
Usai makan siang di kaki lima Clara dan Bara sengaja kembali ke hotel agar bisa berbagi bakwan malangnya dengan Robi atau Bob nantinya. Itupun Bara masih sangat susah untuk ikhlas.
"Kok sepi amat ya Kak, kak Robi kok gak ada," ucap Clara sambil mengikuti suaminya yang menggandengnya.
"Iya ya, masih makan siang paling," jawab Bara lalu masuk ke ruangannya "Ku ambilkan mangkuk dulu ya," sambung Bara begitu istrinya duduk bersandar.
"Iya, sama minum juga ya sayang," pinta Clara.
"Siap bos!" jawab Bara lalu kembali dan mengecup perut Clara, baru ia pergi keluar.
Heran deh kakak lama-lama makin manja aja. Batin Clara yang geleng-geleng kepala.
Kling! Pesan masuk ke ponsel Bara.
"Bikin repot aja!" kesal Bara begitu sampai ke dapur.
●●●
"Beneran susah dia," ucap Robi yang menunjukkan chat dari Bara pada Bob.
Robi dan Bob yang tengah menikmati makan siangnya langsung terbahak-bahak dan terlihat sangat puas dengan apa yang dialami Tina.
"Sukurin lu," ucap Bob puas.
"Kamu gak kasihan?" tanya Robi lalu melanjutkan makannya.
"Gak! Lagian ini gak setimpal sama apa yang ia lakukan ke Clara," ucap Bob yang sama sekali tak merasa bersalah.
Cup~
Sebuah kecupan singkat dilayangkan Robi pada bibir Bob. Bob jelas sangat terkejut, tapi ia tak marah atau bereaksi terhadap perlakuan Robi barusan. Terlalu terkejut mungkin.
"Buruan makan," ucap Robi yang kembali menyadarkan Bob dari lamunannya karena kecupan mendadak tadi, meskipun Robi sendiri juga deg-degan dan masih belum 100% fokus.
###
Bob dan Robi saling diam sejak aksi kecup dadakan tadi hingga kembali ke hotel. Robi juga meskipun yang akhirnya mentraktir Bob. Begitu sampai hotel dan mendapat tatapan bertanya dari Bara, Robi hanya menggeleng.
"Bob, kenapa? Lu sakit?" tanya Clara yang melihat Bob tidak fokus.
"Ah, itu enggak. Ini dompetnya Tina," ucap Bob yang malah menyerahkan dompet milik Tina pada Clara.
"Loh kok bisa di kamu?" tanya Clara terkejut.
Bob dan Robi hanya diam dan menundukkan kepala.
"Kamu ambil ya?" tanya Clara lagi.
Bob hanya mengangguk pelan sambil menunduk, begitu pula dengan Robi. Bara sendiri langsung pucat, panik bila Bob akan melaporkan perbuatannya.
"Kan kasihan kak Tina nya," ucap Clara melembut.
"Habisnya dia nyebelin jahat sama kamu," ucap Bob lalu menatap Bara dan Clara bergantian.
"Jahat gimana?" tanya Clara lembut.
Bob langsung menatap tajam ke arah Bara. Clara jadi ikut-ikutan menatap suaminya karena Bob.
"Hmm jangan diulangi lagi ya," ucap Clara lalu memberikan dompet milik Tina kembali pada Bob "Balikin ke kak Tina ya," perintah Clara.
Bob hanya mengangguk pelan begitu pula dengan Robi.
"Udah makan belum? Tadi aku beliin bakwan malang loh Bob," ucap Clara mencairkan suasana lagi.
Clara gak cemburu, gak curiga. Kok bisa? Batin Robi bingung.
Syukur alhamdulillah deh Clara gak curiga. Hmm istriku emang baik. Batin Bara lega.
"Clara, aku gak mau ketemu sama Tina itu. Dia jahat sama kamu!" ucap Bob mengadu.
"Hm terus gimana dong balikinnya," ucap Clara membujuk Bob.
"Biar aku aja," ucap Bara mengajukan diri.
"Lo jalan satu langkah aja ke arah Tina gue bunuh!" bentak Robi menahan Bara lalu mengambil dompet milik Tina.
"C-Cie kak Robi," ucap Clara yang masih berusaha mencairkan suasana.
"Aku aja yang balikin, tapi bakwanku jangan dihabisin ya," ucap Bob mengalah.
"Iya," jawab Clara.
###
Sepulangnya dari hotel, Bara langsung bermanja-manja dengan istrinya sebelum Clara curiga padanya. Obrolan ringan seputar kampus dan anak menjadi topik utama. Apalagi Bara sempat menerima ajakan dari Tina untuk ngegym setelah insiden tadi siang.
"Sayang nanti aku mau ngegym boleh?" tanya Bara setelah solat maghrib bersama istrinya.
__ADS_1
"Tumben Kak," ucap Clara heran.
"Perutku gak kenceng lagi nih," ucap Bara beralibi.
"Emm padahal tadi aku mau ngajak kakak cek si adek," keluh Clara yang mulai murung.
Aduh gimana ini. Batin Bara yang tak enak hati.
Tak selang lama ponsel Bara mulai bergetar dan banyak notifikasi muncul.
Clara hanya menghela nafas. Tangannya mulai mengelus perutnya sendiri.
Ayah gak bisa temenin Dek. Batin Clara sedih.
"Nanti aku sama kak Robi sama Sofia aja," ucap Clara mengijinkan suaminya pergi.
"Maaf ya aku dah terlanjur bilang iya tadi," ucap Bara yang jadi makin tidak enak hati pada istrinya.
Kalo aja Clara tau aku pergi sama Tina, mungkin dia gak bakal gini. Batin Bara lalu membantu istrinya melepaskan mukenanya.
"Kakak gak cemburu aku sama kak Robi?" tanya Clara penasaran.
Bara hanya tersenyum lalu mengelus perut istrinya dengan lembut.
"Aku cemburuan kamu tau kan? Apalagi kamu pergi sama orang lain," ucap Bara lalu mengecup kening Clara lembut.
"Terus kok ngijinin?" tanya Clara penasaran.
"Soalnya sama Robi," jawab Bara tertahan. "Robi maho," sambung Bara sambil berbisik.
"Maho apaan?" tanya Clara bingung sambil melipat mukenanya.
"Gay, cowok sama cowok," jelas Bara sambil berbisik.
"Ah masa sih Kak! Jangan gosip deh!" ucap Clara tak percaya sambil menepuk paha Bara.
"Yaudah nanti kamu amati aja sendiri kalo gak percaya," ucap Bara lalu mengecup kening Clara.
"Jangan-jangan kakak gay juga ya?" ucap Clara yang langsung menyudutkan Bara.
"Ya enggak lah! Kalo aku maho kamu gak bakal hamil Cla! Adek mana betah!" sanggah Bara yang langsung bad mood karena tuduhan istrinya.
Clara langsung memicingkan matanya sambil menatap suaminya.
"Aku mau siap-siap," ucap Clara lalu bangun dan mulai bersiap pergi.
Ah masa sih kak Robi kayak gitu! Gak cocok amat sama kepribadiannya. Batin Clara tak percaya.
###
"Kenapa sih Ra, kok cemberut terus?" tanya Tina pada Bara yang dari tadi sit up dan melatih ototnya dengan beban.
"Gara-gara kamu aku jadi gak bisa sama Clara nih!" omel Bara pada Tina.
Deg! Omelan Bara yang dari tadi diam benar-benar menusuk hati Tina. Sesak dan cemburu karena tau Bara mementingkan Clara dan anaknya di atas segalanya. Bahkan saat Bara sedang bersamanya.
Perlahan Tina memilih untuk beristirahat dan mengirimkan foto dan rekaman suaranya pada Clara melalui email. Tentu saja Tina membuat email samaran agar tak terlacak.
"Bara, minum dulu," ucap Tina membawakan minuman isotonik pada Bara. "Kalo kamu gini aku gak hitung kencan loh!" ancam Tina karena Bara dari tadi terlihat sangat emosi.
***
Kling! Entah notifikasi yang keberapa masuk ke ponsel Clara.
"Hapemu rame ya," ucap Sofia setelah memesan ramen untuk makan malam bersama dengan Bob dan Robi juga.
"Iya, rame grup. Biarin aja," ucap Clara yang mengabaikan ponselnya dan asik bermain ludo dengan ponsel Robi bersama Bob juga Robi.
"Hmm. Iya, aku pinjam ya. Mau minta internet," ucap Sofia.
"Iya jangan yutupan ya," jawab Clara.
Kling! Email masuk ke ponsel Clara dan menunjukkan foto mesra Bara dan seorang wanita yang lebih dewasa dari Clara, Sofia yang bingung dan kaget dengan apa yang ia lihat bahkan tangannya langsung gemetar.
Robi yang kebetulan melihat tingkah aneh Sofia langsung menengok apa yang Sofia lihat. Jelas Robi juga terkejut lalu segera menutup bibirnya dengan telunjuknya mengisyaratkan agar Sofia diam, lalu Robi meraih ponsel Clara dan menghapus emailnya.
"Udah?" tanya Clara.
Duk! Sengaja Robi menendang kaki Sofia.
"Ada iklan, notifikasimu nih banyak jadi hank!" ucap Robi.
"A-Aku mau pipis dulu," pamit Sofia mendadak lalu pergi.
Clara hanya mengangguk begitu pula dengan Bob sambil melanjutkan gamenya. Tak selang lama Robi juga pamit ke toilet.
Ah masak iya kak Robi maho. Gak gak mungkin! Batin Clara.
"Elo!" ucap Bob mengingatkan giliran Clara bermain.
"Eh Bob! Masak iya kak Bara bilang Kak Robi maho. Gak mungkin lah ya," ucap Clara pada Bob yang membuat Bob cukup kaget hingga tersedak liurnya sendiri.
__ADS_1
Bob jelas bukan kaget karena Clara memberitahunya soal penyimpangan pada diri Robi. Tapi karena Clara juga tau soal rahasia Robi ini, apalagi Bob mulai dekat dengan Robi akhir-akhir ini.
"Tuh kan lo kaget!" sentak Clara sambil menggebrak meja dengan pelan "Tadi gue juga kaget waktu kak Bara cerita," sambung Clara yakin.
"I-Iya," ucap Bob sambil menganggukkan kepalanya dengan sangat canggung dan berharap agar Robi cepat datang.
"Lo percaya?" tanya Clara, Bob langsung menjawabnya dengan gelengan.
"Permisi pesanannya," ucap pelayan yang menyajikan ramen yang sudah di pesan tadi.
Clara hanya mengangguk dan tersenyum pada si pelayan. Sementara Bob hanya diam dengan wajahnya yang kebingungan dan panik.
"Udah jangan syok, nanti kita cari tau sama-sama," ucap Clara lalu mengambil sumpit.
Lah, Clara masih aja gak peka. Gue panik di bilang syok. Ya udahlah, malah bagus. Batin Bob senang dan lega lalu tersenyum dan mengangguk.
"Kak Robi sama Sofia mana ya, lama amat dah keburu laper nih," keluh Clara yang sudah tak sabar untuk menyantap ramennya.
"Biar ku cari sebentar ya," ucap Bob.
###
Bara akhirnya mulai menikmati tiap waktunya bersama Tina. Bukan hanya karena paksaan dari Tina yang mengancamnya. Tapi juga ia merasa sia-sia bila ia main api tapi tak menikmatinya sama sekali.
"Mau makan malem?" tawar Tina.
Bara yang mendengar tawaran Tina sebenarnya cukup tertarik. Tapi ia tiba-tiba teringat soal istrinya yang belum dikabarinya sama sekali.
"Aku traktir, gimana kalo makan ramen?" tawar Tina yang hanya diangguki Bara karena tak fokus.
"Ck!" decak Bara mendadak saat berjalan keluar dari tempat gym.
"Kenapa?" tanya Tina.
"Bini gue dari tadi off," jawab Bara dengan kesal .
"Lagi seru kali me timenya," hibur Tina. "Gapapa lagi. Lagian adikku itu kan sama sodaranya juga," sambung Tina dengan maklum.
"Adikmu?" tanya Bara heran.
"Iya Clara," jawab Tina sambil mengangguk. "Aku merasa banyak kecocokan tau gak sih, sama Clara. Kayaknya aku sama dia emang cocok jadi sodara. Gimana menurut kamu?" tanya Tina.
"Aku gak yakin," jawab Bara ragu.
***
"Aduh, kenyang banget!" ucap Clara yang sudah menghabiskan semangkuk besar ramen ditambah tempura juga segelas green tea.
"Dah kenyang? Yakin gak mau jajan kebab?" tanya Robi yang dari tadi senggol-senggolan kaki dengan Bob.
"Mau tapi bungkus aja lah Kak. Buat kak Bara nanti. Kasian tadi gak bisa ku temenin," ucap Clara pengertian.
Duh, pantesan mas Robi sama Bob gak kasih tau Clara. Batin Sofia sedih dan susah sekaligus karena tak bisa jujur pada Clara.
"Gak usah! Pasti dia juga dah beli makan!" larang Bob dengan keras.
"Loh kenapa? Kak Bara kan suka kebab, jadi gapapa Bob. Besok kan masih bisa di angetin," ucap Clara ngotot.
"Nyebelin! Di bilang gak usah ngeyel amat!" kesal Bob.
Clara hanya tersenyum menanggapi larangan Bob. Dan merasa bila Bob melakukannya karena Bob masih cemburu pada Bara yang menikahinya
"Yaudah yuk balik," ucap Sofia yang makin tak nyaman.
Clara tetap memesan kebab untuknya dan Bara. Meskipun Bob melarangnya. Bahkan Clara mau sedikit mengantri untuk membelinya.
"Duh, aku ke kamar mandi bentar ya," ucap Clara.
"Ikut!" ucap Sofia yang langsung mengintili Clara.
Bob dan Robi akhirnya bisa berdua, perlahan kedua telapak tangannya mulai bersentuhan dan menggenggam satu sama lain.
"Bang, Clara tau loh kalo kamu em," ucal Bob dengan lirih dan gugup.
"Gapapa, jangan khawatir," ucap Robi santai lalu menaikkan genggamannya untuk mengecup punggung tangan Bob. "Kalo emang iya harus gimana lagi dong?" tanya Robi pada Bob yang membuatnya tersipu malu dan memalingkan wajahnya.
Tapi entah keberuntungan atau kesialan. Saat Bob memalingkan wajahnya ia melihat Bara yang bergandengan dengan Tina masuk. Dengan gerak cepat Bob melepaskan genggaman tangannya dan bersiap menghajar Bara. Tapi baru ia akan melangkah Robi langsung menariknya dan menunjuk ke arah Clara dan Sofia yang datang.
"********!" maki Bob dengan kesal.
"Aku urus Bara, alihkan perhatian Clara!" perintah Robi pada Bob yang langsung di turuti Bob tanpa perlawanan.
"Pergi! Jangan kesini ada Clara sama Sofia," ucal Robi yang berlari menghampiri Bara.
Bara langsung membulatkan matanya saat melihat Bob yang sedang mengalihkan perhatian Clara. Meskipun Sofia malah menatap jelas ke arahnya.
"Pulang! Bentar lagi aku antar istrimu," ucap Robi lalu menarik Bara pergi dan mengabaikan Tina begitu saja "Sofia tau semuanya, besok ku jelaskan, semua dalam kendali. Untuk saat ini cepat pulang!" sambung Robi yang masih menyeret Bara pergi.
Argh! Selalu saja begini tiap ingin makan malam! Apa susahnya sih makan malam berdua dengan Bara! Kesal Tina yang di tinggal Bara.
Bahkan Tina yang memang tak membawa mobil itu jadi kehilangan harapan untuk bisa diantar Bara pulang ke rumahnya.
__ADS_1