My Love My Dokter

My Love My Dokter
Trauma


__ADS_3

Rumah sakit Artanegara.


Di rumah sakit paling elit itu nampak sedikit lebih ramai dipenuhi para ajudan, tamu yang akan masuk pun akan diperiksa terlebih dahulu, takut hal-hal yang tak diinginkan terjadi lagi.


Apalagi di rumah sakit ini sedang merawat pewaris tahta perusahaan terbesar dan berpengaruh di Asia, Rama putra Wijaya sekaligus adik dari pemilik rumah sakit.


Pengawalan semakin bertambah ketika kedatangan dua pemimpin perusahaan, Steffy maxton, owner maxton group di dampingi oleh Alex maxton sang putra pertama, mereka datang setelah beberapa saat yang lalu mendarat di tanah air.


Tak berselang beberapa lama, Budi Hartono CEO Hartono group datang di dampingi oleh sang istri Rani Hartono, untuk melihat keadaan pewaris satu-satunya keluarga Hartono.


Di sebuah ruangan VVIP dengan batas kaca, Maria dan Anton tak bosan dan lelah memandangi sang putra, yang kini hanya bisa terbaring dengan mata terpejam.


Sebetulnya Rama sudah beberapa kali tersadar, namun dia langsung menjerit dan histeris tanpa sebab membuat dokter mengikat tubuh Rama, dan tak mengizinkan kelurga untuk menjenguk dari dekat, dokter pun juga berkoordinasi langsung dengan Nino, sebagai pemilik dan juga dokter utama di rumah sakit ini.


"Aku merasa bersalah atas kejadian ini"Ucap Nino dengan menatap kosong ke arah Maria dan Anton, Nino tak tega melihat sosok yang sudah dia anggap orang tua itu bersedih, andaikan bisa memilih dia rela jika harus bertukar dengan Rama.


Apalagi setelah melihat kondisi Rama saat pertama di selamatkan, dia begitu shock melihat tindakan yang begitu keji dan menjijikan, membuat dia mengutuk keras pelaku utama yang berhasil kabur, walaupun bukti kuat sedang mengarah ke arah Richard sang ayah kandungnya.


"Ini semua terjadi diluar kendali kita Nin, mungkin Tuhan mencoba menegur Rama dengan cobaan ini" Ucap Risa dengan menarik kepala Nino untuk bersandar ke bahunya.


"Tuhan tidak adil memberikan cobaan yang begitu berat nya, setelah ini hari-hari akan semakin menyakitkan untuk Rama, luka parah yang dia dapatkan mungkin bisa sembuh walaupun dalam waktu lama, tapi luka batin tidak mudah untuk di sembuhkan "ucap Nino tak terasa air mata menetes dari sumbernya, meskipun beberapa hari yang lalu dia sempat bersitegang dengan Rama, bahkan dia harus dirawat di rumah sakit atas ulah sepupunya itu.


Namun Nino tidak menaruh dendam, rasa sayang nya kepada sosok adik yang selalu melindungi sedari kecil, sosok bocah bar-bar yang tak pernah kalah dalam hal apa pun, tetapi dia rela mengalah ketika berhadapan dengan Nino, agar sang kaka bisa bahagia dan dia pun juga ikut bahagia.

__ADS_1


Sebagai dokter, Nino sudah mendiagnosis apa yang telah Rama alami, dia menduga Rama mengalami trauma berat, dan bisa jadi akan berpengaruh dengan kondisi kejiwaannya.


Hal itu sudah di buktikan saat Rama tersadar, pria itu langsung histeris tanpa sebab dan mencoba melarikan diri, untung saja kondisi tubuhnya masih lemas, kalau tidak sudah dipastikan dia akan berlari keluar.


Melihat sang papa bersedih, Divan pun juga ikut bersedih bocah itu nampak memeluk sang papa dan menenggelamkan wajahnya di dada bidang itu.


Tak beberapa lama, Maria dan Anton berjalan menghampiri tempat Risa dan Nino duduk, dan mendudukkan tubuhnya dia kursi sofa yang telah di sediakan.


"Lihatlah betapa nyenyak nya dia tidur" ucap Maria melihat bayi mungil yang berada di gendongannya tertidur dengan pulas nya.


Semua pun menengok ke arah baby Natan, memang benar bayi itu sedang tertidur dengan nyenyak nya, bahkan ketika Maria dengan gemas menyentuh pipi chubby itu, Natan tak sedikitpun merasa terganggu dan tetap meneruskan tidurnya.


"Dia mirip sekali dengan Rama saat kecil, hanya saja mata biru itu yang membedakan"Tambah Nino menyadari bahwa Natan sangat mirip sang sepupu saat masih kecil.


"Tapi sayang kebahagiaan ini berbalut dengan kesedihan, membuat Tante bingung harus bersyukur atau tidak" Ucap Maria lagi-lagi meneteskan air mata.


Obrolan mereka terpaksa harus berhenti ketika Alex dan Steffy maxton datang menemui mereka, sama seperti Maria ibu dari Xelo juga menangis melihat sang putra sedang berjuang mempertahankan nyawanya.


"saya mohon dan meminta anda untuk tidak tinggal diam, Kami tau dan yakin dengan kekuatan Wijaya yang tiada tanding, untuk mengusut tuntas kejahatan ini"Ucap Steffy kepada Maria, dua perempuan kaya itu tidak begitu akrab namun saling tahu dan mengenal, hingga membuat Steffy tak sungkan untuk meminta bantuan Maria.


"Kami sudah membentuk tim, dan telah sudah dipastikan semua yang terlibat penganiayaan Axel, Xelo dan Rama sudah mendapatkan hukuman yang pas, tapi kami masih mencari otak dari semua ini" Jawab Maria membuat Steffy puas dan segera berpamitan, Karena Xelo sendiri belum tersadar dari tidur panjangnya.


.

__ADS_1


.


.


.


Hari sudah beranjak siang, membuat hawa panas mulai menyerang dan menusuk kedalam kulit, dari luar terlihat seorang wanita berjalan dengan sang anak, dengan kantong plastik memenuhi tangan kirinya.


"Makan dulu"Ucap Risa dengan membukakan satu bungkus nasi Padang untuk Nino, sedangkan Divan bocah itu tengah asik menjilat permen lollipop jumbo, yang dia sendiri tak tau kapan akan Habis.


Nino pun memakannya dengan pelan lagi-lagi dia teringat Rama, yang sangat Suka dengan makanan khas Padang itu.


"Sebaiknya kamu dan Divan pulang terlebih dahulu ke mansion, kondisi belum sepenuhnya aman sang pelaku utama berhasil kabur, aku takut dia akan berbuat sesuatu lagi"Pinta Nino kepada sang kekasih demi keselamatan Risa dan juga Divan, dia juga sudah meminta orang untuk mengurus bisnis yang sedang Risa kerjakan, agar wanita itu bisa tenang tanpa memikirkan pekerjaan.


"Iya tadi juga sebelumnya Tante maria menyarankan begitu kepada bude" jawab Risa menyetujui rencana Nino, kalau itu menyangkut nyawa mereka Risa akan setuju saja, daripada nyawa melayang.


Rama and the geng yang sangat ahli beladiri saja kalah, apalagi dirinya yang tidak bisa apa-apa selain ngomel dan memarahi Divan.


Setelah selesai makan di kantin, mereka memutuskan kembali ke ruangan Rama yang dijaga super ketat, Nino nampak mendekat dan mengelus puncak kepala sang sepupu.


"Aku yakin kamu bisa melewati ini semua, buktikan kalau kamu mampu untuk bertahan dan menghancurkan semua musuh mu, ingat Ram masih banyak orang yang sangat sayang kepadamu, jadi aku mohon bertahan lah untuk kita" Ucap Nino kepada Rama yang masih tak sadarkan diri, tetapi Nino yakin Rama mendengarkan nya meskipun dalam keadaan tertidur, efek obat penenang yang di suntikan sang dokter.


Jangan lupa untuk like coment and favorit

__ADS_1


__ADS_2