My Love My Dokter

My Love My Dokter
Ulah Exel dan Xelo


__ADS_3

Sore menjelang malam yang sejuk ditemani dengan suara rintihan hujan, membuat semua orang merasa nyaman dan tenang, di sebuah kamar terlihat seorang pria tengah menemani sang anak tidur, pria itu menepuk dengan pelan pantat sang bocah agar nyenyak mengarungi mimpi.


Jendela besar yang awal nya tertutup gorden sengaja dia buka, menampilkan pemandangan persawahan hijau menambah kesan nyaman sore ini.


Tok tok tok.


Keheningan sedikit terganggu dengan suara ketukan dari balik pintu, membuat pria itu dengan pelan memindahkan tangan sang anak yang memeluk tubuhnya, dan bangkit membukakan pintu.


"Iya?"


"Divan udah tidur, tadi Tante Maria telfon jika Axel dan Xelo sudah ada di mansion, dan Tante juga meminta kita untuk ke sana" Ucap Risa kepada Nino setelah menerima telfon dari Maria.


"Kita ke sana besok pagi saja, lagian Divan sudah tidur kasian jika harus di bangunin, entar aku yang izin ke Tante"Ucap Nino di angguki oleh Risa.


"Makan malam dulu yuk, udah siap tuh"Ucap Risa mengajak Nino untuk makan malam bersama.


Nino menyetujui dan merapikan selimut Divan sebelum dia menuju ruang makan, ruang makan yang awalnya hanya di isi tiga orang, kini nampak penuh dengan lima pengawal ditambah tiga orang pemilik rumah.


Menu makan malam hari ini, Nasi goreng, ayam goreng, telur, sama rendang, membuat selera makan naik dengan pesat hanya dengan melihatnya.


Risa pun melayani Nino dengan telaten membuat pria itu tersipu, entahlah dia merasa sangat istimewa ketika dilayani oleh wanita yang dia sayangi.


Makan malam berjalan dengan lancar dan juga seru, Nino bertanya kepada para pengawal Rama itu, tentang kehidupan dan pergaulan sang adik .


Pengawal pun memberikan penjelasan dengan sejujurnya, dari Rama yang tak banyak bergaul hingga hubungan Rama dan Vanes, yang terjalin cukup lama hingga Vanes mengandung baby Natan.


Salah satu pengawal juga lapor, tentang sikap Vanes yang sebenarnya jauh berbeda dengan apa yang Maria ketahui, Nino pun sedikit geram dengan informasi yang baru saja dia dapatkan.

__ADS_1


Dia langsung menaruh curiga, kepada wanita yang papa nya Anggap sebagai anak kandung nya sendiri, otak kecil nya pun seketika teringat jika Rama lah dibalik kematian Puput.


"Beritahu citak, suruh dia selidiki Vanes dan pantau wanita licik itu" perintah Nino mendadak emosi, dia sudah muak dengan semua ini dia tidak peduli jika papa nya akan membencinya, dia juga sudah siap jika sang papa mendapatkan hukuman jika dia terbukti ikut adil dalam kasus ini.


"Siap akan segera kami laksanakan tuan" Jawab pengawal langsung menghubungi bos nya itu.


Setelah acara makan malam selesai, Nino memutuskan untuk kembali ke kamar, otaknya yang lagi berantakan hanya butuh ketenangan dengan memeluk Divan, yang masih tertidur dengan nyenyak nya.


Hati Nino semakin sakit, ketika teringat sang papa tidak sekalipun menjenguk Rama hingga saat ini, membuat dia semakin curiga jika apa yang di curigai oleh Maria dan citak benar, jika dalang di belakang kasus Rama iyalah sang papa.


"Mah Nino kangen banget sama mamah, Nino pingin dipeluk mah Nino butuh mamah" gumam Nino dengan menatap kosong ke arah jendela kaca, air mata nya pun mulai menetes membasahi pipi Divan yang tak sedikitpun terganggu.


"Cup cup Ivan ental bagi mama Ivan buat kamu, jangan nangis Ivan endak suka"Ucap Divan langsung membuat Nino tersadar dan menghapus air mata, dia tak mau terlihat lemah di depan Risa dan Divan.


Namun sayang Divan hanya mengigo, Nino pun Baru sadar jika air mata membasahi wajah sang bocah, membuat dia tertawa melihat wajah imut itu seperti tersiram air.


Cup


"Papa janji gak nangis lagi"


Mansion keluarga Wijaya.


"Dih gobl*kkkkkkkkkkkkk"Teriak Xelo dan Exel dengan menyerang Rama dengan kedua bantal.


Rama pun tak bisa menghindar karena dia belum bisa bergerak efek robek di bagian pantat, membuat dia hanya pasrah dan melindungi kepalanya dengan tangan.


"Gue udah ngomong tuh cewek enggak bener, masih aja Lo nikmatin lobang nya, emang tol*l"

__ADS_1


Brukkkkk


Satu pukulan bantal mendarat dengan keras di kepala Rama, lagi-lagi pria itu hanya bisa diam dan menerima dengan ikhlas amukan kedua sahabatnya itu.


Srakkkkkkkk


"Kalian mau ngapain?"Tanya Rama panik ketika Xelo dan Exel melucuti celana nya.


Kedua pria itu melihat dengan jelas bagaimana keadaan burung beo milik Rama, burung yang besar dan panjang itu harus menerima kenyataan di dalam balutan perban.


"Wih gede juga yaaa xel" Ucap Xelo dengan menoel-Noel burung itu hingga dia membesar dan memanjang.


"Anjrittt burung Lo baper Ram, wih tambah gede" Ucap Exel nampak kagum melihat bagian tubuh Rama itu berdiri dengan tegak.


Berbeda dengan kedua temannya, Rama nampak panik mengeluarkan keringat dingin, nafasnya tersengal-sengal sulit untuk bernafas.


"Jangan, jangan sakiti gue jangan!!!!!!!!!" teriak Rama dengan histeris membuat Xelo dan Exel yang sedang asik bermain burung terkejut.


Rama pun semakin histeris ketika melihat para pengawal masuk kedalam kamar nya, Maria, Anton, Alex dan Budi juga ikut masuk ke dalam mengecek apa yang telah terjadi.


Mereka semua terkejut bukan main melihat Rama di pegang dua perawat pribadi dengan erat, dengan satu dokter yang siap menyuntikan obat penenang ke dalam tubuhnya.


Di detik kemudian Rama sedikit tenang dan akhirnya terlelap dalam tidurnya, Maria pun mendekat ke arah sang putra dan melihat ada kejanggalan dengan celana Rama.


"Axel Xelo!!!!!!!!!!!!!!!!!!!"Teriak Maria menggema di seluruh kamar, membuat Xelo dan Exel segera berlari menyelamatkan diri dari amukan singa betina, yang konon sebelah dua belas dengan sang anak.


jangan lupa like coment and vote,

__ADS_1


__ADS_2