My Love My Dokter

My Love My Dokter
Curhat Divan


__ADS_3

Ruang mediasi pengadilan agama.


"Apakah saudara Dito yakin menggugat cerai saudari ayu, saya merasa saudari ayu masih begitu sangat menyayangi anda, inget lah saudara Dito bahwa Allah paling membenci perceraian, perbaikilah kesalahan istrimu dan bimbinglah dia agar berada di jalan yang benar" Ucap hakim menasehati Dito agar pria itu tak salah langkah.


Ayu nampak sedikit mengulas senyum, merasa ada sedikit harapan buat pernikahan nya, dia berharap hubungan nya bersama Dito kembali seperti sediakala, penuh dengan kehangatan dan kebahagiaan menyelimuti setiap harinya, namun semua itu berubah ketika Sang mantan kembali ke tanah air, namun dia juga tak begitu risau jika harus bercerai karena ada satu pria yang dengan tangan terbuka menerima nya.


Berbeda dengan ayu, Dito tak berfikir terlalu jauh dan terbuai dengan tipu muslihat sang hakim, dia sudah berfikir jika hubungan nya dengan ayu sudah salah sejak awal, dan dia merasa menjadi pria paling gagal di dunia, gagal sebagai suami dan gagal sebagai seorang ayah.


"Saya sudah yakin dan mantap untuk bercerai, dari awal hubungan kita sudah salah ketika kami berdua mengkhianati kedua pasangan kita, jujur saya tak mencintai istri saya ayu saat itu saya emosi, kesepian dan kesal karena mantan istri saya saudari Risa pergi banting tulang ke luar negeri, dan oleh kerena itu saya yakin dan mantap untuk bercerai untuk mengakhiri hubungan ini".


.


.


.


.


Mansion keluarga Wijaya.

__ADS_1


Siang hari yang begitu terik Axel dan Xelo mengajak Rama keliling taman belakang, Xelo dengan senang hati mendorong kursi roda Rama dengan beberapakali memberikan kata-kata motivasi, sedangkan Axel dia menggendong Divan yang nampak anteng menyimak obrolan Rama dan Xelo.


"Sumpah Lo tuh kayak orang jompo tau gak, kencing gak bisa, makan di suapin, berak pun minta ditemenin, hadeuh padahal umur masih dua puluhan, ibarat handphone tuh Lo udah minus turun harga entar" ucap Xelo terus nye rocos tanpa henti yang hanya dibalas dengan tatapan tajam.


Axel dan Divan yang sedari tadi mendengar pembicaraan Xelo dan Rama, hanya bisa tertawa dalam diam mereka tak mau ikut campur dalam urusan dia pria absurd itu.


Setelah berjalan cukup jauh, mereka berhenti di sebuah pohon besar yang rindang, membuat sang Surya nampak sulit untuk menembus pertahanan daun daun.


Pohon ini menjadi tempat paling bersejarah buat Rama, Exel dan Xelo, tempat dimana mereka berkumpul saat pulang sekolah, tempat mereka menghabiskan waktu masa kecil mereka.


Taman mansion yang luas di kelilingi dengan perkebunan, membuat Rama kecil sangat senang bermain sendirian disana, hingga bocah itu masuk ke pendidikan tingkat kanak-kanak, yang mempertemukan dirinya dengan Exel dan Xelo.


"Kalau waktu bisa di ulang kembali kalian mau apa?" Tanya Exel ketika melihat semua orang nampak hening dengan pemikiran masing-masing.


"Aku ingin menghabiskan waktu dengan papa lebih banyak" Jawab Xelo dengan senyum penuh arti membayang sang papa tengah tersenyum di atas langit.


"Dulu waktu kecil saat ada orang mati, papa pernah bilang jika orang itu bisa melihat kita dari atas, dan aku juga yakin sekarang papa sedang melihat ku dan tersenyum di atas sana" Ucap Xelo melambaikan tangan ke atas, seolah-olah menyapa sang papa.


Rama dan Exel mengelus pelan pundak sang sahabat, mereka tahu betul bagaimana kehilangan nya Xelo saat sang papa tiada, hingga butuh waktu lama agar pria itu bisa tersenyum seperti sedia kala.

__ADS_1


"Terkadang memikirkan apa yang tidak pasti itu membuang-buang waktu, tetapi untuk sesekali aku kira tidak masalah" ucap Rama terus mengelus pundak sang sahabat.


"Dia pasti bangga mempunyai dua anak lelaki seperti mu dan Kak Alex, pria yang baik dan tanggung jawab, pria yang sangat menjunjung tinggi harkat dan martabat seorang ibu" Tambah Exel membuat Xelo tersenyum kembali.


Dia bersyukur memiliki dua sahabat seperti Rama dan Exel, terlebih dua kepribadian mereka yang jauh berbeda, Rama yang sangat bar-bar dan tak pernah takut berbanding dengan Exel yang tegas dan sangat dewasa.


"Uncle jangan sedih, Ivan aja yang ditinggal papa gak nangis tuh padahal pingin minta gendong, nenek pelnah bilang Ivan halus sabal jika ingin bahagia, dan sekalang Ivan bahagia tuh kalena sabal" Ucap Divan dengan senyuman manisnya, terlihat jelas bagaimana bahagianya bocah itu sekarang.


Rama, Xelo dan Exel yang mendengarnya ikut terharu, di umur nya yang masih kurang dari lima tahun, bocah itu bisa berfikiran dewasa dan mencoba memahami situasi yang sulit ini.


"Apa yang nenek Divan katakan memang benar, kita harus sabar dan banyak bersyukur saat di kasih cobaan, dan sekarang terbukti kan Divan punya papa Nino yang sayang banget sama Divan, punya uncle Rama, uncle Xelo, uncle Exel ada Oma sama Opa, ada baby Natan juga, itu semua hadiah dari Tuhan karena Divan sudah sabar" Ucap Rama memberikan nasehat untuk sang keponakan yang menatapnya dengan imut itu.


"Heeh bental lagi Ivan seneng banget mama sama papa nikah, uncle lama sudah sembuh ada uncle Axel sama uncle Xelo juga, yeaaaaahhhhh" Teriak Divan dengan melonjak kegirangan dan berlari di atas hamparan rumput hijau.


Exel dan Xelo ikut berlari membuat tiga pria bermain kejar-kejaran, Rama pun tersenyum bahagia melihat sahabat dan keponakannya itu.


"Andai aku bisa mengulang waktu, aku ingin mengulang kesalahan dan tak akan memperbaiki nya, kesalahan terindah iyalah penghianat mu Vanesa"


Bersambung

__ADS_1


jangan lupa like, coment and vote


__ADS_2