
Mansion keluarga Wijaya.
Malam hari di mansion sedikit tegang, pernikahan Nino dan Risa yang tak lama lagi di laksanakan terancam di undur, ketika mendapatkan teror yang terjadi terhadap Risa.
Sang calon pengantin wanita mendapatkan ancaman pembunuhan, hingga menyeret nama Divan kedalam daftar hitam jika Risa tetap nekat melanjutkan pernikahan.
Keadaan semakin di perparah dengan kondisi Nino yang juga goyah, ketika mendapatkan kabar sang papa menghilang entah kemana, pria itu semakin tertekan ketika sang calon istri dan anak mendapatkan ancaman, membuat dia stres hingga jatuh sakit.
"Rama mama harap kamu lakukan sesuatu, mama tak mau acara yang telah mama susun dengan rapi terancam bubar" Ucap Maria dengan sedikit panik kepada Rama, yang masih duduk dengan tenang di atas kursi roda.
Pria itu nampak menahan amarah dalam diam, dia sudah tau siapa yang berani mengancam salah satu anggota keluarganya, dan dia tak akan membiarkan itu terjadi.
"Acara jangan sampai di undur, kita redam masalah ini tanpa sepengetahuan siapa pun, aku sendiri yang akan membereskan tikus - tikus kecil itu" Ucap Rama menatap sesaat sang mama membuat Maria sedikit tenang, dan mengalihkan pandangannya kepada citak, yang dengan cepat menganggukkan kepala dan pergi.
Rama menoleh ke arah Exel dan Xelo memberikan isyarat jika dia ingin pergi, dengan cepat Xelo mendorong kursi yang telah menjadi bagian dari hidup sahabatnya itu.
Tiga pria itu menuju kamar Risa setelah Rama memberi tahu kemana mereka sekarang, tak butuh waktu lama Sampai lah mereka di sebuah kamar, pintu kamar yang sedikit terbuka membuat Rama, Xelo dan Exel mendengar dengan jelas pertengkaran antara Nino dan Risa.
"Kamu tuh seharusnya support, bukan malah memperkeruh keadaan seperti ini, aku tau aku salah terlalu memikirkan diri sendiri, tapi aku juga mohon"
"Please ngertiin aku, jangan gagalkan pernikahan kita" Mohon Nino dengan bersimpuh di hadapan sang wanita.
Pikiran nya begitu kalut beberapa akhir ini, dia sibuk memikirkan sang papa hingga dia menghiraukan Risa dan Divan, yang mendapat ancaman pembunuhan dan teror dari orang tak dikenal.
"Bangun, seorang pria tak pantas merendahkan dirinya di hadapan wanita" Ucap Rama tiba-tiba memasuki kamar, membuat Nino dan Risa menoleh ke sumber suara.
__ADS_1
Risa pun membantu Nino bangkit dan berdiri seperti semula, dia nampak tak enak dengan sang calon suami dan adik iparnya itu.
Nino dan Risa berdiri tepat di depan Rama yang dikawal oleh Exel dan Xelo dibelakangnya, sang taun muda itu menatap calon pengantin itu dengan tatapan susah untuk di artikan, sedangkan yang di tatap hanya bisa menundukkan kepala seolah bersalah.
"Tante Risa, gue tau seperti apa kekhawatiran Tante terhadap keselamatan Divan, bagaimana pun gue juga memiliki bayi dan pernah berada di posisi Tante sekarang" Ucap Rama dengan tegas dan serius.
"Gue akan jamin keselamatan Tante, Divan, Oma Retno bahkan seluruh keluarga Wijaya, Tante jangan khawatir gue sendiri yang akan mengamankan acara pernikahan" Janji Rama sebelum pergi tanpa berpamitan kepada Nino dan Risa.
Suasana kamar mendadak hening, meninggalkan dua pasangan manusia yang kini terhanyut dalam pikiran masing-masing, kamar yang biasanya ramai dengan celoteh Divan mendadak sunyi ketika sang bocah sedang pergi bersama kakek.
"Sekali lagi aku minta maaf" Ucap Nino yang tengah duduk di tepi ranjang, dengan menoleh ke arah Risa yang duduk di sampingnya.
"Aku juga minta maaf telah egois, seharusnya aku mengerti keadaan kamu seperti apa, aku hanya terlalu takut Divan kenapa-kenapa "Jawab Risa dengan Mata fokus ke depan.
"Apa pun yang terjadi, aku mohon tetap lah bersamaku temani ku untuk menjalani tantangan hidup di dunia ini" Ucap Nino dengan memeluk Risa dengan begitu erat, pria itu menumpahkan seluruh Air mata yang sedari tadi dia bendung, rasa yang dia sembunyikan dia luapkan sekarang tanpa malu di hadapan wanita yang paling dia sayangi.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Di sebuah tempat yang sunyi.
Di hamparan rumput hijau nan luas, kini seorang pria nampak kebingungan dengan tempat yang belum pernah dia temui maupun dia datangi itu, pria itu berjalan lurus kedepan tanpa tau arah dan tujuan.
Dia mencoba berteriak berharap ada seseorang berada di sekitarnya, namun sayang semakin dia berteriak semakin besar juga pantulan suara yang memekakkan telinga.
Dia memutuskan untuk diam dan berdoa agar ada seseorang yang bisa menemukannya, langkah kaki terus berjalan lurus namun pria itu tak menemukan tanda-tanda kehidupan.
Hingga gendang telinga nya menangkap suara rintihan, yaa dia tidak salah dia mendengar suara rintihan yang terdengar semakin keras.
Deg
Jantung nya seolah berhenti berdetak melihat jurang lava panas mendadak muncul di depannya, bola matanya seketika membulat melihat sosok wanita yang amat dia kenal tersiksa di bawah sana,
"Sayang tolong akhhhhhhhhh" Jerit wanita itu ketika melihat sang kekasih ada disana.
Namun sayang pria mendadak melangkah mundur, rasa sayang dan cintanya kepada sang kekasih seketika hilang, ditelan kobaran lava panas yang siap melahap siapa pun.
Ditengah ketegangan itu terlihat sebuah awan putih, disana ada seorang wanita nampak duduk ditemani dengan seorang pria disampingnya.
"Hay mas apa kabar, apa kamu merindukan ku aku sudah bahagia disini, lihatlah aku juga sudah menikah" Ucap wanita itu dengan senyum manis menambah aura kecantikan terpancar.
Bersambung.
__ADS_1