My Perfect Husband II

My Perfect Husband II
Ch 13


__ADS_3

"Mana seratus ribu lo?" tagih Robi lalu meraih ponsel Tina dan mematikan sambungan teleponnya.


Tina benar-benar kesal, tapi ia tetap memberikan uang seratus ribu sesuai taruhannya diawal tadi.


"Lo masih yakin?" tanya Robi meremehkan Tina.


"Gue yakin. Seyakin sebelumnya," jawab Tina mantap.


Gila juga ni cewek. Dulu aja waktu kanker mau donor buat Lisa lah. Nyuruh Bara move on lah. Nah sekarang? Dasar lu buayawati. Cibir Robi dalam hati.


"Tadi cuma kebetulan aja mereka lagi gituan," ucap Tina menguatkan hatinya "Iya kan Rob," sambungnya meminta dukungan dari Robi yang hanya bisa menepuk jidat dan geleng-geleng kepala.


"Kamu bilang bisa, kebetulan, Clara yang nempel ke Bara. Tapi nyatanya apa? Mana? Gak satupun kan kamu menang?" ucap Robi yang menciutkan hati Tina.


"Tapi gue kan masih bisa deket sama keluarganya Bara!" sanggah Tina membela dirinya yang memang sudah terpojok.


"Lo dah kerumahnya bu Anna kan?" tanya Robi yang hanya dijawab dengan tatapan bertanya dari Tina "Lo liat kan gimana sayangnya Aya, Lisa, bu Anna ke Clara? Oke sekarang lo merasa jauh lebih unggul segalanya dari Clara, apalagi lo habis implan kan. Tapi asal lo tau Clara itu tulus, apa adanya. Gak banyak maksud kayak lo. Semua gampang suka sama Clara, gue yang awalnya gak suka aja jadi suka loh sama dia. Dia itu berlipat-lipat lebih menarik daripada elo!" sambung Robi blak-blakan.

__ADS_1


Tina hanya diam lalu menggeleng tak percaya.


"Dia dihitung bocah makanya dia banyak yang suka! Lagian pasti tante sama om kasih restu bukan karena suka tapi kasian sama orang bobrok kayak Clara!" maki Tina menepis kenyataan yang disampaikan Robi.


"Clara itu pemaaf, penyayang, nurut juga anaknya. Apalagi sama Bara. Dia tu peduli ke semua orang dari pembokat di rumahnya, supir, sampe OB di hotel semua pasti punya kesan baik sama Clara. Dia gak cantik. Dia biasa aja. Tapi dia kasih cucu. Kasih anak. Dan merubah Bara," bela Robi pada Clara.


"Mobil. Kita taruhan pakek mobil," ucap Tina yang tersulut emosi.


"Sorry gue go green,"


"Vila gue di Raja Ampat!" potong Tina.


"Kalo gue bisa dapetin Bara dan jadi istrinya lo jadi budak gue sepuluh tahun!" ucap Tina memutuskan taruhan Robi.


Glek! Suara Robi yang menenggak ludahnya sendiri karen merasa ngeri bila harus menjadi budak wanita bunglon macam Tina selama sepuluh tahun.


"Tap_"

__ADS_1


"Tanpa pengurangan!" ucap Tina memotong ucapan Robi yang ingin menawar taruhannya.


Oke ini mudah. Aku tinggal jagain Clara dan suaminya. Batin Robi lalu turun dari mobil Tina.


"Heh! Nanti ku buat surat perjanjian kita tadi! Biar kamu tau! Im the winner!" ucap Tina tegas dan penuh emosi.


"Go ahead. Loser," tantang Robi lalu masuk ke hotel dan melanjutkan pekerjaannya, sementara Tina pergi entah kemana.


Perfect! Musuhku tambah lagi! Tapi aku. Aku gak bakal kalah! Maki Tina dalam hati.


"Clara mati saja kamu! Bocah sialan!" maki Tina sambil berteriak dengan histeris dalam mobilnya dan memukul-mukul setir mobilnya, sebagai pelampiasan emosinya.


###


Menjelang siang Bara dan Clara sudah bersiap pulang. Clara juga hanya membeli sedikit oleh-oleh untuk Lisa dan Aya karena bingung ingin membeli apa. Bara juga malah membeli banyak kripik pedas khas Bandung.


"Mau beli kalung gak?" tawar Bara pada istrinya.

__ADS_1


"Kan dah banyak kak," tolak Clara.


"Buat babynya?" tawar Bara memaksa.


__ADS_2