
Kediaman keluarga Wijaya.
Malam yang dingin ini berubah menjadi hangat, ketika seluruh keluarga berkumpul di meja untuk melaksanakan makan malam, Risa dengan sopan melayani seluruh anggota keluarga dengan mengambilkan nasi.
Suasana bertambah ramai dengan celoteh Divan yang mengobrol dengan citak, entahlah bocah itu tampak nyaman ketika semua orang memandang citak sebagai sosok menakutkan.
Divan menceritakan ketika dia bersekolah, bercerita tentang teman-temannya yang suka mendekatinya, bahkan bocah itu menceritakan jika dia ditembak oleh salah satu siswi yang jauh di atasnya, membuat Risa dan yang lain was-was dan memberikan penjelasan dan pengertian kepada bocah itu.
Divan yang sangat dengan mudah memahami pun mengiyakan, untuk bocah cerdas itu menurut dan tidak menuntut penjelasan yang lebih dalam, membuat semua nya bisa bernafas dengan lega.
Setelah selesai makan, Nino pun tak lupa membawakan makanan untuk sang sepupu, dia membawakan bubur dengan SOP ayam dengan daging super lembut, bagian belakang Rama masih terluka membuat nya sedikit tersiksa.
Nino pun berpamitan untuk ke kamar Rama, ditemani Divan yang dengan hati-hati membantu membawakan air minum dan juga obat.
"Hay uncle Divan bantuin loh, ental minta uang lagi yaaah"Teriak Divan ketika melihat Rama tengah termenung.
Rama langsung menoleh dan tersenyum melihat bocah itu membawa nampan kecil, dan tak lupa senyum lebar yang terlukis memperlihatkan gigi putih, menambah kesan gemas bagi siapa saja yang melihatnya.
"Makan dulu Ram"Ucap Nino duduk di kursi tepat samping Rama, Rama pun tak menjawab ataupun menolak, dia hanya menatap kosong ke sembarang arah.
Suapan demi suapan pun dengan lahap masuk ke dalam mulut Rama, membuat Nino sedikit senang dengan keadaan sang adik yang sedikit demi sedikit sudah membaik.
Setelah selesai makan malam, Rama pun meminum obat yang sedari tadi Divan bawa, entahlah bocah itu sangat senang cosplay menjadi pelayan, yang ramah, murah senyum and menggemaskan pastinya.
Makan malam dan minum obat telah selesai, Nino pamit untuk keluar dari kamar meninggalkan Divan yang masih ingin bersama Rama.
"Oce uncle kita mulai Divan udah bawa pesanan uncle"Ucap Divan dengan riang ketika Nino sudah menghilang ditelan pintu yang tertutup.
Di Ruang keluarga suasana yang tadinya ramai berubah sunyi, membuat Nino yang baru saja bergabung sedikit bingung, namun kebingungannya itu berubah menjadi kaget, ketika melihat Vanesa ada disana mengobrol akrab dengan Maria dan juga Anton.
"Hay Nino apa kabar ?"Sapa Vanes dengan sangat antusias ketika melihat kehadiran Nino, wanita itu pun dengan cepat beranjak dari duduk dan berjalan menghampiri Nino.
__ADS_1
"Aku kangen banget sama kamu"Ucap Vanes dengan memeluk Nino dengan erat, membuat mata Nino dan semua orang membulat.
Jelas sekali ada pancaran ketidaksukaan dari cara pandang Risa, Nino yang menyadari itu dengan cepat melepas pelukan Vanes dengan kasar, membuat wanita itu terkejut dan sedikit terhuyung.
"Tolong jaga sikap, saya masih begitu jijik dengan anak seorang pelacur seperti mu"Ucap Nino dengan pelan namun sangat menusuk bagi pendengarnya.
Vanes pun tercengang mendengar ucapan Nino, dia juga baru mengingat konflik sang mama dengan keluarga Artanegara.
"Sebaik-baik nya anda di terima disini, namun itu tak akan mampu mengubah pandangan saya kepada anda, ingat itu" Ancam Nino semakin menjadi membuat tubuh Vanes bergetar dengan hebat.
Namun tidak dengan Nino, pria itu nampak acuh dan menarik Risa untuk ikut dengannya, meninggalkan semua orang yang masih terdiam dalam pemikiran masing-masing.
"Lapor nyonya, tuan saya dapat kabar bahagia"Ucap citak dengan semangat memecah ketegangan.
"Katakan "
"Saya mendapat kabar dari Alex maxton, jika tuan muda xelo telah sadar dan berangsur-angsur pulih, dia juga mengatakan jika tuan muda xelo ingin bertemu dengan nyonya dan tuan Anton, hal ini akan menjadi angin segar bagi penyelidikan kami, karena tuan Axel dan Xelo saksi kunci yang juga berada di tempat kejadian perkara" Jelas citak dengan bersemangat membuat Anton dan Maria tersenyum bahagia.
"Aku percaya kan semua keamanan kepada kamu, kerahkan seluruh pasukan untuk bergerak tanpa batas setelah kamu menemukan bukti yang kuat" Perintah Anton dengan tegas segera di kerjakan oleh citak.
Pria berbadan tinggi kekar itu segera memberitahukan kepada para anak buahnya, dia ingin keamanan rumah sakit di perketat menjelang kedatangan orang nomor satu di Wijaya group itu,
Disisi lain ada satu orang yang nampak gelisah, dia begitu tegang mendengar obrolan kelurga Wijaya, hingga dia memutuskan untuk segera keluar meninggalkan mansion keluarga Wijaya.
.
.
.
.
__ADS_1
Ditengah keramaian jalan yang penuh diterangi sorot lampu kendaraan, Kini Risa dan Nino keluar dari mobil setelah sebelumnya sedikit ada perdebatan kecil, dua sejoli itu berdebat ketika menentukan apa makanan yang akan mereka beli.
Nino menginginkan nasi Padang, namun Risa menolak dan memilih bakso karena dia sudah sedikit kenyang, perdebatan pun di mulai hingga sudah dipastikan siapa pemenangnya.
Nino dengan muka kesalnya duduk di kursi plastik menunggu bakso pesanan nya datang, Risa yang melihat muka kesal Nino nampak menahan tawa, entahlah dia seperti Divan ketika sedang ngambek tak di belikan mainan.
"Kenapa senyum-senyum begitu?"Tanya Nino dengan sedikit kesal, malah membuat tawa Risa seketika pecah.
"Kamu tuh mirip Divan kalau sedang ngambek, persis banget malah hahahaha"Jawab Risa dengan tertawa membuat Nino tersenyum, entahlah dia begitu bahagia ketika dirinya disamakan dengan sang putra.
"Kan aku papa nya wajar mirip"Ucap Nino dengan bangga disambut tawa oleh Risa.
Tak begitu lama bakso pesanan mereka telah sampai, pelayan dengan hati-hati meletakkan mangkok di meja, dan menanyakan pesanan minum.
"Mau minum apa kak?"Tanya pelayan dengan sopan, Risa pun menoleh ke arah pelayan dan alangkah kaget nya dia melihat sosok pria itu.
"Wahyu, kamu Wahyu bukan?"Tanya Risa dengan terkejut.
"Hay Risa aku kira kamu lupa, tadinya aku mau negur tapi takut jika kamu nya lupa, apa kabar?" Tegur balik pelayan yang bernama Wahyu itu.
"Hey mana bisa aku melupakan kamu, apa kabar?"Ucap Risa beranjak dari duduknya dan berjalan mendekat menyalami Wahyu, sedangkan Nino dia hanya termenung sambil melihat interaksi mereka.
"Alhamdulillah baik, Ohh yaa kamu datang ke cara reuni kan?"Tanya Wahyu yang ternyata teman Risa semasa sekolah.
"Ohh yaa aku tidak mendekat kabar pun?"Tanya Risa terkejut pasalnya dia tak mendapatkan kabar sedikitpun.
"Loh kan undangannya jadi satu sama punya Dito"Jawab Wahyu membuat Nino seketika menatap dengan sinis, rupanya teman Risa itu belum tau kalau hubungan Risa dan Dito telah berakhir, dan Nino jadi menemukan fakta baru jika Dito dan Risa teman semasa sekolah.
"Iya aku pasti akan datang"
Bersambung.........
__ADS_1