
"Asal ayahnya adek gak macam-macam sama kak Tina. Aku gapapa kok," ucap Clara lembut dan berusaha tidak mengekang suaminya.
"Clara gak marah? Cemburu?" tanya Bara sambil mengelus perut istrinya.
"Kalo marah sih dikit ya, aku juga bisa maklum, kalo cemburu aku jelas cembur suamiku deket sama mantannya."
"Aku gak deket! Dia yang deketin!" potong Bara membela diri.
"Ah iya. Kalo aku deket sama mantanku kamu gimana perasaannya kak?" tanya Clara lalu menggandeng tangan suaminya ke kantin.
"Aku jelas cemburulah. Banget. Jangan deket sama mantanmu ya. Jangan sama Bob juga," jawab Bara sambil mengikuti istrinya melangkah.
"Kakak cari tempat gih. Aku mau pesen dulu," ucap Clara lalu memesan batagor, siomay, bakwan malang juga tela-tela karena sudah lapar mata. Clara juga memesan dua es teh manis untuknya dan Bara.
"Lama amat," ucap Bara sambil menunggu istrinya.
"Adek sama aku lapar mata nih kak. Jadi agak lama deh. Hihihi semua ku pesen," jawab Clara lalu meletakkan tasnya di bangku sebelahnya yang kosong.
"Nih kamu bawa aja. Biar Tina gak ganggu aku," ucap Bara sambil menyerahkan ponselnya.
"Iya lagian aku baru mau minta ponselmu kak. Aku khawatir kalo kamu kegoda. Terus poligami. Jadiin aku yang kedua padahal aku istri pertama," ucap Clara sedikit menyindir suaminya.
"Apa sih kamu, enggak lah," ucap Bara menepis sindiran istrinya itu.
__ADS_1
Tak selang lama setelah Clara mengecek ponsel suaminya dan menyimpannya di tas. Pesanan Clara satu persatu datang dan seperti biasanya Bara langsung marah-marah bila istrinya memesan makanan yang tidak sehat.
"Kak aku makan sedikit aja ya tela-telanya. Please," ucap Clara memohon pada suaminya.
"Ini banyak micinnya Cla. Adek nanti jadi anak micin gimana?" tanya Bara yang berusaha melarang istrinya.
"Berarti bukan anak kakak," jawab Clara yang sangat ingin makan tela-tela.
***
"Apa?" tanya Robi begitu Tina selesai menangis di depannya.
"Aku mau sama Bara lagi!" jawab Tina sambil menyeka air matanya.
"Bisa lah. Dulu aja waktu kita pura-pura pacaran dia percaya. Bara itu polos, tulus, murni. Aku juga sembuh gara-gara mau jadi istrinya. Cuma Bara jadi nyonya Bara gak lebih dari itu," jawab Tina bersemangat.
"Awalnya aku juga berfikir gitu. Dia cuma jatuh cinta karena puber kedua. Tapi nyatanya. Kamu liat kan gimana dia sama istrinya. Dia sampe pasang tato, pasrahin dompetnya full ke Clara, HP juga cuma buat game itupun kalo malem ditaruh di luar. Susah buat pisahin dia," ucap Robi pesimis.
"Gak mungkin Bara sampe kayak gitu. Nyatanya kemarin aku dua kali ketemu dan aku bisa pengaruhi Bara waktu pertemuan pertama," ucap Tina bangga.
"Just lucky," cibir Robi.
"Terserah, tapi ya Rob aku sama sekali gak peduli bakal jadi istrinya yang kedua atau istri sirinya. Yang jelas aku mau Bara," ucap Tina ngotot.
__ADS_1
"Banyak cowok yang bisa cambuk kamu waktu bercinta."
"Tapi Bara beda!" potong Tina membela Bara.
"Apa? Dah punya istri? Mau punya anak? Iya apa bedanya?" tanya Robi.
"Apa salah kalo seorang gadis kecil meminta bonekanya dikembalikan?" tanya Tina memelas.
Robi hanya bisa terdiam.
"Bara itu punyaku. Punyaku! Dan kamu tau itu Bi. Kamu paham betul gimana perasaanku. Cintaku. Pengorbananku buat dia. Dia harusnya jadi suamiku Bi. Suamiku. Kalau saja gak ada kanker itu," ucap Tina lalu menangis.
"Bara bukan mainan Tina. Aku tau gimana perasaanmu. Tapi Bara sudah punya istri. Bagaimanapun yang seharusnya terjadi ke kamu! Nyatanya gak bakal mungkin! Dan gak bakal terjadi!" ucap Robi berusaha menyadarkan Tina dimana dan bagaimana situasinya saat ini.
"Enggak aku gak peduli. Toh dulu Bara juga gitu. Dia pacarku. Tapi dia juga pacaran sama wanita lain. Jadi apa bedanya sama sekarang?" ucap Tina membela diri.
"Jauh beda Tina. Ini sangat jauh berbeda. Kamu sama Bara. Sudah beda status lagi. Gak kayak dulu," ucap Robi lebih tenang.
Tina hanya menggeleng pelan sambil menyeka air mata dan ingusnya.
"Apa kamu gak mikirin kondisi Clara? Anaknya? Keluarga Bara nantinya?" tanya Robi.
"Kalo kamu mau aku care ke Clara soal masa depannya yang indah itu. Sekarang aku tanya, apa Clara peduli sama aku? Apa Clara peduli kalo aku mati waktu kemo? Enggak kan!" bantah Tina yang sudah termakan obsesinya pada Bara.
__ADS_1
"Kamu dah gila! Oke aku gak bisa larang kamu. Tapi aku gak bakal bantu kamu lagi sesuai perjanjian kita," ucap Robi yang sudah kehabisan akal untuk menyadarkan Tina akan posisinya lalu pergi begitu saja.