
Rumah sakit internasional Singapura.
Pagi yang begitu indah telah menyambut hari Xelo, yang kini menikmati udara segar di sebuah taman di rumah sakit, dia meminta sang kakak untuk membawa nya keluar dari ruangan.
Alex pun mengizinkan dan menemani sang adik, dia juga menggunakan momen berharga ini untuk menghabiskan waktu berdua, secara dia dan xelo sangat sibuk dengan urusan masing-masing, Alex dan Steffy yang mengurus bisnis di Inggris sedangkan Xelo memilih di Indonesia, untuk melanjutkan kuliah di tanah kelahirannya.
"Apa kamu butuh sesuatu?"Tanya Alex dengan lembut dan mendudukkan dirinya di samping sang adik.
"Tidak aku hanya ingin menikmati pagi Disini, makasih yaa kak sudah mau menemani"Jawab Xelo berubah menjadi melow, entahlah perlakuan Alex kepadanya sangatlah mirip dengan sang papa, membuat ingatan nya kembali teringat kepada sosok pria paling mereka sayangi itu.
"Apa pun akan Kakak lakukan untuk mu, kakak begitu Begitu bersalah ketika melihat kamu terbujur lemas tanpa tenaga, kakak juga merasa gagal mengemban tugas dari papa" Jawab Alex yang sudah Xelo duga, bahwa sang kakak akan mengatakan ucapan bersalah yang sudah dia ucapkan entah ke berapa Kali, ketika dia sakit ataupun terluka.
Di tengah obrolan Xelo dan Alex, terlihat satu orang pasien dengan kursi roda sedang mendekat, dan benar saja dia berhenti tepat di sebelah Xelo duduk di kursi rodanya.
"Pagi" Sapa pasien itu membuat Xelo dan Alex menoleh dan baru menyadari ada rombongan lain di sebelahnya.
"Weh, apakah kamu baik-baik xel" Sapa Xelo melihat sang sahabat ada di sampingnya, kedua nya pun berpelukan dan saling mengusap punggung masih-masing.
Meskipun mereka berada di satu rumah sakit, tetapi mereka tak saling bertukar kabar satu sama lain, keluarga lebih memilih fokus ke anak mereka masing-masing.
"Baik bro, Hay bang Alex pagi" ucap Axel dibalas anggukan oleh Alex.
"Lo udah denger tentang Rama belom?"Tanya Xelo dengan sangat hati-hati, dia takut sang sahabat belum mengetahui dan malah membuat beban pikiran untuknya.
"Aku kesini untuk membahas itu, aku tak habis pikir dengan Vanesa bagaimana bisa dia melakukan kejahatan seperti itu, Rama memberikan kasih sayang tulus kepadanya, tapi balasan nya sangat membanggakan" Ucap Exel dengan menggebu-gebu.
Sejak melihat kiriman video saat Rama di evakuasi, daerahnya seketika mendidih dan ingin memisahkan kepala Vanesa senang lehernya, tapi sayang dia masih belum pulih dan menunggu sedikit lagi untuk membalas.
"Aku sudah memberitahukan keluarga Wijaya, jika Xelo ingin bertemu dengan tuan Anton dan nyonya maria, dan aku harap kamu bisa ikut menjelaskan, Rama masih trauma dan tak bisa memberikan informasi, dan satu lagi otak yang kalian curigai sekarang ada di dalam keluarga Wijaya, dia bisa saja tau dan menggagalkan rencana kita, dan aku harap kita harus lebih berhati-hati dengan wanita itu " jelas Alex dengan panjang membuat Xelo dan Exel mengangguk kan kepala tanda mengerti.
__ADS_1
Apa yang Alex katakan memang benar, mereka harus berhati-hati dengan Vanes, orang sekelas Rama yang notabenenya bukan manusia seutuhnya bisa kalah, apalagi dirinya yang hanya rempahan kerupuk, yang sewaktu-waktu bisa dihilangkan.
"Kita jangan terlalu fokus ke Rama, kita juga harus fokus ke diri kita sendiri dulu, tidak bisa di pungkiri kalau nyawa kita sedang dalam ancaman mengingat kita sebagai saksi kunci" Ucap Xelo sebelum kembali ke kamar masing-masing.
Dan apa yang dikatakan Xelo benar terjadi, ada satu orang nampak mengamati mereka dari jauh, dia tak berani mendekat ketika para pengawal nampak dengan ketat menjaga tuanya.
.
.
.
.
.
Mansion keluarga Wijaya.
Rama pun sudah sedikit membaik, dia sudah tak begitu histeris dan mulai berinteraksi, walaupun itu cuman dia lakukan dengan Divan sang bocah imut, yang dengan santainya memainkan game di handphone Rama, tanpa peduli dengan teguran sang papa.
"Divan nanti ikut papa yaa"Ucap Nino kepada sang anak, Divan pun dengan cepat menoleh kan kepalanya dengan antusias.
"Kemana?" Tanya Divan dengan sok dewasa, namun masih dengan ekspresi imut andalan nya.
"Ada deh surprise buat mama, Divan dandan yang ganteng ok"Jawab Nino semakin membuat sang bocah penasaran dan juga antusias.
"Boleh tapi Ivan endak Dadan kan Ivan dah handsome, iya kan uncle"Ucap Divan dengan Coll, membuat Rama dan Nino tertawa dengan tingkah narsis Divan, rupanya didikan Rama, Exel dan Xelo berhasil Kali ini.
"Iyaa papa turun dulu habis ini kita keluar" Ucap Nino sebelum pergi meninggalkan dua pria itu.
__ADS_1
Dibawah Risa nampak sibuk dengan laptop di depannya, entah apa yang dia lakukan sehingga dia nampak serius dan tak menyadari ada Nino di depannya.
Nino pun tak ingin mengganggu dan memilih meminum kopi dan roti miliknya, namun di detik berikutnya dia merasa bosan dan berdehem, agar Risa menoleh kearahnya.
"Astaga sejak kapan kamu disini?" Tanya Risa terkejut melihat Nino, yang dengan santai duduk di depannya dengan menikmati segelas kopi .
"Sejak kopi ini panas, hingga dingin seperti es"Jawab Nino dengan kesal membuat Risa terkekeh.
"Apa yang kamu lakukan, serius banget hingga tak menyadari ada aku disini?"Tanya Nino dengan penasaran.
"Aku sedang meninjau beberapa laporan, ada dua costumers ingin men fraincise"Jawab Risa kembali fokus ke pekerjaan.
"Ohh yaa jangan lupa kita akan ada acara reuni nanti malam"Ucap Nino mengingatkan dan betul saja Risa langsung terkejut, raut wajahnya seketika panik.
"Aku akan persiapkan semuanya, kamu tidak usah khawatir" Ucap Nino membuat Risa sedikit lebih lega.
"Apa kamu akan ikut?"
"Tentu aku dan Divan akan ikut, kata teman mu semua nya akan mengajak keluarga bukan, dan juga akan tak akan membiarkan kamu datang sendirian"Jawab Nino dengan senyum.
Nino pun berpamitan untuk pergi ke kantor sebentar dengan mengajak Divan, Risa pun mengiyakan Tanpa curiga dengan apa yang akan dua pria paling dia sayangi itu lakukan.
Nino memberhentikan mobilnya di sebuah butik, dimana gaun-gaun mewah di pamerkan dengan rapi, dia pun turun dari mobil dan membawa Divan dalam gendongan nya.
"Wow banyak banget baju nya"Ucap Divan dengan kagum melihat baju-baju mahal itu berjajar rapi.
Nino langsung menuju kasir untuk mengambil barang yang telah dia pesan, dia membeli dua steel jas untuk dia dan Divan, dan juga satu gaun untuk sang bintang utama, dia akan membuat seluruh teman Risa tau bahwa dia akan menjadi istri dari pria tampan dan kaya raya.
bersambung............
__ADS_1
Mohon maaf jika telah up, draft yang sudah saya siapkan hilang bersama dengan akun lama saya, masih dalam usaha pengembalian semoga bisa kembali, kalau enggak bisa juga udah gak tau mau gimana.