
Seperti biasanya acara mandi berdua selalu berlangsung dengan mesra dan selalu terasa seperti pengantin baru. Apalagi Bara sering menuju tubuh Clara saat mengandung dan membesarkan hati istrinya yang merasa tidak percaya diri karena tubuhnya yang mulai membengkak.
Acara sarapan pun juga berlangsung menyenangkan apalagi Bara yang langsung menyuapi istrinya yang tengah menerima telfon dari Anna, Caca, teman-temannya juga menanggapi Lisa dan Aya yang ribut bukan main berebut ingin berbicara dengan Clara.
"Sibuk ya kamu nyonya Bara," goda Bara yang menyuapkan suapan terakhir untuk istrinya.
"Banyak yang minta dikabarin kak," ucap Clara lalu meminum teh manisnya.
Bara hanya tersenyum lalu mengambil ponsel istrinya agar acara liburan tidak makin terganggu. Bara langsung mematikan ponsel istrinya dan memberikan ponselnya yang lama tak disentuh sejak datang di Bandung.
"Cek punyaku juga dong sayang," pinta Bara lalu merangkul istrinya agar duduk bersandar di dadanya.
"Iya," jawab Clara menuruti permintaan suaminya lalu menyalakan ponsel suaminya dan membiarkan semua notifikasi masuk "Rame bener ya hapenya pak Barakah ini," sindir Clara lalu meletakkan ponsel suaminya di meja terlebih dahulu.
Tak selang lama semua notifikasi masuk, baru Clara akan mengecek 1000 panggilan tak terjawab ponsel Bara malah eror. Sembari menunggu, Bara berinisiatif untuk mencumbu istrinya.
"Cla, pengen ***** dong," pinta Bara pada istrinya.
__ADS_1
"Hah?" pekik Clara cukup terkejut mendengar permintaan suaminya.
"Aku gak ML deh. Tapi ***** ya. Sama kocokin aja," pinta Bara dengan memelas.
Clara yang awalnya ingin menolak, jadi tak sampai hati. Apalagi Clara sangat paham bagaimana nakalnya si suami bila sampai kumat.
"Yaudah buka dong," bisik Clara menggoda Bara sambil mengecup daun telinganya dan memberi tanda kepemilikannya di leher Bara lagi.
Dengan penuh semangat Bara langsung membuka daster yang dikenakan Clara dan membuangnya ke sembarang arah. Bara langsung melepaskan bra yang menutup kedua payudara indah milik istrinya yang makin terlihat sintal dan padat berisi. Tapi baru Bara mendekat untuk mencumbu payudara istrinya yang terlihat sangat nakal itu, suara dering ponsel Bara terdengar begitu nyaring dengan nama Tina tertera di layarnya.
Mau apa ya kak Tina sampe telfon suamiku pagi-pagi gini. Batin Clara lalu mengambil ponsel suaminya dan mengangkat telfon dari Tina.
***
"Yes! Tuh lo liat Rob, diangkat!" pamer Tina lalu menspeaker panggilannya.
Mana mungkin gue cuma lucky sama Bara! Ini takdir! Takdir! Batin Tina merasa jumawa.
__ADS_1
Tapi baru saja ia menspeaker panggilannya. Suara ponsel Bara yang jatuh terdengar, tak selang lama suara decapan Bara terdengar sangat jelas juga suara desah Blara yang terdengar erotis meskipun tidak terus menerus terdengar.
"Anghh Kakak jangan digigit!" terdengar suara pekikan manja dari Clara.
Robi hanya memperhatikan Tina yang terlihat sangat malu dan bergairah di saat yang bersamaan saat tak sengaja mendengar suara Bara yang sedang bercinta dengan wanita halalnya.
"Mana seratus ribu lo?" tagih Robi lalu meraih ponsel Tina dan mematikan sambungan teleponnya.
Tina benar-benar kesal, tapi ia tetap memberikan uang seratus ribu sesuai taruhannya diawal tadi.
"Lo masih yakin?" tanya Robi meremehkan Tina.
"Gue yakin. Seyakin sebelumnya," jawab Tina mantap.
Gila juga ni cewek. Dulu aja waktu kanker mau donor buat Lisa lah. Nyuruh Bara move on lah. Nah sekarang? Dasar lu buayawati. Cibir Robi dalam hati.
"Tadi cuma kebetulan aja mereka lagi gituan," ucap Tina menguatkan hatinya "Iya kan Rob," sambungnya meminta dukungan dari Robi yang hanya bisa menepuk jidat dan geleng-geleng kepala.
__ADS_1