
Mansion keluarga Wijaya.
Tengah malam yang sunyi dan penuh dengan kegelapan, sang tuan muda nampak gelisah sulit untuk sekedar memejamkan mata, dirinya memikirkan wanita yang sangat dia benci namun berubah menjadi wanita yang paling dia sayangi sekarang, benar kata pepatah jangan terlalu benci kepada seseorang apalagi itu pada lawan jenis, karena rasa benci yang berlebihan akan berbalik menjadi rasa sayang.
Entahlah Rama begitu sakit hati ketika mengetahui Vanes memiliki hubungan dengan salah petinggi penegak hukum itu, dia tak percaya ibu dari anaknya itu dengan tega menghancurkan rumah tangga orang lain.
"Tuhan gue benci dengan semua ini" Ucap Rama dengan pelan mencoba mengeluarkan beban pikiran.
Dia begitu bingung dengan isi hati dan otaknya, dia tak bisa melupakan kejadian paling menyakitkan dalam hidupnya, yang bahkan rasa sakit itu masih dia derita hingga saat ini, membuat dia begitu tersiksa atas luka fisik dan juga batin yang dia terima.
Jangankan bertemu membayangkan saja dia bisa mendadak histeris, mengingat dengan jelas kejadian yang terus berputar di memori otaknya.
Dia bisa saja memberikan kesaksian kepada sang mama, jika Vanes lah dalang dari semua ini namun apa daya dia tak mampu, dia tak mampu melihat ibu dari anaknya itu untuk sekedar mendekam di balik jeruji besi.
Dia tak apa dibenci dan dimaki oleh kedua sahabatnya, yang rela berkorban walaupun tetap kalah karena sejatinya Rama lah yang membuat Xelo dan Exel terkapar, Rama menghalangi Xelo dan Exel yang akan menghajar habis Vanesa saat itu, dan berkat kebodohan sang tuan muda, xelo dan Exel berhasil dilumpuhkan dan dihajar Habis-habisan dalam keadaan sudah tak sadarkan diri, sungguh tindakan yang pengecut.
Dan barulah puluhan preman kelas teri itu membantai Rama yang mengangkat kedua tangan nya, tanda menyerah dan tak akan melakukan perlawanan.
Hingga dia harus dipaksa menjajakan tubuh nya kepada puluhan wanita, dan melihat betapa bahagianya Vanes saat melihat dan mendengar rintihan kesakitan yang dia alami.
Rama juga mengingat dengan jelas ketika Vanes memerintah para pria berbadan besar itu melakukan **** menyimpang kepadanya, membuat nya merasakan sakit yang sangat luar biasa harus melayani para pria itu dengan sangat kasar.
"Bahkan ketika apa yang kamu lakukan kepada ku, gue tak sedikitpun merasa dendam beda sekali dengan pertemuan pertama kita, yang sangat mencekam dan penuh dengan suara ******* " Ucap Rama dari awalnya penuh dengan kebencian menjadi senyum kebahagiaan.
__ADS_1
"Aku akan memberikan mu sedikit pelajaran, agar kamu bisa sedikit menghargai apa itu yang namanya cinta"
"Cinta yang begitu dalam, sehingga menutupi seluruh luka yang kamu berikan"
.
.
.
.
.
.
Di sebuah kamar, terlihat dua pasangan manusia sedang melakukan pergulatan panas, dengan penuh keluh dan suara ******* menggambarkan betapa menikmati nya kedua pasangan itu.
Beberapa gaya telah mereka lakukan, hingga sampailah pada waktu dimana sang pria telah sampai di puncak permainan, tubuhnya terguling lemas membuat sang wanita tersenyum, bisa membuat pasangannya puas hingga lemas tak berdaya.
Pria itu tertidur dengan pulas nya setelah hampir setengah jam melakukan olah raga malam, sang wanita segera beranjak dari tidurnya untuk membersihkan tubuh dari lengket nya keringat yang telah bercampur satu sama lain.
"Huf, tak senikmat goyangan Rama tapi lumayan daripada tidak sama sekali" Ucap perempuan itu dengan menyentuh daerah ke wanitanya, membayangkan betapa nikmatnya senjata sang tuan muda masuk dan keluar dari sarang, dan memuntahkan cairan hangat yang membuat stamina tubuhnya meningkat.
__ADS_1
wanita itu pun telah selesai membersihkan diri dan bersiap untuk keluar, karena ada seseorang lagi yang akan dia temui, dan semoga saja dia tak menginginkan tubuhnya, yang sudah remuk redam setelah bergulat kenikmatan.
Dengan cepat langkah kaki itu melangkah menuju loby apartemen, Dimana dua orang pria telah menunggu dengan sangat sabar.
"Maaf sedikit telat, ada sedikit problem" Ucap wanita itu mendudukkan tubuhnya di pangkuan salah satu pria, membuat sang pria dengan cepat melingkarkan tangannya di pinggang sang wanita.
"Apa kamu harus menidurkan Harmoko terlebih dahulu hemm?" Tanya pria itu dengan mencium pipi wanitanya.
"Begitulah, aku tak bisa berlari darinya bagaimanapun kita masih membutuhkan nya bukan?" Jawab wanita itu dengan sedikit menekuk wajah.
"Tenanglah kita pasti menang melawan sang tuan muda itu, asalkan kamu mau menuruti apa yang kita mau" Ucap pria yang ada di depan mulai mendekat dan merem*s dua gundukan kenyal.
"Harmoko sudah tertidur, tapi kami belom apa kamu siap untuk malam ini?" Tanya pria itu semakin merem*s gunung Mahameru , membuat sang wanita mengerang kenikmatan.
salah satu pria itu mengangkat tubuh wanita dan membawa ke dalam mobil, dia memperlakukan wanitanya bak seorang ratu, membuat sang wanita tersanjung dan terbuai dengan kebahagiaan.
Tak butuh waktu lama, mobil mereka telah sampai di sebuah rumah dimana mobil plat merah berjajar rapi di parkiran, menandakan banyak orang penting ada di dalam rumah itu.
"Apa aku harus melayani semua nya?" Tanya wanita itu dengan sinis melihat ke arah dua pria muda yang tadi menjemput nya.
"Yaa, para burung itu akan terbangun ketika melihat tubuh indah mu, sesuai dengan keinginan mu bukan aku cuman menjalankan, dan satu lagi mereka bisa menjadi senjata kita untuk melawan tuan muda, dengan mereka dan Harmoko bergabung aku yakin sedikit kemungkinan untuk kalah" Ucap pria itu membuat sang wanita teringat dengan fantasi liar nya.
Dengan cepat dia menanggal kan seluruh pakaian, dan berlari masuk kedalam dimana para penjabat negara berkumpul, suasana seketika riuh dengan kehadiran wanita membuat para pria seperti kegerahan dan membuang seluruh kain yang melekat di tubuhnya.
__ADS_1
"Kita mulai pesta malam ini nona Vanesa"
Jangan lupa like coment and vote