluar, Maria pun juga memberikan tunjangan bulanan untuk Vanes, bagaimana pun Vanes ibu dari baby Natan dan otomatis Vanes juga menantu dari keluarga Wijaya, walaupun itu tidak resmi dan tidak sah di dalam urusan negara.
Setelah obrolan panjang dan sedikit acting Vanes pun pamit untuk pulang, Maria pun sekali lagi memberikan satu pelukan kepada Vanes, entahlah dia tak tega melihat ibu dari cucunya itu pergi, di hati yang paling dalam dia sangat ingin seluruh keluarganya bersatu, rukun dan berbahagia bersama menemani masa tua nya.
"Yang sabar Bu, saya yakin akan ada hikmah di dalam cobaan ini" ucap Retno memberikan semangat, sebenarnya dia sedikit aneh dengan obrolan Maria dan Vanes, namun dia memilih diam tidak ada hak untuk mencampuri urusan mereka.
"Saya tidak papa Vanes dan Rama tidak bersama, saya hanya ingin mereka berhubungan baik selayaknya keluarga, di umur saya yang tak lagi muda ini saya ingin keluarga saya bahagia, dan bisa hidup selayaknya manusia tidak ada ancaman, Aman dan damai"Jawab Maria dengan senyum tipis terukir di bibirnya merahnya, sebuah harapan yang sangat sederhana tapi sulit untuk diwujudkan bagi sebagian orang.
.
__ADS_1
.
.
.
Rumah sakit Artanegara.
Di depan ruangan Rama kini Anton mengobrol dengan keluarga Xelo dan juga Exel, mereka membahas kasus yang menimpa salah satu anggota keluarganya itu, keluarga maxton dan Hartono mengutuk keras dalang di balik penculikan ini, dia tak apa dengan Exel dan Xelo yang sedang kritis, tapi mereka tidak terima melihat siksaan yang di berikan kepada Rama.
Siksaan di luar batas wajar, yang bisa membuat trauma mendalam bagi korban nya, dan itu sudah terjadi kepada putra mahkota Wijaya itu, keluarga maxton dan Hartono pun juga pamit untuk membawa Xelo dan Exel untuk berobat di luar negeri.
Anton pun mempersilahkan dan berjanji akan mengusut tuntas kasus ini, meskipun rumah sakit Artanegara menjadi rumah sakit terlengkap, namun teknologi mereka masih ketinggalan jauh dibanding rumah sakit mereka yang berada di Singapura, dan atas perintah Maria Nino menggratiskan biaya rumah sakit Exel dan Xelo, di dalam negeri maupun di Singapura nanti.
Awal nya maxton dan Hartono menolak, namun Anton memaksa bahwa ini perintah dari Maria, membuat mereka mau tidak mau menerima nya, dan berterima kasih.
"Hay nak, apakah kamu sudah mulai berkerja hari ini?"Tanya Anton ketika melihat cara jalan Nino yang masih pincang.
"Sudah om, saya akan memindahkan ruangan saya di dalam kamar inap Rama, agar waktu saya tidak terbuang dengan sia-sia "Jelas Nino dengan senyum membuat Anton terharu.
"Terimakasih sudah begitu baik dengan adik kamu, walaupun terkadang dia begitu jahat tapi percayalah di dalam hatinya, dia tak mau orang yang dia sayangi di sakiti "Ucap Anton dengan menepuk pelan pundak Nino dengan bangga, Anton begitu dekat dengan keponakannya itu dari kecil dia lah yang mengurus Nino dengan sang istri Maria, hingga Nino sudah seperti kakak kandung Rama sendiri.
"Saya tau betul bagaimana sikap Rama, dari kecil dia di didik langsung oleh kakek hingga membuat Rama menjadi kuat seperti sekarang, saya juga yakin dia akan dengan mudah melewati semua ini, om tenang saja kami akan berusaha sekuat tenaga untuk kesembuhan nya"
__ADS_1
.
.
.
.
.
Berbeda dengan yang lain, kini Divan nampak senang bermain di taman dengan di kelilingi tujuh pengawal, para anak-anak nampak takut dengan kehadiran pria berbadan kekar itu, membuat mereka memilih menjauh hingga suasana taman menjadi sangat sepi, sehingga Divan bisa bermain tanpa ada gangguan.
"Om-om mau itu boleh?"Tanya Divan dengan menunjuk pedagang mainan di pinggir jalan, membuat para pengawal menengok.
"Boleh, Divan mau beli apa?"Tanya salah satu pengawal dengan menundukkan tubuhnya, membuat tinggi mereka sejajar hingga Divan dengan mudah membisikkan sesuatu ke padanya.
Pengawal itu pun menengok ke sebelah kanan, ada seorang wanita bersama dengan pria muda yang pengawal itu sendiri tak tau siapa dia, mereka berdua nampak seperti ibu dan anak yang tengah menikmati suasana kota di siang hari.
Divan pun berjalan mendekat ke arah dua orang itu, diikuti dengan para pengawal yang mengelilinginya, pria dan wanita itu nampak terkejut melihat orang asing yang mengelilinginya, namun di detik kemudian mereka malah di bikin penasaran, ketika Divan ada di depan mereka dengan senyum yang menggemaskan.
"Divan kok ada disini, sama siapa?"Tanya Dito terkejut melihat sang anak.
"Mau beli mainan papa, Ivan mau jalan dulu yaah mau bolong - bolong, nih uang Ivan banyak habis di kasih sama papa, halus habis satu hali loh jadi bingung mau gimana, emm Ivan masih papa sepuluh lembal"Ucap Divan dengan imutnya menyerahkan uang satu juta, dan pergi begitu saja.
__ADS_1
bersambung.........m
Please coment and like dong