
Dengan sangat terburu-buru Bara kembali lagi ke mall untuk menemui Tina. Bara bahkan rela berlari-larian untuk mencapai food court demi memenuhi janjinya.
"Dasar cewek sialan milih tempat tinggi amat!" maki Bara sambil berlari melewati eskalator yang berasa lambat, maklum rindu.
"Bara!" panggil Tina begitu melihat Bara.
Tau Bara yang sudah terburu-buru datang hingga berlarian. Tina langsung menyambut Bara dengan pelukan hangatnya yang kini di balas Bara.
"Kampret lu Tin milih tempat tinggi gini!" omel Bara lalu merangkul Tina ke salah satu tempat duduk yang dipakai Tina.
"Gimana Clara?" tanya Tina basa-basi.
"Baik tapi ya gitu, aku gak tega bohong ke dia," jawab Bara lalu meminum minuman Tina.
Tina hanya tersenyum maklun dan merasa senang bukan main bisa kembali bersama Bara meskipun tidak memiliki hubungan yang jelas.
Bara masih sama kayak dulu. Batin Tina lalu mengambilkan sebuah box yang sudah ia siapkan.
"Ini buat kamu biar gampang kucari," ucap Tina memberikan jam tangan pada Bara.
"Jangan nanti Clara curiga. Aku juga gak pulang ke rumahku sendiri. Nanti ketahuan gara-gara Lisa," tolak Bara blak-blakan.
"Gimana ponakanku?" tanya Tina kembali berbasa-basi.
"Siapa? Aya? Apa yang kecil?" jawab Bara yang malah balik tanya.
"Anakmu, gimana kandungannya istrimu? Sehat kan?" tanya Tina yang berusaha sepeduli mungkin pada Bara.
"Tin, jujur ya gue seneng banget bisa ketemu lo lagi. Ngobrol santai gini, tapi please ini yang terakhir ya," pinta Bara.
"Loh kenapa?" tanya Tina terkejut.
__ADS_1
"Gak baik Tin, apa kata orang kalo tau lo deket sama suami orang kayak gue," ucap Bara berusaha menjaga jarak.
"Loh kok gitu? Bukannya kamu gak pernah peduli ya waktu bermesraan di depan umum, gonta-ganti pasangan pula. Kok sekarang jadi gini?" tanya Tina cukup kecewa.
"Dulu ya dulu! Aku dah punya istri Tin. Mau punya anak!" ucap Bara penuh emosi.
"Bohong! Lo cuma mau cari aman kan?" tebak Tina.
Huft sudah ku duga gak akan berhasil. Batin Bara lalu mengusap wajahnya gusar.
"Aku dokter, sekarang aku dokter bedah. Aku juga siap dan mau dimadu, bukannya aku sangat ideal buat jadi istrimu. Aku bisa jadi dokter untuk Clara dan anak kita bersama. Aku juga bisa puasin kamu, gak usah tiap hari atau tiap minggu. Cukup waktu Clara berhalangan saja gapapa. Bukannya itu bagus?" rayu Tina.
"Aku gak bisa adil orangnya. Aku gak sepantasnya poligami. Orang tuaku juga pasti gak setuju, mertuaku juga," tolak Bara.
"Nikah siri kan bisa. Gak pakek kasih tau. Atau pacaran aja," desak Tina yang ingin segera memperjelas hubungannya.
"Perjanjian awal tanpa sex, ku kira kamu paham," sindir Bara sinis.
"Tin lo tau gak sih, baru gini aja gue dah merasa dosa dan bersalah banget sama istriku. Aku gak mau cerai Tin, tidak juga menambah pasangan. Dulu mungkin iya aku sebejat itu, aku bahkan perkosa Clara juga. Tapi gimanapun itu hanya masa laluku!" potong Bara mempertegas bagaimana posisinya.
Tina langsung menunduk murung.
"Tina, kamu wanita yang baik, selalu jadi cantikku. Tapi aku tidak bisa jadi suamimu. Aku mau bersama keluarga kecilku. Aku mau memegang janji suciku dengan Clara, karena ini lebih penting dari pada janji labilku dulu," ucap Bara menghibur Tina.
Dengan nafas yang berat Tina kembali menatap Bara.
"Maaf Bara, tapi sungguh yang ada di hati dan pikiranku hanya kamu dan untuk mendapatkanmu. Mungkin karena aku sudah terlalu lama menahan rindu ini," ucap Tina lalu tersenyum dengan air matanya yang mulai mengalir.
Bara hanya diam sambil menatap Tina yang begitu sedih dihadapannya. Ingin rasanya Bara memeluk Tina dengan erat, tapi entah mengapa ia merasa ada yang menahannya.
"Maaf aku lupa posisiku saat ini. Aku hanya masa lalumu. Tak lebih," ucap Tina memelas.
__ADS_1
"Aku sangat menginginkanmu Tina. Sama seperti dulu, kalau saja kamu gak pacaran sama Robi dan aku tidak dijodohkan. Mungkin sekarang kita tengah menyiapkan pernikahan kita," ucap Bara berandai-andai.
"Lalu kenapa?" tanya Tina lalu mengusap air matanya.
"Kita hanya bisa menjadi teman, tidak lebih. Aku sudah sangat yakin sekarang. Mungkin kita bisa beberapa kali jalan bersama tapi tidak sering," putus Bara sepihak. "Tina, kamu juga punya hak untuk bahagia, menikahlah dan berkeluargalah dengan baik tanpa bayangan masa lalu. Move on. Mari kita move on bersama," sambung Bara.
"Tapi aku masih kangen kamu," ucap Tina dengan suaranya yang bergetar.
"Aku juga," jawab Bara ragu.
"Aku sudah membuat jadwal apa yang akan kita lakukan. Aku mau itu. Ku mohon. Hanya itu. Lalu aku akan move on," ucap Tina terbata-bata dan terdengar sangat memelas.
Bara hanya diam. Memikirkan apa yang sebaiknya ia putuskan.
"Sudah sore, pulanglah Clara pasti menunggumu," ucap Tina lembut dan terlihat jauh lebih tegar.
"Kalau kamu mau ketemu aku dan hanya untuk selesaikan yang ada di jadwalmu itu, sesuaikan dengan aktivitasku. Tapi setelah semuanya kita sudahi dan hanya menjadi teman saja. Oke?" tawar Bara bernegosiasi.
"Really?" tanya Tina senang dengan senyumnya yang mengembang.
Bara hanya mengangguk lalu tersenyum canggung.
"I love you Bara!" pekik Tina yang langsung memeluk Bara dengan sangat erat.
Kamu hanya sedang amnesia, sedikit bantuan dariku dan kamu akan kembali lagi Bara. Batin Tina senang.
Ini yang terbaik, semoga baik juga untuk semuanya nanti. Batin Bara lalu mengelus punggung Tina dengan ragu.
"Ayo pulang," ajak Bara lalu bangun dan berjalan ke lift sambil menggandeng Tina.
***
__ADS_1
"Kayak familiar sama tu cowok, tapi siapa ya?" tanya Bob sambil merangkul Bela dan Nadia di kanan dan kirinya.